Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Lebih Kritis, Begini Cara Cek Berita Hoax atau Fakta

Tuesday, July 13, 2021
berita hoax atau fakta
Cara cek kebenaran berita hoax atau fakta - Cek Fakta Tempo


Minum minyak kayu putih supaya hasil tes covid-nya negatif, minum susu BB dan obat-obatan tertentu tanpa perlu ke RS supaya cepat negatif, menghirup uap air, berjemur di bawah terik matahari, dan berbagai cara lain menghadapi Covid-19 beredar di masyarakat sampai viral. Eits, jangan asal mencoba. Kita perlu kritis menyikapi berita apakah itu benar atau hanya hoaks? Begini cara cek berita hoax atau fakta.

Infodemik Dapat Memperburuk Pandemi


Di era digital ditambah lagi sebagian besar aktivitas hanya di dalam rumah membuat kita sangat bergantung pada internet untuk mencari informasi. Setiap harinya banyak beredar kiat-kiat mencegah, mengenali, maupun mengobati Covid-19 di dunia maya. Ada pesan melalui chat di WhatsApp, media sosial, ataupun situs-situs berita.


Berita-berita ini belum tentu kebenarannya. Akibatnya, berita yang salah menyebar lebih cepat dari faktanya. Informasi berlebih akan sebuah masalah, sehingga kemunculannya dapat mengganggu usaha pencarian solusi terhadap masalah tersebut inilah yang disebut infodemik.


berita hoax atau fakta
Ika Ningtyas dari Cek Fakta Tempo menjelaskan alasan mis/disinformasi


Iya, infodemik terjadi di Indonesia yang sedang berjuang melawan pandemi. Bukannya membantu, infodemik dapat memperburuk pandemi mengingat 61,8% masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial dengan rata-rata mengakses selama 3 jam perhari (We Are Social, Februari 2021). Ditambah lagi kebiasaan baca judul artikel doang, langsung forward ke yang lain. *hayo … ngaku!


Bagaimana jika ada yang percaya dengan informasi yang salah, misalnya sedang isolasi mandiri lalu asal minum obat-obatan berbekal broadcast message yang beredar tanpa konsultasi ke dokter? Hoaks dapat menyebabkan seseorang terluka bahkan kehilangan nyawa.


Supaya enggak mudah panik selama pandemi dan terbebas dari berita hoaks, saya mengikuti Workshop Cek Fakta Kesehatan Mengatasi Hoaks Kesehatan selama Pandemi Covid-19 bersama Cek Fakta Tempo. Seru, lho, selama 2 hari belajar a la detektif yang kritis menyikapi berita.



Perbedaan Misinformasi, Disinformasi, dan Malinformasi


Saat panik, terlalu mengidolakan atau membenci sesuatu mudah membuat orang terpengaruh hoaks. Akibatnya, kita menyebarkan berita tanpa verifikasi kebenarannya.


Saya sendiri pernah termakan hoaks ketika bencana gempa menimpa Palu, Sulawesi Tengah. Teman-teman saya di sana banyak yang terdampak hingga kesulitan mendapat makanan dan minuman. Lalu, saya mendapat informasi ada pembagian makanan di tempat A. Saya tidak tahu itu hoaks sehingga segera meneruskan info tersebut ke teman saya yang tinggal di Palu. Hal ini disebut misinformasi.


Sebal, deh, mengetahuinya. Sudah tahu situasi bencana, banyak yang berduka, kok tega membuat berita palsu seperti itu. Informasi atau konten hoax yang sengaja dibuat lalu disebar inilah yang disebut disinformasi.


Pernah dengar (atau nonton? *eh) kabar video asusila seorang artis cantik dengan pria lain yang terjadi ketika ia belum bercerai dengan suaminya? Video itu fakta namun sifatnya personal. Informasi berita fakta personal yang sengaja disebar seperti itu disebut malinformasi.


hoaks atau fakta
Siti Aisah dari Cek Fakta Tempo menjelaskan dampak mis/disinformasi kesehatan


Setelah mengetahui perbedaan ketiga hal tersebut maka hoaks (berita bohong) dapat berupa misinformasi ataupun disinformasi.



7 Macam Hoaks

macam hoaks

Ika Ningtyas, Pemeriksa Fakta Tempo, menjelaskan ada tujuh macam hoaks (mis/disinformasi) menurut standar organisasi riset di Amerika Serikat First Draft, yaitu:


1. Parodi atau satire: hoaks dibuat sebagai lelucon seperti kabar (mantan) Menteri Kesehatan Terawan mundur eh ternyata maksudnya jalan mundur.

2. Konten menyesatkan: Berita bahwa Covid-19 tidak lebih bahaya dari flu biasa padahal kasus positif covid semakin meningkat dari hari ke hari.

3. Konten Aspal, seperti sumbernya asli padahal palsu.

4. Konten pabrikasi sengaja dibuat untuk menyebabkan kegegeran.

5. Konten tidak nyambung (false connection) antara judul, foto, dan isi berita. Hati-hati judul click bait!

6. Konten salah (konteks keliru) antara gambar dengan caption. Contohnya gambar orang memakai kostum Halloween lalu caption diganti tentang azab. Bagi yang tidak menyebarkan akan kena azab juga.

7. Konten manipulatif diambil dari informasi yang diterbitkan media besar kemudian disunting dengan mengubah berita.


Awas Situs Abal-abal, Kenali Ciri Situs yang Dapat Dipercaya


situs yang dapat dipercaya

Mencari informasi dewasa ini begitu mudah. Ketik keywords di mesin pencarian, dalam hitungan detik langsung muncul artikel-artikel terkait. Namun, jangan asal percaya. Waspada situs abal-abal yang memproduksi informasi bertujuan untuk uang. Identifikasi situs yang dapat dipercaya dengan cara:

1. Cek alamat situsnya melalui who.is dan domainbigdata.com. Ada pula situs abal-abal yang masih menggunakan free domain seperti abc.blogspot.com.


2. Cek perusahaan media di Dewan Pers melalui direktori https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers. Namun, ada pula media kredibel yang tidak berbadan hukum.


3. Perhatikan detail visual misal gambar logo jelek, mirip situs media mainstream, dan sebagainya.


4. Terlalu banyak iklan karena media abal-abal hanya mencari klik untuk mendapat benefit dari iklan.


5. Perhatikan ciri-ciri pakem media seperti cara penulisan tanggal, nama penulis, narasumber yang jelas, hyperlink mengarah ke mana, dll.


6. Cek About Us. Media yang berbadan hukum jelas penanggung jawabnya (sesuai UU Pers) serta mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber. Sementara media abal-abal umumnya anonim.


7. Waspada judul sensasional. Baca beritanya sampai selesai. Jangan hanya baca judul lalu membagikan atau berkomentar. Di Twitter, sebelum Retweet cuitan suatu artikel, ada peringatan untuk membaca terlebih dahulu, lho!


8. Cek ke situs media mainstream. Jika ada berita yang sama, bandingkan bagaimana situs mainstream melaporkan. Verifikasi untuk memastikan sumber pertama dan melihat konten aslinya.


9. Cek foto apa pernah dimuat di tempat lain seperti media mainstream. Biasanya situs abal-abal mengambil foto dari tempat lain. Salah satu caranya menggunakan Google Reverse Image. Sementara untuk video dapat menggunakan tool InVID.



Cara Cek Berita Hoax atau Fakta Kesehatan

cara cek berita hoax atau fakta

Berita seputar kesehatan berseliweran setiap hari. Selama PPKM Darurat ini semakin kencang arusnya. Siti Aisah berbagi kemampuan dasar cek fakta kesehatan dengan cara:


1. Cek sumber aslinya. Cari tahu siapa yang membagi info tersebut, darimana sumber utamanya, termasuk info dari keluarga atau teman. Kalau di Whatsapp waspada dengan info yang “forwarded many times”.


2. Baca artikel dengan utuh, jangan hanya judulnya.


3. Identifikasi penulis apakah ia nyata dan kredibel.


4. Cek tanggal apakah up to date dan relevan dengan kejadian terkini. Teliti judul, gambar, statistik apakah sesuai konteks à ingat macam hoaks.


5. Cek bukti pendukung lain seperti fakta yang mendukung klaim. Misal klaim penggunaan obat A dapat membantu penyembuhan disertai fakta-fakta penelitian yang ada.


Caranya dengan mencari sumber referensi terpercaya seperti WHO, Badan POM, IDI, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia juga jurnal ilmiah (the New England Journal of Medicine, the British Medical Journal, Nature Medicine, the Lancet).


Studi penelitian dalam jurnal ilmiah pun perlu dicermati apakah berupa studi peer-review (gold standar) atau pre-print.


“Peer review merupakan studi penelitian yang telah melewati proses evaluasi oleh tim pakar independent dari bidang keilmuwan yang sama. Sementara pre-print belum melewati proses peer review.”


Disamping itu perlu melakukan studi korelasi dan studi hubungan sebab akibat.


6. Cek bias pribadi yang dapat berpengaruh ke penilaian suatu informasi dapat dipercaya atau tidak (subjektivitas). Contoh: anti vaksin maka ketika membaca info manfaat vaksinasi langsung tidak percaya.


7. Cek organisasi pemeriksa fakta apakah sudah memverifikasi info tersebut, seperti Cek Fakta Tempo (IG: @tempo.cekfakta), AFP factcheck, dan Washington Post factcheckers.


cek fakta atau hoax
Salah satu hoaks yang sudah terbukti di Cek Fakta Tempo

Panjang ya proses verifikasi berita asli atau hoaks. Kita sudah mengetahui 7 macam hoax serta identifikasi situs yang kredibel. Hal ini penting untuk mengurangi dampak infodemik dan mendukung usainya pandemi. Sudah banyak yang terkena dampak negatif pandemi, tak hanya kesehatan namun juga sisi lain, please … kita berkontribusi untuk tidak menambah beban tersebut dengan selektif akan informasi yang ada.


Yuk, jadi smart netizen yang kritis dengan cek berita hoax atau fakta sebelum membaginya!

33 comments on "Lebih Kritis, Begini Cara Cek Berita Hoax atau Fakta"
  1. benar banget, kita harus bisa memfilte rmana kabar benar atau sengaja di buat untuk memutar balikkan fakta. semoga semua berlaku dan salam sehat untuk kita semua

    ReplyDelete
  2. Bener banget, di era informasi sekarang ini kita emang harus pinter-pinter nyaring informasi, lihat informasi utuhnya, perhatikan sumbernya juga biar nggak gampang terpengaruh berita atau konten hoax

    ReplyDelete
  3. Selama pandemi ini emang banyak bngt beritaa hoaks yang aku dnger dan orang2 berburu obat2an yang blm jlas dengan alasan untuk mencegah covid padahal itu obat keras jujur banyak yang bkin takut sih s

    ReplyDelete
  4. Yesss kalau mau jelas, cari aja rujukan di cekfakta tempo, mafindo, kominfo dan sejenisnya. Jangan share sebelum jelas!

    ReplyDelete
  5. Hoax konten kesehatan ini paling bahaya. Kondisi negara kita yang makin meledak kasus covidnya juga merupakan hasil dari maraknya hoax yang beredar. Semoga dengan banyaknya konten baik seperti ini bisa mengedukasi masyarakat agar tidak terjerat hoax.

    ReplyDelete
  6. Pas banget dgn kondisi sekarang ka orang mudahnya percsya info broadcast tanpa konsultasi dgn dkter lgsg atau cek kebenaranya.pdhl solusi sakit tiap org berbeda. Thx infonya ka

    ReplyDelete
  7. Kondisi 'malas membaca' ini salah satu alasan banyak orang terpapar hoaks. Coba kalau mau baca betul-betul (bukan hanya judul), pasti setiap orang nggak akan begitu mudahnya menyebarkan berita hoaks tersebut. Pasti terasa ada yang janggal. Apalagi kalau sumbernya pun dari situs yang jelas. Kadang saya suka tegur sih teman-teman yang main bagikan info tapi sumber nggak jelas atau malah nggak ada sumbernya sama sekali. Tapi ya gitu jawabannya, "Nggak tahu ya, saya cuma share aja."

    Alamaaak ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok mam... Masyarakat kita maish minim literasi membaca. mungkin yang bisa mencerna bacaan jauh lebih sedikit dibanding yang asal baca, itulah kenapa hoax tumbuh subur di sini.

      Delete
  8. Wah informasi dari artikel ini komplit dan kritis. Apalagi di masa pandemi ini, memang banyak kabar hoax berseliweran. Butuh dua hal mensikapi hoax terkini. Pertama bijak dan kedua baca artikel ini. Makasi sharingnya mba.

    ReplyDelete
  9. Ah, iya..sebal kalau ada orang yang masih saja menyebarkan berita yang salah/hoax padahal itu kaitannya dengan berita duka/bencana alam.
    Semoga literasi digital yang baik membawa kita semua menjadi lebih cerdas dan sabar dalam membagikan info untuk orang lain.

    **etapi minum kayu putih beneran bisa mencegah coronce teu, kak Helen?
    Hahhaa...sedang laris manis jualan temen.

    ReplyDelete
  10. Wah ternyata ada beda-beda hoax ya.. yang bahaya Malinformasi ya. Video yang harusnya kebutuhan pribadi jadi konsumsi publik. Saya agak terkekeh pas baca tentang parodi menkes terawan.. xixixi... contoh yang unik.. hahaha

    ReplyDelete
  11. Memang panjang proses verifikasi berita asli atau hoaks. Setidaknya jika kita bijak emnyikapi, cek fakta dulu baru membagikan informasi maka hoaks tak akan masif tersebar

    ReplyDelete
  12. heraaaan banget sama yg bikin hoax2 itu dan dengan santuynya ngeshare di segala sosmed. pusing deh kalau berita itu ditelan mentah2 sama orangtua. kita nih kudu melek gini untuk kasih info yg bener ya mbak. bener deh sekarang kudu banget cek info sebelum diterima

    ReplyDelete
  13. Jaman now...kalau gak teliti baca informasi beneran bisa terjerumus.. Hoaxnya hiii ngeri banget. Jadi emang harus kita sendiri yang rajin cek ricek ..apalagi yang suka share kesana kemari yak...

    ReplyDelete
  14. Baru tau aku, ternyata informasi itu ada 3. Misinformasi, disinformasi dan malinformasi :) Ngangguk2 sekarang deh :) Paling sering info2 di WAG sekarang adalah seputar covid-19 dan vaksin :) Bertubi2 macam2 deh dan kita belum tau kebenarannya ya. Kudu dicek dulu faktanya jangan langsung forward kalau gitu :)

    ReplyDelete
  15. Suka rancu saat skg ini membaca berita yang dikira hoax atau tidaknya. Harus bisa memfilter baik baik sebelum share lagi. Kadang kalau ragu sharenya ke org terdekat dulu, biar kalo salah gak malu malu banget

    ReplyDelete
  16. Banyak sekali cara dan langkah untuk cek suatu berita itu fakta atau hoax ya. Keliatan ribet tapi penting biar hoax bisa kita tangkis. Yuk mari bijak menyikapi tiap berita yang datang.

    ReplyDelete
  17. Miris memang, Mbak, sekarang ini berita hoax gampang sekali menyebar. Akibatnya banyak informasi salah yang beredar di masyarakat.
    Sosialisasi mengenai cara mengetahui berita hoax atau fakta memang harus terus digiatkan, agar masyarakat bisa cerdas literasi.

    ReplyDelete
  18. Paling sebel dan jengkel itu kalo di grup WA - satu berita dishare, lalu dikasih klik link yang sering muncul di linimasa (gelembung filter)

    terus ada yang komen satuuuu aja, kasih bumbu penyedap rasa balado, pedes banget deh!

    ReplyDelete
  19. Sejak dulu, sektor kesehatan selalu jadi lahan hoax terbesar. Tadinya saya masih nyantai. Pokoknya yang penting saya gak kemakan hoax.

    Tapi, saat pandemi jadi kesel juga. Hoax-hoax ini ancaman banget. Korbannya juga banyak. Makanya sekarang saya terus bawel. Tentunya dengan melakukan cek dan ricek dulu

    ReplyDelete
  20. Sejak pandemi, banyak banget info-info kesehatan tapi ngawur banget. Yang parah karena banyak yang ngikutin kan. Makanya sebisa mungkin saat dapat berita ya cek di website terpercaya. Kalau bahasanya menggebu-gebu, biasanya hoax tuh

    ReplyDelete
  21. Duh iya kemarin sempat baca ada orang yang sakit lambung karena baca di WAG untuk menyembuhkan covid harus minum vitamin C dosis tinggi yang ada malah semaput, literasi digital begini harus kita halalkan terus untuk edukasi masyarakat ya agar pahami hoaks

    ReplyDelete
  22. DUh sebel banget emang kalau makin banyak hoax yang beredar dengan banyak dan mudah di hanpdhone. HArus antisipasi agar tak kena dampaknya

    ReplyDelete
  23. memang klo mau ngecek fakta atau hoaks agak ribet ya mbak
    tapi demi kebaikan, biar kita nggak terjebak bahaya hoaks

    ReplyDelete
  24. lucu ya berita yang satire itu wwkwk beritanya bener yaa, mundur ya jalan mundur. tapi kalau ada yang percaya, terus gimana coba. makanya perlu banget ya edukasi mengenai cek fakta ini ya. biar gak ada yang terjebak sama konten hoaks

    ReplyDelete
  25. Kita juga bisa jadi tim pencari fakta untuk diri sendiri ya sebelum membagikan sebuah berita ke orang lain. Duh jangan sampai deh membagikan berita yang belum tau kebenarannya. Banyak banget deh hoax yang beredar di masa pandemi ini.

    ReplyDelete
  26. Huhu, hoax sekarang emang udah di tahap ngeselin. Bikin pandemi berlarut-larut. Kalo didiemin, pasti makin parah. Semoga deh, dengan semakin banyaknya sosialisasi Cek Fakta kayak yang dikasih Tempo ini, masyarakat jadi semakin cerdas menyikapi Hoax.

    ReplyDelete
  27. Di sebuah WAG yang aku ikuti, ada seseorang yang lucu, beliau ini suka BC berita-berita entah itu fakta entah hoaks, pokoknya BC aja (banyakan hoaks). Ketika beberapa kali ditegur, awalnya cuek. Eh pas jawab bilangnya, "tolong polisi patroli hoaks di sini silakan menyaring, mana yang hoaks silakan dibilang hoaks...."
    Lhah, dia gak mau memfilter dulu, asal aja sebar-sebar BC, gak mau tanggung jawab. Hehehe. Ada aja orang kayak gini :D
    Btw makasih sharing ilmunya, Mbak..

    ReplyDelete
  28. Keluarga besar aku banget niih...butuh info kalau cek dulu berita yang diterima.
    Seringnya langsung forward aja ke grup-grup keluarga lainnya. Jadi menambah kecemasan. Tapi aku seringnya langsung klircet, hahaa...

    ReplyDelete
  29. Yes..setiap informasi jangan ditan mentah.mcek kebenaran..liat beberapa situs...terpercaya. dan tangan jangan mudah klik tombol share sebwlum tau kebenarannya.

    ReplyDelete
  30. Hampir tiap hari kerjaanku ngecek HOAX kayak begini. Habis gimana, grup ibu-ibu grup RT itu hobi banget nge-share berita nggak jelas. Mana banyak yang sepuh, kan takut kemakan HOAX ya? Ntar kalau udah cek, tak kirim balik hasil cek faktanya ke grup. Baru deh manggut-manggut. Udah gitu, besok nge-share lagi. hadehhh, kudu sabar ngadepin orang2 yang gak suka baca tapi hobi share-share mulu.

    ReplyDelete
  31. Setuju mba kalau kita harus benar benar pilih berita. Bahkan di berita pun juga disebutkan kalau berita hoax ini salah satu masalah yang memperkeruh pandemi ini. Karena masyarakat jadi salah langkah termakan berita hoax. Sebel lagi sama yang bikin beritanya. Jadi pokoknya harus ikut sains ya.

    ReplyDelete
  32. Hoax ini concern ku sejak awal Corona masuk ke Indonesia. Orang-orang Indonesia itu gemar banget denial dan makin kuat denial-nya saat ada banyak berita hoax bertebaran di platform media sosial dan WAG adalah salah satu dari banyak platform yang menurutku kuat banget Mak untuk persebaran berita2 yang belum terverifikasi kebenarannya. Semoga dengan adanya platform Cek Fakta ini bikin masyarakat jadi lebih kritis dan aware untuk cari tau kebenaran dari sebuah info.

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,