Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Cerita Homeschooling Saat Kondisi Tidak Ideal

Tuesday, January 23, 2024

Menjalankan homeschooling tak selalu mulus sesuai rencana. Ada masa di mana aktivitas harian berjalan dengan baik, anak mudah diajak belajar bersama. Ada pula masa di mana rencana yang disusun berubah total seperti saat sakit atau menjaga keluarga yang sakit.


Ketika Agenda Batal


Cerita homescholing kali ini saya membahas mengenai kondisi tidak ideal yang kami alami baru-baru ini. Dalam pekan tersebut kami sudah menuliskan sederet agenda yang cukup padat seperti berkunjung ke pameran, setoran mengaji juz 30, dan pertemuan pertama pramuka. Qadarullah semua itu harus dibatalkan karena kami mendadak mudik.


Pagi itu kami membuat janji dengan sesama keluarga homeschoolers untuk pergi ke pameran. Namun, rencana berbelok tajam. Alih-alih naik bus Transjakarta ke arah Monas, kami naik taksi menuju bandara.


Keadaan genting, umi (ibu saya) masuk ICU. Kami menyiapkan pakaian dan bekal secepatnya. Tak lupa di awal saya meminta maaf, memohon pengertian pada anak-anak bahwa agenda harus berubah. Syukurlah mereka mengerti.


Menjaga Keluarga yang Sakit


Cerita mudik kali ini diselimuti mendung. Biasanya kegiatan selama mudik diisi dengan bermain ke taman, wahana bermain, atau wisata kuliner.


Kali ini tidak bisa karena begitu sampai di Gresik, kami langsung menuju rumah sakit. Hari-hari berikutnya berlangsung kurang lebih sama: pagi ke RS, siang pulang (usahakan tidur siang), sore ke RS hingga malam, kemudian kembali ke rumah.

Selama di rumah sakit, kami berada di ruang tunggu khusus pasien ICU. Alhamdulillah kakak menyewa ruang tunggu VIP yang tertutup sehingga kami bisa menunggu dengan lebih nyaman. *walau hati tak karuan menunggu perkembangan ibu.


“Nak, ini keadaan darurat karena Umi sakit. Jadi kita akan banyak bolak-balik ke rumah sakit. Kadang mendadak harus berangkat. Mohon pengertiannya ya dan mohon doanya supaya Umi lekas sembuh.” ujar saya kepada anak-anak.


Benar saja, tengah malam kakak mengabarkan kondisi Umi menurun. Saya dan anak-anak pun segera ke RS. Malam itu, mereka pindah tidur di kasur ruang tunggu.


Belajar di mana Saja, Kapan Saja, dan Dari Mana Saja


“Lho, sekolahnya libur dong,” komentar para tamu yang ta’ziyah ketika bertemu SID.


Dalam hati saya bersyukur, alhamdulillah homeschooling, sehingga tidak perlu izin dari sekolah atau tertinggal pelajaran. Kami dapat tinggal lebih lama, dari Umi sakit hingga seminggu setelah meninggal.


Rencana pembelajaran (plus jalan-jalan) memang berubah tetapi homeschooling menyediakan fleksibilitas bahwa belajar itu tidak harus dengan membuka buku teks atau berada dalam gedung bernama sekolah.


Sebelumnya, anak-anak belajar packing, mempelajari alur naik pesawat di bandara, melihat pesawat dari jarak dekat, membaca buku petunjuk, serta mengelola rasa dag dig dug saat take-off dan landing.


Ketika di rumah sakit, sebagian besar aktivitas mereka menggunakan gawai untuk nonton atau main game. Yah, kondisinya demikian, kadang saya harus menemani ibu di ICU atau menerima tamu jadi saya mengelola ekspektasi untuk menerima keadaan.


Akan tetapi, sesekali saya ajak mereka melihat suasana rumah sakit, ruangan di sekitar ICU, juga melewati poli-poli yang ramai. Kami juga sering bermain di poli anak yang ada area permainan serta sofa lebar. Lumayan yah, Uno bermain perosotan sementara saya bisa bersantai.

SID punya spot favorit yaitu lobi rumah sakit karena di sana ada free Wi-Fi. Dengan santai dia duduk di sofa lobi, serasa rumah sendiri. Syukurlah enggak diusir satpam, LOL.


Saat di RS, kami membawa buku bacaan dan kartu permainan. Kami bermain bersama sanak saudara yang berkunjung untuk melepas ketegangan. Menunggu pasien ICU itu vibes-nya beda dari pasien rawat inap :(


Banyaknya tamu, baik keluarga maupun teman, yang berkunjung membawa pembelajaran tersendiri bagi anak-anak. Mereka berlatih adab menerima tamu, berinteraksi, berkomunikasi, sampai menemukan teman baru.


Saat Umi meninggal, kami belajar tentang mendoakan orang yang sudah wafat, memandikan jenazah, salat jenazah, serta melihat proses pemakaman secara langsung. Mengelola hati yang berduka juga menjadi proses belajar kami.


Acara tahlilan yang berlangsung tiap hari hingga hari ketujuh membuka beragam pintu belajar. SID ikut menyiapkan snack box, melipat, dan memasang bagiannya melatih motorik halus.


Ia dan adiknya menyusun kotak hingga tinggi, sepuluh kotak tiap kelompok. Kemudian ia menghitung seluruh kotak menggunakan perkalian.


SID turut mengisi kotak-kotak dengan makanan, menghitung, menata, juga mengirimnya ke mushola. Ia mengikuti jalannya tahlilan di mushola seberang rumah.

Sementara Uno menunjukkan kemajuan dalam proses komunikasi. Ia berani menjawab pertanyaan para tamu yang baru dijumpainya.


Uno juga belajar sepeda roda dua. Dalam waktu dua hari alhamdulillah ia sudah bisa mengayuh sepeda padahal sebelumnya ia hanya menggunakan balance bike. Ia belajar di sela-sela waktu sebelum ke rumah sakit.


Selain hal-hal di atas, saya meyakini anak-anak belajar mengelola emosi dari sejak kepulangan yang mendadak hingga ketika nenek kesayangan mereka meninggal.

Life is full of uncertainties. Nobody knows what will happen next.


Itulah faktanya, hidup ini penuh kejutan. Kita sebagai manusia hanya dapat berencana, melakukan peran dalam kendali kita. Apa yang terjadi pada detik berikutnya, hari berikutnya, hanya Allah Tuhan semesta alam yang tahu, yang berkehendak. Saya percaya ketetapan Sang Maha Berkehendak adalah yang terbaik.


Menjalani homeschooling tak selalu mulus. Ada kondisi yang terkadang membuat perjalanan homeschooling tidak ideal seperti gambaran kita. Sebagaimana bersepeda melewati aneka bentuk jalan - lurus, beraspal, menanjak, berbatu-batu, berlubang, dan sebagainya - kita perlu terus mengayuh supaya tidak jatuh.


30 comments on "Cerita Homeschooling Saat Kondisi Tidak Ideal"
  1. Innalillaahi wainna ilaihi raaji'uun. Turut berduka cita atas kepulangan ummi tercinta ya Helena. Ya ga apa2 proses pembelajaran homeschooling kali ini di luar rencana karena ada prioritas yang memang wajib dilakoni. Ternyata si kecil bisa belajar di mana saja dan kapan saja termasuk di rumah sakit. Alhamdulillaah nyaman. Emosi anak saat neneknya wafat juga bisa dikontrol, itu bagus sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Nurul. Aku sangat bersyukur anak-anak mudah diberi pengertian termasuk si kecil yang betah jaga di RS.

      Delete
  2. Plus minusnya pasti ada ya mbk, tapi buat anak HS kalo mendadak ada hal2 diluar prediksi, kegiatan yang sedang berlangsung seperti tahlilan, harus ikut ke RS jadi tempat pembelajaran anak ya mbk.
    Turut berduka cita atas meninggalnya ibu, semoga husnul khotimah, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Mbak alhamdulillah bisa fleksibel atur jadwal, ga buru-buru balik buat sekolah. SID sempat enggak masuk untuk klub olahraga dan ngaji, sih

      Delete
  3. Mbaa, ikut berduka cita yah. InsyaAllah Umi husnul khotimah

    IMHO, inilah esensi belajar yg sesungguhnya🙏 anak² jd paham bahwa THIS IS THE REAL LIFE, banyak ujian yg datang mendadaak, dan m mereka bisa berlatih persiapkan mental dgn baik

    ReplyDelete
  4. Wow, homeschooling memang petualangan yang penuh warna ya! Meski ada momen-momen tidak terduga seperti kondisi Umi yang harus dihadapi, kalian tetap bisa memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar. Mulai dari belajar mengelola emosi, beradaptasi dengan perubahan rencana, sampai pada aspek-aspek kehidupan sehari-hari.

    Tetap semangat dan tabah, Helena! Mungkin ini adalah pembelajaran berharga bahwa homeschooling tidak hanya tentang buku dan kelas, tapi juga tentang bagaimana menghadapi kejutan hidup dengan bijak.

    ReplyDelete
  5. Turut berduka cita, kak Helena.
    Semoga semuanya sehat, kuat dan bisa melanjutkan keseharian dengan doa-doa terbaik untuk Umi.

    Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafihi wa'fu'anha.

    SID dan Uno Belajar dengan penuh antusias meski keadaan tidak ideal.
    Semoga pembelajaran HS ini menginspirasi dan menguatkan para home schooler untuk terus semangat membersamai ananda dalam mememnuhi curiosity-nya terhadap ilmu pengetahuan yang ada di sekitarnya.

    ReplyDelete
  6. Salut banget sama mbak Helena yang totalitasnya dengan homeschooling. Saat ini aku masih ngerasa kurang banget ketika menemani zinan belajar. Ngerasa udah 3 tahun kok gini aja sih, kaya nggak ada progress yang terlihat. Apalagi kalau lihat pencapaian anak2 HS lain, jauh banget sama Zinan. Mungkin saat ini aku sedang berada di posisi meliuk2nya ya. Semangat terus SID dan Uno!

    ReplyDelete
  7. innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita mba helena
    anak saya juga homeschooling mba, betul gak selamanya sesuai harapan, gak selamanya ideal, kadang harusinhale exhale lebih dalam haha,serunya hs, semoga anak anakkita bahagaimanapun cara belajarnya, menjadi orang yang mandiri, dan bermanfaat

    ReplyDelete
  8. Peluk jauh ibuk. .
    Alhamdulillah udah terlewati dgn baik ya buk. Ekspektasiiii.. aku jadi teringat Ashika bilang, "nggak sesuai ekspektasi" dan akoh langsung nyanyiii gini🤣🤣🤣 setiap hari mungkin akan ada hal yg nggak sesuai, kita cuma manusia walau begitu selalu jalankan kewajiban dgn sebaik mungkin. Ibuk Sid aku penasaran isi kotak kuenya😅 (komen macam apa inii) ini tuh pengalaman buat Sid dan Uno yg bakal selalu diingat. Uni hebat udah bisa roda 2 ya😍 bisa tetap menggowes bukk

    ReplyDelete
  9. innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita mba Helen. Semoga beliau husnul khatimah, dimudahkan hisab dan kuburnya. Saya juga baru berduka, om yang sudah seperti orangtua meninggal. Dua mertua dan bapak saya tahun lalu, tahun ini kehilangan om. Rasanya luar biasa, kudu bersabar dalam kehilangan. Semoga kita smeua senantiasa dikuatkan dan tak lepas dari rasa syukur aamiin

    ReplyDelete
  10. Mak Helena... Turut berduka cita ya, semoga almarhum husnul khotimah. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta keikhlasan. Salut sama mak Helena dengan kondisi yang tidak ideal tapi masih tetap semangat untuk belajar, anak-anak juga keren banget bisa memahami ya mak.

    ReplyDelete
  11. Turut berduka cita mba. Semoga ibu Husnul khotimah.

    Hidup di dunia memang ada bnyk kejutan yang tidak kita pikirkan sebelumnya ya mba, termasuk juga pilihan sekolah home schooling. Dalam program Home schooling peran orang tua MMG lebih besar, ya mba.

    ReplyDelete
  12. TURUT BERDUKACITA untuk meninggalnya ibu/nenek, Mbak Helena. Dalam dukacita, tentunya terselip kelegaan krn bisa menemani Ummi di akhir hidupnya.

    Dan dukacita dengan segala prosesnya merupakan suatu pembelajaran tersendiri buat anak-anak. Mungkin tidak ideal jika dibandingkan dengan plan yg sudah disusun. Tp itu asiknya humskul yaa..bisa lebih fleksibel.

    ReplyDelete
  13. Teriring doa terbaik untuk almarhumah Ibunda Mbak Helena, ya. Insya Allah husnul khotimah.

    Tentang TS memang terkadang ada saja kendala atau rintangannya. Semoga apa pun itu, membuat anak mudah untuk belajar dan memahami tentang perasaan, sekitarnya, atau tentang kehilangan.

    ReplyDelete
  14. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Turut berduka atas meninggalnya ibu, Mbak.
    Salut deh, sama orang tua yang menerapkan homeschooling untuk pendidikan anak-anaknya. Karena orang tuanya harus aktif dan pintar memanfaatkan situasi apapun sebagai materi belajar untuk anak. Semangaat terus, Mbaak.

    ReplyDelete
  15. Innalillahi ikut berduka cita ya, Mba. Menjalankan homescholing tapi ada suatu kondisi yang tak terduga tapi masih bisa diselingi dengan belajar hal lainnya. Anak jadi banyak belajar ya, Mba, salah satunya tentang menerima kehilangan neneknya

    ReplyDelete
  16. Ikut berduka cita ya mbak
    Semoga almarhumah ibunda husnul khotimah
    Senangnya homeschooling ya gini ya mba, anak anak bisa belajar dimana saja dan kapan saja

    ReplyDelete
  17. Sebelumnya, turut beduka cita ya, Mbak

    Kejadian kaya gini emang bikin sedih, tapi karena anak-anak HS, ada hikmahnya juga karena gak perlu izin dan lainnya. Mereka pun tetap bisa belajar di mana saja ya termasuk dengan melipat kotak

    ReplyDelete
  18. Ada plus minusnya ya mak Helena ketika anak belajar secara Homeschooling. Dulu sempat saya berpikir akan HS untuk anak, namun berpikir ulang secara waktu rasanya sulit saya membagi

    ReplyDelete
  19. Keren kalau bisa mendampingi anak homeschooling di rumah. Saya kok merasa sudah angkat tangan duluan 😅. Khawatir tidak konsisten ngajarinnya.

    Ikut berduka cita ya mbak

    ReplyDelete
  20. Selalu salut sama orang tua yang memutuskan anak-anak untuk homeschooling. Luar biasa sabarnya, luar biasa juga membagi waktunya. Dan aku lihat anak-anak yang HS ini lebih mandiri dan beragam ilmunya ya. Bahkan dalam situasi yang tidak ideal juga tetap bisa belajar

    ReplyDelete
  21. Innalillahi wainna ilaihi roji'uun. Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya ibunda.
    Untuk homeschoolingnya, di lingkungan saya di Lombok Timur sini, belum terlalu populer.
    Sekolah-sekolah negeri masih terasa cukup. Di tengah tren memasukkan anak-anak ke pondok.

    ReplyDelete
  22. "Ketika kondisi tidak ideal menerpa, keluarga kami memutuskan untuk menjalani homeschooling demi menjaga keselamatan dan kesehatan anak-anak. Meskipun tantangan begitu besar, kami berusaha menciptakan lingkungan belajar yang positif di rumah. Ruang keluarga menjadi kelas, dan kebersamaan menjadi guru terbaik.

    ReplyDelete
  23. Pasti ada tantangannya ya homeschooling ini, walau di sisi lain keunggulannya pun ada juga. Yang penting sih semangat buat anak-anak dalam meraih pendidikan terbaiknya

    ReplyDelete
  24. Karena sesungguhnya setiap tempat itu adalah tempat belajar, ya. Tapi memang untuk menggali sisi pelajarannya itu terus terang nggak semua orang mampu, aku misalnya. Kadang ide ada, tapi eksekusinya yang nggak jalan. Padahal nggak harus serbasempurna juga sih ya, Mbak. Terima kasih sudah mengingatkan.

    ReplyDelete
  25. Kalau ditanya blogger yang concern sama homeschooling, aku tuh pasti langsung keingetnya Ibu SID. Mereka yang memutuskan ngga menyekolahkan anaknya di sekolah umum, luar biasa sih. Karena pasti ngga mudah ngajarin banyak pelajaran ke anak. Gimana mempersiapkan mereka juga buat bersaing nanti di perguruan tinggi. Salut

    ReplyDelete
  26. sungguh banyak sekali hal yang sebenarnya bisa jadi bahan pembelajaran berharga, ya, Kak. Ohya, saya juga bertugas di ruang ICU, Kak. Memang vibesnya nggak bisa disamakan dengan perawatan di ruang rawat inap. Saya turut berduka buat kepergian Umi-nya, Mba, ya.

    ReplyDelete
  27. Pengen tahu banget mengenai home scholling. Kalau waktu belajar di rumah ada jam2 juga? misal pagi belajar bahasa, agama trus isitirahat dan nanti dilanjut lagu gitu gak?

    ReplyDelete
  28. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Turut berduka kak. Home schooling ini memang menarik sih. Anak anak bisa belajar langsung dan dihadapkan dengan masalah yang ada di lapangan. Saya tertarik untuk mempelajari kurikulum home schoolingnya.

    ReplyDelete

Hai!
Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.

Bagaimana komentarmu? Silakan tulis di kolom komentar, bisa pakai Name/URL. Kalau tidak punya blog, cukup tulis nama.

Ku tunggu kedatanganmu kembali.

Jika ada yang kurang jelas atau mau bekerja sama, silakan kirim e-mail ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,