Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Pengalaman Isolasi di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Bersama Anak-anak

Saturday, May 22, 2021
Isolasi di RSDC Wisma Atlet Kemayoran


Bulan Ramadan 1442 H begitu istimewa karena separuh waktunya saya jalani dengan isolasi di RSDC Wisma Atlet Kemayoran bersama keluarga. Bagaimana cara isolasi di Wisma Atlet? Apa saja yang dapat dilakukan selama isolasi? Anak-anak bosan, enggak? Biayanya berapa isolasi sekeluarga di Wisma Atlet? Begini cerita staycation, eh, isolasi kami saat positif covid-19. 

Baca juga: Pengalaman Sekeluarga Positif Covid-19

 

Cara Isolasi di Wisma Atlet


Pukul 8 pagi Ayah menelepon kami yang sedang isolasi di rumah. Ayah mengabarkan hasil tes PCR saya dan anak-anak sudah ada. Kami sekeluarga positif covid-19.


Ayah segera mengurus kelengkapan administrasi, berkoordinasi dengan Bu RT dan juga petugas puskesmas via Whatsapp supaya saya dan anak-anak dapat segera menyusul isolasi ke Wisma Atlet Kemayoran.


Dokumen yang perlu dipersiapkan kemudian dikirim ke petugas puskesmas melalui Whatsapp yaitu:

  • Hasil tes positif Covid-19
  • Foto KTP
  • Foto KK
  • Surat keterangan domisili dari RT dan RW dengan keterangan keperluan “Isoman ke Wisma Atlet karena tidak ada ruangan isolasi”.
  • Asuransi BPJS (jika ada)

 

Sementara itu, saya dan SID mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang perlu dibawa. Kami tidak tahu akan berapa lama isolasi di sana hingga dinyatakan negatif. Mau bawa banyak barang, bingung juga karena nanti saya akan menggendong Uno sementara SID memakai tas ranselnya. Maka, kami membawa baju 5-6 stel, buku bacaan, dan mainan yang cukup dalam satu koper besar. Ada beberapa barang titipan Ayah yang juga kami bawa. Tak lupa SID membawa sepatu roda untuk hiburan olahraga di sana.


Tips Barang yang Perlu Dibawa Saat Isolasi di Wisma Atlet:

1. Pakaian 4-6 stel dengan bahan mudah kering.
2. Obat nyamuk atau losion anti nyamuk.
3. Hanger
4. Sendok, garpu, cangkir, gula, dan teh (barangkali mau membuat minuman sendiri. Di sana ada dispenser)
5. Peralatan mandi (disediakan handuk)
6. Deterjen dan sabun cuci piring. (Mencuci bisa di wastafel)
7. Gunting kuku
8. Kain pel (bisa dari handuk kecil bekas)
9. Gawai dan charger-nya.
10. Peralatan untuk hiburan dan olahraga: buku, mainan, raket, bola, dsb


Barang-barang sudah siap. Urusan administrasi sudah didaftarkan puskesmas ke Wisma Atlet. Ba’da asar, saya bersama anak-anak menuju puskesmas. Dari sana barulah kami naik AGD alias Ambulans Gawat Darurat DKI Jakarta untuk menuju Wisma Atlet Kemayoran.


Ini pertama kalinya SID dan Uno naik ambulans. Saya dulu sudah pernah saat berangkat sekolah. Bus yang biasanya rusak jadi kami diangkut naik ambulans. Hehe …


“Pak, pelan-pelan, ya!” pesan saya ke supir ambulans sebelum naik. Eh ada gitu ambulans pelan?


Syukurlah AGD yang mengangkut kami santuy banget. Selama berkendara, supir memutar lagu-lagu yang menenangkan. Anak-anak pun jadi tenang, kirain bakal diajak balapan di jalanan.


Menjelang azan Maghrib kami melewati area Kemayoran yang padat kendaraan. Ambulans berbelok masuk melalui pos 6 hingga berhenti di lobby Tower 6 Wisma Atlet Kemayoran yang kini difungsikan menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 (RSDC).


Ayah SID sudah duduk di depan lobby menanti kami. Wew, pas banget! Kata supirnya, “Sudah chemistry!”.


Pihak puskesmas yang mengantarkan kami menyerahkan berkas ke petugas RSDC lalu segera pergi. Kamipun menunggu dipanggil untuk check-in di RS.


Proses check-in memakan waktu dua jam. Lamanya tergantung antrean saat itu. Syukur alhamdulillah, menurut Ayah, malam itu sepi pasien baru. Waktu Ayah dulu sampai 4 jam menanti, mana pas azan Maghrib enggak bawa makanan.


satu-satunya wastafel portable yang saya temui di Wisma Atlet


Ngapain aja prosesnya? Pertama, saya dipanggil untuk verifikasi berkas dan pemasangan gelang pasien. Kedua, pasien dites tekanan darah, saturasi oksigen, dan ditanya keluhan gejala yang dirasakan oleh dokter di meja sebelah registrasi. Ketiga, pasien diambil darahnya juga EKG (untuk usia 18+). Ada juga yang foto thorax ketika baru datang tetapi saya rontgen keesokan harinya.


Setelah itu, kami diantar ke tower 7, tempat kami akan menjalani isolasi beberapa hari ke depan. Kami mendapat kamar di lantai 25, berbeda dengan Ayah yang kamarnya di lantai 24. Sepertinya pasien yang baru masuk hari itu berada di lantai yang sama.


Alhamdulillah, lega rasanya bisa bertemu lagi dengan Ayah SID setelah terpisah dua malam sejak ia berangkat isolasi duluan. Walau badan capek (dan baru terasa lapar) berangkat dari rumah sekitar pukul 4 sore sementara pukul 8 malam baru masuk kamar.


Malam itu, di lantai 25 yang tinggi … tinggi sekali saya dapat tidur nyenyak setelah dua malam berturut-turut susah tidur kepikiran banyak hal plus hidung buntu. Alhamdulillah ….


Pengalaman Isolasi 14 Hari di Wisma Atlet Bersama Anak-anak, Ngapain Aja?


RSDC Rumah Sakit yang Unik


Apa bayanganmu akan RS? Ruangan bernuansa hijau dan putih, pasien terbaring di atas kasur, selang infus, sunyi sepi?


Wisma Atlet alias RSDC itu rumah sakit yang unik karena hawanya bukan seperti di rumah sakit pada umumnya. Sejak pertama datang check-in, saya melihat orang-orang berpakaian santai seperti sedang di rumah berlalu-lalang melewati lobi. Lewat dengan tangan menggenggam HP, kembali dengan tentengan makanan di tangan yang lain. Ooh … rupanya mereka pesan makanan lewat ojek online (ojol).


Kamar-kamarnya pun berbentuk unit apartemen dengan 2 bedroom, kamar mandi, dapur, juga ruang tamu. Satu unit berisi dua pasien, satu kamar satu orang.


Berhubung kami sekeluarga bertiga (saya dengan dua anak) maka satu unit kami tempati. Ayah juga bergabung dengan kami di lantai 25. Sesekali saja ke lantai 24 untuk mencuci baju.


Kalau biasanya dokter dan perawat visit pasien ke masing-masing kamar, di sini pasien yang pergi ke ruang poliklinik di masing-masing lantainya. Itu karena pasien di Wisma Atlet kebanyakan dalam kondisi tanpa gejala ataupun gejala ringan-sedang.


Semua pasien tiap lantai tergabung dalam satu Whatsapp Group. Info untuk pasien akan dibagikan di sana, seperti waktunya mengambil makanan, obat, tes-tes, info kegiatan di RSDC yang dapat diikuti pasien (pengajian, ibadah untuk umat Kristiani, sesi konseling dengan psikolog, dan sebagainya.)


SID paling suka bagian mengambil makanan. Setiap ada pesan masuk dari WAG Wisma Atlet lantai 25, ia semangat membacanya. Jika sudah ada info dari perawat bahwa makanan sudah siap, ia meluncur ke depan ruang poli untuk mengambil box makanan dan air mineral. Makanannya enak-enak!


makan sahur dan snack hari pertama di Wisma Atlet

 

Kegiatan Selama di Wisma Atlet


Pasien-pasien Wisma Atlet bebas berkegiatan di luar kamar. Mau ngapain aja boleh selama tidak melanggar peraturan dan tidak keluar area Wisma Atlet. Selama dua minggu di sana, biasanya kami:


1. Berpuasa

Berhubung sedang bulan Ramadan maka saya dan Ayah SID berpuasa. Alhamdulillah puasa di sini terasa ringan karena aktivitas terbatas dan enggak perlu menyiapkan makanan. Hehe … Saya sempat bolong di hari-hari awal karena badan masih oleng namun selanjutnya bisa lancar berpuasa. *banyak utang, Bu!


Untuk pasien yang berpuasa akan mendapat sahur, snack, buka, dan juga takjil. Super kenyang dan tentunya gizi seimbang.

 

2. Berjemur


Setiap pagi sekitar pukul 9-10 kami berjemur untuk mendapatkan vitamin D dari sumber terbaik yaitu sinar matahari. Banyak ruang terbuka di sini. Mau berjemur di lapangan atau jogging track bisa. Kami biasanya ke jogging track di lantai 16 yang lebih sepi. Anak-anak leluasa berlarian di sana tanpa khawatir tersesat atau menabrak orang.

 

Baby Uno berjemur di lapangan


3. Olahraga


Selesai berjemur, SID minta bermain bola. Ada lapangan berbentuk lingkaran di tengah Wisma Atlet yang biasa digunakan sebagai tempat bermain bola.


Entah itu bola siapa, yang jelas pasien-pasien di sana setiap hari menggunakannya. Lumayan lah main bola sambil lanjut berjemur.


Selain bola sepak, ada juga yang suka bermain voli di samping Tower 6. Enggak cuma pasien, lho. Petugas ber-APD pun ikutan main.

 

4. Eksplorasi tower dan ruang terbuka di sekitar Wisma Atlet


Gedung-gedung di Wisma Atlet menjulang, membuat kami penasaran bagaimana pemandangan dari atas sana? Biasanya kami ke lantai 12 dan 16 karena ada jogging track. Lantai 25 juga ada ruangan terbuka. Ngeri tapi seru melihat pemandangan Jakarta dari atas gedung yang tinggi sekali ini.


5. Buka puasa di jogging track


Berhubung enggak bisa ngabuburit jalan-jalan bebas, kami mencoba suasana baru dengan buka puasa di jogging track lantai 12. Sekeluarga saja membawa takjil dan camilan hasil jajan online. Hehe …. Melihat senja menyelimuti Jakarta, ah sungguh syahdu.


6. Salat isya’ dan tarawih berjamaah di Tower 6


Di Wisma Atlet tidak ada masjid atau mushola tetapi ada praying room di lantai 12 masing-masing tower. Ayah SID mendapat info kalau salat Jumat maupun tarawih diadakan di lantai 12 tower 6. Maka, kami pun mencoba ke sana.


Eh beneran ada walau jamaah hanya sekitar 5-10 orang tetapi alhamdulillah bisa salat berjamaah. Sebagai imam ya sukarela pasien yang bersedia.


Praying room tower 6


7. Nonton orang main voli, sepak bola, juga senam


Isolasi dengan kegiatan terbatas tetapi pikiran harus tetap bahagia? Salah satu caranya dengan berolahraga. Di sini berbagai kegiatan olahraga diinisiasi para pasien seperti voli, sepak bola, juga senam di pagi dan sore hari. Pemain maupun instruktur senam dari para pasien.


Ada pula pasien yang membawa raket untuk bermain badminton. Kalau SID membawa sepatu roda tetapi hanya dipakai sekali. Ia lebih suka main bola.


pasien dan petugas berbaur olahraga bersama


8. Mendengarkan live music alias karaoke di tangga Tower 7


Setelah senam pagi dan sore, biasanya para pasien karaoke-an. Non-pasien juga ikut, ya tetap dengan APD. Pernah juga ada pertujunjukan dance dan saweran di sini. Udah berasa nonton konser, deh.


9. Belanja online


Berhubung tidak bisa pergi keluar, aktivitas belanja sangat mengandalkan online shop. Di Wisma Atlet tidak ada kantin atau minimarket (kebayang pramusajinya pakai APD, gerah!). Maka, selama isolasi saya belanja menggunakan KedaiMart dan e-commerce lain.


