Kita Bisa, Aku Bisa: Peran Kita untuk Hari Kanker Anak Sedunia

Sunday, February 26, 2017

Kanker pada anak belum diketahui penyebab pastinya dan hanya satu jenis yang dapat dideteksi dini. Kenali gejala dan tanda kanker pada anak agar dapat dilakukan tindak lanjut dini.


Siti Julia, gadis cilik asal Purwakarta, mengidap retinoblastoma atau kanker bola mata di usia 4 tahun. Ia menjalani pengobatan di Cikampek, Bandung, hingga akhirnya dirujuk ke RS Dharmais, Jakarta. Kanker menyerang mata kanan dan tumbuh benjolan yang semakin besar di leher kanan. Rasa sakit yang ia hadapi setiap hari membuatnya sempat berhenti kemoterapi dan ingin mati saja. 2,4 per 100.000 anak Indonesia menderita retinoblastoma seperti Siti Julia (Sistem Registrasi Kanker di Indonesia (SriKanDI) tahun 2005-2007). Kanker pada anak perlu mendapat perhatian karena angka kematian akibat kanker anak mencapai 50-60 persen. Dalam rangka Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari dan Hari Kanker Anak Sedunia pada 15 Februari, Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI) mengajak kita berperan mengurangi beban dan permasalahan kanker dengan tema “Kita Bisa, Aku Bisa (We can, I can)”.

kita bisa aku bisa
(ki-ka) Siti Julia, dr. Edi, dr. Lily, dan moderator
 
Mengetahui kisah Siti Julia langsung dari sumbernya membuat mata saya berkaca-kaca. Betapa anak manis ini kuat dan tangguh menghadapi penyakit yang menggerogoti dirinya selama bertahun-tahun. Perlu kesabaran luar biasa besar bertarung melawan sel kanker yang menyerang bola matanya. Ia harus merelakan mata kanannya diangkat. Ia beruntung memiliki keluarga terutama ayahnya, teman-teman sesama penyandang kanker, juga yayasan yang peduli dan selalu mendukungnya untuk sembuh. Di tempat lain ada banyak pasien kanker anak yang terlambat berobat akibat gejala kanker yang sulit terdeteksi sehingga kehilangan nyawa di usia belia.

Baca: Ayah Hebat, Keluarga Sehat

Di Hari Kanker Anak Sedunia 2017 ini Kemenkes RI mengadakan serangkaian acara untuk meningkatkan awareness bahaya kanker, salah satunya media dan blogger gathering pada 20 Februari 2017 di Direktorat P2PTM, Kemenkes RI, Jakarta. Acara siang itu berjudul “Akses Pelayanan yang Lebih Baik untuk Anak dan Remaja dengan Kanker dimana saja”.

Kanker dan Jenis Kanker yang Sering Menyerang Anak

deteksi dini kanker anak
Kanker itu seperti kepiting yang capitnya harus dikendalikan -dr. Edi, Sp.A(K)

dr. Edi Tehuteru, Sp.A(K) mendefinisikan kanker sebagai sel yang pertumbuhannya tidak terkontrol, sel yang pandai, dan sel “preman”. Sel ini tumbuh dan mengambil asupan nutrisi untuk berkembang dalam tubuh sehingga fungsi organ tubuh terganggu dan pasien sulit bertambah berat badannya. Dari sekian macam kanker, ada beberapa jenis yang kerap menyerang anak berusia di bawah 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Enam jenis kanker pada anak yang tersering yaitu: leukemia, retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma malignum, osteosarkoma, dan karsinoma nasofaring.

Baca: Ssst... Ini 3 Rahasia Berat Badan Ideal Dalam Seminggu Tanpa Harus Diet Ketat

gejala dan tanda kanker anak oftalmoskop
Enam jenis kanker pada anak yang tersering
 
Meski kanker anak “hanya” 2% dari jumlah pasien kanker di Indonesia, hal ini menjadi penyebab kematian kedua terbesar pada anak usia 5-14 tahun. Hal ini karena belum diketahui penyebab pasti kanker dan anak umumnya belum bisa mengemukakan yang dirasakan. Saat ini genetik, zat kimia, virus, dan radiasi diduga menjadi penyebab kanker pada anak. Faktanya lagi, hingga sekarang hanya ada satu jenis kanker anak yang bisa dideteksi dini yaitu retinoblastoma.

Tes Lihat Merah untuk Deteksi Dini Retinoblastoma

Retinoblastoma dapat menurun secara genetika ke anak. Bila salah satu orangtua pernah mengidap retinoblastoma, anak yang dilahirkan berisiko terkena hal serupa. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan ke dokter secara rutin hingga anak usia 5 tahun. Kanker ini menyerang balita dengan ciri-ciri manik mata berwarna putih atau mengkilap seperti mata kucing, juling, kemerahan, pembesaran bola mata, peradangan jaringan bola mata, dan penglihatan buram.

Deteksi dini retinoblastoma menggunakan alat yang diarahkan ke mata bernama oftalmoskop. Bentuk alat ini seperti tongkat kecil pada film “Men in Black” dan dapat mendeteksi warna merah pada mata pasien. Kemenkes RI menyebarkan alat ini ke tiap puskesmas supaya “Tes Lihat Merah” dapat dilakukan di seluruh daerah di Indonesia. Saat posyandu, tak hanya tinggi dan berat badan anak yang diukur tetapi mata dan telinga perlu diperiksa.

Harapan untuk Sembuh

dr. Lily S. Sulistyowati, MM, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI mengingatkan walau penyebab kanker belum diketahui, ada baiknya para orangtua membiasakan anak-anaknya untuk hidup sehat. Kemenkes RI menggalakan Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dengan perilaku CERDIK:
a.       Cek kesehatan secara berkala
b.      Enyahkan asap rokok dengan menghindari pengunaan tembakau
c.       Rajin aktivitas fisik
d.      Diet sehat dan seimbang
e.   Istirahat yang cukup
f.      Kelola stress
cerdik kemenkes ri
CERDIK kemenkes ri
Selain nasi dan lauk, para undangan mendapat menu makan siang buah-buahan

Sedangkan tujuan pengendalian kanker di Indonesia yaitu:
1. Meningkatkan deteksi dini, penemuan dan tindak lanjut dini kanker
2. Meningkatkan kualitas hidup penderita kanker
3. Menurunkan angka kematian akibat kanker

Orangtua diharapkan lebih peduli dan mengenali tanda-tanda bila anak sakit. Apabila ada benjolan atau anak mengeluh sakit, segera periksakan ke dokter. Seorang orangtua pasien menyesal tidak segera menyetujui tindakan amputasi kaki anaknya sehingga si anak meninggal. Orang tersebut menitip pesan pada dr. Edi untuk disampaikan ke semua orangtua bahwa penderitaan anak berawal dari kekhawatiran orangtua yang berlebihan. 

Proses pengobatan kanker membutuhkan biaya yang mahal. Data BPJS Kesehatan mencatat beban pembiayaan kanker tahun 2014 sebesar Rp1,5T sedangkan di tahun 2015 naik pesat menjadi Rp2,2T. Syukurlah ada pihak-pihak yang peduli membantu pengobatan ini seperti Yayasan Anyo Indonesia dan YKAKI. Selain itu terdapat kendala susahnya mencari donor yang sesuai, contohnya dalam kasus cangkok sum-sum tulang penderita leukemia.
Namun di balik cerita pilu pasien kanker anak, ada harapan untuk sembuh. Bila segera dideteksi, penemuan, dan dilakukan tindak lanjut dini, 80% penyakit bisa disembuhkan. Proses penyembuhan ini membutuhkan dukungan semua pihak, dari pasien, orangtua, tenaga medis, hingga psikolog. Peran psikolog sangat penting untuk meyakinkan pasien akan tindakan yang harus diambil seperti amputasi atau pengangkatan bola mata dan kelopak mata. 

Di RS Dharmais, bangsal anak dibuat senyaman mungkin. Tidak ada tenaga medis yang memakai seragam putih-putih supaya pasien tidak trauma. Anak boleh bermain, sekolah, dan beraktivitas seperti biasa supaya bahagia karena bahagia adalah obat. 

Mengetahui fenomena di atas, kita bisa bersama berperan mengurangi beban dan permasalahan kanker. Kemenkes RI memiliki pesan kunci Hari Kanker Sedunia 2016-2018 sesuai tema KITA BISA, AKU BISA sebagai berikut:

we can, i can
Kita Bisa, Aku Bisa


***
Lima tahun kemudian sejak Siti Julia divonis retinoblastoma, ia mendapat hadiah terindah. Ia memakai protesa atau mata palsu untuk mata kanannya. Siti sempat kurang percaya diri menghadapi teman-teman sekolahnya. Lama-kelamaan ia cuek saja dan sampai sekarang teman sekolahnya tidak mengetahui mata palsunya. Siti kini berusia 15 tahun. Ia tumbuh menjadi murid berprestasi dan mendapat juara kelas. Ia semakin percaya diri dan berkali-kali diundang tampil di acara TV. Cita-citanya kelak ingin menjadi artis dan puteri Indonesia.

Itulah kisah nyata Siti Julia yang saya jumpai pada acara siang itu. Saya bersyukur dapat menghadiri undangan Kemenkes RI sehingga bisa berkenalan dengan Siti. Bila suatu saat saya merasa putus asa akan cobaan hidup, tolong ingatkan saya pada sosok Siti Julia, survivor kanker yang kuat menghadapi penyakitnya sejak masih balita.

retinoblastoma siti julia
Para narasumber berfoto di akhir acara

29 comments on "Kita Bisa, Aku Bisa: Peran Kita untuk Hari Kanker Anak Sedunia"
  1. Ya Allah. JAdi lebih bersyukur banget Mbak, dikasih anak2 yg sehat. amin amin ya robbal alamin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, kesehatan mahal harganya dan patut kita syukuri

      Delete
  2. Sedih baca kalo ada anak2 yg terkena kanker gini. Ga kebayang mba, di bdn sekecil itu mereka hrs menanggung sakit yg sangat :( .. Semoga anak2 kita dijauhkan dr penyakit berbahaya ini yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga sehat-sehat ya mba :)
      Akupun ga tega melihat para pasien kanker anak.

      Delete
  3. Alhamdulillah anak sehat dan ceria. Semoga Allah senantiasa menjaganya. Semoga anak-anak yang terkena kanker akan segera disembuhkan oleh Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin... semoga anak dengan kanker lekas tertangani

      Delete
  4. "Penderitaan anak berawal dari kekhawatiran orangtua yang berlebihan."

    Nah iya bener banget. Aku anak kena rubella aja udah risau, apalagi kanker ya mba, na'udzubillah...

    Btw jarang banget ada event ngasih buah, teope! Salam sehaat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang karena ortunya terlalu khawatir malah anak tidak ditangani dengan cepat dan tepat

      Delete
  5. Suka sedih dan ga kuat liat anak penderita kanker, masih muda udah di beri ujian banget...semoga kita dilindung dari penyakit agar bisa banyak beramal di dunia amiin

    ReplyDelete
  6. Keren ya Siti.
    Dia inspirasi.

    Kita yang sehat sehat aja masa masih ngeluh juga.
    Dia aja berjuang dan akhirnya bisa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuul. Ga boleh gampang mengeluh dan selalu semangat

      Delete
  7. ya Allah sembuhkanlah mereka yang sakit aamiin
    makasih sudah memberikan ispirasi pagi mba Helen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku hanya menyampaikan inspirasi dari Siti yang hebat :)

      Delete
  8. bisa bayangin gimana rasa mbak helena pas disana liat adek2 kecil yang menderita kanker, saya aja baca ini bener2 ikutan sedih, ya allah sembuhkanlah mereka .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh.. Nahan supaya ga nangis dengar ceritanya, mba

      Delete
  9. Ayo mulai sedini mungkin kita berikan perhatian lebih dalam menjaga kesehatan ....
    semoga yang saat ini kena kanker diberikan kekuatan dan segera kembali sehat. Aminn
    Pola Hidup Sehat ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Iya harus melaksanakan pola hidup sehat

      Delete
  10. Sedih ya kalau ada kasus masih kecil kena kanker. Semoga anak2 kita sehat selalu aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak dengan kanker ini masih semangat sekolah, lho. Hebat ya

      Delete
  11. nyesek banget waktu julia cerita bagaimana dia pernah ingin mati saja karena kanker yang dideritanya, Alhamdulillah julia memiliki Ayah yang sangat mensupport julia yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dukungan orang-orang terdekat sangat penting buat membantu sembuhnya pasien.

      Delete
  12. Semoga kita semua diberikan kesehatan, aamiin.

    ReplyDelete
  13. Duh aku paling sedih kalau ada anak2 kena kanker... Secara aku sangat dekat dan punya keturunan kanker, pola hidup sehat harus banget diterapkan di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Mba Sandra sekeluarga sehat-sehat ya. Pola hidup sehat memang harus diterapkan semua pihak

      Delete
  14. 6 tipe kanker anak itu patut diwaspadai ya mak :( aku salut sama ayahnya julia

    ReplyDelete
    Replies
    1. 6 tipe ini yang sering terjadi so harus dikenali supaya cepat diobati

      Delete
  15. anak saya kembali ke pelukan Allah SWT setelah 5 bulan berjuang kanker jaringan lunak / rhandomyosarcoma 7 bulan yang lalu...
    sungguh perjuangan yang sangat luar biasa untuk aku, suami dan terutama anakku untuk bertahan melawan kankernya...

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature