Helenamantra

Life of Happy Mom - Personal blog about parenting, health, and upside down of life.

Review Novel Gia, The Diary of A Little Angel

Thursday, March 15, 2018

Gia, The Diary of A Little Angel. Mata saya menelusuri baris demi baris buku bersampul pink tersebut. Selalu ceria, ikhlas, tegar, dan suka berbagi saat ia kesulitan. Gambaran sosok Gia dalam novel tersebut rasanya berlebihan. Adakah anak SD dalam kehidupan nyata yang begitu “dewasa” seperti Gia? Rasa penasaran membuat saya membuka halaman-halaman terakhir novel tersebut. Air mata saya pun tumpah.

 Gia, The Diary of A Little Angel

Gia, The Diary of A Little Angel
Penulis: Irma Irawati
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tebal: 140 hal
Kategori: fiksi/novel
Harga: Rp 45.000,-

Nazila Apregia Reigane atau kerap dipanggil Gia/ De Gia, seorang gadis kecil berusia 9 th dari Ciamis, divonis mengidap Acute Myeloid Leukemia. Ia harus berobat bolak-balik Ciamis-Bandung, menjalani kemoterapi, dan berbagai tes lain. Dokter ahli yang menanganinya di Bandung berkata bahwa Gia menjadi pasien ketiganya untuk penyakit leukemia langka tersebut.

Lama sebelum vonis dokter tersebut, sebenarnya Gia menyadari ada yang aneh dari tubuhnya. Ia mudah lelah. Setelah pelajaran olahraga, ia menjadi demam. Namun, Gia menyimpan rapat-rapat keluhannya tersebut karena tak ingin membuat resah Apah dan Mamah, kedua orangtuanya. Ia hanya menuliskannya pada diari kesayangan.

Menyadari di tubuhnya ada penyakit leukemia seperti ini pun tak menyurutkan keceriaan Gia. Ia selalu nampak kuat dan tegar. Ia sangat jarang berkeluh kesah atau menangis di hadapan orangtuanya. Bahkan ia segera menghapus air mata ketika jarum infus dipasang, supaya Apah dan Mamah tak khawatir.

“Kunci untuk bisa sembuh juga, salah satunya, kita mau berdamai dengan penyakit yang menyerang. Jangan diratapi, tapi terima apa adanya dengan ikhlas.” (hal. 67)

“Nggak apa-apa, Teh. De Gia terima sakit ini, kok. Mungkin lewat sakit ini, Allah sayang De Gia. Agar De Gia ingat Allah terus, agar De Gia minta dipeluk sama Allah.” (hal. 102)

Berbagai ujian Gia alami selama ikhtiar proses penyembuhannya. Termasuk ketika tubuhnya drop saat musim libur lebaran. Ciamis-Bandung harus ia tempuh selama 13 jam karena arus balik lebaran. Gia mengeluh? Tidak. Bahkan ia menikmati rasanya naik ambulans. Ia juga menerima ketika rambutnya yang lebat dan ikal harus digundul. Masya Allah.

“Mah, tiduran di dalam mobil ambulans ternyata enak juga ya,” celetuk Gia saat kendaraan yang ditumpanginya mulai bergerak maju. Enak menurut Gia, karena suasana di dalam ambulans seperti di ruangan kamar rumah sakit. Dindingnya penuh dengan lemari putih mengilap dengan segala perlengkapan kesehatan.” (hal. 70)

“… cantik itu bukan karena rambut panjang, atau pakaian indah. Tapi cantik itu karena hati yang dipenuhi kepedulian pada orang lain, dan hati yang lapang karena menerima semua yang diberikan Allah SWT, baik itu kesenangan ataupun kesedihan.” (hal. 97)

Satu kali Gia benar-benar menyuarakan sakitnya ketika ia sakaratul maut. Hingga malaikat kecil ini kembali ke Allah setelah perjuangannya selama 10 bulan melawan leukemia.

Cuplikan diari yang ditulis Gia membuat saya mewek :(
Novel Gia karya Irma Irawati diangkat dari kisah nyata. Almarhumah Gia digambarkan sesuai kenyataannya semasa ia hidup. Hal ini yang membuat saya berkali-kali menyeka air mata selama menamatkan novel ini. Masya Allah, mulia sekali hati dan perbuatan Gia.

Irma Irawati menjalin kisah Gia dari buku diari milik Gia dengan apik, tanpa meninggalkan ciri khas anak-anak sesuai usia tokoh utama. Di awal cerita, perasaan pembaca dibuat naik-turun. Satu cerita berakhir bahagia, cerita berikutnya membuat merenung.

Teh Irma hanya butuh waktu satu bulan menyelesaikan naskah novel tersebut. Waktu yang tergolong singkat, ya.

Tahu ga sih, yang membuat air mata saya tumpah ga habis-habis. Gia kan tidak mengeluh padahal ia sakit. Ia tulis perasaannya di buku diari dan video yang ia rekam dengan HP-nya. Keluarga Gia tidak mengetahui adanya diari dan video-video tersebut. Mereka baru menemukannya setelah Gia wafat.

Pada launching novel Gia, The Diary of A Little Angel, di Gramedia Matraman (11/3) lalu, video-video ini diputar. Di salah satu video nampak Gia mengungkapkan kerinduan pada kakaknya. Matanya berkaca-kaca. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan di mobil. Belum selesai membuat video, ada suara orang tuanya memanggil dari depan, mengajaknya ke toilet. Suaranya langsung berubah ceria ketika menjawab panggilan tersebut. Wajah sedihnya seketika hilang, berganti senyuman.

(ki-ka): MC, moderator Kiki Musthafa, Irma Irawati, Mamah, dan Apah Gia
Baru saja mengenal sosok Gia, saya langsung dibuat kagum dan malu terhadapnya. Gadis sebelia itu mampu menjalani berbagai ujian dengan tegar, bagaimana dengan saya? Malu rasanya jika sakit sedikit langsung mengeluh sana-sini. Sampai buat status di media sosial, pula.

Saya juga penasaran, bagaimana bisa mendidik anak seperti itu? Seorang anak yang memiliki kecerdasan spiritual, intrapersonal, dan interpersonal tinggi?

Kedua orang tua Gia merupakan pembina Pondok Pesantren Darussalam, yaitu Dr. KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA. M.Ag (Apah) dan Dr. Chusna Arifah, M.Pd.I (Mamah). Sang Mamah memiliki tujuan anak punya berkepribadian sehat, salah satunya relijius. Ketika lahir, Mamah selalu doakan dengan ayat suci Al Quran.

Berikut cara Apah dan Mamah mendidik anak-anaknya:
  • Gia mendapat tanggung jawab merapikan tempat tidur dan mengepel teras rumah setiap pagi. Jika tidak dilakukan, ada konsekuensinya.
  • Disiplin dalam mendidik anak sedari kecil, contohnya membiasakan shalat tepat waktu. Hingga nanti saat mendengar azan, si anak sudah sadar menghentikan aktivitasnya dan segera shalat.
  • Membiasakan shalat berjamaah dan tadarus Al-Quran.
  • Selalu minta izin jika menggunakan barang yang bukan miliknya (mengenalkan kepemilikan barang).
  • Menumbuhkan semangat belajar dengan cara menyenangkan. Proses belajar diawali senda gurau dan bercerita. Saat bermain pun diiringi sambil hafalan surat pendek.
  • Mendidik keterbukaan dan dialog dalam keluarga, baik dengan saudara dan orangtua.

Santri dan alumni Pondok Pesantren Darussalam turut hadir dalam launching novel Gia
Kini Gia telah berpulang ke Sang Maha Pemilik Kehidupan. Namun, lewat novel Gia, saya belajar banyak hal positif untuk saya lakukan dalam hidup maupun dalam proses mengasuh SID. Percayalah, Allah yang memberi penyakit maka Allah pula yang memiliki obatnya. Terima kasih malaikat kecil Gia.

26 comments on "Review Novel Gia, The Diary of A Little Angel"
  1. Nyesek banget pas baca detik-detik kepergian De Gia. Namun semangat dan kesabarannya menghadapi penyakit AML menjadi inspirasi banyak orang.

    InsyaAllah De Gia mendapat tempat terindah dari Allah Subhanahu Wata'ala, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuuu yang itu perasaanku berkecamuk, mbak. GIa tabah banget ya.

      Delete
  2. Aamiin semoga kita bisa ambil hikmahnya ya mba, dan cerita kita bisa kita lihat di layar lebar yaaaay

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mau nonton kalau udah masuk bioskop. Siapin tisu deh

      Delete
  3. Wah mantep ya mba bagus ni novelnya, cocok kalo sampai ke layar lebar, hehe

    ReplyDelete
  4. Tampaknya buku ini akan memberikan kesan mendalam saat membaca. Jadi wishlist untuk dibaca

    ReplyDelete
  5. makasih reviewnya , belum baca dan penasaran

    ReplyDelete
  6. Aku belum sempat baca bukunya. Takut nangis berkepanjangan. Mood aku lagi super mellow beberapa minggu ini.
    Waktu dateng ke event ini aja akhirnya aku nangis-nangis sendiri sampai rumah :(
    Aku keinget perjuangan almarhumah kakak mama yang berjuang melawan leukimia juga. Seminggu sebelum meninggal beliau nulis status, "lelah". Agak mirip ya sama Gia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Innalillahi wa innailaihi roojiun. Aku pun jadi lancar baca karena makin kagum dengan sosok Gia. Sehari langsung habis.

      Delete
  7. Huhu, kebayanv kalo aku baca ini pasti bakal nangis2 jugaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga tega, Mbak. Tapi penasaran juga ceritanya sampai akhir.

      Delete
  8. Baca postingannya aja udah bikin aku nyesek, apalagi baca bukunya. Kita jadi belajar banyak dari sosok Gia yang begitu tegar ya mbak Helena ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, hidup harus tegar! jangan kalah dengan Gia.

      Delete
  9. Aku baper baca reviewnya. Ga kebayang kalau baca novel aslinya. Sedia tisue banyak2 deh. Hihi

    ReplyDelete
  10. Masya Allah, baca reviewnya Helen aja aku ikut gerimis, apalagi baca bukunya langsung ya T_T
    Jadi pengen beli, yang jual online ada nggak Len?

    ReplyDelete
  11. Mama SID aku bacanya meleleh,semoga bisa baca buku keren diary nya De Gia ya.

    ReplyDelete
  12. Baca review-nya aja udah banyak banget hikmah yang bisa diambil. Betul itu dikit-dikit jangan update status ��

    ReplyDelete
  13. buku incaran aku ini mba :) dibalik ketegaran GIa ada mamah dan apahnya yang juga slaing menguatkan dan salut sama cara mendidiknya :)

    ReplyDelete
  14. “Nggak apa-apa, Teh. De Gia terima sakit ini, kok. Mungkin lewat sakit ini, Allah sayang De Gia. Agar De Gia ingat Allah terus, agar De Gia minta dipeluk sama Allah.” (hal. 102)

    aku kok langsung tertegun ya baca part ini :'(

    ReplyDelete
  15. Wah kebetulan pengen cari novel, makasih mbak helena, gara gara baca artikel ini jadi udah tau mau beli buku apa

    ReplyDelete
  16. Masya Allah banyak sekali hikmah dari Novel ini ya. Semoga dia di sana mendapat tempat terbaik di sisi Allah

    ReplyDelete
  17. “Kunci untuk bisa sembuh juga, salah satunya, kita mau berdamai dengan penyakit yang menyerang. Jangan diratapi, tapi terima apa adanya dengan ikhlas.” (hal. 67)

    Huhuhu iyaa yaa..biasa kalau sakit kok ya kitanya malah kebawa makin melemahkan diri :(

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature