Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Mengasuh Anak Balita di Era Digital

Sunday, February 16, 2020

Mengasuh Anak Balita di Era Digital



“Game baru lagi? Eh, kok kamu jago sih mainnya? Diajarin siapa?”

Itulah kalimat yang sering saya lontarkan ke anak. Adududuh … gemes deh sama SID. Enggak bisa lihat HP nganggur sedikit langsung dia pakai. Nonton video, lah. Unduh gim, lah. Yang saya heran, enggak ada yang mengajari dia tapi nyatanya dia jago main game. Malahan saya diajari caranya supaya menang.

Emang ya anak balita sekarang tuh melek digital. Istilahnya anak-anak itu generasi digital, generasi yang lahir setelah adopsi teknologi digital. Dengan segala positif dan negatifnya dunia digital, gimana ya cara mengasuh anak balita di era digital?


Tidak Boleh Main HP, Mungkinkah?


Terkadang saya berpikir untuk stay away from any gadgets, sehari aja. Bisa? Duh, godaan buat nengokin ada chat seru apa sih di grup? Apa yang sedang viral di media sosial? Hihi … kelakukan saya sendiri aja seperti ini eh mau melarang anak menggunakan HP sama sekali. Mmm … saya sih sadar diri belum bisa se-ideal itu. Salut dengan orang-orang yang anaknya enggak tertarik dengan gawai.

“Anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir.” – Ikatan Dokter Anak Indonesia

Saya mengizinkan screen time untuk SID dengan batasan waktu. Misalnya, setiap main HP diberi countdown timer 5 – 10 menit dan menjelang tidur tidak menggunakan HP. Hal ini berlaku pula pada saya. Di atas pukul 8 malam, HP sudah saya simpan supaya bisa fokus mempersiapkan anak tidur. Kalau sebelum tidur kena paparan layar malah biasanya susah merem.

Oh ya, saya pun belajar manajemen gawai dengan hanya menggunakan gawai pada saat-saat tertentu. Jujur ya, ini masih tahap menguji konsistensi akan godaan gawai. Ketika waktunya bermain dengan anak ya mindfully terlibat aktif di sana. Jika ada panggilan masuk, berarti hal mendesak, barulah saya izin menggunakan telepon.



Bangun Pondasi dari Pendidikan Agama


Pendidikan agama atau pendidikan spiritual dalam Fitrah Based Education menjadi topik penting yang dikenalkan pada anak usia 0-7 tahun. Di rentang usia ini anak mulai dikenalkan pada Allah SWT dan menikmati segala kebesaraNya. Membangun kebiasaan beribadah pun lebih mudah dilakukan sejak dini, tentunya dengan cara menyenangkan.

Ketika pondasi agama terbangun kuat sejak dini, mengasuh anak akan lebih mudah. Orang tua belum tentu bisa selalu mendampingi selama 24 jam. Ya kalau balita masih mau ditemani orang tua. Semakin beranjak dewasa anak bakal risih jika orang tua memantaunya terus-menerus, kan.

Pondasi pendidikan agama yang baik juga menjadi garis batas anak dalam berinteraksi menggunakan teknologi maupun di dunia digital. Serem deh melihat begitu mudahnya segala hal dibagikan di internet yang mudah diakses semua kalangan. Bahkan ketika saya sudah membatasi pilihan gim untuk anak usia 3+ nyatanya iklan yang muncul berisi kekerasan atau nyerempet pornografi.


Bedakan Antara Fakta dan Fantasi


Metode belajar anak usia dini adalah metode konkrit dimana mereka percaya dengan apa yang mereka lihat sebagai suatu yang benar dan wajar. Maka, jangan heran bila ada anak yang bercita-cita menjadi tokoh kartun bus Tayo. Saya pernah mendengar seorang anak menyebutkan cita-citanya menjadi Tayo. Lucu bagi orang dewasa namun dari sisi anak itu adalah hal wajar.

Oleh karena itu, anak perlu diberi pengertian mengenai mana yang fakta dan mana yang fantasi. Pilihkan tontonan yang mendidik dan interaktif, bukan kekerasan. Untuk hal ini, berulang kali saya jelaskan ke SID bahwa Batman, Iron Man, dan rombongan Avengers hanya tokoh di film. Jika ingin menjadi superhero tentu saja boleh dengan menjadi anak baik yang membantu teman. Ya semoga perlahan ia memahaminya. *pasrah.



Jalin Komunikasi Efektif


Gimana rasanya ketika asyik melakukan sesuatu yang disuka, tiba-tiba disuruh berhenti? Menyuruhnya sambil marah-marah, pula. “Ah, Ibu gangguin aja!” mungkin kalimat itu yang terlontar. Anak balita yang emosinya masih labil dan butuh kelembutan perlu diberi pendekatan khusus. Sebelum menyuruh SID berhenti main HP, biasanya saya dekati dan turut menikmati gim atau video yang ia tonton. “Wah, permainannya seru, ya! Ibu boleh coba?” dengan kalimat pembuka seperti ini, hatinya menjadi lunak. Setelah itu barulah saya minta baik-baik untuk selesai menggunakan HP sesuai kesepakatan (waktu sudah habis).

Baca juga: Keterampilan Abad 21 

Bermain dan Bereksplorasi di Luar, Yuk!


Setelah anak berhenti main HP, lalu apa? Sebagai pengalihan dari HP, kita perlu menyiapkan kegiatan lain untuk menarik minat anak. Salah satu alasan anak gemar main gawai karena merasa bosan.

Menggunakan gadget cenderung membuat anak pasif, hanya duduk dalam waktu yang lama. Padahal anak balita perlu cukup waktu bermain dan bereksplorasi di luar ruangan. Aktivitas fisik sangat baik bagi tumbuh kembangnya. Oleh karena itu imbangi dengan aktivitas fisik seperti jalan-jalan, bersepeda, bermain ketangkasan di taman, berenang, dan sebagainya.



Kenalkan Dampak Positif Teknologi


Tumbuh di era digital memiliki dua sisi, positif dan negatif. Kenalkan sisi positif teknologi pada anak seperti materi belajar melalui audio dan video. Pilih channel YouTube yang mengajak anak berinteraksi dan bergerak sambil belajar, jadi anak tak hanya pasif menonton.

Anak balita perlu kaya wawasan, salah satu caranya dengan melihat orang dewasa bekerja. Kegiatan seperti field trip, ikut orang tua ke kantor, dan semacamnya bakal menjadi pengalaman berharga bagi anak.

Bisa juga anak dikenalkan pada tokoh di bidang teknologi, entah lewat buku, info di website, atau berkenalan secara langsung. Meskipun kemungkinan anak belum sepenuhnya paham namun siapa tahu minat ini terbawa sampai dewasa.

Kalau sudah remaja, anak bisa diajak mengikuti talkshow, workshop, atau konferensi seputar IT untuk belajar teknologi dari para praktisi seperti Start Summit Tokopedia di Jakarta yang akan berlangsung pada 22 Februari 2020. Konferensi tingkat tinggi pertama yang diadakan Tokopedia ini akan membahas berbagai inovasi teknologi yang Tokopedia buat selama 10 tahun terakhir.

Selama sehari, peserta dapat mengikuti konferensi, melihat langsung demo penggunaan teknologi dan inovasi Tokopedia, berjejaring dengan para penggiat teknologi, hingga mentorship dari para engineers. Ini akan menjadi pengalaman berharga anak yang tertarik dengan dunia teknologi dan digital. Oh ya, beli tiket events Start Summit lebih murah untuk pelajar, lho.

Start Summit Tokopedia
Anak dekat dengan gawai tidak melulu berimbas negatif, kan. Tentunya butuh diarahkan supaya dapat menggunakan gawai dengan bijak sesuai porsinya. Barangkali dari aktivitasnya dengan gadget memunculkan ide-ide kreatif memecahkan masalah di sekitar. Calon CEO start-up, nih!

Mengasuh anak di era digital memiliki tantangan berbeda dengan pola pengasuhan saat kita kecil. Maka, didiklah anak sesuai zamannya. Sebagai orang tua perlu terus belajar supaya up-to-date dan dapat mengasuh anak dengan tepat. Apa kiatmu dalam mendidik anak zaman now?
32 comments on "Mengasuh Anak Balita di Era Digital"
  1. Aku kadang suka miris lihat anak yang hobi banget mantengin gadget. Padahal anak-anak butuh Tapi sebenernya kebutuhan melek teknologi juga penting ya mba, asal porsinya ideal. Btw tertarik banget buat ke talkshow-nya mba, pengisinya ada CEO Tokopedia idolaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. perlu tetap seimbang, kak, antara main HP dengan main di luar rumah supaya badan dan pikiran sehat :)

      Delete
  2. Hahaahj podo ini hapeku yang "nganggur" tiba2 penuh apps game dan mereka tahu cara download dan install pdhl gak ada yang ngajarin, baik aku ma bapaknya. Nglepasin anak dr gadget emang agak susah, tapi kalau bisa dibatasin, butuh ketegasan ortunya. Pokoknya saat anak main hape dan hape itu kita minta trus anaknya B aja, gk ngrajuk atau tantrum, keknya itu tanda dia gak kecanduan #imho

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena unduh game baru begitu mudah, jadinya bosen main ya unduh game lain. Gitu aja terus. Ini nih PR buat kita mengajarkan kesabaran ke anak di era digital.

      Delete
  3. Anak2 ga bisa dijauhkan dari gadget ya, apalagi dijaman era digital ini, yang kebanyakan digitalpreuner, gimana kita para ortu disiplin menyingkapinya. Bener tuh kita pun ortu harus komit dengan aturan pemakaian hp dan kudu teges ..

    ReplyDelete
  4. ngeri ngeri sedap ya membesarkan anak di era digital ini. terutama mengatasi kecnduan gadjet yg jadi pe er utama

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap kebijakan orang tua jd yg utama. ortu kan sering main gadget dekat anak jd anak penasaran apa sih asyiknya main gadget sampai ortu gak lepas dr gadgetnya

      Delete
  5. Wah. Samaan nih mengandalkan timer untuk membantu kontrol waktu di depan layar.
    Ku juga pake poster aturan main gadget yang ku bikin buat Si Kakak untuk menghindari protes2 dan rajukan2, haha.

    ReplyDelete
  6. Yups... di jaman digital gini, enggak bisa ngelarang anak sama sekali tidak menggunakan gadget. Gapapa diberi kesempatan eksplorasi disertai dengan pendampingan dari orang tua. Istilahnya ya, dari lahir ceprol dia udah liat mama papanya eksis pake gadget. Nggak heran kalau sekarang anak bayik aja udah jauh lebih pinter pake gadget dibandingkan dengan orangtuanya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pendampingan sangat penting, mbak. Bukan pantengin anak terus-menerus ya nanti anaknya jadi risih

      Delete
  7. Kalau saya, sekarang lagi ngenalin anak2 tentang ksatria-ksatria muslim, superhero nyata bukan fiksi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini yang saya rencanakan, kisah nabi dan para sahabatnya menarik buat dikenalkan ke anak, mbak.

      Delete
  8. Anak-anak saya termausk yang akrab dengan gawai. Dan, saya memang tidak melarang untuk itu. Saya pun sama, lebih suka melakukan manajemen gawai. Biar gimana memang zamannya mereka udah serba digital

    ReplyDelete
  9. Iya kadang kita jaman now terkaget kaget dengar cita cita anak yang mau jadi selebgram dan youtubers, tanpa kita sadari, dunia sudah berubah. Mengajar anak menjadi apa yang meereka sukai sekaligus mengarahkan ke cita cita profesional itu yang sulit

    ReplyDelete
  10. Yeppp, mendidik anak jaman now tuh super challenging! Apalagi kalo udah remaja, Mak.
    Duh, bener2 kudu nambah stok sabar :)
    Btw, keren banget nih Tokopedia! Bikin event yg bisa mengajari generasi jaman now untuk berkontribusi positif di ranah digital yaaa

    ReplyDelete
  11. Mengasuh anak di era digital itu kudu pinter-pinter ya, emaknya apalagi. Mamahku saja merasakan perbedaan saat ngasuh aku dan melihat caraku mengasuh anakku sekarang ini.

    ReplyDelete
  12. Jaman digital begini memang tidak bisa mengharuskan anak harus jauh dari gadget. Ya gimana mau menjauhkan, orang tuanya aja makai. Kita sebagai orang tua saat ini bisa membatasi dan melakukan pengawasan terhadap pemakaian gadget oleh anak.

    Ya, syukur-syukur anak bisa langsung paham tentang mana yang boleh dilihat mana yang tidak. Sehingga kita tidak terlalu was-was anak buka youtube, misalnya, untuk melihat apa.

    ReplyDelete
  13. Iya, memang era digital, anak ngga bisa menghindari dari efeknya, yang penting kita atur ya, dan ajak anak banyak main di luar..

    ReplyDelete
  14. Artikelnya bermanfaat sekali mbak soalnya kebetulan aku juga lagi punta balita nih. Banyak hal-hal yang harus aku pelajari karena tantangan mengasuh anak di era digital kan tentu berbeda dengan waktu aku masih kecil. Hehe

    ReplyDelete
  15. Setuju, pengenalan pada dunia digital itu perlu tapi tetap lakukan pendampingan. Kalau untuk anak remajaku aku berteman di semua akun sosmednya mbak..Jadi sekalian buat intip-intip aktifitas dia. Juga, dia dengan sadar enggak pakai password untuk gawainya dan sesekali aku periksa tapi bilangnya boleh pinjem bentar dan saya intip grupnya dll...terus dicerna dulu, kalau senggang dibahas kalau ada yang aneh. Pokoknya pinter-pinter Ibunya, karena ank seusia ini dah main rahasia :)

    ReplyDelete
  16. Jaman now ga mungkin ya anak2 dijauhkan dr hp atau gadget lain , tinggal kita orangtuanya yg harus tahu ilmunya. Fondasi agama penting banget, saya setuju, krn pemahaman agama anak jd punya benteng buat dirinya sendiri

    ReplyDelete
  17. iya aku setuju mbak, era sekarang anak-anak milenial beda banget dengan era dahulu, sekarang komunikasi intens dengan anak-anak jadi kunci sehingga kita bisa masuk ke dunia mereka dan melihat dari dekat apa saja yang mereka lakukan baru kemudian mempertimbangkan sisi baik dan potensi buruknya.

    ReplyDelete
  18. Hari gini mah ya, anak-anak gak mungkin banget dilarang pegang gadget. Kendali aja di diri kita untuk bisa mengaturnya. Membawa jalan-jalan anak untuk beraktivitas di luar supaya gak terus-terusan dengan gadget bisa jadi pilihan. Dan yang susah, tapi harus dilakuin, kita harus jadi teladan juga. Jangan terus-terusan main gadget. Huhuhu... PR banget buat saya. :D

    ReplyDelete
  19. Anak sekarang memang udah canggih ya, Mbak. Keponakan saya juga gitu, udah pintar mengoperasikan gadget. Padahal orang tuanya gak mengajari. Tetap saja harus tetap diawasi saat mereka pegang gawai, ya

    ReplyDelete
  20. Anak-anak sekarang memang cerdas-cerdas ya Mbak. Nggak ada yang mengajari aja udah pintar sendiri kalau main gadget. Kadang aku sering nanya-nanya sama anakku malah.

    ReplyDelete
  21. Sekarang memang harus lentur cara kita mendidik anak. Disesuaikan dengan zamannya. Harapannya anak-anak juga ga ktinggalan informasi terkait teknologi dan bisq turut andil dalam pemanfaatan nya

    ReplyDelete
  22. Baca tulisan ini berasa related banget. Maklum..nak anakkuh termasuk balita era digital. Hahahah. Dan emang beda banget waktu zaman kecil saya dulu. Gak salah tuh quote "didiklah anakmu sesuai zamannya, bukan zamanmu". Eh bener gitu ya?

    ReplyDelete
  23. Untungnya sejauh ini anakku nggak mpe yang kecanduan amat ama gadget. sesekali emang dia maen game, tapi hape biasanya dia pake buat nonton wayang di youtube atau belajar ngevlog doang.

    ReplyDelete
  24. yang paling susah itu anak terus2an pegang hp ya, takut ketagihan

    ReplyDelete
  25. karna kids jaman now sudah cepat sekali melek gadget nya. jadi mau ga mau harus bisa dibimbing nih

    ReplyDelete
  26. Bener banget, diriku pun juga salut sm anak yg ga suka gadget macam Jan Ethes cucu pak Jokowi. Tapi dan tapiiii jaman sekarang emang sudah era nya anak main HP karena congklak atau bentengan sudah tak menarik lagi bagi meereka. Bener banget eksplor di luar jadi salah satu hal yg harus sering kita tanamkan pada anak ya

    ReplyDelete
  27. Anak jaman now itu kalo udah d era digital, memang harus diawasin ya mbaa. Noted banget dalam pola membimbing anak-anak

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,