Suka Duka Mengajak Baduta Ke Blogger Gathering

Thursday, May 25, 2017


Tantangan mengajak anak ke acara blogger

Seorang teman, sebut saja Septi Mama Luigi, pernah bertanya tentang kebiasaan saya membawa anak saat mengikuti berbagai acara atas undangan sebagai blogger. Kok bisa? Apa ga repot? SID kan masih Baduta alias Di Bawah Dua Tahun. Gimana supaya ia tenang selama acara? Di sini saya berbagi pengalaman behind the scene ketika kami mengikuti blogger gathering.

FYI, blogger sering diundang untuk meliput suatu acara, baik oleh agency maupun brand secara langsung. Di sana blogger, seperti tamu undangan lainnya, menyimak penjelasan narasumber sebagai bahan tulisan yang akan ditayangkan di blog. Harapannya artikel di blog tersebut meningkatkan awareness pembaca supaya tergerak melakukan hal yang dikampanyekan. Ketika menghadiri undangan, blogger umumnya mendapat goodie bag atau minimal snack/makanan di venue. Selain itu ada event yang memberikan fee atas liputan di blog. Iya, ibu rumah tangga seperti saya mendapat bayaran dari menulis.



Tidak semua blogger event yang saya ikuti mendapat fee. Bila saya tertarik dengan tema yang diangkat dan merasa butuh mendalami hal tersebut, saya mengikutinya. Kadang juga karena bosan di rumah. Hehehe… 

Sedangkan untuk event berbayar, Alhamdulillah beberapa kali pernah saya dapatkan. Nominalnya lumayan untuk mengamankan stok popok anak #BahagiaItuSederhana. Sebagian dari fee ini saya kumpulkan selama 2016 dan jadilah saya bisa memiliki kamera mirrorless impian untuk mendukung kegiatan nge-blog.


Berbagai event ada di Jakarta setiap harinya tetapi tidak semua saya ikuti. Kadang seminggu 3x, kadang tidak ada sama sekali. Saya sengaja memberi jeda karena mengarungi jalanan di Jakarta itu melelahkan. Perjalanan naik bus dari rumah ke lokasi acara yang umumnya di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan memakan waktu 1-2 jam meski saya menggunakan TransJakarta yang memiliki jalur tersendiri.

Alasan lainnya yaitu karena saya selalu membawa SID ke acara-acara yang saya ikuti. Saya yang dewasa ini merasa capek apalagi anak kecil bila sering diajak bepergian.

(Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud membahas pro-kontra membawa anak ke blogger gathering. Saya pribadi ya iyes selama panitia mengizinkan. Mohon maaf apabila selama ini saya dan SID mengganggu konsentrasi selama acara berlangsung.)

SID sudah seperti my little bodyguard yang menemani saya kemana-mana. Di Jakarta kami tinggal bertiga maka saat Ayah SID bekerja, hanya ada SID dan saya di rumah. Saat itu saya masih menyusui SID dan ingin pekerjaan yang fleksibel sambil mengurus anak. Maka, kesepakatan dengan suami bahwa saya mengajak SID bekerja.

Oleh karena itu, setiap ada tawaran pekerjaan atau sebelum mendaftar untuk meliput suatu acara, saya selalu bertanya pada pihak pengundang, “Boleh bawa anak?”. Sepertinya para koordinator atau teman-teman di komunitas blogger sudah hafal betul kebiasaan saya ini. Kadang sebelum saya bertanya, mereka sudah menyebutkan “Diharapkan Tidak Membawa Anak”.

Syukur Alhamdulillah ada undangan yang mengizinkan blogger membawa anak atau dibatasi bila masih menyusui boleh dibawa. Ada juga undangan yang memang mengharuskan membawa anak karena tema yang diangkat seputar tumbuh kembang anak. Biasanya di lokasi telah disediakan playground. Senangnya SID bisa bermain perosotan dan mandi bola seperti di acara MamyPoko.


Bila tidak diperbolehkan membawa anak karena khawatir mengganggu jalannya acara, saya tetap mengajak SID ke lokasi acara tetapi ia menunggu di luar bersama ayahnya (atau neneknya kalau sedang berkunjung). Jika ada keadaan darurat dia minta nenen atau rewel, saya langsung menemuinya. Namun, bila tidak ada yang menjaganya karena ayah sibuk, yasudah saya ikhlas tidak mengikuti acara tersebut.


Jauh dari anak, kepikiran. Membawa anak ke “tempat kerja” bukan lantas masalah selesai. Ada suka-duka selama saya membawa SID ke blogger gathering

Suka? Duka? Mulai dari mana ya? Anyway, saya lebih suka menyebutnya tantangan. Membawa anak mengikuti event berjam-jam tentu ada tantangannya, yaitu:

Persiapan
H-1 saya berkata ke SID bahwa besok kami akan bepergian ikut ibu bekerja. SID di sana boleh bermain tapi ngomongnya pelan-pelan saja. Nanti ibu bawakan mainan dan buku. Hal ini untuk mengondisikan mentalnya, entah dia ngerti apa ga. Hehehe…


Sebelum berangkat, saya menyiapkan bekal segambreng seperti akan menginap. Setengah isi tas dikuasai oleh keperluan SID. Baju ganti, popok, air minum, snack, nasi tim (saat awal MP-ASI), buku cerita, dan mainan. Dengan selalu membawa makanan dan minuman sendiri, saya lebih berhemat serta tidak jajan sembarangan. *IngatIngatPesanMama

Dua peralatan yang wajib dibawa yaitu gendongan bayi dan tas beroda. Sejak usia 6 bulan hingga sekarang (2 th), saya sering memakai baby carrier andalan untuk menggendongnya. Gendongan ini sangat memudahkan bagi kami ketika naik turun kendaraan atau mendukung SID tidur selama perjalanan. Tangan saya juga leluasa membawa tas sambil menggendong SID. 

Peralatan kedua yaitu tas beroda yang bisa dibuka (ada ritsleting) supaya memuat barang lebih banyak. Awalnya saya menggunakan ransel namun terasa juga gendong depan belakang. Lalu saya memakai tas beroda yang mudah ditarik. Lumayan mengurangi beban di pundak. Dari segi motif dan model memang kurang fashionable namun sangat berguna. 



On the way
Selama perjalanan yang memakan waktu rata-rata 1 jam, kami bisa membaca buku atau ngobrol tentang situasi di sekitar. Misal, belajar nama alat transportasi.

Saat rewel di kendaraan, saya harus menenangkan dan mengalihkan perhatiannya dengan bermain, membaca buku, menyanyi, dsb. Traffic di Jakarta kan unpredictable. Kelamaan di jalan bisa membuatnya bosan. Sisi positifnya, ia terbiasa naik berbagai macam transportasi umum. Pernah kami naik KRL di saat ramai sehingga sulit turun. Ia berteriak, “Permisi … Permisi …”. Suaranya yang kecil melengking membuat orang-orang menengok dan memberi jalan bagi kami.

Oh ya, membawa anak membuat saya sering mendapat tempat duduk prioritas di TransJakarta maupun KRL. Tapi pernah juga berdiri sambil gendong kalau di jam sibuk. Kasihan lihat bumil.



Saat Acara Berlangsung
Di lokasi acara, SID bertemu rekan-rekan blogger, kadang dengan anak blogger lain, yang membuat ia belajar bersosialisasi terutama kepada orang yang lebih tua. Salah satunya ia bisa akur bermain dengan Una-nya Mbak Uci (Risalah Husna). Ia juga bisa ditinggal main dengan blogger lain sementara saya mendokumentasikan acara atau sholat. Makasih ya om tante yang baik hati udah jagain SID.

Selama acara, ia bisa leluasa berjalan-jalan atau bermain asalkan tidak mengganggu yang lain. Itulah pentingnya membawa mainan dan buku untuk menyibukkan dirinya. Meski … anak seusia SID memiliki rentang konsentrasi pendek. Dia bisa anteng 5 menit aja udah rekor. Saya cenderung memilih tempat duduk di belakang atau di pinggir supaya gampang mobilitasnya (alias gampang mengejar SID kalau dia kabur).

By the way, tantangan di tiap tahapan usianya berbeda-beda. Contohnya ketika saya mengikuti one day workshop oleh Fun Blogging 12 di kantor Blibli saat ia belajar berjalan. Acara dimulai dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Di tengah acara, ia mulai bosan sehingga saya mengajaknya keluar. Sayup-sayup saya mendengar pemaparan Teh Ani Berta dari balik dinding kaca. Sementara SID minta dituntun untuk naik tangga ke kantor lantai 2 lanjut hingga ke lantai 3. Pegel, Sis! Awalnya Ayah SID mau datang untuk menjaganya tetapi karena suatu hal mendadak batal. Syukurlah hingga akhir acara saya bisa live tweet dan terpilih menjadi salah satu Best Live Tweet.


Lain lagi ketika ia belajar berbicara. Saat pembicara menyampaikan materi, ia malah asyik bernyanyi dan bertanya ini itu ke saya dengan suara lantang. Kalau sudah begini ya ajak ia keluar sambil memberi pengertian padanya bahwa sebaiknya ia berbicara perlahan karena ada bapak atau ibu yang sedang berbicara di depan.


Sebenarnya ia termasuk anak yang tenang dan kooperatif. Kata Mama Dian (Adriana Dian) anak blogger emang beda, ngerti diajak kerja. Ia rewel bila lapar, mengantuk, dan bosan. Kalau lapar, segera tawarkan bekal makanan. Jika mengantuk, ia minta nenen sampai tertidur. Alhamdulillah ia lulus anak ASI hingga usia 2 tahun dan tidak perlu rajin pumping karena kemana-mana “dispensernya” dibawa .*IbuPemalasJanganDicontoh. Lega rasanya melihat ia tidur. Saya bisa lebih fokus pada acara yang berlangsung.

Membawa anak ke acara blogger akan membuat fokus saya terbagi antara mendengarkan pemaparan narasumber dengan memperhatikan tingkah polah SID. Di sini voice recorder sangat membantu supaya saya bisa mendengarkan kembali materinya di rumah dengan lebih jelas. Kadang saya mengandalkan live tweet dari blogger-blogger lain. Saya pilih yang menang kompetisi live tweet karena isinya lengkap dan informatif.


Begitulah tantangan yang saya hadapi saat membawa anak ke blogger gathering. Meski demikian saya bahagia membawa anak sambil bekerja karena bisa memantau aktivitasnya secara langsung. Membawa anak ke acara tersebut mengajarkan saya untuk multi-tasking, bersabar, dan tenang dalam segala situasi. 



Sekarang SID sedang menjalani proses penyapihan dengan mengurangi intensitas nenen. Saya mulai jarang mengajaknya ke blogger gathering. Ia ikut ayahnya bekerja (dan ayah hebat bisa mendampinginya bermain sambil bekerja!). Sementara saya mengkhawatirkan ia di sana, Ayah melaporkan SID asyik bermain dan makan lahap. Teman-teman blogger yang kerap bertemu pun menanyakan kemana SID. “Rasanya kurang lengkap Helenamantra tanpa SID.”, ujar Mbak Fika.
41 comments on "Suka Duka Mengajak Baduta Ke Blogger Gathering"
  1. Luar biasa mba Helena ini, walaupun bawa badutan tetap bisa livetweet dan liputannya juga lengkap berkat bantuan voice recorder

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba. Voice recorder penting juga kalau materinya detail dan bikin puyeng. Bisa diulang-ulang saat di rumah

      Delete
  2. Ups typo, maafkan Baduta maksud saya

    ReplyDelete
  3. Saluuut sama dirimu mba len, bisa multitasking gitu.. Menang live tweet pun.. Hihi seru ya Sid jalan2 nemenin bunda kerja.. :D Btw mbaa tas rodanya lucuuu, modelnya jg kayak tote bag gitu.. Aku jd pingin haha.. Dasar yah makemak, lg bahas apa yg diliat tas, salfok.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada yang bisa dititipin anak sih mending nitip mba.hehehe
      Tas rodanya emang membantu banget. Dijual online

      Delete
  4. Keren Mbak, anak memang segalanya. Sekarang anakku udah lumayan gede jadi mo ngajak2 udah nggak rewel. Tapi anakna malah yang nggak mau diajak Mbak

    ReplyDelete
  5. keren banget mba bawa Baduta ke event, aku belum pernah ikut2an event alhamdulilah y mba sampe kebeli mirorrles jadi kabita aku hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah dari nabung sedikit demi sedikit bisa tercapai juga impian kamera baru

      Delete
  6. Keren.. Tos mb ama aku.. Ke mana", kerja bawa balita dan bayi ya (10 bln).. Sukses sll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bawa 2 anak? Aku 1 aja masih kerepotan

      Delete
  7. Aku sih tes kalau mom harus bawa anak ke blogger gathering . Kebayang dulu sering ajak anak kerja ke kantor. Hihihii. Semangat mba

    ReplyDelete
  8. Keren.. Tos mb ama aku.. Ke mana", kerja bawa balita dan bayi ya (10 bln).. Sukses sll

    ReplyDelete
  9. Kayaknya saya bakal ikuti jejak mak Helen nih. Bawa anak baduta ke acara blogger.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gie anteng lho, yang penting bawa Thomas. Hehehe

      Delete
  10. Ala bisa karena biasa. Yang penting beberapa hari sebelum bepergian, jangan lupa kasi tahu anak, ke mana tujuan dan apa yang akan mereka hadapi di sana..bekal anak jga mesti full ya. SID hebat, ibunya jauh lebih hebat dan sabar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Sally nih yang udah banyak pengalaman. Anak-anak jadi terbiasa bertemu teman2 ibunya ya dan bisa jaga sikap

      Delete
  11. Saya banget ini. Sampai ada sematan #keluargapetualang karena selain ajak anak saya malah justru ajak ayahnya anak juga :)

    semua acara yg boleh bawa anak baru saya ikut in. Yg gak boleh saya ga ikut.

    Saya malah mulai ajak anak setelah batita sampai sekarang mau balita. Saat baduta Fahmi sering sama neneknya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih keluarga petualang. Seru tuh. Fahmi makin pinter yaa ikut ibunya kerja

      Delete
  12. Bawa anak kecil memang banyak juga yg mesti disiapkan ya, apalagi ke acara2 publik. Ibu dan anak itu sepaket hihi, aku aja yg anak2 udah gede gini, kadang masih kepikiran klo pergi tanpa mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya naluri ibu memang bakal kepikiran anak-anak meski si anak udah gede, deh

      Delete
  13. Keren mbak, sangat bermanfaat sekali buat saya.
    Ide menggunakan tas beroda perlu segera di contoh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku tuh malah ingin bawa koper tapi kok lebay, hahahah. Sayangnya pedestrian di Jakarta masih kurang Ok. Sekarang tasnya udah bolong kena aspal

      Delete
  14. Sebentar lagi saya akan ikuti jejaknya mbak Helena!
    Terimakasoh mbak..terkadang saat ikt event jadi krg pede jika bawa anak, walau itu sdh dperbolehkan oleh oanitianya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lihat eventnya juga sih mba dan kesiapan kita gimana. Jangan sampai malah memberatkan kita. Nanti ga maksimal liputannya

      Delete
  15. Salut buat keluarga yg kompak ini. Miss u SID *peyuk <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah mba... Udah setahun lho ga ketemu. Waktu itu kan pas bulan puasa juga

      Delete
  16. Kita emang kudu semangat ya mengejar ilmu, kalau aku bawa Aisyah dan anak-anak juga minta izin panitia nih, kalau gak ya aku gak bisa juga memaksakan diri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aisyah pinter banget. Mba Naqi juga sabaaar. Bisa ngurusin Tapis blogger sambil bawa anak

      Delete
  17. Kak Helena,,sebelum mengenal blogging aku sering ikut talkshow kemana-mana bawa anak2.Waktu Shakila umur 3th dan kezia baru 40 hari aku ajak talkshow ke RSPP dan Alhamdulillah dapet doorprize Tv.Mana saya kalau talkshow gt naek angkot,,jadi yang tangan 1 gendong kezia dan satunya lahi nenteng shakila ����
    .
    Kalau sekarang mereka pd besar jarang dibawa soale sekolah juga tp klo acaranya boleh bawa anak ya dibawa aja klo mereka pd libur ����

    *nyampah curcol panjang amat yak ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, bayi banget udah diajak jalan? Pantesan anak-anak itu ngerti perjuangan mamanya

      Delete
  18. Aku salut mba,. Fokus sm acara nya ajakafang sulit ya,,, hmmm apalg bw kidos,,, Sukses terus y mama Sid,,.

    ReplyDelete
  19. kalo SID mah anteng selalu malah suka bantuin mamanya foto-foto saat event berlangsung, ya kan SID :D

    ReplyDelete
  20. kita baru ketemu sekali.., waktu itu nggak lihat SID.
    apa dia sedang asyik main di playground ya..
    alhamdulillah SID anteng diajak macet2an di jalan

    ReplyDelete
  21. wo'oo SID
    udah sangat akrab dg runtinitas mamah sebagai mom blogger

    ReplyDelete
  22. Ini jadi masukan buat aku juga, mba Helena...haturnuhun.

    Aku juga kerap mengajak anak-anak ke acara blogger. Dan parahnya, kalo mereka sedang bertengkar...dan jatuh korban (aka. nangis salah satu...hiiiks~~) pecah sudah konsentrasi.


    Gak kepikiran sama sekali buat ngrekam.

    Nice tips, mba.

    ReplyDelete
  23. Hahaha iya emang aneh kalau gak ada SID dalam gendonganmu. Aku takjub sama emak blogger bisa bawa anak, kalau aku emang gak bisa krn suka gak konsenan gtu hihihi.

    ReplyDelete
  24. Waaaah terharu aku, akhirnya dibikinin tulisan ini. Dibalik segala aktifitas blogger mbak helen dan tulisannya yang enak baanget dibaca, aku selalu penasaran ttg bawa SID. Wah masukan deh buat aku yang bakalan akan ngajak anak dimanapun. Salut mb helen dan SID. makasih mba :)

    ReplyDelete
  25. bhahhaha bawa dispenser kemana-mana ih sama banget mba sama saya cuman saya ngajak anak gitu milih2 kalau acaranya mengharuskan yg duduk cantik dan dandan cantik gt ga say ajak,sealu berkompromi sama suami. saya lebih baik tidak pergi ke acara unangan ketimbang saya datang trs anak saya rewel dan ga bisa dikontrol. trus bapaknya ngalah deh jagain dirumah heheehe semangat yaa yang mau disapih

    ReplyDelete
  26. Saya selalu kagum sama ibu-ibu yang membawa anak(-anak)nya ke sebuah acara.
    Tidak disangsikan lagi bahwa persiapan dibelakangnya pasti harus sangat detil supaya kita bisa mengambil manfaat seoptimal mungkin dari pertemuan/acara yang kita hadiri. Namun anak(-anak) tetap aman dan nyaman.

    Dan saya yakin situasinya akan berbeda lagi mana kala SID nanti sudah PAUD atau TK atau bahkan sekolah. Tapi semakin besar saya rasa SID akan semakin mengerti pekerjaan orang tuanya.

    Salam saya Mak

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature