Apaan sih judulnya kok gitu?
Sudah lama saya ingin menuliskan hal ini namun memikirkannya saja sudah membuat air mata menetes dalam sunyi. Dua tahun sudah ibu meninggal. Kepergian ibu mengubah hidup saya. Rasanya masih aneh!
Ketika Ibu Meninggal
Hubungan ibu dan saya lumayan dekat. Meski kami tidak tinggal serumah dan saya sudah sekian tahun merantau, kami sering bertukar kabar. Rasanya ada yang kurang bila tidak video call dengan ibu minimal sekali dalam seminggu. Ngomongin perkembangan anak-anak, minta resep masakan, kesehatan ibu, ngalor ngidul bahas apa saja yang penting bisa melihat dan mendengar suara ibu.
Ibu menjadi sosok wanita yang berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah sejak saya masih balita.She's love of my life dengan segala konflik ibu-anak. Bu, ternyata menantang ya menjalankan peran ibu dan ibu melakukannya sendiri. Masya Allah.
Saya pernah menuliskan cuplikan ketika saya dan anak-anak mendadak harus mudik karena mendapat kabar ibu masuk ICU di Homeschooling Saat Kondisi Tidak Ideal. Memori itu masih membekas bahkan di benak anak-anak. Bagaimana kami harus packing kilat, menanti dalam ketidakpastian di ruang tunggu ICU, tidur tak nyenyak di rumah lalu dini hari pindah tidur di rumah sakit, mencari kegiatan di RS supaya anak tidak bosan, hingga saat kritis itu tiba dan dengan langkah sempoyongan saya keluar ruang ICU untuk memberi tahu anak-anak bahwa Ummi, sebutan mereka untuk nenek, telah meninggal.
Dokter datang ke samping kanan ibu, menyorotkan senter ke mata ibu, melihat jam tangannya, dan mengucapkan, "Pasien meninggal pukul 20.00". Kejadian ini berlangsung persis di depanku karena aku berdiri di sebelah kiri ibu sembari membisikkan Allah ... Allah ....
Lalu semuanya terjadi begitu cepat. Tak ada waktu untuk menangis meraung-raung seperti drama sinetron. Kami segera membereskan barang-barang di ruang tunggu, kembali ke rumah, dan menerima tamu yang berdatangan.
Anak-anak tidak tidur padahal sudah lewat jam malam. Mereka menunggu di kamar bersama para sepupu sementara saya praktik memandikan jenazah. Saya belajar dadakan baca sekilas di google lalu mengikuti panduan ibu-ibu tetangga yang sudah terampil memandikan jenazah sesuai sunnah.
Seingat saya di sekolah ada pelajaran ini tapi entah antara takut atau kebanyakan pikiran, saya melupakannya begitu saja. Ternyata ilmu memandikan jenazah ini penting bagi seorang muslim. Bahkan dalam kondisi sudah wafat pun Islam mengajarkan untuk menjaga adab dan menutup aib jenazah.
Ibu dimakamkan keesokan paginya. Kami sekeluarga turut menghadiri pemakaman tersebut. Anak-anak untuk pertama kalinya melihat bagaimana proses pemakaman secara langsung sambil sesekali melontarkan pertanyaan. Mereka penasaran bagaimana orang-orang bisa turun dan naik di lubang sedalam itu.
Sanak saudara, rekan kerja, tetangga, Masya Allah banyak sekali yang mengiringi ibu ke peristirahatan terakhir. Di rumah pun selama seminggu pertama tiap hari ada tamu. Banyak dari mereka yang tak ku kenal. Menariknya, bukan hanya tetangga yang takziah tetapi juga asistennya tetangga yang merasa dekat dengan ibu. Masya Allah, Bu, banyak yang sayang ibu, banyak yang doakan ibu.
Beberapa tamu yang datang berucap kami tegar, tidak menangis, bisa memandikan jenazah ibu. Alhamdulillah nampak tegar. Bukan tidak menangis tetapi tidak sempat dengan padatnya kegiatan sepeninggal ibu. Kami berusaha tersenyum, meminta maaf bila selama hidup ibu ada salah.
Tahapan Berduka dan Kehilangan
- Penyangkalan (Denial): Menolak kenyataan atau berpura-pura kejadian buruk tidak terjadi. Ini adalah mekanisme pertahanan sementara untuk meredam syok.
- Kemarahan (Anger): Munculnya rasa frustrasi dan ketidakadilan yang dilampiaskan kepada diri sendiri, orang lain, atau situasi.
- Tawar-menawar (Bargaining): Berusaha mencari jalan keluar atau membuat "kesepakatan" agar kejadian buruk tersebut bisa dihindari atau diubah.
- Depresi (Depression): Perasaan sedih mendalam, putus asa, dan menarik diri dari lingkungan saat menyadari dampak dari kehilangan tersebut.
- Penerimaan (Acceptance): Mulai berdamai dengan kenyataan dan melanjutkan hidup dengan kondisi yang baru.
Merindukan Pulang
Momen mudik ke rumah ibu selalu ku nanti. Terkadang saya tidak mengabari akan pulang, sengaja mau memberi kejutan. Melihat ekspresi ibu membuka pintu rasanya bahagia banget.
Rupanya mudik mendadak ke ICU jadi kejutan terakhir bagi kami. Saat ibu terbangun, raut wajahnya tak percaya melihatku ada di sampingnya. Ibu juga tersenyum melihat anak-anak yang berdesakan mengintip dari kaca jendela ruang tunggu.
Akan tetapi, sekarang hal tersebut tak bisa ku lakukan lagi. Di masa-masa awal, saya ingin pulang tetapi ketika sampai rasanya tidak mau masuk rumah.
Alhamdulillah saya dikelilingi keluarga yang saling mendukung dan menguatkan. Hal ini membuat saya tidak merasa sendiri melewati masa berduka.
Kini, makam ibu jadi jujugan setiap mudik. Walaupun doa dapat dikirim setiap hari dari mana saja, rasanya tenang bisa ziarah kubur sekaligus mengingatkan diri bahwa dunia hanya sementara.
Al Fatihah~
P.S.: Untukmu yang sedang berduka, rasa sedih, kehilangan, kesal, marah itu valid. Boleh menangis tetapi jangan terlarut. La tahzan innallaha ma'ana.

Post Comment
Post a Comment
Hai!
Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.
Bagaimana komentarmu? Silakan tulis di kolom komentar, bisa pakai Name/URL. Kalau tidak punya blog, cukup tulis nama.
Ku tunggu kedatanganmu kembali.
Jika ada yang kurang jelas atau mau bekerja sama, silakan kirim e-mail ke helenamantra@live.com
Salam,
Helena