Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Setahun Homeschooling Cuma Belajar Salat?!

Sunday, July 2, 2023
Bila murid sekolah formal menerima rapor kenaikan kelas, akhir semester ini menjadi momen refleksi bagi kami yang menjalani homeschooling. Alhamdulillah SID telah melewati homeschooling SD tahun pertama. Sudah belajar apa saja ya setahun kemarin?

SID berlatar Masjid Syeikh Zayed dan Masjid Istiqlal



Kurikulum Homeschooling yang Fleksibel


Homeschooling atau Sekolahrumah menjadi pilihan pendidikan dalam keluarga kami. SID tidak bersekolah formal seperti di SD negeri atau swasta pada umumnya. 

Kurikulum homeschooling yang kami gunakan pun fleksibel. Ada sesi akademik dan non akademik yang bila dirasiokan mungkin 40:60, lebih banyak non akademik yang sifatnya practical life skills. 

Selama setahun ini sudah berulang kali kami rombak jadwal, mencari mana yang cocok, yang membuat kami sama-sama bahagia. Pusing? Iya, namanya juga adaptasi. 

Saya set ekspektasi dalam diri sewajarnya. Ini tahun pertama kami menjalani homeschooling usia sekolah (setara kelas 1 SD). Saya masih meraba bagaimana caranya karena saat homeschooling usia dini kami santai banget. 

Banyak hal kami coba. Kalau enggak mencoba, mana bisa tahu cocok atau tidak. Kelas-kelas dengan berbagai topik, coba ikut 1 batch bila tidak cocok maka stop. Namun ada pula kelas yang ia tekun mengikuti selama setahun ini. Alhamdulillah. 

Cara belajar juga coba-coba. Belajar dengan workbook, worksheet, buku bacaan, kelas online, belajar dengan ayah/ibu, belajar dengan teman, aplikasi online, dan sebagainya.



Belajar Salat 5 Waktu


SID boleh request ikut kelas apa saja atau menolak materi yang kami sodorkan namun ada 1 pembelajaran yang wajib ia lakukan dan kami beri prioritas utama yaitu salat. 

Dalam Islam, usia 7 tahun anak perlu diperintahkan untuk salat 5 waktu: subuh, dhuhur, asar, maghrib, isya'. 

Di usia 7 tahun perkembangan otak anak bagian logika makin berkembang. Dalam Islam usia 7 tahun anak masuk fase mumayyiz yang artinya bisa membedakan mana baik-buruk, benar-salah. Oleh karena itu, usia ini memang cocok untuk dikenalkan perintah salat. 

Bila dibiasakan sejak mumayyiz, insya Allah akan lebih ringan membangun kebiasaan baik menjalankan perintah salat yang merupakan rukun Islam kedua. *salat itu rukun, lho, berarti kudu wajib harus. 

Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah SAW Bersabda: “Perintahkanlah shalat anak-anak kalian yang sudah berumur tujuh tahun. Dan pukulah mereka karena meninggalkannya ketika telah berumur 10 tahun, serta pisahkanlah antara mereka di tempat tidurnya. (Hadis Hasan)

FYI, pukul di sini sebagai peringatan, memukul secara halus, bukan dengan keras. Itupun karena sudah diajarkan salat sejak usia 7 tahun maka diharapkan usia 10 tahun sudah terbentuk kebiasaan salat. 

Sebenarnya kebiasaan salat ini sudah kami ajarkan sejak SID balita. Alhamdulillah ayahnya sering mengajak SID ke masjid. 

Ketika ia berusia 6 tahun, kami ajak ia untuk salat 5 waktu dengan lebih tertib. Biasanya subuh yang masih kesiangan atau malah bolong. 

Semakin lama alhamdulillah ada peningkatan hingga full salat 5 waktu setiap hari. Bila kegiatan di rumah saja, ia bisa 4x salat berjamaah di masjid. 

Saya sangat bersyukur masjid di tempat kami ramah anak. Banyak teman-teman SID yang salat di sana. Itu salah satu motivasinya salat di masjid, bisa bertemu teman. 


Manfaat Belajar Salat Membuka Pintu Belajar Lainnya


Belajar salat nampaknya "gitu doang" tapi nyatanya ini bentuk belajar disiplin dan belajar berbagai hal tentang manajemen diri. Masya Allah banyak banget hal bertumbuh dalam diri SID karena belajar salat. 

1. Memahami perintah salat


Sebelum memerintah atau mengingatkan anak untuk salat, kami membaca buku tentang Isra' Mi'raj. Perintah salat, keutamaan salat, juga rezeki Allah yang rahman dan rahim menjadi pengingat supaya terbangun kesadaran bahwa salat ini kebutuhan kita sebagai umat Islam. 


2. Belajar disiplin


Salat wajib memiliki waktu-waktu tertentu. Tidak boleh seenaknya menjalankan salat subuh di waktu asar.

Belajar salat membuat anak (juga kita) belajar disiplin. Begitu mendengar azan, segera berpakaian menutup aurat lalu ke masjid.

Bila kami sedang bepergian maka tetap usahakan salat setelah azan. Cari musala atau masjid terdekat. 

Jika anak sedang asik dengan gawai, saya ingatkan dengan bertanya, "Sudah salat apa belum?".