Paket dikirim ke Wisma Atlet, pilih pos terdekat dengan tower kita. Saya tinggal di tower 7 maka setiap mengambil paket di pos 7. Kurir akan menghubungi via telepon lalu saya meluncur ke pintu gerbang pos 7 untuk mengambil paket. Order makanan via online juga begini caranya.


10. Household chore


Selama isolasi, pekerjaan rumah tangga tak lepas kami lakukan. Berhubung feels like home, kami tetap mencuci baju sendiri di wastafel kemudian menjemurnya di balkon. Alhamdulillah unit kami ada peninggalan jemuran plastik dari pasien sebelumnya jadi bisa jemur baju di situ. Kalau tidak ada, bisa membuat jemuran dari tali rafia bekas pengikat kotak makanan.


Sapu dan pel juga dari warisan pasien lain. Setiap hari bisa membersihkan unit apalagi setelah makan supaya enggak jadi serbuan para semut.


Baca juga: Ide Liburan Anak di Rumah Wisata Virtual Seaventure 


Swab di Hari ke-9 Isolasi

Seminggu berada di Wisma Atlet syukur alhamdulillah keluhan kami berangsur ringan. Sisa batuk pilek sedikit, lah. Hingga akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, swab PCR di hari kesembilan isolasi.


Paginya, chat perawat di grup Whatsapp menginstruksikan kami untuk berkumpul di depan ruang perawat. Lalu, kami bersama ke ruang swab di lantai 1.


Jujur, ini swab yang mendebarkan karena penasaran banget apakah rebahan santuy selama 9 hari berhasil mengalahkan si virus? Anak-anak bakal di-swab lagi. Pengalaman pertama dulu tidak nyaman, bagaimana dengan sekarang? FYI, Ayah SID yang isolasi duluan, sudah swab 2 hari sebelumnya dan masih positif.


Uno saya gendong dalam baby carrier sementara SID dipangku Ayah. Prosesnya berjalan cepat walau tetap anak-anak menangis. Namun, setelah itu kami sudah berjemur seperti biasa.


Tips lebih nyaman di-swab pada hidung: tarik napas dalam-dalam. Jangan hembuskan sebelum si cotton bud keluar dari hidung.


Esok paginya, hasil swab keluar. Rupanya kami masih harus staycation di Wisma Atlet selama 3 hari ke depan sebelum swab lagi. Yak, hasil kami bertiga positif.


Hal ini membuat saya down. Udah semangat pulang, eh … kudu swab. Tapi, mengingat isolasi bersama keluarga, anak-anak tetap ceria dan semakin sehat, maka nikmat manakah dari Tuhanmu yang hendak kau dustakan?


Pemandangan Kemayoran di malam hari

Menanti Hasil Swab Ketiga


Alhamdulillah di swab yang ketiga, Ayah SID dinyatakan negatif. Beliau pulang dengan hati gembira. Sampai rumah langsung beberes, disinfektan serumah, hihi ….


Tinggallah saya, SID, dan Uno yang masih menanti jadwal swab berikutnya. Enggak ada tips khusus dalam berikhtiar. Banyak makan, rajin konsumsi obat, istirahat, berjemur, dan berbahagia. Simpan dulu kerjaan dan media sosial yang isinya macem-macem untuk sementara. Bismillah sehat!


*Fast forward ke sehari setelah swab ….


Banyak minum saat sahur membuat saya sering terbangun untuk buang air kecil. Setelah itu, saya lanjut tidur di kamar lain, bukan kembali ke samping anak-anak.


Eh kok tumben Uno bangun lebih awal, turun kasur sendiri, lalu mendatangi saya di kamar sebelah. Waktu itu masih sekitar pukul 6.30 pagi.


Saya sapa anak bayi aktif itu lalu menyalakan jaringan Wi-Fi di HP. Sudah kebiasaan jika tidur, saya matikan jaringan internet. Ternyata di WAG nama-nama kami dipanggil ke ruang poliklinik. Wow, sepagi ini?


Bergegas saya gendong Uno ke sana. Di dalam ruang poli tampak seorang dokter dengan dua perawat. Saat masuk, Tekanan darah serta saturasi oksigen saya dicek. Tes regular setiap pagi dan sore. Kemudian dokter menjelaskan bahwa hasil swab kami bertiga NEGATIF.


“Alhamdulillah, jadi lebaran!” ujar saya sebagai wujud rasa syukur.


Dokter memberi wejangan langkah selanjutnya, pemulihan yang perlu dilakukan di rumah, dan tetap menjalankan protokol kesehatan.

 

Biaya Isolasi di Wisma Atlet


Sambil menunggu kelengkapan administrasi berupa hasil tes dan surat yang menyatakan kami selesai isolasi, saya mulai menata barang-barang untuk dibawa pulang.


14 hari isolasi di Wisma Atlet menjadi pengalaman berharga bagi saya. Masa awal merawat anggota keluarga yang bergantian sakit, tes PCR, isolasi dengan para tetangga baru (Bu Rusmi, Nelly, Doris, Hikmah, Ihsan, dkk terima kasih saling mendoakan), hingga tiba di titik ini. Alhamdulillah, this too has passed.


Setelah ini tetap lanjutkan kebiasaan baik protokol kesehatan. Pakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, tak sesulit itu kok. Saya bayangkan betapa riweuhnya para petugas (non-pasien) di Wisma Atlet. Semuanya berpakaian APD lengkap. Sarung tangan dobel, masker dobel diberi plester di bagian atas, kacamata ataupun face shield sebagai perlindungan ekstra. Salut pada mereka yang tetap menjalankan tugas dengan baik!


Baca juga Jaga Kesehatan Keluarga di Masa Pandemi


Ba’da Maghrib, kami berpamitan pada para perawat di lantai 25. Rupanya hari itu tower 7 lantai 25 dikosongkan. Pasien yang belum pulang, dipindah ke lantai bawah.  Jadilah kami menjadi penghuni terakhir di lantai 25.


Kak Denny(?), perawat asal Palembang membantu mengangkat koper besar kami ke depan lift. Sampai lantai 1, alhamdulillah ada petugas lain yang membawakan barang-barang kami hingga ke pos 7. Masya Allah, terima kasih banyak ya kakak-kakak!

 

Eh, tunggu, bayar berapa isolasi di Wisma Atlet? Sekeluarga, 4 orang, selama 14 hari, lho!

Alhamdulillah (lagi …) gratis! Tidak ada pungutan apapun.       

 

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Tim Cobra. Isolasi di sini serasa liburan di hotel (tapi harus minum obat). Makanannya enak-enak! Kami doyan bahkan SID naik sekilo selama isolasi. Wow, selama ini BB-nya susah naik, bahkan di awal sakit sempat turun.


Selamat bertugas, para nakes!


Selamat tinggal RSDC Wisma Atlet Kemayoran!

53 comments on "Pengalaman Isolasi di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Bersama Anak-anak "
  1. Aku sedih baru tau setelah mbak sembuh, agak lama vakum medsos ketika Ramadan. Semoga sehat selalu sekeluarga ya Mbak.
    Maaf lahir bathin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Riska, ga apa mbaa ... waktu di RS aku enggak update medsos kecuali kerjaan. hahah ... maunya dibuat pikiran yang happy aja. Kalau share yang sakit-sakit gitu malah khawatir buat down. Makasih banyak yaa Mbak.
      Maaf lahir batin juga. Semoga Mbak Riska dan keluarga sehat-sehat.

      Delete
  2. Alhamdulillaah, akhirnya yaa ...
    Bersyukur berada di wisma atlet, banyak banget kegiatan dan pengalaman di sana ya Mak, ga sengeri bayangan ketika berada di wisma atlet.
    Semoga kedepannya sehat buat dirimu dan keluarga dan kita semuaa.
    Selalu ada hikmah di balik peristiwa yang kurang menyenangkan, makasih loh sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ... Iya ga seseram yang ku duga. Mungkin karena pasiennya gejala ringan bahkan tanpa gejala.

      Delete
  3. Syukurlah mba akhirnya hasilnya negatif. Membaca cerita selama isolasi di wisma atlet ternyata cukup seru dan menyenangkan. Apalagi kalo liat non pasien yang berolahraga pakai APD. Tidak seseram yang dibayangkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kondisi kami di Sana semakin membaik. Ada juga pasien yang gawat sehingga dirujuk ke RS lain.

      Delete
  4. Ramadhan.kita sama mbak...separuhnya habis buat isoman. Kalo aku alhamdhulilah di rumah aja cuma jd boseeen bgt kan karena berdua aja sama anakku yg kecil. Jd ya sebisa mungkin menghibur diri aja. Alhamdhulilah ya Allah kita semua dikasih sehat bisa kumpul lagi sama keluarga. Sehat2 terus ya kalian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho Mbak Muna isoman sama anak. Aku awalnya juga di rumah trus bosen, hehe. Alhamdulillah bisa dirujuk ke wisma atlet

      Delete
  5. wah gak bayar ya alias gratis, alhamdulillah karena ada yang mesti bayar saat dirawat di sana mungkin yang membutuhkan alat-alat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Mbak Aie. Saudara yang covid dirawat di RS lain pun bebas biaya.

      Delete
  6. Isolasi jadi kaya staycation karena sama keluarga. Alhamdulillah udah sembuh ya, Mbak. Meski kelihatan gembira, tetap namanya sakit ya ada rasa sedihnya. Semoga pandemi segera berlalu dan tetap jaga protokol kesehatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh iyaa sakit tetep ada ga enaknya. Awal di sana mudah capek, mbak. Baru muter 1 Kali udah pusing

      Delete
  7. Pengalaman yang berharga tentunya ya Mbak, bisa menambah wawasan buat saya juga. Semoga selalu diberkahi kesehatan bagi Mbak sekeluarga.

    ReplyDelete
  8. mbak yang jadi pertanyaan saya saat menerima ojol itu ya kita sendiri? gak dititip kayak di hotel/rs?
    berarti ketemu langsung abangnya gitu ya? itu boleh ya mbak?

    soalnya baca poin di atas malah jd penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, biasa aja kayak kita terima paket di rumah. Sepertinya awal-awal dulu paket disimpan di tempat tertentu trus pasien ambil tapi sekarang ya kang ojol telpon nungguin kita ketemuan di gerbang.

      Delete
  9. pengalaman yang luar biasa berharga ya mama SId, alhamdulillah selama isolasi anak anak kelihatan sehat dan ceria yaa, beneran kayak piknik atau staycation aja yaa. moga sehat selamanya yaa dan ga ada penyakit susulan setelahnya. aamiinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah mbaaa, anak-anak itu kayak ga Ada capeknya. Awal memang masih batuk pilek tapi alhamdulillah tetep aktif!

      Delete
  10. Alhamdulillah sudah sehat semuanya ya Mak, semoga selalu dalam keadaan sehat aamiin, sekarang melonjak lagi nih kasus Covid after Lebaran huhu kangen ortu pengen mudik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu ... Iya, ini dapat kabar di Wisma Atlet banyak pasien baru

      Delete
  11. Alhamdulillah sekarang sudah sehat semuanya ya mba. Di Wisma atlet ternyata banyak juga kegiatan yang dilakukan ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah supaya imunitas meningkat dan cepet negatif

      Delete
  12. Alhamdulillah semuanya terlewati dengan baik ya mbak
    Alhamdulillah sekarang semuanya sudah sehat
    semoga selalu sehat ya mbak lead kesayanganku

    ReplyDelete
  13. Syukur Alhamdullilah Mak, sekarang sudah sehat dan dimudahkan saat isolasi, semoga pandemi ini cepat berlalu dan semua orang bisa beraktivitas tanpa merasa khawatir lagi tertular virus. Terima kasih sudah sharing, jadi tahu step-step jika harus isoman.

    ReplyDelete
  14. Kak Helenaaaa...
    Aku ikuti semua instruksi kak Helena pas baca blogpost ini walau gak sedang SWAB. Rasanya kudu nangis. Ya Allah...

    Semoga Allah sehatkan selalu untuk kak Helena sekeluarga.
    Rasanya beneran bersyukur sekali...sudah sehat kembali dan bisa berkumpul bersama lagi di rumah.
    **walau katanya Wisma Atletnya enak yaa...tapi kan, tapi kan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe tapi paling enak ya di rumah, bisa bebas jalan-jalan juga
      Terima kasih ya Mbak Len.

      Delete
  15. Mak Sid menikmati sekali yah aku keknya ga betahan orangnya makanya pilih isoman di rumah heheehe karena emang sekeluarga positif lain cerita sama aku..dokter yang ngawasiku juga minta aku isolasi di rumkit akunya yang ga mau..sehat2 semuanya ya Mak Sid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu Teh Herva isoman di rumah ya. Kalau di tempatku ga boleh, Teh. Harus out berhubung tempat kami kecil dan mepet tetangga.

      Delete
  16. Ini namanya staycation beneran hehe :P :D
    Alhamdulillah ya di sana masih bisa melakukan banyak aktivitas dan alhamdulillah gak ada gejala yang berarti. ANak2 pun kooperatif.
    Yuk yuk jaga kesehatan biar next time staycation-nya di hotel mewah beneran utk olahraga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu mendingan staycation di hotel mevvah beneran daripada rumah sakit

      Delete
  17. Alhamdulillah mba udah kembali sehat...klo dilihat dari foto2nya ga terlalu penuh ya mba, jd nyaman. Semoga pandemi segera berakhir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu aku masuk alhamdulillah sedikit aja barengannya. Kalau Sekarang kabarnya melonjak lagi

      Delete
  18. turut bersedih buat mbak. salut banget buat perjuangannya sebagai ibu yang keluarganya kena Covid. Semoga berbuah pahala yang besar dari Allah swt. Aamiin

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah sudah sehat semua ya mak
    Senang deh saat tau pelayanannya disana baik dan menyenangkan
    Pun biaya gratis membantu banget untuk pasien ya.
    Semoga sehat selalu ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Ria. Alhamdulillah jadi bahagia kan dengan pelayanan yang OK dan bebas biaya. Hihi...

      Delete
  20. sehat sehat makkkk hayo semangatttt jangan kena lagi jauh-jauh covid
    semoga selalu dilindungi ya mak
    stay safe kalian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin
      Sehat-sehat juga Mbak Echa dan keluarga

      Delete
  21. Kalo denger covid ...meerasa terkungkung..ga bisa kemana2, gak bebas..aja..gitu.

    Semoga kita sehat selalu dn pandemi cepat berlalu..

    Sehat selalu mak..

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah sudah terlewati ya mba fase berat ini. Harus dijalani dengan ikhlas, Insya Allah menginspirasi yang baca loh. Ga enak ternyata ya harus isolasi tuh, semoga aja yang di luar sana, yang masih abai, enggak main-main lagi dengan si virus satu ini. Siapapun bisa terjangkit jika ada yang lalai menerapkan prokes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, mbak. Siapapun bisa kena dan efeknya beda-beda. Lanjut protokol kesehatan ya

      Delete
  23. Sehat yo, Mamak Sid. Aku kaget juga pas baca postinganmu ttg isolasi. Ya Allah, beneran Covid ini gak pandang bulu. Siapa aja bisa kena. Bersyukur ada fasilitas dari pemerintah. Gak kebayang kalau harus keluar biaya sendiri sampai sekian hari. Mudah-mudahan virus ini semakin melemah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak Ais. Alhamdulillah ada RS seperti wisma atlet gini. Trus kalau punya BPJS, di beberapa RS juga bakal di-cover.

      Delete
  24. Alhamdulillah sudah pulang dan negatif semua ya Mbak. Saya mengikuti beberapa kali pengalamannya saat dibagikan di IG apa facebook ya. Lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa ada di IGS-ku, mbak Lina.
      Terima kasih yaa

      Delete
  25. Pengalaman yang gugah semangat untuk sehat. Terima kasih telah berbagi ceritanya, kak Helena dan keluarga.

    Penting banget soalnya karena aku dan keluarga bakal isolasi di sana juga kayanya. Kebetulan ada 2 keponakan juga yang masih kecil dan ini tinggal tunggu instruksi dari Puskesmas untuk berangkat ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhoo mas sedang kena covid?
      Bismillah lancar isolasinya yaa. Lekas sembuh!

      Delete
  26. Alhamdulillah sdh sehat kembali ya mom dan berkumpul dgn keluarga tercinta, ternyata pengalamannya sangat luar biasa melalui itu semuanya

    ReplyDelete
  27. Mba Helenaa... pasti perasaannya sempet campur aduk yaa.. tapi Alhamdulillah sekarang udah sehat kembali.. untungnya bisa pesan makanan secara online juga ya disana jadi serba dimudahkan meski dalam kondisi isolasi..

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,