Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Melahirkan Normal di Usia Kandungan 37 Minggu

Wednesday, December 18, 2019


Melahirkan Normal di Usia Kandungan 37 Minggu 

melahirkan normal 37 minggu
pengalaman melahirkan Uno di usia kehamilan 37 minggu
Allahuakbar … Allahuakbar … Allahuakbar … hanya takbir yang dapat terucap tatkala mendengar tangisan pertamanya. Tak disangka, hasil kontrol terakhir menunjukkan janin harus segera dilahirkan meski masih 37 minggu dan BB-nya di bawah standar. Syukur alhamdulillah saya dapat melahirkan normal di usia kandungan 37 minggu setelah melewati perjuangan induksi dan trimester ketiga yang begitu penuh tantangan. Uno, ini sepenggal kisah melahirkanmu ke dunia.


Gonta-ganti Rumah Sakit Selama Periksa Kehamilan


Setiap kehamilan memiliki cerita unik. Kehamilan kedua ini sangat berbeda dari saat hamil SID. Proses kehamilan hingga melahirkan kami jalani di Jakarta, jauh dari orang tua.

Pengalaman pertama hamil di tanah rantau tak semudah ketika masih tinggal serumah dengan ibu. Saat memilih tempat periksa kehamilan hingga menentukan tempat bersalin, saya mencoba ke berbagai tempat. Saya belum punya pengalaman dokter atau rumah sakit mana di Jakarta yang cocok, so banyak coba ini dan itu berdasarkan rekomendasi maupun hitung kancing. *eh

Trimester awal, saya periksa ke dr. Susanti, Sp.OG di RS Antam Medika karena lokasinya dekat rumah dan mendapat rekomendasi dokter obgyn di Jakarta Timur ini sabar banget. Yup, memang dr. Susanti sabar menjelaskan bahkan santai ketika tahu saya ada miom. Pokoknya enggak buat panik, lah. SID juga suka jika saya periksa di RS Antam karena ada playground, jadi enggak berasa meski antre hingga 1,5 jam. FYI, biaya periksa kandungan, USG 2D, dan print USG di RS Antam Medika tahun 2019 sekitar Rp 400.000 – 500.000,-.

Selain itu, saya periksa di puskesmas karena ingin melahirkan di-cover BPJS Kesehatan. Periksa kandungan di puskesmas lebih cepat, enggak pakai lama antrenya, tetapi tanpa USG. Enaknya, di puskesmas dilakukan tes laboratorium untuk tes darah, urine, dan HIV. Ini gratis lho karena pakai asuransi BPJS. Kalaupun bayar, harganya sangat terjangkau dibanding tes lab di tempat lain. Oh ya, hasil tes lab dan USG selama kehamilan dibawa selama periksa, ya. Ternyata sebelum melahirkan ditanya sudah pernah tes apa saja termasuk yang HIV itu kabarnya wajib, lho.


Saya juga pernah sekali periksa di bidan Darmis, Jl. Kayu Putih. Seminggu sekali, tepatnya Kamis malam, ada obgyn yang praktek di sana. Waktu itu obgyn-nya dr. Donny, Sp.OG, dokter yang menjadi narasumber di talkshow yang pernah saya ikuti. Periksa, USG 2D, dan print USG di bidan Darmis harganya murce, hanya Rp 140.000,- udah termasuk print hasil USG. Kalau biaya persalinannya enggak sampai 3 juta rupiah, waktu itu pernah nanya-nanya buat referensi.

Di trimester akhir, saya sempat periksa di RS Kartika Pulomas dengan dr. Riry Meria, Sp.OG karena beliau paling sering praktek di sini (biar gampang ketemunya). Ini ceritanya mencari alternatif melahirkan di RS yang dekat rumah dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding Antam, hehe …. RS Kartika Pulomas juga menerima rujukan BPJS Kesehatan. In case enggak bisa melahirkan normal di puskesmas ya bakal dirujuk ke sini. FYI, biaya periksa kandungan di RS Kartika Pulomas Rp 150.000,- belum termasuk USG 2D.

Setelah gonta-ganti tempat periksa kehamilan, ternyata angin menghempaskan saya untuk berlabuh di RSIA Tambak. Dari segi lokasi paling jauh, sekitar 25 menit dari rumah. Dari segi biaya, paling tinggi dibanding RS sebelumnya (ga bisa BPJS pula, hahaha ….). Namun, saya mendapat rekomendasi dokter obgyn di RSIA Tambak yaitu dr. Ika Sripurnamaningsih, Sp.OG (plus ada rezeki) dan alhamdulillah cocok klop. FYI, biaya periksa kandungan, USG 2D, dan print USG di RSIA Tambak tahun 2019 sekitar Rp 760.000,-


Tantangan Kehamilan di Trimester Ketiga


Kehamilan kedua ini selama trimester awal ya biasalah mager dan mual di pagi hari. Masuk trimester kedua tubuh makin fit bahkan saya sempat snorkeling di Pulau Abang. Mumpung badan enak diajak kompromi, saya aktif kerja dan beraktivitas kesana-kemari.

Begitu masuk trimester ketiga, tubuh ini meminta haknya. Kala itu kondisi saya setelah liburan dan mengikuti pameran dengan cuaca super hot. Rasanya mau kremus-kremus es batu saking panasnya.

Saat kontrol ke puskesmas, saya dianjurkan tes Hb karena di trimester awal Hb mepet batas bawah. Jeng … jeng … ternyata Hb saya 9 padahal minimal Hb ibu hamil adalah 11. Saya pun dirujuk ke rumah sakit.

melahirkan normal usia kandungan 37 minggu
tips melahirkan di RSIA Tambak: pakai jilbab ungu supaya cocok dengan baju pasien
Long story short, dari hasil USG dan tes darah yang lebih detail diketahui saya mengalami anemia defisiensi besi (ADB) alias kekurangan zat besi yang membuat saya mudah lelah dan lemas tiap pagi. Hasil tes ferritin saya jelek banget, hampir habis!

dan

insufisiensi plasenta (placental insufficiency) yaitu aliran darah yang membawa gizi ke janin tidak lancar. BB ibu hamil naik banyak tetapi BB janin naiknya sedikit banget sehingga Perkembangan Janin Terhambat (PJT), enggak sesuai standar BB. Risikonya janin berat badan lahir rendah (BBLR) bahkan organ tubuhnya belum berkembang sempurna sesuai usia kehamilan.

*duh, banyak amat istilah medisnya. Saya cerna satu persatu sambil meminta maaf pada janin di rahim dan juga maaf ke diri sendiri. Tak lupa saya bersyukur pada Allah diberi kesempatan mengetahui diagnosa ini dan dapat segera dilakukan tindakan meski saat itu usia kehamilan mepet, 33 minggu.

Minggu – minggu terakhir di trimester 3 saya jalani dengan memperbaiki pola makan, minum peptisol untuk mengejar kenaikan BB, banyak istirahat di rumah, infus venofer 4x seminggu untuk menaikkan Hb, mengikuti kelas hypnobirthing juga senam hamil. Beli perlengkapan bayi? Enggak kepikiran!

Semalam di Ruang Bersalin RSIA Tambak


Hasil dari infus venofer baru nampak setelah 2 minggu, maka di usia kandungan 37 minggu saya kontrol ke dr. Ika, Sp.OG di RSIA Tambak sambil menyerahkan hasil Hb. Wajah saya berseri, Hb yang awalnya 9 kini naik menjadi 11,7. Yes!

Akan tetapi, senyuman itu tak bertahan lama saat melihat hasil USG. Air ketuban saya tinggal sedikit. Dari standar minimal 10 ternyata itu cuma 5. Dokter menyarankan untuk terminasi alias segera dilahirkan. Jika hasil CTG gerak dan detak jantung janin baik maka coba induksi namun bila tidak maka operasi. Rasanya saya mau pulang dan rebahan untuk menenangkan diri. (Well, memang itu yang saya lakukan meski tengah malam susah tidur).


Besoknya, setelah hospital bag siap dan hati ini lebih tenang, saya dan suami berangkat ke RSIA Tambak. Di ruang bersalin, saya (akhirnya) merasakan gimana itu induksi yang selama ini diceritakan “menyeramkan” dibanding kontraksi alami. Saya diinduksi melalui infus dan induksi balon. Saking parnonya dengan kata “induksi”, saya enggak browsing gimana sih induksi itu, diapain aja. Wes, pokoke pasrahkan prosesnya pada Allah SWT. Lebih cepat, lebih baik.

Oh ya, induksi melalui infus di-set pelan banget tetesannya. Ini bertujuan untuk melunakkan mulut rahim berhubung belum ada kontraksi sama sekali. Setelah dokternya datang, saya dipasang induksi balon (bentuknya seperti balon dengan selang yang dimasukkan ke jalan lahir untuk membuat pembukaan hingga 3 atau 4).

Sakit? Alhamdulillah enggak. Sampai si balon lepas ya gitu aja rasanya. Palingan agak aneh saat pipis lihat ada selang. Trus, induksi yang dipasang sejak siang itu baru terasa kontraksinya saat malam. Pinggang minta diusap-usap plus perut bagian bawah rada mules.

melahirkan normal di 37 minggu
honeymoon di ruang bersalin sambil nunggu gelombang cinta
Hari itu, saya dan suami berasa honeymoon di ruang bersalin. Sekalinya bisa berdua kok ya di rumah sakit, heuheu …. Honeymoon sambil gosok pinggang buat mengurangi nyeri kontraksi.

Malam semakin larut, mata ngajak merem namun kontraksi makin intens. Oke, fix malam itu saya cuma tidur sedetik trus kebangun gosok pinggang. Kalau capek rebahan, saya ganti posisi berdiri, jalan, duduk di kursi, sampai gym ball.

Setelah suami sholat subuh, saya dipindah ke ruang sebelah karena sudah pembukaan 5. Di sini bisa dibilang ruang eksekusi melahirkan dengan peralatan yang lebih lengkap. Saya kembali di CTG dan cek pembukaan. Lho, sudah 8? Cepet amat.

Tak lama, dr. Ika datang dan bertanya apa sudah terasa mau ngeden? Somehow iya, padahal dari tadi enggak berasa mau ngeden. Kayaknya nih anak emang nunggu dokternya datang.

Yawes semua bersiap di posisi masing-masing, dokter, dua bidan, dan suami di samping kanan. Proses ngeden berlangsung berulang kali sampai nyaris putus asa. Dalam hati udah memotivasi diri untuk push the baby tapi kok ga keluar-keluar, sih? Saya kurang tenaga, mungkin karena belum tidur dari semalam.

Dokternya memotivasi tiap gagal ngeden, “Rambutnya udah kelihatan. Setelah ini lahir.” Gitu aja diulang-ulang. Duh, sampai malu sama bu dokter. Suami juga dukung di sebelah meski enggak tega lihat proses melahirkan lagi (dulu melahirkan SID, suami juga bantu).

Jeng … jeng … Jumat, 22 November 2019, pukul 05.12 WIB, terdengar suara tangisan bayi Uno yang kencang membahana. Allahuakbar! Alhamdulillah, penantian sekian lama terbayar sudah. Bisa berjumpa dengan anak bayi imut-imut lebih cepat dari prediksi. Mendengar tangisannya, melihat ia diukur, ditimbang, dan dipakaikan baju supaya hangat menjadi obat dari rasa sakit saat dokter menjahit perineum.

melahirkan di rsia tambak
Hai gaes, call me Uno!
Alhamdulillah dapat melahirkan spontan dan sempat IMD walau beberapa menit. Sambil IMD, suami mengumandangkan azan di telinga kecil anak bayi yang masih berselimut lemak. Ajaibnya, ia yang sedari tadi menangis malah anteng banget mendengar lantunan azan. Masya Allah.


Terima kasih untuk Ya Allah, Engkau mudahkan proses melahirkan ini. Masih berasa mimpi tahu-tahu disuruh segera melahirkan. Bak mandi aja belum beli!

Terima kasih keluarga besar yang sabar menanti (tiap jam nanyain gimana kabar saya), tim medis RSIA Tambak dan tempat saya periksa selama kehamilan, dan spesial untuk suami yang tegar mendampingi proses melahirkan, juga “Mas Sid” yang ikhlas berpisah dua hari enggak tidur sama Ibu.

Selamat datang baby Uno di Sekolah Alam Semesta!

Baca juga: Melahirkan di RSIA Tambak, Jakarta

43 comments on "Melahirkan Normal di Usia Kandungan 37 Minggu"
  1. Salam kunjungan dan follow disini ya. Salam kenal dari Malaysia :)

    ReplyDelete
  2. Aaak, aku serasa berada di ruang persalinan, masyaAllah tabarokallah Allah mudahkan lahirannya ya mb, πŸ’• sehat sehat Baby Unoo

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi ... makasih yaa. Alhamdulillah lancar dan lega begitu anak bayi launching.

      Delete
  3. Welcome to the world baby Uno! Abis ini ada cerita seru menanti,nih. Apakah ada cerita tentang travel sama dua anak? Kusangat menantikan kisah serunya yang bermanfaat buat mak mak gampang parnoan kaya aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohoho iyaa nanti ya latihan dulu nih traveling bawa 2 bocah naik transport umum. Doakan kami sehat-sehat supaya sering traveling.

      Delete
  4. Hahhaaa..Hanimun gosok2 pinggang itu so sweet banget,jarang2 kaaan.
    Tapi alhamdulillah ya, Baby Uno lahir dengan selamat, ahh ikut bahagia deh.

    Btw ntu pas hamil trimester kedua, wuiih masih sempet snorkeling yaa, aiissh Bumil pengen ajaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hanimun saya mah beda, Teh. hahah...
      iyak alhamdulillah ngidam snorkeling keturutan waktu usia kehamilan 6 bulan.

      Delete
  5. Mbaaaa, nano-nano bacanya, maklum sama sekali nggak pernah lahiran normal, even merasakan yang namanya pembukaan tuh nggak sama sekali hahaha.
    Tapi sering baca dan dengar cerita orang, kalau lahiran normal itu ampuuunnn dah sakitnya hahaha.
    Tapi enak ya, bayi keluar bisa dilihat dengan sadar.
    Saya mah, boro-boro IMD, liat aja ogah, saya terlalu takut perut saya nggak ketutup dengan baik hahahaha *lebay!

    Anyway, selamat atas kelahiran baby Uno yang gantengnya masha Allah, semoga sehat selalu.
    Dan ibunya cepat pulih serta bahagia lahir batin selalu, aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi ... jangan dong, masa' perutnya belum dijahit. Kan jadi serem.
      Mau spontan atau SC, para ibu udah berjuang yang terbaik buat baby.
      Makasih yaa Mbak Rey doanya.

      Delete
  6. Saya membaca artikel, semacam penyemangat buat saya. Secara saya lahiran cesar. Gak kuat mbak sama mulesnya. Semoga anak berikutnya bisa dilahirkan secara normal, amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangat VBAC yaa tapi tetap lihat kondisi diri dan janin :)

      Delete
  7. Itu aku salfok sama fotonya kok jadi bapak ya yang baring πŸ˜… hihi btw aku senyum senyum sendiri kalau baca tulisan hamil , sedang otw program anak kedua. Doakan ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. bapake capek nunggu kok ga kontraksi, hahah...
      semoga suksesss Mba Rizka

      Delete
  8. Ya ampun mau lahiran masih sempat sempatnya juga nih foto lucu ama suami gitu. Hahhaa. Ikut sennag liat lahiran lancar, sehat dan selamat ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiburan, Mbak Al, tau kan bosennya nunggu kontraksi. Dibawa fun aja

      Delete
  9. Mba itu dede Uno kok gemesin banget ya. Dulu jg pas hamil ak sempet ganti bbrp dokter or Rs. Karena memang faktor cocok2an. Alhamdulillah y mba lancar proses persalinannya

    ReplyDelete
  10. Proses melahirkan itu memang perjuangan ya mba, jd inget dulu mau lahiran normal eh ternyata hrs diinduksi dan ujung-ujungnya malah Caesar. Tapi semuanya terbayar pas pertama kali liat sosok anakku dan suara tangisannya. Btw, gemes banget itu ade Uno mba. Lucu deh nama panggilannya ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. proses melahirkan emang penuh cerita lika-liku yaa mbak. Bener, begitu lihat si baby yang masih imut-imut langsung deh rasa sakit dan lelah lenyap

      Delete
  11. Welkaaammm baby Unoooo

    Semoga shalih pintar sehaatt selaluuu yaaaa. Rezekinya cethaarrr

    TabarokAllah yaa

    ReplyDelete
  12. Saya berasa ikutan semua kontrol dan proses melahirkan, mba. Akhirnya, Alhamdulillah, berjalan lancar.
    Barakallah.
    Selamat datang baby Uno. Sehat2 terus ya, dek.

    ReplyDelete
  13. Mbak... dirimu strong abizzz ngga keliatan panik di foto.. memang ya segala kunci menghadapi apapun yang tetap jangan panik dan terus berdoa minta dimudahkan.. anak pertama aku juga induksi dan ya gitu deh rasanya.. dan anak kedua Alhamdulillah kontraksi normal.. jangan sampai kekurangan zat besi yak selama kehamilan jangan... selamat datang baby Uno..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakak itu masih segar jadi bisa foto-foto. Makin malam udah ngantuk, belum mandi, bukaan kok gak nambah ya udah ga pake foto, hahaha. Tapi bener lho kudu tenang mau lahiran dengan cara apapun

      Delete
  14. Haneymoon sambil nunggu gelombang cinta. Hahahaha. Btw, si dede Uno lucu banget ya mba..keren kacamatanya

    ReplyDelete
  15. belum menikah, tapi rasain masa masa persalinan pasti gak gampang ya mbakk,,, *merinding


    sehat2 ya mbak buat baby nyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga ceritaku gak bikin parno melahirkan yaa :D nikmat kok

      Delete
  16. Syukurlah ya akhirnya si baby Uno lahir juga. Sehat2 terus ya dek.
    Jadi ingat proses ngeden waktu lahiran anak-anak dulu, bolak-balik gagal juga, salah ngeden kata dokternya haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haduh malu deh mbak Lianny kalau ingat salah ngeden. Payah ah tapi alhamdulillah bisa lahir :))

      Delete
  17. Welcome to the World, Baby Uno. Duuhh ikut deg-degan membaca proses persalinan yang penuh liku-liku ini ya. alhamdulillah ibu dan baby sehat semua.

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah, walopun 37 minggu, tapi lahiran lancar ya. Sehat-sehat selalu adik kecil. :)

    ReplyDelete
  19. Masya Allah baby Uno alhamdulillah sehat yah mom. Proses persalinan tuh rasanya memang bikin nggak karuan. Pas aku lahiran pun sempat dibikin bingung sama faskes 1 tempat ku biasa kontrol tapi syukurlah bisa sesuai rencana endingnya

    ReplyDelete
  20. Membaca Uno, jadi ingat tagline iklan hits, "Numero Uno!"

    Yang artinya kira-kira, nomor 1 alias da best!

    Welcome to the world, baby Uno!

    ReplyDelete
  21. Wah selamat ya dilancarkan.alhamdulillah sdh plong tinggal perjuangan membimbingnya jd anak yg sholeh ya nih...Barokalloh.

    ReplyDelete
  22. Seneng banget baca cerita kelahiran yang lancar, alhamdulillah ya dokternya sabar banget dalam mendampingi proses melahirkan, kalau saya dulu induksi tapi ujungnya sesar juga, sakitnya dobel hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. proses healing-nya semoga lancar ya mbak dan gak kapok hamil lagi

      Delete
  23. Hihiii aku bacanya pelan2, ikut tegang. Alhamdulillah Uno lahir berkat ibu yg bersemangat & ayah yg setia mendampingi. Insya Allah kasih sayang melimpah. Itu foto honeymoonnya lucu, suami tepar atau gimana tu? πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu gaya-gayaan doang, Mbak Lusi. Hahaha. Mumpung di kamar bersalin cuma berdua yaudah bisa pose aneh-aneh buat kenangan.

      Delete
  24. Mba Helen, kamu kuat banget :D Wow hebat mba, dengan sgala prosesnya akhirnya lahir juga baby Uno. Perjalanan tiap rumah sakit lalu proses pembukaan. Selamat datang baby Uno si anak Jakarte. Selamat bermain sama kk SID. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah Septi, semuanya itu dari Allah.

      Delete
  25. Alhamdulillaahh senengenya. Selamat mb ya dedek ya lahir dengan selamat. Moga jadi anak sholih sholihah mb

    ReplyDelete
  26. Masya Allah tabarakallah Mbak HelenaπŸ€— semoga sehat sehat baby Uno. Indeed. Setiap anak punya cerita kelahiran berbeda beda yaah. Hihi, another story nya honeymoon at hospital❤πŸ™†

    ReplyDelete
  27. saya lagi hamil nih, usia kandungan udah mau jalan 35 minggu.
    :( berat janin di atas rata-rata, ini pengalaman hamil pertama saya. kawatir nih padahal pengen lahiran normal

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,