Helenamantra

Life of Happy Mom - Personal blog about parenting, health, and upside down of life.

Membuat Tulisan Lebih Bernyawa a la Dini Fitria

Thursday, February 22, 2018
Pernah ga sih merasakan tulisan sendiri terasa hampa? Bagaikan makan kerupuk yang rasanya gitu aja. Mudah ditebak, nothing’s special. Terkadang saya merasa seperti ini terutama menulis reportase yang mepet deadline. Mau baca lagi aja males karena isinya kebanyakan copy-paste dari press release. Padahal, lubuk hati saya menginginkan tulisan-tulisan ini tak hanya gugur kewajiban tetapi juga bermanfaat bagi pembaca.

Dini Fitria (kiri) bersama Founder ISB Ani Berta
Mungkin tulisan tersebut kurang rasa, kurang nyawa. Sedangkan menurut Dini Fitria, cerita yang baik tidak hanya membuat pembaca berpikir tetapi juga merasakan. Penulis novel travel religi Muhasabah Cinta, Hijrah Cinta, dan Islah Cinta ini pernah merasakan hal yang sama. Di awal penulisan Islah Cinta, ia sempat tidak menyukai tulisannya sendiri. Apa yang ia lakukan? Bagaimana membuat tulisan yang lebih bernyawa dan mampu menggerakkan pembaca? Simak tips menulis dengan cinta dari Dini Fitria dalam workshop yang diadakan oleh komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) berikut ini.

Hujan membasahi perjalanan saya dan Mbak Anisa menuju JSC Hive pagi itu. Motor Mbak Anisa meliuk-liuk mencari celah di antara kepadatan lalu lintas Kuningan supaya kami bisa tiba tepat waktu. Andai topik workshop tak semenarik ini, mungkin saya putar balik pulang saja. Namun, rasa haus ilmu memperbaiki kualitas tulisan lah yang membuat saya bersemangat menerobos hujan.

Feature Story is All About Emotion

Ketika masih bekerja di salah satu stasiun tv swasta, Dini ditugaskan meliput ke India. Selesai liputan, ia berjanji di depan India Gate tidak akan kembali lagi ke sana karena mengalami banyak hal buruk di India. Be careful what you wish for. Lima tahun berselang, ia kembali lagi ke sana untuk membuat novel Islah Cinta dengan latar negeri Hindustan. Kali kedua ini justru ia jatuh cinta pada negara tersebut. Perjalanannya selama di India menyimpulkan satu hal bahwa cinta adalah sebuah penyerahan diri, bukan keegoisan atau pemaksaan.

Kekuatan Dini Fitria nampak jelas dari caranya merajut kata-kata menjadi satu kisah utuh yang membuat imajinasi pembaca terhanyut. Cara penulisan ini dapat diterapkan dalam blog dengan membuat feature story atau karangan khas. Feature menyampaikan fakta dengan cara yang ringan, menarik, tanpa harus 5W+1H, serta melibatkan emosi. Ciri-ciri feature story, yaitu:

  • Bertutur atau story telling. Cara ini termasuk soft news supaya pembaca tidak bosan dengan tulisan yang iklan banget.
  • Deskriptif dalam menggambarkan suatu peristiwa secara gamblang
  • Informatif supaya pembaca mendapat informasi setelah membaca artikel tersebut dan tidak menulis hoax.
  • Gaya penulisan yang naratif, memikat, prosais, serta imajinatif membuat pembaca merasakan menjadi bagian dalam cerita tersebut.
  • Tidak perlu 5W+1H. Yang penting adalah why, what, and how supaya pembaca merasa butuh dan tertarik. Ketika mengulas suatu produk, ambil dari sudut pandang calon pembeli. Mengapa calon pembeli tertarik membeli produk tersebut? Apakah ia membutuhkannya?
  • Memasukkan unsur human of interest dengan mengaitkan ke hal yang sedang menjadi tren atau viral namun tetap relevan sebelum masuk ke intinya. Misalnya hendak mengulas produk kebutuhan anak, sentuh hati ibunya dengan cerita kasih sayang.

Cara Membuat Feature Story

Feature story dapat menyampaikan pesan mengenai perjalanan, perjuangan, cinta, kesedihan, kebahagiaan, kisah inspiratif, juga musibah.

Cara penyampaiannya dengan story telling yang mengajak pembaca berimajinasi. Tekniknya dengan menunjukkan, bukan mengatakan. Misalnya menggambarkan sepotong kue tanpa menyebutkan kata kue. Nah, lho, tantangan nih!
“Gigit demi gigit potongan cokelat masuk ke mulutku. Lapisan cokelat terasa lumer dan legit menyentuh lidah. Topping krim dan ceri semakin menambah kelezatannya.”
Hmm, perlu belajar lagi mengasah dan menyusun kata-kata supaya pembaca larut dalam bagian cerita. By the way, story telling lebih disukai pembaca karena mudah menyentuh hati dan meninggalkan kesan mendalam. Bagi saya, teknik story telling lebih lancar jika diselipi curhatan. Apalagi ketika curhat tentang ketidak-sempurnaan ibu mengurus anak (saya banget!). Sampai mewek deh. Menulis itu curhat, iya gak sih?

Peserta sibuk live tweet #menulisdengancinta
Selain gaya bertutur, feature harus memiliki tujuan yang jelas. Sebelum menulis, tanyakan pada diri sendiri. Mengapa menulis hal ini? Apa manfaatnya bagi pembaca?

Kemudian tulis hal yang relevan, prestisius, atau dekat dengan keseharian pembaca. Gunakan kata yang bervariasi dengan banyak diksi namun perhatikan bahasa yang rapi dan terjaga (no typo). Konsisten gunakan “Aku”, “Saya”, atau “Gue” dalam satu artikel. Jangan dicampur-campur, kadang “Aku, kadang “Gue”. Oh ya, perhatikan sudut pandang supaya konsisten.

Unsur membuat penasaran juga penting, terutama membuat “lead in angle” atau kalimat pembuka yang cepat menarik perhatian. Gugah emosi atau empati pembaca sehingga ia merasa butuh dan penasaran ketika membaca kalimat pembuka. Tetapi jangan terlalu bertele-tele jauh dari topik utama. Gunakan secara pas.

Agar tulisan tidak bertele-tele, buat premis yang jelas setelah menentukan topik. Premis itu bagai benang merah yang mengikat pembuka, isi, dan penutup supaya tetap dalam satu bahasan tertentu. Berikut pengeritan premis dalam KBBI.

premis/pre·mis/ /prΓ©mis/ n 1 apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; 2 asumsi; 3 kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika;
Tulislah artikel yang mendidik dan penuh nilai sehingga pembaca menemukan manfaat di dalamnya. Namun, jangan menggurui atau menasehati pembaca. Menggiring ke kesimpulan tertentu masih oke tetapi biarkan pembaca memutuskan. Wah, saya harus baca-baca lagi tulisan saya, jangan sampai merasa minteri (terlalu pintar). Untuk artikel ini, saya bukan menasehati pembaca untuk menulis feature, lho. Saya hanya menyampaikan ilmu dari Mbak Dini. Hehehe.

Terima kasih atas inspirasinya, Mbak Dini!
Menulis perlu menggunakan hati dan jiwa, penuh penghayatan, sehingga pembaca betah balik lagi ke blog menunggu cerita selanjutnya. Ah iya, sepakat dengan Mbak Dini bahwa menulis itu tentang rasa. Menuliskan rasa akan menjadi bermakna bila kita dapat mengambil ibrah dan hikmah.

Kemampuan menulis ini memang perlu diasah terus-menerus. Feature bukan berita aktual atau up-to-date tetapi muncul di saat yang tepat untuk menarik pembaca. Penulis harus peka mengangkat suatu topik. Gunakan daya endus berita apa yang tepat diangkat ke dalam features (nose of news).

“Menulis itu soal rasa, temukan rasamu dan jagalah.
-Dini Fitria”
Dalam menulis, perlu ada identitas yang menjadi ciri khas penulis tersebut. Ciri ini dapat berupa kata, jargon, atau gaya tertentu yang membuat pembaca familiar mengenal ini adalah tulisan si A meski tidak tertulis nama penulisnya.

Hasil tak menghianati proses. Konsisten dalam menulis membuat semakin tinggi jam terbang, semakin bergizi dan menarik pula tulisan yang dihasilkan. Dini Fitria berpesan di akhir workshop, “The king is you so you must create king content. Jadilah penulis yang bernilai A+, jangan hanya A.”.

Mbak Haya menjadi model kreasi hijab Shafira. Makin fresh!
Saya bersyukur terpilih menjadi peserta workshop ISB kali ini. Materinya benar-benar mengenyangkan serta menguras emosi dan tenaga untuk memahaminya. Selama sekitar 3 jam saya menyimak sambil duduk di bean bag nyaman di EV Hive. Saya jadi banyak berpikir (sambil melamun) bagaimana membuat tulisan lebih punya nyawa, punya rasa.

Materi yang berbobot membuat lapar melanda. Untungnya ada Kulina.id yang menyediakan makan siang porsi kenyang. Ayam betutu, plecing kangkung, dan tahu goreng menjadi menu siang itu. Sambil menikmati santap siang, Atika dari Kulina menjelaskan start-up ini. Kulina bekerja sama dengan mitra di sekitar Jakarta untuk menyediakan makan siang dengan harga terjangkau. Seporsi hanya Rp25.000,- sudah termasuk ongkos kirim di Jakarta. Saya sudah langganan Kulina, lho. Tunggu ulasannya, ya.

Makan siang dari Kulina
Acara ini juga disponsori oleh C2Live. Itu lho yang suka mengadakan lomba blog. C2Live kini memiliki fitur content aggregator. Tulisan di blog dapat ditayangkan ulang di C2Live untuk meningkatkan visibilitas dan mendapat backlink. C2Live juga memfasilitasi community meet-up seperti pelatihan ini. Sila hubungi putra@c2live.com untuk info lengkapnya.

C2Live memfasilitasi community meet-up
Terima kasih juga kepada Shafira, ZOYA, dan ZOYA Cosmetics. Goodie bag-nya itu lho bikin penampilan makin memesona. Alhamdulillah, ya.

Goodie bag sesuai kebutuhan saya. Love it!


45 comments on "Membuat Tulisan Lebih Bernyawa a la Dini Fitria"
  1. Membuat tulisan lebih bernyawa.
    Duh.. tulisan saya belum bisa seperti itu, memang harus belajar dan berlatih lebih banyak.

    Makasih buat ilmunya ya mbak.

    ReplyDelete
  2. Iya nih, saya lagi mencoba gaya menulis story telling di tiap artikel blog saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat travel blog seru tuh pakai story telling

      Delete
  3. aku nulisnya kadang masih ga konsisten, masih harus terus belajar banyak. Mebuat tulisan lebih bernyawa. Sayang saya ga terpilih ikut workshop ini. Mudah2an next workshop bisa terpilih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Workshop kedua bakal ada lagi, Mbak. Semoga terpilih supaya puas nanya-nanya dengan Mbak Dini.

      Delete
  4. Dari dulu saya suka gaya feature, Mbak. Hanya untuk menerapkannya ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Seringnya saya jadi bertele-tele. nah, udah ketahuan sekarang apa yang harus diperbaiki. Nice sharing Mbak Helen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Jadi muter kemana-mana ya. Hihihi. Itulah guna premis supaya stay on the line.

      Delete
  5. penjelasannya bagus sekali, saya membaca tulisan ini sampai habis. Mencoba menerapkan tulisan yang bernyawa

    ReplyDelete
  6. Nyawaku sering hilang, entah kemana. Baca tulisan ini jadi ketemu 😊✌.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Et dah. Di sini ga jual nyawa. Emang main game -___-

      Delete
  7. wah masih harus terus belajar nulis nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mbak Kania. Kata buku tulis, practice makes perfect.

      Delete
  8. Aku memang pengennya , menulis dlm bntuk story telling gini. Masih trs brlajar sih, supaya bisa sebagus tulisan2 para penulis jempolan :) . Aku sendiri kalo membaca suatu blog , paling seneng kalo penulisnya menulis dgn gaya bercerita. Jd ga kaku dan bikin ngantuk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh tulisan Mbak membuatku terlarut dalam perjalanan travelingmu keliling dunia. Keep writing!

      Delete
  9. Aduhh, memang susah sih bikin tulisan jadi bernyawa. Thank you sharing ilmunya mbak. Bermanfaat bangets :)

    ReplyDelete
  10. meski tulisan udah pake bumbu-bumbu tapi kalo bumbunya nggak pas justru tetap nggak ada rasa ya...setujunya banget dengan apa yang dibilang Dini kalau kita meski banyak membaca, nonton, yang bikin perbendaharaan kata kita jadi nambah banyak. Biar merangkai katanya juga tambah enak yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan bumbu juga ga oke, kan. Iya nih perlu baca novelnya Mbak Dini buat menambah diksi.

      Delete
  11. Sudah ketemu belom sama rasanya? Kalo belum ketemu, sini tak kasih Mba. Hahaah.. Banyak rasa ini. Hahaha. Menulis dengan rasa dan cinta akhirnya keluarlah tulisan juara. Ini nih tulisan Mba Helena. Cakep!

    ReplyDelete
  12. Helen, kok aku kayak kenal yang jadi model hijab tutorial itu. *kabor

    ReplyDelete
  13. Saya sering mba baca tulisan sendiri kaya hampa, dan ternyata memang bener nulisnya bukan dengan hati tapi dengan tangan, wkwkwk piss :v

    ReplyDelete
  14. Saya ketagihan ikut workshop Mba Dini

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah banget bisa dpt banyak ilmu dari kelas kemarin ya mbak. Jadi tau gimana menulis dengan baik

    ReplyDelete
  16. Makasih ilmunya Mba Helena. Aduh kayaknya harus banyak latihan ini saya untuk bisa mengikuti tips-tips di atas. Apalagi saya, terkadang suka takut tulisan saya menggurui ��

    ReplyDelete
  17. Masukin ruh ke dalam karya itu emang enggak mudah, semua perlu latihan dan ketulusan. Di atas itu teknik2 aja, semua balik lagi ke kita yg nulis kan penholahannya

    ReplyDelete
  18. Benar banget, menulis adalah soal rasa!

    Makasih share nya, bermanfaat banget nih.
    Saya suka menulis dan tertantang untuk konsistem menulis, namun kadang jika terlalu dipaksakan tulisannya jadi amburadul πŸ˜‚

    Btw salam kenal yaa 😊

    ReplyDelete
  19. Wahhhh, msh banyak yg perlu saya pelajari, terima kasih atas ilmunya mba.

    ReplyDelete
  20. Asyiikkk dpet ilmu lg mmpir disini. Mkasih ya mam sid..

    ReplyDelete
  21. keren yaaaa ilmunya... bergizi dan bermanfaat... tapi aplikasinya tentu gak gampang

    ReplyDelete
  22. Selama ini nulis blog terkadang rasanya monoton, kemarin kaya dapat penyegaran

    ReplyDelete
  23. Memberikan nyawa pada tulisan, ini susah harus banyak belajar. Makasih untuk sharing informasinya, Mbak.

    ReplyDelete
  24. Hari itu kan hujan dari subuh ya. Ya ampun untung aja enggak tergoda untuk batalin. Ternyata workshopnya penting banget. Workshop terpenting yang pernah saya datang ini mbak hahaha.

    ReplyDelete
  25. harus bisa jadi penulis yang gak biasa ya mama sid

    ReplyDelete
  26. Nulis pake nyawa ini emang butuh latihan terua menerus ya mb.. kendala nyubi cem aku ini kadang mood suka naik turun, hehehe.

    ReplyDelete
  27. Galfok mba ketika membuka isi GB dari acara workshop ISB ya emm... Pas banget sama kebutuhan hihihi!

    ReplyDelete
  28. Saya masih harus kerja keras memperbaiki gaya tulisan yang masih amburadul huhu

    ReplyDelete
  29. Saya pernah mba merasakan tulisan yang gak saya banget setengah hampa nulisnya tapi harus datang karena menghargai yang ngundang pdhl saya gak daftar acaranya, tapi akhirnya saya tulis sesuai sudut pandang saya yg oenting maksudnya sama #curcol

    ReplyDelete
  30. Membuat tulisan lebih bernyawa kalo saya tergantung mood kalo moodnya lagi bagus powerfull jadi dengan mudah mengetik. Dan terkadang malas untuk menulis, dari tulisan mba akhirnya saya dapat Ilham untuk terus belajar lagi . Artikelnya bermanfaat bgt mba,oia salam kenal

    ReplyDelete
  31. Memang terasa bgt bedanya loh saat kita membaca tulisan yg dibuat dengan rasa dan tulisan yg seadanya saja.

    ReplyDelete
  32. Benar2 workshop yg berbobot yah mbak..aki dari awal sampe akhir ga berkedip merhatiin materi yg disampaikan mbak dini fitria

    ReplyDelete
  33. Aku tuh suka kesulitan pas memulai untuk menulis Mba XD

    ReplyDelete
  34. Jujur pulang dari workshop aku ngerasa makin banyak PR, masih belajar juga menulis yang mudah dipahami dan enak dibaca. Tiap ornag punya gaya penulisan masing2 sih ya, nah aku masih on proses mencari gaya penulisanku seperti apa :)

    ReplyDelete
  35. Helena, kritik donk tulisan bunda, selain yang review lho. Dikritik abis-abisan deh biar bunda tambah bagus nulisnya. #emangsekarangudahbagus hehe... Ini acara kapan, ya. Itu ada Cikgu Haya yang karena beliau bunda jadi memperkaya diksi, dan mengurangi elipse. Yeeaaryy.

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature