Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Obat Tuberkulosis Gratis, Jangan Ragu Berobat!

Tuesday, March 20, 2018

Obat tuberkulosis. Pria berkacamata itu menunduk. Ia berhenti sejenak setelah menceritakan perjuangannya melawan Tuberkulosis (TB). Edi Junaidi dua kali divonis positif TB, membesarkan dua anak sendiri, hingga menjalani pengobatan selama 21 bulan agar sembuh dari tuberkulosis.

Edi Junaidi menunjukkan sertifikat dari RSUP Persahabatan bahwa ia telah sembuh dari TB MDR (dok.pri)
Membayangkannya saja saya tak sanggup. Namun, bukankah Tuhan tidak memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya? Pak Edi sempat melepas mimpi-mimpinya, gambaran promosi jabatan juga menghilang. Akan tetapi pada 14 Juni 2017 lalu ia dinyatakan sembuh dari tuberkulosis dan aktif di Pejuang Tangguh (PETA) untuk memotivasi para pasien TB.

Begitu besar efek dari penyakit tuberkulosis (TB). Bukan hanya kesehatan pasien yang menjadi korban. Hubungan keluarga dan karir dapat retak karenanya. Kabar baiknya, penyakit ini bisa disembuhkan. Bahkan, obat tuberkulosis disediakan pemerintah secara gratis hingga pasien sembuh. Mari kita mengenal tuberkulosis dan cara mengobatinya.

Fakta Tuberkulosis

dr. Anung Sugihantono, M.Kes., Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI
Setiap 24 Maret, dunia memperingati Hari Tuberkulosis. Peringatan ini sebagai pengingat bahaya tuberkulosis berpotensi menyerang siapa saja, bukan hanya golongan marjinal. Selain itu masih ada anggapan keliru bahwa pasien TB harus dijauhi, diasingkan. Padahal, dukungan sangat berharga bagi pasien TB selama proses penyembuhan.

Indonesia termasuk negara dengan beban TB tinggi. Sekitar 1.020.000 orang di Indonesia dengan tuberkulosis (WHO, 2017). Akan tetapi, 28,4% kasus TB belum terjangkau dan terdeteksi serta 36,2% kasus sudah diobati namun belum dilaporkan. Berarti masih ada gap masyarakat dengan TB yang belum sadar dirinya positif TB ataupun belum berobat. Tanggung jawab kitalah menemukannya dan mendukung program pemerintah TOSS TB (Temukan, Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis).

Jika menemui atau mengalami gejala-gejala tuberkulosis berikut ini, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit:
Gejala TB (dok. Liza Fathia)
Hasil tes TB dapat diketahui dalam waktu 90 menit menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).

Mencegah Penularan Tuberkulosis

Satu orang positif TB dapat menularkan ke 10-15 orang lain setiap tahunnya. Supaya dapat mengeliminasi penularan TB, lakukan hal berikut:
  • Pasien TB minum obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh.
  • Ingat selalu etika batuk agar tidak menyebarkan kuman, yaitu: gunakan masker; tutup hidung dan mulut dengan lengan, tisu, atau saputangan; segera buang tisu yang sudah dipakai ke tempat sampah; dan cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun.
  • Buanglah dahak di tempat khusus dan tertutup.
  • Lakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, seperti: membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahari masuk, membersihkan rumah dengan teratur, makan makanan bergizi seimbang, tidak merokok dan minum-minuman keras, olahraga teratur, dsb.
Etika batuk mencegah penyebaran kuman penyakit (dok. pri)


Obat Tuberkulosis Gratis di Puskesmas dan Rumah Sakit

Pemerintah bekerja sama dengan puskesmas, RS pemerintah, dan klinik swasta untuk menyediakan obat TB secara cuma-cuma. Pasien akan mendapat satu paket obat TB hingga sembuh. Jadi, ga bakal kehabisan stok obat saat pengobatan.

Tantangannya adalah kesabaran pasien menjalani pengobatan hingga sembuh. Pengobatan tuberkulosis paling cepat sekitar 6-8 bulan. Sedangkan pasien TB Multi-Drug Resistant (MDR) atau Resisten Obat (RO), butuh waktu lebih lama hingga 24 bulan.

Setiap hari pasien harus mengonsumsi obat anti TB (OAT) dan menggunakan masker. Pak Edi menuturkan dirinya minum 13 macam obat setiap hari dan mengganti masker tiap 2 jam. Suatu usaha yang butuh kesungguhan dan ketelatenan.

dr. Pandu Riono, Komisi Ahli TB (dok. pri)
Konsumsi obat terus-menerus ini terkadang menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, sakit kuning, kemampuan penglihatan dan pendengaran berkurang, asam urat, hingga depresi. Rasanya ingin menyerah saja di tengah pengobatan.

“Rangkul pasien TB. Manusiakan, jangan dijauhi.” harap Pak Edi. Berkaca dari pengalaman melawan tuberkulosis, beliau berharap masyarakat, terutama keluarga pasien TB, dapat mendukung pengobatan tuberkulosis hingga sembuh.

Yuk, kita dukung TOSS TB menuju Indonesia bebas TB 2050! Jangan ragu periksa dan obati TB hingga sembuh. Gratis!

TOSS TB, Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (dok. Wardah Fajri)
Info lebih lanjut di:
www.tbindonesia.or.id
Twitter: TBIndonesia
Facebook: TBIndonesia



37 comments on "Obat Tuberkulosis Gratis, Jangan Ragu Berobat!"
  1. dan obat TBC ini harus rutin dan jangan bolong sekali saja ya

    ReplyDelete
  2. Toss tbc tugas kita bersama. Sedih banget ya. Jika ada keluarga kena tbc. Dukung kita sangat berarti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mpo. Udah tugas kita untuk merangkul pasien TB.

      Delete
  3. kalo banyak orang tau obat ini gratis sangat membantu banget ya. Soalnya kan enggak semua tahu informasi penting begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah tugas kita untuk memberikan info positif ini.

      Delete
  4. Masyarakat mmg butuh info yg benar ttg tuberkolosis ini. Kami di lingkungan rmh yg dulu sempat waswas krn tetangga depan ada yg terkena tb dan kurang tuntas berobat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, perlu dukungan dari keluarga dan warga sekitar untuk memotivasi pasien hingga sembuh.

      Delete
  5. Wah, aku baru tahu loh mba obat tbc disediakan cuma-cuma di puskes. Lumayan lama juga ya proses sembuhnya. Dan yang paling harus sabar itu menjalani prosesnya. Nice artikel bun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun baru tahu padahal program ini sudah lama dilakukan pemerintah.

      Delete
  6. Kalau di kampung saya banyak yg gengsi berobat. Udah tahu sakit tapi malas ke puskesmas
    Bingung juga lihat mereka maunya apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini terjadi di beberapa tempat, Teh. Gengsi karena TB dianggap kutukan atau penyakit kaum marjinal.

      Delete
  7. Memang nomor satu yang dibutuhkan oleh pasien TB adalah semangat untuk sembuh. Karena pengobatan TB prosesnya lama dan efek sampingnya nggak ngenakin banget. Selain itu tentu saja dukungan dari orang terdekat/keluarga dan masyarakat. Jangan dikucilkan.
    Semoga makin banyak masyarakat yang sadar dan semangat untuk sembuh dari TB ya, Len :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Iya Nyak. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan.

      Delete
  8. Wah peringatannya sebentar lagi ya akan berlangsung.

    ReplyDelete
  9. Iya, katanya TBC meningkat lagi ya wabahnya padahal sudah berhasil ditekan kemaren2, kaya difteri juga. Hufh, worry nyaa.... Ngg, mba, itu pak Edi ditinggal istrinya apa ya krn TBC? Aku koq sedih liat fotonya. Alhamdulillah tapi beliau sudah sembuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru istrinya sangat mendukung proses penyembuhan saat Pak Edi dinyatakan positif TB pertama kali. Istrinya meninggal dunia kemudian Pak Edi terkena TB lagi.

      Delete
  10. Batuk juga punya etika ya he2,
    Yang punya penyakit ini mesti sadar untuk melakukan pengobatan secepatnya..agar tak menularkan ke anggota keluarga lain..dan sampai tuntas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong. Setiap batuk, ribuan kuman menyebar, mudah menular ke orang lain.

      Delete
  11. Beratnya perjuangan penderitatb, dijauhkan diasingkan hilang karier untung sudah ada obatnya sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kemajuan teknologi makin memudahkan pasien TB untuk sembuh.

      Delete
  12. Alhamduillah makin maju teknologi kedokteran, TB pun ada obatnya, gratis pula. Semoga penyakit2 lain jg bisa disembuhkan aamiin

    ReplyDelete
  13. Etika batuk dan bersin ini yg masih blm banyak dipahami masyarakat, mereka anggap sudah cukup dengan berpaling atau tidak menghadap org lain saat batuk/bersin. Pdhl ya, virusnya ttp aja nyebar lwt udara. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. harus ditutup, Mbak. Minimal pakai lengan baju supaya kumannya ga makin menyebar.

      Delete
  14. mengkonsumsi obat TB memang butuh waktu, tapi saya yakin dengan dukungan keluarga dan sekitarnya,bisa melalui tahapannya agar bisa sembuh dan sehat lagi.

    ReplyDelete
  15. rangkul pasien TB. manusiakan dan dukung. setuju sama quote ini. nggak hanya TB tapi semua penyakit memang membutuhkan dukungan orang sekitar yaa mba.

    ReplyDelete
  16. Aq dulu waktu hamil Erysha 7 bulan, aq didiagnosa oleh dokter kena TB. Otomatis aq kaget n kayak yang nggak percaya gitu, apalagi aq lagi hamil jdi ga bisa cek ronsen juga. Tapi, ya sudah aq jalani pengobatannya sampai 6 bln. Sempet ada perasaan takut juga ketular ke Erysha pas dia masih bayi. Walau kata dokter gapapa aq nyusuin tnpa masker karna sudah mnjalani pngobtan hmpir 3 bln. Tpi ttp aja deg2an. Allhamdulillah masa2 itu tlah berlalu ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah sehat ya, Mbak. Dalam keadaan hamil, obat yang diberikan ke pasien TB bakal dipilih yang aman. TB harus segera diobati.

      Delete
  17. Tanguh pak edi ya. Sendirian menghadapi penyakit. Masa masa sulit bisa di lalui. Alhamdullilah

    ReplyDelete
  18. Bener banget mba obat TB ini gratis karena dulu mama aku minum obat ini selama 6bulan gratis

    ReplyDelete
  19. TB bisa diobati ya? Semoga seluruh masyarakat Indonesia benar memahami TOSS ya mbak.

    ReplyDelete
  20. Perjuangan banget utk sembuh TB ya spt pak Edi. Bener bgt deh preventif lebih baik dan murah perjuangannya di awal utk sehat lbh ringan drpd perjuangan setelah sakit utk sembuh.

    ReplyDelete
  21. Kami memilih artikel ini sebagai artikel blog pilihan edisi Maret 2018. Berikut tautnya: http://www.blogdokter.id/2018/03/artikel-blog-pilihan-periode-maret-2018.html

    ReplyDelete
  22. TB bisa disembuhkan asal pengobatannya diselesaikan dengan tuntas. Jadi jangan malas utk berobat ya.... Semangaaaat!

    ReplyDelete
  23. Kasus TBC di kampung pedalaman Kalimantan masih banyak... tugas kita bersama-sama ya untuk mendukung mereka menjalani pengobatan.

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature