Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Kurikulum Homeschooling Usia Dini di Keluarga Kami

Monday, June 1, 2020

Kurikulum Homeschooling TK. Pertanyaan yang kerap saya jumpai yaitu bagaimana kurikulum homeschooling yang kami pakai. Karena SID masih usia TK, kami menggunakan kurikulum homeschooling usia dini untuk panduan kegiatan sehari-hari. Kurikulum ini begitu mudah dan dapat diterapkan sejak anak berusia 0 tahun.

Homeschooling usia dini tidak seruwet mainan SID

Belajar Tapi Tidak Sekolah

Sejak lahir, anak kami belum pernah sekolah formal. Di usia SID yang kini 5 tahun, teman-temannya sudah bersekolah TK tetapi kami memutuskan untuk menikmati sekolah rumah atau homeschooling usia dini.


SID tidak bersekolah bukan berarti tidak belajar. Fitrah anak-anak itu belajar dan mereka adalah pembelajar alami. Ada saja idenya untuk berkreasi dan bereksplorasi. Kami, sebagai orangtua, sedapat mungkin memfasilitasi kebutuhannya.

“Tugas utama anak pada 6 tahun pertamanya adalah mengeksplorasi sebanyak mungkin hal di lingkungan sekitar dengan indranya dan belajar bahwa orang dewasa di sekelilingnya mendukung proses eksplorasi tersebut." (Jatuh Hati pada Montessori, hal. 111)”

Mengutip pernyataan praktisi homeschooling Sumardiono dari Rumah Inspirasi, Homeschooling Usia Dini adalah proses pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga untuk anak-anaknya sendiri yang berusia 0 tahun (bayi) hingga 6 tahun (pra-sekolah). HS Usia Dini ini sangat mungkin dan mudah dilakukan di Indonesia. Bila nantinya mau melanjutkan masuk SD (sekolah formal) bisa saja, tidak wajib ada ijazah TK. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) no. 20/2003 melarang praktek penggunaan ijazah TK dan PAUD sebagai prasyarat masuk SD.


Kurikulum Homeschooling Usia Dini

Menjalani sekolah rumah atau homeschooling bisa pilih mau pakai kurikulum sesuai Kemdikbud, pendidikan luar negeri, atau mengatur kurikulum sendiri pun sah-sah saja. Kurikulum dari Kemdikbud umumnya dipakai bila anak homeschooling usia sekolah mau mendapat ijazah seperti sekolah formal. Nantinya anak perlu mengikuti ujian Paket A, B, atau C sesuai jenjangnya.

Keluarga kami masih belum sampai ke homeschooling usia sekolah karena SID baru 5 tahun dan si murid baru, baby Uno, berusia 6 bulan. Saat ini kami menjalani homeschooling usia dini dengan mengadaptasi kurikulum PAUD Non-formal dari Diknas tahun 2007.

Untuk panduan kegiatan atau stimulasi apa saja yang dilakukan, saya berpatokan pada parameter perkembangan anak usia 0-6 tahun berdasarkan panduan Departemen Pendidikan Nasional (Diknas).

Parameter ini menilai beberapa bagian dengan indikator masing-masing, yaitu:
  • Moral dan nilai agama
  • Sosial, emosional, dan kemandirian
  • Bahasa
  • Kognitif
  • Fisik/motorik
  • Seni

Kalau di sekolah ada yang namanya rapor, parameter dalam bentuk checklist ini menjadi semacam alat memantau perkembangan anak. Oh, yang kurang bagian A, yang sudah dikuasai anak bagian B, dan seterusnya.

SID belajar sambil menemani ibu kerja
Ketika SID ulang tahun, saya mulai melihat poin-poin apa saja yang perlu ia kuasai selama setahun ke depan. Lalu, ada evaluasi berkala untuk melihat sudah sejauh mana kemampuannya berkembang.
Meski demikian, bukan berarti kami saklek harus centang semua isi ceklis. Waduh, stress sendiri nanti. Perlu diingat perkembangan anak berbeda-beda.

Kalaupun ada indikator yang belum terpenuhi, saya evaluasi sikap dan stimulasi orang tua. Misal, indikator untuk anak usia 4-5 tahun adalah membuka dan memasang tali sepatu sendiri.  SID belum menguasai ini. Hal tersebut wajar karena kami jarang memakai sepatu, SID bahkan tidak punya sepatu bertali.

Unduh Parameter Perkembangan Anak Berdasarkan Diknas yang telah diolah Rumah Inspirasi DI SINI.

Oh ya, checklist ini baru saya ketahui ketika SID berusia 3 tahun. Sebelumnya, dari usia 0-3 tahun saya berpatokan pada Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang dapat diunduh di sini. Materi KPSP ini sama dengan aplikasi PRIMAKU dari IDAI yang dapat diunduh di smartphone. Memantau tumbuh kembang anak menjadi lebih mudah.

Selain mengisi ceklis tersebut, saya juga membuat jurnal observasi anak. Ya semacam buku diary yang menceritakan hari ini anak-anak ngapain aja, bagaimana perasaan mereka, dan seterusnya.

Customized Curriculum

Poin-poin di kurikulum PAUD Non-Formal dari Diknas di atas sudah tergolong lengkap dan mencakup seluruh area perkembangan anak. Akan tetapi, dalam penerapannya kami menambahkan beberapa hal dan membuat indikator tambahan selain dari yang sudah ada. Ini karena kustomisasi kurikulum menyesuaikan dengan nilai dan kondisi keluarga.

Misalnya, keluarga kami menekankan pentingnya beribadah. Sejak dini kami sering mengenalkan nilai-nilai keagamaan pada anak seperti rajin mengajak ke masjid, mendengarkan lantunan ayat-ayat Alquran, membiasakan doa-doa, membaca kisah nabi, dan sebagainya.

Manfaat dari customized curriculum ini memudahkan melihat progress anak. Tak perlu membandingkan dengan anak tetangga yang banyak sekali perbedaan dari segi background keluarga ataupun nilai-nilai yang dianut. Cukup berpatokan pada checklist yang telah disusun. *ga baperan.


Metode Homeschooling

Dalam homeschooling atau sekolah rumah ada beragam metode yang digunakan. Mau metode Montessori, Charlotte Mason, unschooling, travelschooling, dan sebagainya. Tiap keluarga dapat menyesuaikan dengan kondisi dan nilai yang dianut. Itulah yang saya sukai dari homeschooling, flexible and customized.

Keluarga kami masih 5 tahun menjalankan sekolah rumah, pengalaman masih seuprit banget. Selama ini dalam memberikan stimulasi, kadang kami menggunakan metode Montessori. Saya suka filosofi Montessori yang “follow the child” dan belajar dari konkret ke abstrak.

Akan tetapi saya enggak saklek harus semuanya Montessori dengan apparatus yang harganya lumayan. Saya adopsi dengan benda-benda yang ada di rumah terutama untuk practical life skill ya menggunakan alat asli. Contohnya ketika SID belajar memasak di usia 5 tahun. Dia belajar menyalakan kompor juga memasukkan bahan-bahan. Waktu usia 3 tahun ia belajar memotong pasta dengan pisau dapur.

Kegiatan mengenal huruf
Di awal SID belajar membaca, saya kenalkan phonic seperti langkah di Montessori. Namun, ia lebih tertarik dengan buku “Cara Praktis 70 Jam Buku Panduan Belajar Membaca” ketika belajar membaca per-suku kata. That’s fine. Goal-nya bisa membaca, kan.

Selain itu, kami sering mengajak SID berjalan-jalan. Belajar tentang bunga sambil melihat langsung di taman. Belajar tentang kereta api ya ke stasiun dan melihat proses dari membeli tiket sampai naik kereta. Dengan melihat dan mengalami langsung, insya Allah anak lebih mudah memahami.

Sayangnya sejak zombie corona menyerang bumi, kami belum bisa jalan-jalan jauh lagi. Paling sering ya berjemur di tanah kosong depan. Lumayan lah, tanahnya enggak kosong-kosong amat. SID bisa naik-turun gundukan tanah, berinteraksi dengan hewan dan rumput liar.

Eh, kok jadi baper lagi mikirin virus. Udah kangen main ke museum, perpustakaan, kolam renang, juga berkunjung ke rumah teman-teman.

Bermain itu belajar, belajar itu bermain
Segitu dulu cerita singkat tentang kurikulum dan metode homeschooling usia dini yang kami lakukan. Mau pakai yang mana, kembali ke keluarga masing-masing. Sama seperti memilih sekolah. Ada yang sekolah negeri aja. Ada yang prefer sekolah swasta bilingual. Ada yang maunya sekolah berbasis agama. Apapun itu semoga menjadi keputusan terbaik untuk bersama dan bahagia menjalaninya.
Referensi:
Paramita, Vidya Dwina. 2018. Jatuh Hati pada Montessori. Yogyakarta: B first.


55 comments on "Kurikulum Homeschooling Usia Dini di Keluarga Kami"
  1. Emang keren bunda Sid ini, hehehe. Sehat-sehat selalu ya, mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Litha,
      aamiin ... sehat-sehat buatmu sekeluarga yaa

      Delete
  2. Wah.
    Ternyata kurikulum punya Diknas bisa diakses umum ya?
    Selama ini masih patokan KPSP saja untuk milestone tumbang anak.
    Sama punya CDC sih. Hehe..

    Terimakasih, Mbak ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dapat dari webnya Rumah Inspirasi. Sudah diolah dari sana, mbak.
      CDC itu apa ya?

      Delete
  3. emang salah satu jalan di masa pendemi ini ya home schooling

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada pandangan seperti ini tapi sebelum switch dari sekolah formal ke homeschooling perlu banyak pertimbangan, mbak.

      Delete
  4. Wah Sid udah bisa nyalain kompor, anak2 belum, pas di dapur masih terbatas bantuin metikin sayur wkwkwk. Soale komporku agak seret #alesyan.
    Iyo bener, kalau masih usia dini fitrahnya maen dan nempel mulu ma ortunya jd HS UD adalah salah satu pilihan terbaik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahaha mungkin ini saat yang tepat bagi anda mengganti kompor
      dulu komporku harus dipancing pakai korek api supaya menyala trus sekarang ganti kompor yang lebih mudah, deh. Anak jadi PD buat menyalakan dan mematikan kompor.

      Delete
  5. aku penasaran nih kalo kurikulum buat anak SD gimana ya? hahaha tapi nanggung sih Darell udah kelas 3 insyaaallah kelas 4. aku tuh tertarik sama metode homeschooling semenjak belajar dari rumah pandemi covid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anak SD ya fokus ke pengembangan minat dan bakatnya. Ga semua pelajaran sekolah dipelajari di rumah. Eh tapi tergantung si keluarganya, hehe.
      Semangat belajar yaa Darell

      Delete
  6. Sebaik baik rumah adalah yang memberi banyak manfaat buat anak,
    homeschooling jika diterapkan dengan baik pastinya akan membuat anak berkarya dengan serapan dari sekitar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, apalagi masa pandemi gini. Maka, menciptakan rumah yang nyaman untuk proses belajar itu manfaatnya besar buat perkembangan anak.

      Delete
  7. aku jadi galau nih mbak hehe.. rencana nya tahun nini anak mau masuk PAUD, tapi liat situasi sepertinya bakal ditunda, udah download juga kurikulumnya. tapi masih ragu ama diri sendiri bisa ga konsisten ngedampingi anak belajar di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat memantapkan diri yaa mbak!
      Situasi pandemi gini sekolah baru pun sepertinya akan ada bagian yang online learning.

      Delete
  8. Jaman now pilihan pendidikan anak memang sangat beragam. Intinya memang pada kebutuhan setiap keluarga dan harus mempertimbangkan kebutuhan anak. Setiap keputusan terkait pendidikan juga mungkin mempengaruhi masa depan anak. Tapi ada juga skill dasar yang harus diasah di manapun sekolahnya. Nah, skill itu yg sebenarnya ngaruh banget untuk kehidupan anak di dunia nyata nanti. Sukses terus HS-nya ya. Sealu salut dengan home schooler.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mbak Ais. Tiap keluarga punya tujuan dan cara berbeda dalam hal pendidikan so pilih yang paling cocok.

      Delete
  9. Aaakkk, aku masih terngiang2 webinar soal Homeschooling dari duo pasutri Rumah Inspirasi.
    Kece bgt kalo semangat ini diterapkan pd anak sejak dini ya.
    Sid keren! Makin pintar, sholeh dan taqwa yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Mbak ikut webinarnya rumah inspirasi yaa

      Delete
  10. Anakku juga ngak lanjut ke tk B tahun ini jadi dia juga home schooling juga. kebetulan karena waktu kerja agak longgar jadi bisa bikin materi pelajaran, alhamduillah dulu pernah ngajar jadi skrng ngajarin anak sendiri. Biaya sekolah paud hingga tk mahal banget, padahal bisa kok dilakukan sendiri apalagi untuk ibu runah tangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat bereksplorasi bersama Mama, yaa Ale!

      Delete
  11. Keren banget Mbak menjalankan homeschooling dengan kompak..di Semarang ada komunitasnya dan sering ketemuan untuk bermain dan belajar bersama..kadang kami ikut juga kegiatannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Di Jakarta juga ada komunitas homeschooling. Bisa main bareng. Terbuka buat anak yang sekolah formal juga kalau mau ikutan acaranya.

      Delete
  12. Kalau orangtuanya mampu, saya gak masalah dengan adanya homeschooling. Ortu kudu mau repot juga banyak belajar. Saat pandemi seperti ini, rasanya sangat bersyukur kalau nerapin homeschooling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami masih belajar dan terus belajar, mbak :)

      Delete
  13. Selalu salut sama keluarga yang menjalankan homeschooling untuk anak-anaknya. Dulu dua anak tertuaku juga HS sampai kelas 2 dan 3 SD sampai kemudian mereka sendiri yang minta belajar di sekolah formal karena pengen merasakan sekolah pakai seragam hahaha. Untungnya dulu sistem pendidikannya belum online seperti sekarang, jadi gampang aja mereka langsung loncat kelas begitu masuk sekolah umum. Yang penting anak2 belajar dengan rasa senang dan bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bisa ya langsung loncat kelas lanjutin dari HS-nya.
      Kalo usia sekolah ga tau deh ini Sid maunya gimana. Dipertimbangkan lagi mau HS atau sekolah formal.

      Delete
  14. Sudah bacaaa. Dapat new insight nih tapi tipeku emang harus ada pedoman tertulis hehe. Maaksih banyak untuk postingan ini Mbak Helena

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisaaa, Bu Guru. Buat pedoman tertulis yang memudahkanmu saja. Nanti aku lihat ya. Hehehe

      Delete
  15. Aku percaya setiap sistem pendidikan pasti ada plus minusnya ya.

    Intinya, harus fokus ke perkembangan anak!

    Apa yang menjadi keinginak anak, disitulah tolak ukur metode pendidikan apa yang sebaiknya dipertimbangkan orang tua.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Anna. Yang belajar Kan anak. Yang merasakan ya si anak.

      Delete
  16. Anakku usia 4 tahun juga belum bisa tali sepatu mbk, ya karena jarang bahkan nggak pernah pake sepatu hehe. Selalu salut sama orangtua yang menjalankan HS. Keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya nih Sid belum mau belajar mengikat tali. Sepatunya dia pakai Velcro Dan jarang dia pakai sampai kesempitan.

      Delete
  17. tanda-tanda mau hs ya mak buat anak-anak.aku kok kurang sabar ya rasanya kalau hs sedih jadinya huhuhuhu
    dulu sempat bebikinan. sekarang ga wes ga sanggup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pernah marah kok mbak Echa. Hehehe
      Kalau lagi capek, biar Aja anaknya bebas main

      Delete
  18. Kok aku semangat liat postingan ini. Duh, kangen masa2 anak msh usia dini kemarin. Sekarang main2 begini dia udah bosaaan. Haha. Yang kurikulum anak SD homeschooling ada gak mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah SD mereka sibuk sendiri Kali ya? Hehehe
      Kalau SD umumnya mengikuti bakat minat si anak, mbak. Fokus utama bukan semua pelajaran sekolah dipelajari.

      Delete
  19. Baru tahu banget ternyata homeschooling juga ada kurikulumnya ya. Saya kira para ortu bebas menentukan gaya dan materi yang akan disampaikan kepada anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebas, Mbak Lina.
      Kurikulum PAUD non formal dari Diknas ini buat guidance aja. Mau dipake, monggo. Enggak juga ga apa.

      Delete
  20. ponakanku yang baru kelas 1 SD kayaknya mau homeschooling aja nih mak gegara Corona yang belum usai, adik ku khawatir nyekolahin anaknya ke sekolah formal.. izin share ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yaa kalau anakku sekolah formal keknya mikir lagi mau lepasin dia di sekolah

      Delete
  21. aku sekarang mulai kepo dan banyak mencari informasi mengenai homeschooling, dan pakat . sambil nunggu informasi yang valid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan infonya dari praktisi homeschooling, mbak. Bisa juga info legalitas dan aturan dari Kemdikbud

      Delete
  22. Wah pas banget nih mbak Helena nulis artikel yang lagi aku cari.Soalnya anakku masuk usia 3 tahun dan aku sedang berpikir untuk memulai Homeschooling Mbak. Tadinya aku sempet insecure karena omongan tetangga yang sering nanya kok anaknya ga dimasukin PAUD . Untung sekarang udah enggak, soalnya aku pengen anakku homeschooling kayak SID.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sering banget ditanyain gini. Udah sekolah? Ya ku jawab udah, homeschooling. Heheh

      Delete
  23. Homeschooling sekarang kayaknya diincar banget ya sama ortu.. Aku butuh kurikulum untuk yang usia SMP nih..

    ReplyDelete
  24. banyak yaa mba cara untuk belajar bareng anak - anak dari usia sedini mungkin. Learning by playing is indeed fun

    ReplyDelete
  25. Dulu pernah ikut pembahasan yang Charlotte Mason bareng teman-teman homeschooling, meskipun aku tidak memilih cara ini untuk mendidik anak-anak. Diambil sisi baiknya tentang penanaman budi pekerti dan kreativitas berdasarkan minat dan bakat.

    ReplyDelete
  26. terima kasih infonya mom. saat ini saya sedang cari info tentang sekolah di rumah.

    ReplyDelete
  27. kalau bapak seperti saya berasa dilema saja kalau hadapi masalah kaya gini :D

    ReplyDelete
  28. noted nih buat adik yang sedang nyari informasi ini nih, mau homeschooling aja dulu mumpung masih 4thn

    ReplyDelete
  29. Wah, makasih banget tulisannya. Aku emang lagi nyari-nyari nih contoh metode dan kurikulum sekolah untuk Aksa.

    ReplyDelete
  30. makasih yaaa. saya langsung donlot Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) loh. duh saya jd tahu. anak saya 2.5 th, saya ajari warna angka bentuk dan huruf selalu nih.tp gak tau caranya bener atau gak. dan mana yg udah dia pahami

    ReplyDelete
  31. Andai omongan sepupu dan keluarga besar nggak sampai ke telinga Salfa, mungkin sampai sekarang dia masih HS, Mbak
    Saya sekolahkan karena si anak yang minta sekolah akibat diejek keluarga besar

    ReplyDelete
  32. Wih, keren Mbak. Salut loh akutuh sama orangtua yang menerapkan home shooling buat anaknya. Tantangannya pasti banyak dan ga mudah. Aku jadi tertarik juga nih untuk terapin home shooling ke anakku.

    ReplyDelete
  33. wah, aku baru mulai nih cobain home schooling ^^ baru belajar nih, sekalian jadiin jurnal buncek juga xD sid dibuatin jadwal rencana per pekan atau bulanan gitu ga mbak? biasanya ide mainnya dapet referensi dari mana aja?

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,