Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, and upside down of life.

Imunisasi Melindungi Anak, Melindungi Indonesia

Saturday, September 15, 2018


Menjelang azan asar, pintu tempat tinggal saya diketuk dengan keras. Sesekali terdengar panggilan, “Bu… Ibu…”. Ada tamu siapakah ini?

Kantuk saya mendadak hilang ketika membuka pintu. Tampak seorang wanita membopong anaknya sambil terisak. Bibir anak tersebut membiru, dari mulutnya nampak sisa busa, wajahnya tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, saya segera menggendong SID yang sedang tidur dan mengajak tetangga saya tersebut ke rumah sakit.

Biasanya lingkungan sekitar tempat tinggal saya ramai namun siang menjelang sore tersebut hanya sedikit penghuni berlalu-lalang. Bahkan satpam tak nampak berjaga di posnya. Kami, dua  orang ibu yang menggendong anak, berjalan setengah berlari ke rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu tak mungkin saya lupakan. Itulah awal dari rangkaian pengobatan yang anak tersebut lewati. Perjalanan panjang menuju kondisi kembali seperti semula harus ia dan orang tuanya lalui untuk sepenuhnya sembuh dari encephalitis.

Komplikasi Berat Penyakit Campak

Encephalitis atau radang otak dapat menyerang siapa saja, umumnya pada anak-anak atau lansia yang daya tahan tubuhnya lemah. Infeksi virus yang dapat memicu radang otak antara lain virus yang menyebabkan penyakit campak (measles), gondongan (mumps), atau campak jerman (rubella).

Saya tidak kompeten untuk menyatakan penyebab sakitnya tetangga saya tersebut. Namun, kejadian itu mengingatkan saya pada seorang wanita di Inggris yang mengidap subacute sclerosing pan encephalitis. Wanita tersebut mengidap campak saat kecil kemudian setelah sembuh tidak mendapat imunisasi campak. Alhasil, komplikasi berat campak muncul saat ia dewasa.

Tetangga saya tersebut pernah terkena campak saat bayi, sebelum ia mendapat imunisasi campak di usia 9 bulan. Campak memang akan sembuh dengan sendirinya selama beberapa hari. Akan tetapi, komplikasi berat pada campak berpotensi muncul di kemudian hari. Menurut dr. Hindira Irawan Satari dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), komplikasi berat campak meliputi gizi buruk, diare berat, pneumonia, radang otak, hingga kematian.

Saya belajar dari kasus di atas untuk tidak meremehkan penyakit apapun. Meski bercak campak akan mengering dalam 3-5 hari dan demam akan menurun, anak sebaiknya tetap mendapat imunisasi campak sesuai jadwal.

Begitu pula dengan penyakit rubella. Gejalanya berupa penyakit ringan pada anak seperti demam ringan, bercak kemerahan di kulit wajah, lengan, dan kulit kepala (disebut juga campak Jerman karena gejalanya mirip campak). Ruam umumnya hilang sendiri dalam 3 hari. Namun, bila tertular ke ibu hamil (terutama trimester 1), dapat menyebabkan komplikasi berat yaitu Congenital Rubella Syndrome (CRS). Bayi dapat terlahir dengan kelainan kongenital seperti kelainan jantung, retardasi mental, tuli, atau katarak congenital.

Saat teman saya hamil 5 bulan, anak-anaknya terkena rubella. Ia sempat was-was karena rubella mudah menular. Syukur alhamdulillah janin yang dikandungnya terlahir normal.

sumber: Alodokter

Imunisasi Dasar Lengkap itu Gratis, Lho!

Bagi ibu dan anak, sudah punyakah Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang berwarna merah muda? Buku tersebut menjadi panduan saya memantau jadwal imunisasi dasar lengkap untuk SID.

Syukurlah setelah lahir, SID langsung mendapat imunisasi HB 0 dari rumah sakit. Selanjutnya ia memperoleh imunisasi BCG, Polio, DPT, campak, dan yang terakhir yaitu imunisasi MR (measles rubella) di tahun 2017. Semuanya tercatat rapi pada buku KIA dan Kartu Menuju Sehat (KMS) anak balita yang dibawa saat posyandu.

Awal imunisasi masih di rumah sakit tempat SID lahir. Kok lumayan ya biayanya, apalagi untuk newborn sampai usia 9 bulan ada 10x imunisasi. Eh ternyata untuk imunisasi dasar lengkap dapat diperoleh secara cuma-cuma di puskesmas maupun posyandu. Wah, saya mainnya kurang jauh nih, kudet gini. Jadilah selanjutnya mulai imunisasi di puskesmas dan posyandu terdekat. Gratisss…

Mencegah Lebih Baik dan Lebih Murah daripada Mengobati

Imunisasi merupakan langkah pencegahan timbul dan menyebarnya suatu penyakit. Siapa sih yang mau sakit? Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Tak hanya itu, dari perhitungan ekonomi, imunisasi lebih murah dibanding mengobati suatu penyakit. Dikutip dari website sehatnegeriku.kemkes.go.id (sumber), “... seorang anak menderita Campak dengan komplikasi radang paru atau otak, biaya pengobatan minimal lebih kurang menghabiskan hampir 13 juta rupiah per kasus, di luar biaya hidup yang dibutuhkan saat penderita mendapatkan perawatan.

Sementara itu, pembiayaan minimal yang dibutuhkan untuk pengobatan seorang anak dengan CRS mencapai lebih dari 395 juta rupiah per orang untuk penanaman koklea di telinga, operasi jantung dan mata. Namun setelah itu tentu tetap dibutuhkan pembiayaan untuk perawatan kecacatan seumur hidupnya.”.

Biaya pengobatan di atas jauh lebih mahal dibanding biaya kampanye dan program imunisasi MR yang dikeluarkan Kementrian Kesehatan sekitar Rp29.000,00 per anak.

sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id

Imunisasi Bentuk Tanggung Jawab pada Anak dan Masyarakat

Merencanakan masa depan anak tak hanya tentang mempersiapkan dana pendidikan atau memilih sekolah yang tepat, tetapi juga mendukung kesehatan anak dengan imunisasi. Yup, bagi saya imunisasi termasuk langkah penting agar anak tumbuh sehat. Tanpa tubuh yang sehat, anak tak dapat meraih cita-citanya, ya kan?

Undang-Undang No.36 tahun 2009 Pasal 131 ayat 3 menyebutkan pemeliharaan kesehatan anak menjadi kewajiban orang tua, keluarga, masyarakat, juga pemerintah. Bagi saya, imunisasi tak hanya ikhtiar menyehatkan anak sendiri tetapi dampaknya dapat dirasakan keluarga maupun masyarakat. Ketika anak saya sakit dan menulari orang di sekitarnya, berarti sama saja merugikan orang lain. Maka, imunisasi ini sebagai bentuk tanggung jawab menjaga kesehatan anak maupun masyarakat.

Awalnya saya khawatir dengan kehalalan vaksin yang digunakan untuk imunisasi MR. Sempat tersiar kabar vaksin tersebut mengandung babi. Di satu sisi, anak butuh mendapat vaksin tersebut mengingat dampak penyakit campak dan rubella yang berbahaya. Di sisi lain, kandungan babi termasuk haram dalam hukum Islam.

Syukurlah telah ada penjelasan resmi dari MUI mengenai masalah ini lewat Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute India (SII) untuk Imunisasi. Secara garis besar, vaksin MR produksi SII memanfaatkan (bukan mengandung) unsur haram, maka tidak dapat disertifikasi halal. Tetapi saat ini ada urgensi program imunisasi untuk mencegah kecacatan maupun kehilangan nyawa yang meresahkan masyarakat.  Oleh karena itu, penggunaan vaksin MR produksi SII untuk program imuniasi dibolehkan dengan alasan:

  1. Memenuhi ketentuan dlarurat syar’iiyah.
  2. Belum adanya alternatif vaksin yang halal dan suci.
  3. Adanya keterangan ahli yang kompeten tentang bahaya yang bisa ditimbulkan.

Namun, kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud tidak berlaku jika di kemudian hari ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.

Dukung Program Indonesia Sehat Melalui Perlindungan Imunisasi

Pemerintah mencanangkan program Indonesia Sehat sebagai bagian dari agenda kelima Nawa Cita yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Sasaran pokok RPJMN 2015-2019, meningkatnya pengendalian penyakit, salah satunya melalui perlindungan imunisasi yang butuh peran aktif masyarakat. Yuk, dukung program Indonesia Sehat melalui perlindungan imunisasi.

sumber: Twitter KemenkesRI


Daftar Pustaka:

Alodokter. “Radang Otak”. 15 September 2018. https://www.alodokter.com/radang-otak.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. “Imunisasi Campak dan Rubella Dibolehkan MUI, Kemenkes Fokus pada Beban dan Dampak Penyakit Tersebut”. 13 September 2018. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180823/0727524/imunisasi-campak-dan-rubella-dibolehkan-mui-kemenkes-fokus-pada-beban-dan-dampak-penyakit-tersebut/.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. “Jalan Panjang Terbitnya Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 dalam Rangka Mendukung Imunisasi”. 13 September 2018. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180907/5927834/jalan-panjang-terbitnya-fatwa-mui-nomor-33-tahun-2018-rangka-mendukung-imunisasi/.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. “Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga”. 15 September 2018. http://www.depkes.go.id/article/view/17070700004/program-indonesia-sehat-dengan-pendekatan-keluarga.html

63 comments on "Imunisasi Melindungi Anak, Melindungi Indonesia"
  1. Imunisasi sangat penting bagi anak. Kasian kalau sampai tidak di imunisasi , membahayakan masa depannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Imunisasi buat saya sebagai bentuk merencanakan masa depan anak

      Delete
  2. Di Lampung aku menemui kasus anak2 yang kena virus ini hiks. Sedih. makasih ya mba artikelnya nambahin referensi aku

    ReplyDelete
  3. Aku juga termasuj yg mendukung imunisasi diberikan pada anak.makanya selalu mengizinkan mereja diimunisasi juga dj sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Usia sekolah juga ada imunisasi ulang ya buat kekebalan kelompok.

      Delete
  4. Mba artikelnya komplit banget. Mengedukasi tanpa menggurui, kusukaaa 😍

    Terima kasih ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah terima kasih apresiasinya.

      Delete
  5. Halo mba Helana. Aku dukung pemberian imunisasi pada anak nih mba karena menurutku hak anak juga harus mendapatkan imunisasi untuk tumbuh kembang anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, hak anak mendapat perlindungan kesehatan.

      Delete
  6. Alhamdulillah anak-anakku sudah lengkap vaksinnya.
    Ditambah dengan keberanian si bungsu waktu diimunisasi MR di sekolahnya, wuih..bangga banget deh saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baca ceritamu, Mbak. Anakmu tetap senyum saat disuntik. Hebat!

      Delete
  7. Semoga semakin banyak orang tua yg sadar akan pentingnya imunisasi ini demi keselamatan putra-putrinya..

    ReplyDelete
  8. Semoga anak2 indonesia sehat selalu dan terfasilitasi dg baik ya

    ReplyDelete
  9. wah imunisasi harus lengkap yah mba, dulu harus ke posyandu, tapi sekarang sudah ada program ke sekolah-sekolah juga. Semoga anak-anak Indonesia selalu dalam keadaan sehat semua yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Posyandu fokusnya ke balita. Kalau anak usia sekolah biasanya di sekolah masing-masing

      Delete
  10. Saya termasuk yang percaya dengan dokter. Jadi termausk yang tertib dengan imunisasi sejak dulu. Insya Allah, anak-anak selalu sehat. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin . Imunisasi itu ikhtiar menjaga kesehatan anak.

      Delete
  11. Imunisasi itu penting untuk generasi lebih sehat apalagi sekarang beberapa digratiskan pemerintah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup semakin banyak imunisasi dasar lengkap dan gratis!

      Delete
  12. Iaa kalau Imunisasi di RS itu banyak dan terkesan mahal karena banyak daftar imunisasi yang gak wajib menutupi yang wajib.. malah saya sempat pengalaman anak pertama gak tau yang wajib dan gak semuanya dihajar aja karena mengikuti jadwal dikasih sama dsa-nya.. hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ada imunisasi tambahan tapi itu pilihan aja, Mom.

      Delete
  13. Iyess, aku pun pro imunisasi. Kemarin sedih pas imunisasi difteri Pendar demam tinggi, jadi deh ga ikut imunisasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang ORI ya? SID udah 2x, kurang sekali lagi

      Delete
  14. Teman sy ada yang suka ngepost bernada negatif ttg imunisasi esp MR di grup WA. Dan ada yg langsung menelan mentah-mentah. Penjelasan teman yg tenaga kesehatanpun ga digubris. Rasanya pgn ngomong, klo ga mau imunisasi anakmu, ya save for yourself. Pikirin anak2 dan orang2 yang resiko ketularan rubellanya lebih besar. Sy sampai bilang sy pernah kena rubella tp saat masih gadis dan bersyukur bukan kena pas sdh nikah apalagi msh hamil. Krn 3 teman saya kena saat masih hamil, dan berdampak ke bayinya. Tetap ga digubris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sangat disayangkan, ya, mbak padahal sudah ada bukti nyata dampak negatif Rubella. Setelah diingatkan ya kita doakan supaya anak-anak dan lingkungan sehat.

      Delete
  15. Anakku sempat kena pneumonia diumur 1 bulan, sebelum sempat imunisasi HIB, sedih kalo inget. Sekarang jadi ketat banget untuk urusan imunisasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah, Mbak. Kita sama nih. That's why aku hati-hati banget urusan kesehatan anak.

      Delete
  16. imunisasi itu investasi banget emang ya mbak
    anak pertama saya imunisasi IDAI dan kedua ikut pemerintah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah Mbak Zilqiah nih contoh yang mempersiapkan masa depan anak dengan baik :)

      Delete
  17. Imunisasi gratis kan ya mba, kok di RSIA ku bayar ya mba, bahkan harga nya ada yang mencapai hampir sejuta.. memang nya bedakah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. gratis di puskesmas dan posyandu untuk imunisasi dasar lengkap, Mbak. Kalau RSIA ya bayar.
      Yang sampai sejuta itu mungkin imunisasi tambahan atau depend on rumah sakitnya.

      Delete
  18. Duh sedih kalau ngelihat anak sakit, apalagi sakit karena orang tua yang kurang aware dengan imunisasi dasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah jadi tugas orang tua untuk menyediakan lingkungan sehat bagi anak. Semoga anak-anak sehat, ya, Mbak.

      Delete
  19. Hueee, Karla belum imunisasi Campak. Makasih loh, berkat tulisanmu aku jd inget nih buat buru2. Semoga bulan ini bisaaa mumpung sehat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya buku KIA yang pink? kudu rajin cek itu supaya on time.

      Delete
  20. Alhamdulillah ya kalau udah ada oenjelasan resmi bahwa semua vaksin wajib yg dikasih pemerintah sdh halaal

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum halal, Mbak. Tapi MUI berpendapat boleh dipakai selama yang halal belum ditemukan karena dampak tidak imunisasi lebih besar.

      Delete
  21. Anakku sebelum usia 9 bulan kena campak. Trus waktu jadwal imunisasi campak, ada tetangga yang menyarankan gak usah kasih imunisasi. Untungnya aku gak nurut dan tetap ke dokter anak utk imunisasi. Jaman dulu imunisasi campak, MMR semua bayar sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ini seperti anaknya temanku, Mbak. Iya, MMR bayar sendiri dan lumayan kan harganya. Syukurlah sekarang MR dicover pemerintah.

      Delete
  22. Imunisasi ini penting bangat dan perlu sosialisasi yang lebih kenceng kpd masyarakat agar tdk terprovokasi isu negatif yg berkembang. Kasihan anak2 sebagai generasi harapan bangsa jika tdk melakukan imunisasi ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. efeknya berimbas ke keluarga dan lingkungan. Itulah mengapa sebelum imunisasi, pertimbangkan efek baik dan buruknya.

