Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Wastra Tenun Ikat Donggala

Sunday, October 25, 2020

Toko pakaian Bu Isman sama seperti toko-toko lainnya. Penataan produknya bercampur antara blouse dengan dress, berbagai warna dalam satu rak panjang. Saya heran mengapa tidak dikategorikan berdasar warna, jenis, atau ukuran. Semuanya bercampur baur dan harus melihat satu-persatu model yang dicari.

Namun, ada hal menarik yang membuat saya berkali-kali berkunjung ke sana. Kunjungan tersebut membuat saya mengambil suatu keputusan besar dalam hidup.

wastra tenun ikat donggala
tenun ikat Donggala motif bunga (dok.pri)


 

Wastra Tenun Ikat Donggala


Letak toko Bu Isman di perempatan menuju bandara Mutiara, Palu (sekarang bernama bandara Mutiara SIS Al Jufri). Saat menunggu lampu hijau dari traffic light menyala, saya memandangi toko tersebut. Bukan display pakaian yang menarik tetapi kain tenun yang disusun di bagian kiri toko menyita perhatian saya.


Suatu hari, saya iseng berkunjung ke toko tersebut. Seorang wanita berusia pertengahan 30-an menyambut dengan ramah. Tingginya sedikit lebih tinggi dari saya namun badannya lebih berisi. Ia minta dipanggil “Bu Isman”, si pemilik toko.


Saya menanyakan kain tenun ikat Donggala yang ia jual. Saya masih begitu awam namun tertarik dengan keindahan wastra asli Sulawesi Tengah tersebut. Beliau pun menunjukkan koleksi dagangannya yang terlipat rapi dalam lemari kaca di dekat pintu masuk.


Motif kain tenun Donggala yang populer yaitu buya bomba dan buya subi alias bunga. Tenun ikat Donggala yang dijual Bu Isman dimulai di harga 200ribu rupiah. Tentunya ada harga, ada kualitas. Kain tenun yang terbuat dari sutra dengan benang berwarna emas memiliki nilai jual lebih tinggi.



Membuka Foottrip Store

Perkenalan dengan Bu Isman hari itu memunculkan ide gila. Saya, saat itu masih berstatus pegawai di rantau, mau berjualan kain tenun Donggala secara online. Berbekal pengetahuan online shop seadanya maka saya membuat akun Instagram “Foottrip Store”.


Saya jelaskan pada Bu Isman mengenai ide ini. Beliau mendukung dan memperbolehkan saya memotret wastra nusantara yang begitu cantik tersebut. Jadi, sistemnya bila ada pesanan maka saya beli di toko beliau.


Penjualan Foottrip Store mulai bergulir. Dimulai dari teman-teman dekat, keluarga, sampai kolektor kain tenun nusantara tertarik membelinya. Bangganya melihat tenun ikat Donggala digunakan di berbagai pulau di Indonesia.



Obrolan Hangat Bersama Bu Isman

Setiap ada stok kain baru, saya kembali ke toko kain tenun tersebut. Saya potret koleksi kainnya untuk bahan diunggah ke media sosial. Jika ada pesanan dari pelanggan, Bu Isman akan membungkusnya dan memberikannya pada saya untuk dikirim.


Entah mengapa dari sejak awal saya merasa nyaman berbincang dengan Bu Isman. Beliau pun dengan santai bercerita mengenai usahanya tersebut. Saya juga heran kok beliau mau saya ajak bekerja sama dengan model seperti ini.


Salah satu cerita yang saya ingat, Bu Isman dulunya pegawai. Saat menjadi pegawai, beliau nyambi berjualan sana-sini. Usahanya berkembang. Di sisi lain ia merasa kekurangan waktu mengurus anak karena sibuk bekerja. Oleh karena itu, Bu Isman memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih menjadi pengusaha.


“Jadi wirasuaha jauh lebih berat daripada pegawai. Kalau saya resign dan buka usaha kemudian tidak sesuai dengan yang diharapkan, setidaknya saya bisa mengurus anak,” ujar Bu Isman kala itu. Kalimat beliau 7 tahun silam saya catat di iPad karena maknanya terasa mendalam.


Beliau sehari-harinya menunggu toko sendiri. Kadang tokonya ditutup sebentar karena ia harus menjemput anaknya dari sekolah. Anak-anak Bu Isman sudah terbiasa menemani ibunya berjualan. Kalau minta pulang ya tokonya ditutup lagi.



Perpisahan

Silaturrahim saya dengan Bu Isman tak berlangsung lama. Tiga bulan kemudian saya pamit ke beliau karena tak lagi merantau di Palu. Saya memutuskan resign dan kembali ke Jawa.


Ada nada sedih saat pertemuan terakhir kami. Teringat masa-masa menyenangkan ketika saya mampir ke toko Bu Isman. Saya suka mendengar cerita-cerita beliau, bagaimana beliau mengembangkan usaha, pengalaman beliau kulakan ke Tanah Abang, juga mengalami jatuh bangunnya suatu usaha.


“Kalau pohon akarnya kuat, meski daunnya dipangkas habis masih bisa tumbuh lagi. Kalau usaha kena masalah, selama pondasi diri kuat bisa dicari lagi.” – Bu Isman.


Kini, saya tidak tahu bagaimana kabar Bu Isman dan toko tenun ikat Donggala miliknya. Nomer HP beliau hilang saat saya mengganti HP. Namun, tiap kali melihat wastra khas Donggala saya teringat kata-kata dan usaha beliau dalam menjalani peran sebagai womanpreneur.


#writober

#RBMIPJakarta

#wastra

 

2 comments on "Wastra Tenun Ikat Donggala"
  1. Keren. Coba masih ada kontaknya mbak, bisa diteruskan itu jualan online-nya mantap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah gak ada, mbak
      foottrip store masih ada tapi beralih ke batik dan kulit.

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,