Pernah ia ketiduran padahal belum salat isya'. Saya juga lupa membangunkan untuk salat. Alhamdulillah tengah malam ia terbangun lalu salat kemudian lanjut tidur. *pernah juga bablas sampai pagi 😁


3. Menahan godaan sekitar


Masih berhubungan dengan disiplin, saat azan harus segera ke masjid untuk salat berjamaah. Bila sedang bermain gawai, sepak bola, atau sedang dengan teman maka hentikan lalu segera ke masjid. 

Ajak teman muslim untuk ke masjid juga. Bila mereka tidak mau, setidaknya anak sudah mengajak.

Pernah saya mendapati teman-teman SID bermain bola di lapangan padahal salat sudah dimulai. Eh kemana ya anakku? Alhamdulillah ia sudah di masjid. Semoga istiqomah, ya, Nak! 

Pernah juga ia beralasan tidak mendengar azan saat bermain. Ketika ingat waktu salat, ia pun segera ke masjid. 

Ketika salat juga menahan diri dari ngobrol dengan teman. Kami sering membahas anak-anak yang ramai saat salat berjamaah di masjid. Ingatkan kembali bagaimana adab di masjid. 


4. Membaca jam


Waktu salat yang berubah-ubah (misal dhuhur kadang 11.45, kadang 12.00) membuat SID belajar membaca jam. Ia menggunakan jam tangan digital tetapi juga belajar membaca jam analog. 

Ia bisa mengukur azan kira-kira berapa menit lagi. Kadang ia minta berangkat sebelum azan supaya bisa bermain terlebih dahulu dengan teman-temannya. *modusnya ya~

Oh ya, jam tangan yang ia pakai membuatnya belajar disiplin juga. Namanya anak bermain kadang lupa waktu. Dengan memakai jam tangan, ia setel alarm supaya bisa pulang tepat waktu sesuai janjinya. *kadang meleset tapi ada progress, lah. 

5. Menjaga kesucian dan kebersihan


Mengerjakan salat tak hanya mengikuti gerakan imam dan berucap "Aamiin.... " yang kencang. Salat memiliki tata cara rukun salat dan syarat sah salat. Materi ini masih dipelajari bertahap, ya. *Saya juga cek kembali udah benar apa belum selama ini 🥺

Sebelum salat, anak harus memakai pakaian menutup aurat. Jika ia memakai celana bolong (biasanya di lutut karena main sliding) maka harus memakai sarung atau berganti celana. 

Jika ia memakai kaus bergambar (apalagi gambar Paw Patrol) maka harus menggunakan jubah salat.

Salat dengan pakaian yang suci dan jangan lupa untuk berwudhu. Air di bak mandi apa boleh untuk berwudhu? Kalau air kolam renang bagaimana? *belajar lagi.... 

Masya Allah... banyak ya hal-hal yang dipelajari bermula dari belajar salat 5 waktu. Alhamdulillah kemajuannya nampak pada diri SID.

Semoga istiqomah, ya, Nak dalam menegakkan perintah Allah. Salat adalah tiang agama. Salat menjadi pengingat kita juga sebagai muslim dalam bertindak, bertutur kata senantiasa mencari ridho Allah SWT. 

Saya juga belajar untuk konsisten, berani membangunkan anak jika memang sudah waktunya salat. Kadang tidak tega, yah, melihat anak tidur pulas kelihatan lelah (bermain terus 😁).  Bismillah sama-sama belajar memperbaiki diri. 

So, belajar apa saja selama setahun homeschooling ini? Ya... bisa dibilang pelajaran utama adalah rutin tertib salat 5 waktu. Dari situ berkembang menjadi belajar berbagai hal baik yang sifatnya akademik maupun keterampilan hidup. 

Bagaimana homeschooling di tahun kedua nanti? Masih liburan... jadwal lebih minimalis namun sedang membangun kebiasaan baru. Tunggu ceritanya, ya! Kalau di sinetron tertulis "to be continued".
2 comments on "Setahun Homeschooling Cuma Belajar Salat?! "
  1. "karena saat homeschooling usia dini kami santai banget." Maa syaa Allah relate banget bun. Aku juga lagi HS anakku saat ini masih usia 5 tahun dan bener santai banget krn dari annaku masih 2 tahun aku masih kuliah jadi ngerjain semampunya aja...tahun depan udah 6 tahun yah dan setuju banget sama bunda dari sholat itu otomatis mempelajari banyak hal

    ReplyDelete
  2. Mbaaa aku salut Ama mba Helen deh. Berani utk homeschooling, dan aku setuju banget kalo pelajaran sholat hrs jadi yg paling utama dulu.

    Krn itu memang wajib hukumnya aku pun ga mah anak2 jadi menyepelekan sholat, apalagi sampai ninggalin 😔. Skr ini aku lagi ngajarin si adek bacan2 sholat. Trus mau mulai biasain dia pelan2. Kalo kakanya udh bisa, tapj ya itu msh haruuus diingetin. Kdg gemes ya . Kuatir aja kalo ntr tiba waktunya dia kuliah atau jauh dr kami, sholatnya gimana 😔

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Bagaimana komentarmu? Silakan tulis di kolom komentar, bisa pakai Name/URL. Kalau tidak punya blog, cukup tulis nama.

Ku tunggu kedatanganmu kembali.

Jika ada yang kurang jelas atau mau bekerja sama, silakan kirim e-mail ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,