      Delete
  23. Aku bete, tahun lalu ada MR pas aku lagi di kampung. Nah tahun ini aku ga ke mana2, MR malah di Jawa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ke puskesmas sekarang ini, apa udah bayar?

      Delete
  24. Subhanallah aku diingatkan aku harus suntik lagi setahun pas setahun nikah. Makasih Mba Helen. Ak jjuga waswas ama rubela

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Nyi. Kudu kesadaran diri untuk ingat jadwal imunisasi dan pemeriksaan kesehatan :)

      Delete
  25. Alhamdulillah selalu imunisasi anak2, investasi kesehatan mereka. Betul tanggung jawab pada anak dan masyarakat.

    ReplyDelete
  26. Ya Allah, mba Helen....
    Aku makdeg baca tulisannya mba Heleb.
    Bukan karena anakku gak lengkap imunisasinya, namun karena kejadian-kejadian tak terduga itu bikin kita lemes seketika apalagi yang berhubungan dengan anak - sakit.

    Semoga Allah lindungi amanah-amanahMu ini, ya Allah...
    Aamiin.

    ReplyDelete
  27. Kesehatan anak memang prioritas kita semua ya. Harapannya pemerintah juga gerak cepat dengan menyediakan vaksin yang bagus dan halal.

    ReplyDelete
  28. Serem ya kalau baca kasus2 penyakit yang disebabkan karena tidak imunisasi seperti campak dan rubella. Soal pemberian imunisasi sebenrnya kalo menurut saya bukan karena semata untuk kepentingan anak kita saja tapi juga efeknya ke orang lain.

    ReplyDelete
  29. Beberapa hari yg lalu anak2ku juga imunisasi. Penting banget memang, dunia skrg jahat, banyak virus2 entah dr mana2, jd kita yang hrs waspada.

    ReplyDelete
  30. Imunisasi memang penting ya utk kesehatan anak. Anakku udah dapet MR di sekolah setahun yg lalu.

    ReplyDelete
  31. Aku imunisasi anakku... halal, manfaat bagi sesama :)

    ReplyDelete
  32. Alhamdulillah anak2 ku lengkap imunisasi secara aku dulu jg lengkap. :)

    ReplyDelete
  33. Imunisasi buat anak memang paling penting ya mba, apalagi buat saya yg parnoan kalo liat nayla sakit, bahkan pernah ketika badannya panas aaya lihat pipinya kok kyk bengkak, takutnya gondongan, eh kata dokternya sakit biasa, anak ibu memang mbem wkwkwkwkkw

    ReplyDelete
  34. Imunisasi buat anak memang paling penting ya mba, apalagi buat saya yg parnoan kalo liat nayla sakit, bahkan pernah ketika badannya panas aaya lihat pipinya kok kyk bengkak, takutnya gondongan, eh kata dokternya sakit biasa, anak ibu memang mbem wkwkwkwkkw

    ReplyDelete
  35. Begitu besar manfaat imunisasi tapi masih ada aja ya orang tua yang malah mengharamkan imunisasi, kalau Mbak sendiri kira kira gimana tanggapannya Ama orang tua semacam itu

    ReplyDelete
  36. Manfaat imunisasi pada usia anak itu memang besar manfaatnya, setidaknya memberi imun yg baik utk daya tahan tubuh agar lebih kebal terhadap penyakit

    ReplyDelete
  37. Setuju banget kalau imunisasi itu bentuk tanggungjawab kita sebagai orangtua sekaligus bagian dari kehidupan sosial. Nggak bisa ngebayangin gimana kecewanya para orangtua ketika anaknya tertular berbagai penyakit padahal keluarganya sendiri sudah melakukan imunisasi.

    Duh, padahal gratis lhooo.. Di negara lain mah bayar.. Hikss

    ReplyDelete
  38. Sedih sekali dengan banyaknya orang antivaksin yang ikut mengajak orangtua lain supaya gak memvaksin anaknya, padahal penting.

    ReplyDelete
  39. Bagus neh informasinya. Khususnya buat aku yang masih awam dengan imunisasi menjadi bekal nanti kalau sudah punya anak.

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-menyurat, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature