Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Menjaga Kesehatan Mental Ibu Selama Pagebluk a la Helenamantra

Friday, October 9, 2020

Cara menjaga kesehatan ibu selama pagebluk a la Helenamantra

Akhir-akhir ini kepala saya seperti ditarik pakai stretch rope. Satu ke kiri dan satu ke kanan. Rasanya pikiran menjadi waspada sepanjang waktu, tidak ada santai-santainya. Tiap kali anak-anak berbuat sedikit hal yang tidak saya harapkan, ROOAAR … saya menjadi Ibunosaurus.


Hal ini tidak benar. Ada yang salah dari dalam diri saya. Menjadi watchdog yang waspada terus-menerus membuat saya lelah dan bereaksi berlebihan.


Apa penyebabnya?


Saya menyadari kondisi 8 bulan terakhir ini tidaklah mudah. Pagebluk membuat segalanya berbeda. Keluarga kecil kami yang biasanya sering bepergian, belajar sambil jalan-jalan, menjadi lebih sering di rumah. 4 bulan pertama, sejak Maret 2020, bisa dibilang hampir 24 jam kami beraktivitas dari dalam rumah.


Bila sebelumnya SID bebas bermain di taman dari pagi sampai sore, bahkan membawa bekal makan siang, sekarang berbeda. Taman diberi tali pembatas sebagai tanda dilarang masuk ke sana.


Masker pun menjadi barang yang harus dipakai. Saya pernah terburu-buru keluar tanpa memakai masker. Duh, rasanya insecure. Ketika berpapasan dengan orang yang tanpa masker pun timbul rasa curiga.

Baca juga: Ketika Zombie Corona Menyerang Bumi

Bosan.

Curiga.

Khawatir.

Ah, itulah yang saya rasakan selama pagebluk Covid-19 ini.


Tanpa saya sadari, perlahan pikiran-pikiran negatif tersebut membangun tekanan pada pikiran yang membuat saya sekarang ini menjadi lebih reaktif menghadapi sesuatu. Senggol bacok, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti kena senggol sedikit langsung marah habis-habisan.

Baca curhatan Ibu Nggak Boleh Capek

 

Meningkatkan Imunitas Tubuh


Ketika ada kabar seorang warga yang se-RW meninggal karena Covid-19, saya (mencoba) bersikap biasa. Namun, badan kok terasa hangat, hidung seperti mau flu, hmm … padahal saya enggak kenal siapa warga tersebut. Tinggalnya pun jauh dari saya. Pikiran-pikiran negatif itulah yang berpengaruh membuat seakan-akan fisik saya bermasalah. Psikosomatis!


Virus ini dan virus-virus lainnya perlu dilawan dengan menjaga imunitas tubuh. Menjaga kesehatan fisik seperti 3M, makan makanan yang bergizi, istirahat cukup, dan sebagainya baik dilakukan.


Akan tetapi, kesehatan mental pun berpengaruh untuk menjaga daya tahan tubuh. Seperti kata pepatah, hati yang gembira adalah obat. Maka, meningkatkan imunitas tubuh termasuk pula menjaga pikiran agar tetap sehat bin waras.


Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu Selama Pagebluk

Sebagai seorang ibu beranak dua yang sedang lucu-lucunya (baik ibu maupun anak), pikiran saya harus tetap waras. Ibu bahagia merawat keluarga yang bahagia pula. Oleh karena itu saya melakukan beberapa cara untuk menjaga kesehatan mental selama pagebluk sebagai berikut:


1. Mengurangi membaca berita mengenai Covid-19

Bukannya saya tak peduli angka pasien yang semakin naik, saya jarang sekali membaca berita tentang Covid-19. Ini demi menjaga pikiran supaya tidak paranoid. Kalau ada yang membahas hal tersebut, saya segera lewati.


2. Menerima keadaan

Di bulan-bulan awal saya menunggu kapan pagebluk ini berakhir. Akan tetapi, hal itu sungguh melelahkan untuk berharap pada hal yang di luar kendali saya. Maka, saya memilih untuk menerima keadaan seperti ini. Penyakit tersebut memang ada, kebiasaan memakai masker dan menjaga kebersihan perlu dilakukan, serta saya belum bisa bebas bepergian seperti dahulu.


3. Beradaptasi

Awal pakai masker, rasanya pengap. Akan tetapi, saya merasa nyaman setelah beradaptasi. Motif masker yang unik jadi buat koleksi, hehe. Selain itu, enak juga sih enggak perlu memikirkan mekap karena sebagian besar wajah tertutup masker.


Kebiasaan mencuci tangan juga bermanfaat untuk menjaga kebersihan. Wastafel semakin mudah dijumpai beserta sabunnya. Dulu kan ada wastafel tapi sabunnya habis. Sekarang, keadaan di lingkungan tempat tinggal menjadi lebih bersih.


Saya memang belum bisa pergi ke berbagai tempat dengan mudah apalagi PSBB sehingga banyak tempat umum ditutup. Namun, saya dapat mengoptimalkan aktivitas di rumah bersama keluarga.


4. Menulis jurnal syukur

Menulis menjadi kegiatan untuk melepaskan penat. Di sini, saya menjaga kesehatan mental dengan menulis hal-hal yang saya syukuri tiap hari.


Di balik berbagai dampak negatif pagebluk yang saya lihat, dengar, dan rasakan, ada banyak sekali hal-hal yang patut saya syukuri. Misalnya: nikmat sehat, berkumpul bersama keluarga, melewati bulan Ramadhan dengan sederhana, sering salat berjamaah di rumah, balapan menghafal Juz Amma bersama SID, dan membuka bisnis baru bersama Ayah SID.


5. Mencoba kegiatan baru

Rasa bosan memunculkan kreativitas. Untuk mengusir kebosanan, saya mencoba berbagai kegiatan baru seperti nonton drakor sampai mengurus tanaman. Eh tapi bukan monstera seperti yang sedang hype, ini hanya rumput dalam pot kecil dari bingkisan ulang tahun. Itupun mati karena lupa disiram. *LOL


Saya juga mengikuti cooking class, tentu saja via online, untuk membuat kue. Terasa rumit di awal harus menyiapkan banyak bahan tetapi hasilnya enak! Alhamdulillah.


Baca juga: Langganan Viu Demi Nonton Drakor

 

6. Berbenah rumah/Decluttering

Dulu, saya sering keluar rumah sehingga urusan kerapian rumah menjadi prioritas ke sekian. Namun, masa pagebluk ini saya memiliki lebih banyak waktu di dalam rumah. Mumpung enggak kemana-mana, saya berbenah termasuk melakukan decluttering.


Banyak juga barang-barang yang tidak terpakai bahkan saya lupa sudah memilikinya. Saya decluttering selama seminggu. Setiap hari sekardus besar barang-barang keluar dari rumah. Ada yang re-home, recycle, ataupun langsung menuju tempat sampah.


Selain itu, saya membuat daftar tugas domestik harian sampai bulanan untuk di-ceklis setiap selesai dikerjakan. Daftar ini memudahkan mengelola tugas di rumah dan menjadi bentuk apresiasi diri, “Ini lho, saya sudah mengerjakan sebanyak ini.”.


Sontek Daftar Pekerjaan Rumah Tangga di sini

 

7. 20 menit untuk diri sendiri

Cara mengawali hari dapat mempengaruhi suasana hati hari itu. Maka dari itu, saya meluangkan waktu 20 menit di pagi hari untuk diri sendiri. 20 menit yang berharga dan tanpa interupsi saya gunakan untuk menulis, membaca, atau sekadar membuka jendela dan menghirup segarnya udara pagi.


Jika anak-anak sudah terbangun, saya minta izin Ayah SID yang menjaga mereka. Barulah saya melaksanakan kegiatan untuk diri selama 20 menit.

 

8. Jalan-jalan dengan Protokol Kesehatan

Sebelum PSBB tahap kedua ini, fasilitas umum dibuka seperti biasa. Saya dan keluarga sempat mengunjungi museum untuk liburan tipis-tipis. Museumnya sepi bahkan kami menjadi pengunjung pertama. Ya, lumayan buat hiburan setelah lama tidak bisa travelschooling.


Hei, tunggu, kok malah jalan-jalan bukan di rumah aja?


Ini salah satu cara saya menjaga kesehatan mental. Jalan-jalan yang kami lakukan pun tetap menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan seterusnya. Kami pastikan keluarga yang ikut bepergian dalam keadaan sehat.


Tips ini bukan berarti mengajak kalian untuk jalan-jalan, lho, ya. Siapa juga yang ngajak liburan :p

 

9. Bernapas

Banyak hal di luar kendali saya. Tak semua hal berjalan ideal. Ketika tekanan di kepala terasa membuncah, saya mendapat saran dari Putu P.D. Andani M.Psi, Psikolog, untuk mengambil napas dalam-dalam. “Put your oxygen mask first!” ujar beliau dalam sesi Kulwap Popmama Parenting Academy bertajuk “Tips dan Trik Keluarga Sehat Mental di Masa Penuh Tantangan 4.0”


Mbak Putu Andani memberikan kiat mengurangi stress dalam tiga tahapan, yaitu:

  • Kenali hal yang paling sering memicu emosi, seperti anak menangis, suami lembur, anak menumpahkan makanan, mainan yang berantakan, mengantuk, lapar, dsb.
  • Kenali cara paling cepat redakan emosi, seperti bernapas, menghitung mundur, minum, atau berbicara dengan diri sendiri.
  • Self-compassion dengan mengenali dan menyayangi diri sendiri. Apa yang membuat diriku bahagia?

 

10. Bersenang-senang

Setelah saya melakukan poin 9, pikiran dan perasaan saya lebih tenang. Selanjutnya, saya lebih santai menghadapi anak-anak.


Contohnya, SID minta dipakaikan celana sampai menangis. Ia sudah berusia 5 tahun. Ia bisa memakai pakaian sendiri namun ada kalanya ia ingin dimanja. Kondisi saya lelah, ingin tidur. Akan tetapi, tangisan ini akan berlarut-larut dan mengganggu tidur saya. Maka, saya mengambil celananya dan berkata, “Hai guys! Kali ini aku mau kasih tutorial memakai celana panjang sambil rebahan.” Selanjutnya saya memperagakan memakaikan celana ke SID yang terlentang di atas kasur bak sedang beraksi di depan kamera. Hihi … dibuat senang aja!

 

Trus, bagaimana setelah melakukan cara di atas, Len?


Kadang saya masih marah, rasanya masih ditarik kanan-kiri, masih seperti watchdog, tapi … lebih tenang. Saya lebih santai menghadapi si pagebluk yang tidak tahu kapan berlalu. Saya punya teknik untuk berfokus pada lingkaran kendali dengan 10 cara menjaga kesehatan mental ibu di atas. Saya memilih untuk bahagia.


Kalau kamu, bagaimana caramu sehat mental selama pagebluk?


#Writober2020

#RBMIPJakarta

#Pagebluk

 

 

19 comments on "Menjaga Kesehatan Mental Ibu Selama Pagebluk a la Helenamantra "
  1. Betulll banget nih pagebluk bikin stres paraahhh

    Aku kadang juga jalan2 sih, sebulan dua kali gitu lahhh


    Sehat2 yaa

    ReplyDelete
  2. Ah iya ya mbak, kesehatan mental selama pandemi juga patut dijaga ya

    ReplyDelete
  3. Keren nih mba ide untuk membuat jurnal syukur. Aku jadi penasaran pengen nyoba buat juga deh.

    ReplyDelete
  4. 20 menit unruk dir Tria patut dicoba. Aku ngga pernah kepikiean ini wkwk

    ReplyDelete
  5. Aku sudah gak pernah ngikutin berita Covid-19 dan emang kalau perlu aja sih bukanya, karena bisa bikin drop juga. Selain itu kalau pas lagi belanja jadi curigaan sama orang kalau ada yang tiba-tiba mendekat.

    ReplyDelete
  6. pagebluk bikin aku ngakak eh pas baca wah iya bener banget.. semua merasakan hal yang sama karena pandemi ini.. aku aja bikin mental tetap waras dengan jalan2 yang dekat rumah sama suami naik motor.. udah seneng gitu aja.. kami udah rencanain jalan2 walau entah pandemi ini masih ada atau engga akhir thn 2020 fiuuh

    ReplyDelete
  7. AKu udah masuk tahap mencoba kegiatan baru. Krn hiburan drama2 gak mempan lagi menghilangkan kejenuhan akhirnya sekarang kegiatannya nyari verita2 atau tayangan horor wkwkw. Itu hibuaranku sekarang biar waras :P

    ReplyDelete
  8. Aku juga perlu trik sendiri supaya tetap waras selama dirumah. Menjalani beberapa aktifitas yang selama ini ngga pernah dilakukan. Tetap jalan-jalan dengan protokol kesehatan, dan olahraga.

    ReplyDelete
  9. bener banget mba, beberap akali dapet info di WA pengurus RW disni, ada beberap awarga yang positif dan rasanya kaya sakit juga gitu, bangun tidur kepala berat, badan panas, bahkan tenggorokan ikut sakit.

    ReplyDelete
  10. Selain decluttering, nulis jurnal bersyukur penting banget sih mbak, aku suka ngelakuin itu. Apalagi sekarang aku lagi hilang motivasi buat WFH. Kayaknya butuh cuti sejenak buat nggak ngelakuin apa-apa.

    ReplyDelete
  11. Eh iya aku pun pernah merasa seperti mau flu saat berpikiran mengenai korona, apalagi setelah pulang dari perjalanan, seperti merasa ada ga sih virus yang ngikut. Pikiran itu pengaruh banget ya, aduh mending pikir positif aja deh biar sehat.

    ReplyDelete
  12. Penting banget buat seorang ibu menjaga kesehatan mentalnya ya.. Karena ibu yang bahagia bikin semua keluarga bahagia

    ReplyDelete
  13. Aduduh... sama banget ini. Wkwkw. ehh aku juga lagi bahas kesehatan mental ibu. Secaraaa selama masa PJJ entah kenapa kepala mamak suka migren ya. Padahal ya dulu anak kegiatan dirumah ya biasa aja gitu. KAlau sekarang kok beda. wkwkw. Pada akhirnya memang harus menerima keadaan ya plus bersyukur tiada henti. Semangaattt

    ReplyDelete
  14. Masya Allah, semngat yaa para ibu :* Ibu waras anakpun ikut waras, jd kuncinya ada diibu hihii

    ReplyDelete
  15. Huaaa Mbak, pelukan yukkk.
    Saya nih yang masih sulit banget kontrol emosi apalagi kalau anak-anak udah rusuh huhuhuh, rasanya bukan hanya senggol bacok aja deh.
    Jurnal syukur itu penting juga ya biar kita jadi lebih bisa kontrol diri, lebih baik bersyukur dengan keadaan, masih bisa kumpul dengan anak-anak, masih bisa di rumah tanpa kepanasan dll daripada ngeluh dan jadi marah-marah ya. Hikss.
    Semoga pagebluk ini segera berakhir lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhu ... virtual hug!
      Iya mbak, tiap hari tuh kayak mau perang rasanya padahal kebahagiaan itu kita yang pilih.

      Delete
  16. Waaah saya juga pernah tuh hampir kena psikomatis. Flu, agak demam (belum demam sepenuhnya),udah langsung mikir aja kesana. Ya wajar sih, kita lagi di masa pandemi. Tapi kalau memelihara pikiran begitu terus, bisa bahaya. Akhirnya saya bawa sneeng aja (gimana tuh XD).

    Anak saya sih masih bayi 3 bulan, jadi aktifitasnya belum terlalu terdampak. Tapi saya punya adik masih SD kelas 3, ibu saya wuiiih jadi bingung gimana mengatasi kebosanannya. Apalagi kedua orangtua bekerja. Jadi serba ekstra semuanya mah sekarang.

    Smeoga sehat dan bahagia selalu kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jadi berasa kek mau flu dan demam yaa, begitulah pikiran mempengaruhi fisik.

      Oh kalau bayi 3 bulan masih enak di rumah aja. Yang SD ini kudu PJJ.

      Stay safe!

      Delete
  17. Hahahaha bener!

    Biar gak tambah worry, kurangi baca berita mengenai covid nya. Alihkan dengan aktivitas lainnyang gak ngebosenin. Gardening, baking, atau cooking. Eh, atau bersepeda. Kan lagi musim tuh

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,