Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Bedah Buku TOMO di Festival Literasi Sekolah 2019

Friday, August 2, 2019

Festival Literasi Sekolah 2019

Buku TOMO dalam Festival Literasi Sekolah 2019, Kemdikbud RI
Sari Okano terbiasa menuliskan kisah anak pertama dan keduanya sebagai bentuk bersyukur. Bahkan ketika tahu anak keduanya autis, ia makin bersyukur. Memiliki anak berkebutuhan khusus membuatnya semakin mencari tahu apa penyebab anak autis dan bagaimana cara merawatnya. Kisah nyata ini ia tuangkan dalam buku berjudul “TOMO”.


Bedah Buku TOMO di Festival Literasi Sekolah 2019


Sebagai penutup rangkaian acara Festival Literasi Sekolah 2019, 29 Juli 2019 lalu di panggung utama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, diadakan bedah buku “TOMO”. Sebelum acara dimulai, saya mendekati meja registrasi yang berhiaskan origami tsuru (bangau Jepang) dan bendera ikan koi yang disebut koinobori. “Khas Jepang banget,” batin saya. Rupanya buku yang akan dibedah ini menceritakan cara pengasuhan seorang anak berkebutuhan khusus bernama Tomo yang tumbuh di Jepang. Ibunya orang Indonesia sedangkan ayahnya orang Jepang.

Dalam buku Tomo, Sari menceritakan pengalamannya mengasuh Tomo dari kecil. Merawat anak autis seperti Tomo tidaklah mudah dan butuh treatment khusus. Bisa membuat Tomo duduk tenang seperti di panggung hari itu merupakan suatu prestasi. Tomo, kini berusia 20 tahun, dapat bekerja sama selama acara dengan duduk di kursi dan menjawab pertanyaan dengan baik. Tentunya pertanyaan hanya dalam bahasa Jepang karena Tomo tidak mengerti bahasa Indonesia.

(ki-ka): Tomo, Penulis Buku Sari Okano, Moderator Dewi Utama Faizah, Dosen Marissa Grace Haque Fawzi 
Dalam mengasuh anak autis, Sari harus mengatakan dengan jujur setiap berkomunikasi dengan Tomo. Itu karena si anak akan menganggap tiap perkataan memang benar adanya. Selain itu, proses belajarnya akan lebih mudah dipahami bila menunjukkan secara konkret. Mau mengenal apel ya dengan menunjukkan buah apel.

Autisme bukan menjadi penghalang. Sari Okano ingin anaknya tumbuh mandiri dan bermanfaat. Oleh karena itu, Sari mengajarkan Tomo agar dapat memahami mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya. Contohnya ketika Tomo marah, ia akan menjedotkan kepala dan merasa kesakitan. Setelah itu Tomo dekati ibunya. Saat seperti ini, Sari memberi tahu ke Tomo bahwa hal tersebut menyakiti diri sendiri dan tidak baik dilakukan. Jadi, Tomo belajar baik dan buruk lewat pengalaman nyata.

Anak autis merupakan anak spesial yang lahir di keluarga istimewa. Membaca sekilas buku Tomo dan mendengarkan pemaparan sang penulis membuat saya yakin anak autis dapat tumbuh bahagia dan berprestasi.

Literasi Bukan Hanya Baca Tulis

Festival Literasi Sekolah menjadi agenda tahunan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tahun ini tema yang diangkat yaitu “Indonesia Romantis”. Berbagai perlombaan untuk siswa-siswi tingkat SMA/MA dan sederajat diadakan, seperti lomba menulis cerpen, syair, membuat meme, juga komik.

Booth di Festival Literasi Sekolah 2019
Pada ajang ini, banyak pula talkshow, diskusi, dan workshop, antara lain:
  • Literasi Baca-Tulis: diskusi pengalaman klub baca, buku berkualitas, dan dukungan sekolah
  • Literasi Numerasi: pelatihan berpikir cepat dalam numerasi matematika detik
  • Literasi Digital: membuat game dalam 2 jam dengan Scratch
  • Literasi Budaya & Kewargaan: film sebagai media pembelajaran multiliterasi
  • Literasi Abad 21: Generasi milenial, bonus demografi, dan teknologi informasi dalam dunia pendidikan kontemporer

Dari FLS 2019 saya menyadari literasi bukanlah selalu tentang membaca dan menulis. Dalam abad 21, literasi memiliki cakupan lebih luas. Selain literasi di atas, ada pula literasi finansial dan sains sebagai pelengkap literasi dasar.

Andai tinggal dekat Kemdikbud RI, rasanya mau setiap hari ke sana karena topik-topiknya menarik. Ya meski usia saya sudah terlewat jauh dari usia SMA.

Membaca Itu Murah Bahkan Gratis

Selain berbagai talkshow di panggung utama FLS 2019, banyak booth dari sekolah, lembaga, maupun penerbit yang menarik dikunjungi. Dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB menampilkan karya-karya siswanya di tiap booth. Salah satu yang ramai yaitu booth SMK karena menjual jajanan hasil kreasi siswa. Hehe … tetap ya, ngemil.

Nenteng tas isi banyak buku hasil berkeliling di FLS 2019
Ada pula booth Yayasan Pustaka Kelana, sebuah perpustakaan di Rawamangun. Saya tertarik karena lokasinya mudah dijangkau dari rumah, bisa nih mengajak anak ke sana. Buku-buku di sana dapat dipinjam dengan harga murah, cukup membayar biaya sewa 5.000 – 10.000 rupiah untuk 2 minggu peminjaman.

“Untuk bisa menulis yang bagus itu, perlu banyak membaca, dan seorang penulis yang baik dan pembaca yang tekun itu adalah investasi terbesar dalam kehidupan,” -Najwa Shihab

Selain itu saya penasaran dengan “Literasi Kejujuran” yang disematkan dalam gerobak berisi buku-buku cerita. Rupanya ada 10 gerobak buku bagian dari “Rumah Kecil Bagi Buku” yang disebar di 10 titik RTH se-Jakarta. Siapapun dapat membaca buku di sana. Mau pinjam untuk dibawa pulang ya dibawa saja, setelahnya kembalikan lagi ke gerobak. Mau menyumbang buku pun langsung saja diletakkan di rak buku tersebut. Tidak ada petugas yang mencatat karena di sini melatih masyarakat berbuat jujur. Menarik!

10 lokasi Rumah Kecil Bagi Buku di Jakarta

Pesan literasi Mendikbud untuk anak Indonesia
Satu lagi, di booth Let’s Read milik The Asia Foundation saya mendapat buku gratis karena memiliki aplikasi “Let’s Read” di smartphone. Aplikasi ini membantu saya dan SID untuk membaca buku secara gratis. Daripada anak main game enggak jelas, lebih baik membaca e-book, kan.

Dari ngobrol singkat dengan para pegiat literasi di booth-booth FLS 2019 saya menarik kesimpulan membaca buku itu murah, bahkan gratis. Jika berat membeli buku, dapat membaca di perpustakaan ataupun dalam bentuk e-book yang dapat diunduh secara cuma-cuma.

Pohon harapan berisi harapan para pengunjung FLS 2019
Kini pagelaran Festival Literasi Sekolah 2019 telah berakhir namun ilmu dan pengalaman yang didapatkan di sana semoga dapat mendorong kreativitas siswa-siswi Indonesia. Seperti pesan literasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy bahwa membaca untuk memahami serta mengkritisi dan memberikan pendapat dari apa yang telah dibaca.
27 comments on "Bedah Buku TOMO di Festival Literasi Sekolah 2019"
  1. Yup, daripada anak main game melulu, lebih baik waktunya digunakan untuk membaca buku. Banyak buku-buku bagus yang layak sekali dibaca anak-anak untuk menambah pengetahuan mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah PR lho untuk mengalihkan dari kebiasaan main game ke membaca buku

      Delete
  2. Saya baru pertama kali ke FLS. Padahal udah masuk tahun ke-3, ya. Suka dengan karya-karya para siswa di sana. Diskusinya pun banyak yang menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ternyata udah 3 tahun berjalan. Tingkat SD juga ada di Bekasi atau Tangerang gitu

      Delete
  3. Seruuu banget ada Festival Literasi Sekolah
    Semoga next year bisa sampe Surabaya jugaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin, semoga menjangkau banyak kota se-Indonesia. Kalau pesertanya emang udah dari seluruh provinsi.

      Delete
  4. Pagelaran Festival Literasi Sekolah ini keren pisan, banyak banget kegiatannya, pastinya banyak banget ilmu yang didapat, semoga makin kreatif siswa siswinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga menginspirasi para siswa se-Indonesia untuk berkarya

      Delete
  5. Bagus banget ya acara kayak gini, bermanfaat banget.
    Bukunya juga menarik mba, jadi pengen baca deh.
    Inpiratif banget, khususnya buat mamak-mamak

    ReplyDelete
  6. Oh ternyata selama ini pengetahuan kita belum lengkap ya.. Literasi ternyata bukan hanya terkait dengan membaca saja, namun lebih luas lagi. TFS mba..

    ReplyDelete
  7. Pengen ah datangin kegiatan literasi media seperti ini, mba. Bagus banget apalagi kalau bawa anak deh. Smoga rutin dan sering diadakan

    ReplyDelete
  8. Keren banget ya Festival literasi ini. Programnya juga bagus-bagus. Pasti disukai para pelajar. Aku suka semuanya. Sedikit kecewa dengan lomba meme aja nih

    ReplyDelete
  9. Duh surga banget ya mba bisa dapat banyak buku di FLS 2019, acara bedah bukunya pun oke sekali saya jadi penasaran ttg cara kepengasuhan Tomo saat ia kecil sampai jadi anak yang anteng begitu

    ReplyDelete
  10. Inspiratif banget pencipta buku TOMO ini. Tak mudah memang merawat anak autis...namun berkat sentuhan kasih sayang orang tau, pastinya mendidik anak berkebutuhan khusus jadi menyenangkan ya mbak. Memang mengajak anak untuk gemar membaca saat ini sangat susah karena sebagian dari mereka sudah maniak gadget....dengan adanya acara seperti ini pastinya membuat anak makin gemar membaca ya mbak.

    ReplyDelete
  11. Merawat anak berkebutuhan khusus diperlukan orangtua yang lbieh perhatian dan ikhlas ya, beruntung Tomo punya ibu yang mengerti dan sabar sampai Tomo besar kaya gitu ya.
    Bagus ya festival literasi sekolah kaya gini, mudah-mudahan gak hanya diadakan di Jakarta aja tapi di banyak daerah

    ReplyDelete
  12. Aku baru tau lho literasi itu bukan cuma soal baca tulis, memang sering dengar literasi digital atau literasi keuangan tapi ak pikir hubungannya tetap soal baca dan tulis. Btw kemdikbud juga sepertinya sedang gencar ya program terkait literasi ini, barusan dinas pendidikan di daerahku jg bikin festival buku

    ReplyDelete
  13. Anak berkebutuhan khusus itu sangat spesial karena dia selalu berkata jujur dan tulus memberikan kasih sayang. Btw penasaran sama seluruh isi buku Tomo ini, apakah udaha da di toko buku kaya gramedia ? .

    ReplyDelete
  14. Jadi ingat di sekolah tempat saya mengajar dulu juga menerapkan konsep cinta literasi dan memang benar literasi bukan hanya soal baca tulis saja tapi lebih luas daripada itu. Btw keren banget ya ada event festival literasi seperti ini. Yah semoga dengan adannya event seperti ini makin banyak yang mencintai literasi.

    ReplyDelete
  15. Mba, aku jadi fokus ke kisah Tomo yg diceritakan tadi. Pengin baca tentang pengasuhan anak berkebutuhan khusus seperti yg dilakukan Sari Okano. Luar biasa sabar ya para orang tua yg memiliki putra-putri spesial.

    ReplyDelete
  16. Membaca itu murah bangkah gratis tp jarang atau ga banyak yg tertarik mungkin kurang menarik ya pengemasannya..hahaha

    ReplyDelete
  17. Buku Tomo ini layak banget di baca untuk orangtua yang memiliki anak autis ya mbak, banyak value yang bisa didapat dari buku tersebut, salah satunya bahwa anak autis itu juga bisa bermanfaat untuk orang lain, dan jangan mengunder estimate anak autis

    ReplyDelete
  18. Beuh keren
    Saya berharap bisa ikutan juga jadi nambah wawasan kalau Literasi tak sekadar soal baca tulis saja

    ReplyDelete
  19. Anak autis merupakan anak spesial dan begitu penuh berkat, apalagi punya latar belakang sehingga tercipta buku maka ini jadi bacaan segar bagi seorang Ibu. Semoga festival literasi ini sampai ke Medan juga ya mbak.

    ReplyDelete
  20. Bangga banget sama mbak sari dengan Tomo nya yang berkebutuhan khusus.. dengan ulet dan gigih membuat Tomo bisa sampai titiknya sekarang ini. Dan acara literasi kayak gini emang harus diberdayakan terus secara anak sekarang tahunya gadget aja duh..

    ReplyDelete
  21. Sebagai pegiat literasi (ahaaaiii) aku bahagia banget ada acara beginian.. Mudah mudhan literasi indonesia semakin maju ya sis

    ReplyDelete
  22. sangat membuka wawasan saya selama ini aku tahunya literasi hanya soal menulis dan membaca makasih sharenya

    ReplyDelete
  23. Serunya ada kegiatan literasi gitu, apalagi kayak aku yang emang suka membaca, pasti seru banget tuh.

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,