Helenamantra

Life of Happy Mom - Personal blog about parenting, health, and upside down of life.

Membangun Tim yang Solid dalam Keluarga

Tuesday, February 13, 2018
Membangun keluarga itu bagaikan membangun tim sepakbola. Ada kumpulan orang dengan tujuan bersama, nilai bersama, bergerak dalam koordinasi, dan komunikasi. Komunikasi, lho. Bukan sekadar bersuara. Bagaimana membangun suatu keluarga layaknya sebuah tim? Inilah rangkuman seminar "A Home Team" pada milad Institut Ibu Profesional (IIP) Tangerang Selatan.

A home team (pic. rawpixel)

“Halo kawan, apa kabarmu?
Senyum sana, senyum sini
Kedipkan matamu (ting ting)
Tengok ke kanan, tengok ke kiri
Tepuk tangan, tepuk kaki
Cari yang lainnya”

Lagu ini menjadi pembuka seminar “A Home Team” di Gedung Serba Guna Universitas Terbuka, Tangerang Selatan. Berkat lagu ini saya tak merasa sendiri jauh-jauh terbang dari Jakarta ke Tangsel karena dapat berkenalan dengan peserta lainnya lewat lagu tersebut. Abisnya gimana ya, rada baper melihat rata-rata peserta datang berpasangan suami-istri. Hehehe…

Seminar ini menghadirkan dua tokoh idola saya dalam dunia parenting yaitu Bu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Mariyanto. Mereka berbagi pengalaman membangun keluarga selama lebih dari 20 tahun hingga menghasilkan proyek keluarga yang dapat menginspirasi banyak orang lewat Institut Ibu Profesional.

Semua Ibu adalah Ibu Bekerja

Tahun 1995 Pak Dodik melamar Bu Septi dengan syarat, “Aku ingin anakku dirawat oleh ibunya sendiri, bukan orang lain, termasuk oleh neneknya.”. Bu Septi hanya diberi waktu hingga hitungan kelima. Dengan yakin Bu Septi menerima lamaran tersebut padahal SK PNS sudah ditangan. Ia yakin dengan piliihannya karena  menilai Pak Dodik seorang calon imam yang punya tujuan.

Awal sebagai ibu rumah tangga terasa berat karena IRT dianggap tidak memiliki pekerjaan. Iya ya, sampai sekarang pun masih ada lho yang memandang IRT gitu doang kerjaannya. Kayaknya lebih keren ibu yang bekerja di kantor dibanding IRT berdaster. Padahal keduanya sama-sama punya peran penting.

Bu Septi menerima profesi barunya sebagai ibu rumah tangga dengan membuat jadwal harian. Setelah pukul 7 pagi, beliau menggunakan pakaian layaknya pegawai kantoran. Pukul 7 pagi hingga 2 siang digunakan untuk bermain bersama kedua putrinya, Enes dan Ara. Jika ada tamu yang datang, ia menjelaskan ke tamunya bahwa sedang bermain bersama anak. Ia menerima kunjungan setelah pukul 2 siang.

Kegiatan bermain bersama anak seperti ini melahirkan berbagai metode pembelajaran seperti ABACABACA, JARITMATIKA, hingga cikal bakal IBU PROFESIONAL. Masya Allah.


Bu Septi menyadari seorang ibu rumah tangga tidak hanya tukang bersih-bersih rumah atau tukang belanja. Ibu merupakan manajer keuangan dan kesehatan keluarga serta manajer pendidikan anak. Untuk itu, jadilah ibu rumah tangga profesional.

Pak Dodik mendukung usaha istrinya dengan memberikan buku bacaan di pagi hari. Saat malam, Bu Septi diminta mempresentasikan isi bacaan tersebut pada sang suami. Selain itu Bu Septi diuji dengan dibuatkan kartu nama "ibu rumah tangga profesional". Ia kemudian datang ke seminar-seminar di kampus untuk membagi kartu nama tersebut. Ketika berkenalan, otomatis Bu Septi belajar mengenalkan apa itu ibu rumah tangga profesional. Di sinilah keahlian berkomunikasi semakin terasah.

Dalam IIP, dikenalkan istilah ibu bekerja. Ada ibu bekerja di luar dan ibu bekerja di ranah domestik.

Bersama founder Insitut Ibu Profesional Septi Peni Wulandani


AKU + KAMU = KITA

Menyatukan dua insan dalam sebuah pernikahan yang langgeng bukan hal mudah. Masing-masing memiliki Frame of Reference dan Frame of Experience yang terbentuk bertahun-tahun sejak kecil. Frame of Reference (FoR) terbentuk dari hasil interaksi dengan orang lain, buku bacaan, dsb. Sedangkan Frame of Experience (FoE) dari hasil pengalaman hidup.

Perbedaan FoR dan FoE menyebabkan perbedaan menyikapi sesuatu. Contohnya ketika menghadapi anak yang merengek minta mainan. Ayah bilang tidak namun ibu mengiyakan. Hal ini akan membingungkan anak dan bisa dimanfaatkan si anak untuk dekat ke ibunya saja karena permintaannya cenderung dituruti.

Samakan pandangan dengan pasangan untuk menghindari beda pendapat seperti di atas. Caranya lewat komunikasi intensif kemudian buatlah aturan bersama yang disetujui keluarga. Kalaupun ada perilaku pasangan yang tidak kita setujui, bicarakan baik-baik tidak di depan anak. Masuk kamar dulu lah untuk menyelesaikan.

Selain menyamakan pandangan, Bu Septi menghimbau untuk meminta maaf kepada anak sulung. Anak sulung biasanya lahir ketika dalam keluarga belum terbentuk “KITA”. Orang tua masih fakir ilmu dengan keadaan ekonomi yang belum stabil. Ah, saya baru memahami proyek Enes Kusuma yang bertajuk #SaveSiSulung.

Tips Ngobrol dengan Pasangan dan Anak

Institut Ibu Profesional memiliki mantra dasar untuk membentuk kata “KITA” dalam keluarga, yaitu:
  • Banyak main bareng
  • Banyak ngobrol bareng
  • Banyak beraktivitas bareng

Semakin lama, ubah kata “banyak” menjadi “banyakin”.

Mantra ini memang ampuh membangun kedekatan keluarga. Kalau jarang berinteraksi, bagaimana bisa kompak?

Kemudian muncul satu pertanyaan menarik dari peserta yaitu bagaimana cara ngobrol? Kayaknya remeh ya. Masa’ ngobrol aja perlu diajarin? Ngobrol juga ada tekniknya lho. Salah mengawali obrolan, bisa-bisa ada yang ngambek.

Dalam keluarga Pak Dodik terdapat forum mingguan bernama “Master Mind” di mana semua anggota keluarga menceritakan kisah suksesnya minggu itu. Hanya ada 3 pertanyaan yaitu: apa kesuksesanmu minggu ini? Bagaimana bisa sukses? dan apa rencana suksesmu minggu depan?. Dengan memulai topik positif seperti ini, obrolan akan lebih lancar. Coba kalau topiknya tentang kekurangan pasangan, waduh… perang dunia bisa terjadi.

Para peserta juga diajak membuat Master Mind. Kami duduk melingkar kemudian menceritakan hal sukses yang diraih minggu ini. Saya sendiri sukses sampai di lokasi seminar di Pondok Cabe tanpa tersesat. Peserta lain ada yang berhasil bangunin anak tanpa menangis, menyiapkan MP-ASI, dan pamitan kerja tanpa anak cranky. Alhamdulillah.

Dalam kelas Bunda Sayang dipelajari “Komunikasi Produktif” dimana saat berkomunikasi bukan hanya tentang suara. Suara hanya 7%, unsur lainnya yaitu intonasi 38% dan body language 55%. Gunakan kalimat yang jelas kemudian klarifikasi sudah jelas atau belum.  

Kerja sama (pic. Anna Samoylova)


Meredam Emosi

Sebagai manusia terkadang orang tua kalut terbawa emosi. Tanpa sadar bisa kelepasan marah ke anak hingga melukai hatinya. Luka itu tidak akan hilang tetapi kita dapat mencegah luka berikutnya. Pak Dodik melatih meredam emosi dengan mengigit lidah. Jika berlaku salah maka istighfar, meminta maaf, berjanji tidak akan mengulangi, serta ngobrol tentang perasaan masing-masing.

Sedangkan Bu Septi punya pengalaman menarik tentang hal ini. Kedua putrinya saat masih balita pernah mengacak-acak tumpukan pakaian yang sudah disetrika. Beliau menurunkan level emosinya kemudian ikut mengacak-acak pakaian tersebut. Anak-anak heran melihatnya. Setelah selesai bermain, Bu Septi mengajak mereka merapikan pakaian bersama-sama sambil pura-pura menjadi semut yang mengumpulkan gula. Hihihi, ada aja idenya!


Fokus pada Kekuatan

"Apakah anda yakin MENIKAHI orang hebat?"

Dalam kelompok yang terdiri dari dua orang, masing-masing menyebutkan kelebihan pasangan. Bagian yang ini makin bikin baper ketika melihat respon peserta yang datang berpasangan. So sweet deh ketika masing-masing melontarkan pujian. Tuh, kan, ternyata pasangan punya banyak kelebihan. Peserta kemudian diminta menuliskan kehebatan istri dan kehebatan suami di flipchart.

Rekan satu tim, Mbak Tantri dari IIP Tangsel 


Berbagi Peran dalam Keluarga

Sekarang udah tahu kehebatan masing-masing, kan. Selanjutnya berbagi peran dalam keluarga. Peran di sini tidak terbatas urusan dapur hanya untuk kaum wanita atau urusan cari duit hanya untuk kaum pria. Tugas istri yang tidak dapat digantikan suami hanyalah melahirkan dan menyusui.

Sebelum berbagi peran, jelaskan apa saja peran dalam rumah tangga. Kemudian ambil peran, baik itu suami, istri, dan anak. Selanjutnya jalankan peran dan apresiasi. Ini termasuk ketika anak menjalankan peran, misal menyapu. Ketika hasil sapuan masih kurang bersih, jangan dikoreksi di depan anak. Tunggu anak pergi kemudian sapu lagi. Tidak ada evaluasi, hanya apresiasi.

Jika pasangan belum mau diajak bekerja sama, mungkin selama ini kita hanya membagi beban. Cobalah berbagi kebahagiaan, bukan berbagi beban. Contohnya kebahagiaan bermain dengan anak, menjadi mandiri, dan sebagainya.

Bagaimana dengan pasangan yang terlalu cuek, kurang perhatian, atau tidak sesuai harapan? Kata Pak Dodik, selama sifat pasangan tidak menyebabkan kerusakan alam, yaudah sih terima aja. Apa yang kita berikan itulah yang akan kita terima. Jika ingin mendapat hal berbeda, maka berikan hal berbeda. For things to change, I must change first.

Quality dan Quantity Time dengan Anak

Baik orang tua bekerja di ranah publik ataupun di rumah, interaksi orang tua dengan anak sangatlah penting. Sekarang sudah ada teknologi yang makin mendekatkan, so ga ada alasan lagi bahwa bekerja di luar kota membuat sulit berkomunikasi dengan anak. Saat berjauhan, aktifkan gawai untuk bangun kedekatan. Saat berdekatan, matikan gawai (TV dan HP) lalu ikuti mantra dasar IIP.

Quality time dan quantity time sama pentingnya. Interaksi membutuhkan kehadiran secara penuh, bukan hanya ada secara fisik tetapi pikiran kemana-mana. Anak bisa membaca non-verbal, lho.


Ketika Pak Dodik diwisuda, ada seorang ibu yang dipanggil maju ke atas panggung. Ibu tersebut bekerja sebagai buruh tani. Ia seorang janda dengan 7 anak yang semuanya lulus dari 3 universitas terbaik di Indonesia dengan predikat cumlaude. Masya Allah. Bagaimana ibu tersebut mengatur waktunya antara bekerja dengan mengasuh anak? Setiap pulang kerja, beliau membersihkan badan kemudian mendatangi anak-anaknya satu persatu. Tiap anak ia ajak ngobrol, bahkan pada anak yang sudah tertidur.

Bu Septi menambahkan hal yang tidak pernah ditolak anak yaitu bermain, dongeng, hadiah, dan kejutan. Maka berikanlah hal tersebut. Tak harus menuruti membeli mainan baru tetapi dapat juga bermain bersama anak secara total. Jika merasa kesulitan menangani pekerjaan dan mengasuh anak, buatlah manajemen waktu sehingga secara otomatis kebutuhan anak akan terpenuhi.

"Kami, kami
Kami, satu tim
Main bareng
Ngobrol bareng
Beraktivitas bareng
Boom!"

Keluarga ibaratnya sebuah rumah dengan pondasi kekuatan suami dan kekuatan istri. Rumah tersebut bertangga komunikasi produktif, fokus pada kekuatan, berbagi peran, dan KITA. Pintunya terbuat dari indikator sukses. Pilar-pilar penyangganya terdiri dari kekuatan anak-anak dan beratap nilai yang dipegang teguh bersama.


Setelah seminar selesai, MC memanggil tim Kids Corner yang telah menemani anak-anak selama para orang tua mengikuti seminar. Aih lucunya anak-anak masuk ruangan membawa hasta karya bertema “Under The Sea”. Jadi kangen SID di rumah, nih. Saya berjanji untuk semakin profesional menjalani peran sebagai ibu rumah tangga profesional.

Sebuah tim bergerak terkoordinasi (pic. shwetah shankar)
Terima kasih ya IIP Tangsel atas undangannya! Terima kasih juga Ayah SID yang menemani SID selama Ibu sekolah mendaki gunung, lewati lembah hingga sampai ke belahan bumi lain. Semoga ilmu ini berkah.



18 comments on "Membangun Tim yang Solid dalam Keluarga "
  1. Komunikasi selalu jadi salah satu kunci penting dalam berhubungan dengan siapapu, ya. Apalagi dengan suami dan anak yang pastinya keluarga terdekat. Kalau komunikasi dengan mereka sudha baik, insya Allah rumah tangga pun berjalan dengan aman :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Mbak. Apalagi kita berinteraksi setiap hari dengan keluarga. Butuh komunikasi produktif.

      Delete
  2. Semua ibu adalah ibu bekerja. Setuju sis, dan aku salut banget sama ibu yg melepas karirnya demi keluarga. Salut juga sama cara kamu didik SID ��

    ReplyDelete
  3. Ooo, kirain seminar a home team ini diikuti sama suami istri, Len.
    MasyaAllah ya, Bu Septi dan Pak Dodik itu memang luar biasa. Nggak pernah bosen dengan kisah dan sharing-sharing mereka. Semoga kita bisa menerapkan juga di keluarga kita ya. Amin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebaiknya gitu, Mbak. Berhubung tempatnya jauh, aku datang sendiri. Peserta lain banyak yang datang berpasangan.

      Delete
  4. Tulisanya ngena banget yaa,,pelajaran buat emak-emak kaya saya.

    ReplyDelete
  5. Keluarga itu ..komunikasi gak boleh putus..butuh pendekatan dari hati ke hati agar ..lebih harmonis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, betul. Mbak Nova sering bahas tuh ya di blog.

      Delete
  6. Aku barussaan aja menyelesaikan tantangan 12 level di kelas Bunda Sayang.
    Dan rasanya makin banyak tantangan yang terlewati, ghirah dalam membersamai anak makin berkurang. Terlebih karena mereka sudah makin dewasa dan kadang butuh privacy sendiri.

    Jadi tulisan mba Helena mengingatkanku kembali tentang pentingnya beklerjasama di rumah. Bukan hanya sekumpulan orang yang datang dan pergi. Namun ada komunikasi dan kerjasama yang baik di sana.


    Barakallahu fiikum, Mba Helena sekeluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, selamat ya Mbak udah lulus bunsay. Aku masih level 4. Selamat melanjutkan membersamai anak.

      Delete
  7. Karena itu sebisa mungkin kemanapun saya ada acara, anak saya bawa. Kalau gak bisa bawa anak, tidak apa, saya yang memilih tidak ikut dan memilih bermain saja dengan anak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau acara seperti ini biasanya ada Kids Corner. Fahmi bisa main di situ sementara teteh ikut seminar.

      Delete
  8. Wah rangkumannya lengkap sekali mba Helen. Berasa ikutan diacara itu. Terasa betul semangatnya untuk menemami anak. Bermain bareng. Bahkan bu Septi nerima tamu setelah jam 2 ya. Segitunya. Semoga bisa segera nyusulin senior di kelas Bunda Sayang. Dan terus berikhtiar menjadi Ibu Profesional. Amin

    ReplyDelete
  9. Keren semangatnya Mba.. Sampai rela jauh2 dari Jakarta utk ngikutin seminar parenting ini..

    ReplyDelete
  10. Betul mba, komunikasi itu kuncinya apalagi kalau terpisah jarak benar-benar harus dijaga. Pergi seharipun aku selalu kasih info ke Ibu ku sampai kirim lokasi dan foto hihi :p

    ReplyDelete
  11. Ikutan Berantakin bikin bingung. Jadi itulah yang bikin anak berpikir dan untungnya ada ide merapikan

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature