Melukis? Di Kain Kulit Kayu? Oh No!

Monday, December 5, 2016
Doodle on Daluang - Awal 2014 lalu saya berkunjung ke situs megalitikum di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Di sana bongkahan batu-batu raksasa tersebar di lapangan berumput yang luas. Ada yang menyerupai wajah manusia, sebagian berbentuk cangkir beserta tutupnya, sebagian lainnya sudah menjadi potongan-potongan tak jelas bentuknya. Sayang kala itu tidak ada pemandu yang memberikan penjelasan mengenai sejarah situs tersebut. Sepulang dari sana kepala saya masih dipenuhi tanda tanya.

Koleksi pakaian kain kulit kayu yang dipamerkan dalam Beaten Bark Exhibition di Museum Tekstil, Jakarta

Minggu lalu saya seperti memasuki lorong waktu ketika melangkahkan kaki ke Museum Tekstil, Jakarta. Sebelumnya saya pernah ke sini untuk mengikuti workshop menjahit clutch bag tetapi tak banyak melihat pameran Beaten Bark Exhibition. Sambil menunggu acara dimulai, saya dan Sid melihat-lihat koleksi kain kulit kayu dari berbagai daerah di Indonesia.

Beaten Bark Exhibition


Di sini pengunjung bisa melihat lembaran kulit kayu yang diolah menjadi bermacam bentuk. Ruangan di sebelah kiri menampilkan buku-buku yang ditulis dalam huruf Arab (apa itu Al-Quran ya?), aksara Jawa, dan ada huruf yang berbentuk mirip segitiga. Buku tebal tersebut nampak berusia ratusan tahun namun tulisan tangannya masih tergurat jelas.  
Ruangan sebelah kanan didominasi pakaian adat maupun pakaian sehari-hari yang dibuat dari kain kulit kayu. Saya pun membayangkan bagaimana masyarakat di Sulawesi dan Kalimantan menggunakannya. Kain kulit kayu ini rapuh, tidak tahan air, dan mudah sobek. Lalu bagaimana mereka memakainya di saat musim hujan atau melakukan aktivitas di sungai?

Pakaian Tari Gintur untuk laki-laki dari Kalimantan Selatan yang terbuat dari kain kulit kayu
Sekarang ini sudah jarang ditemui orang yang menggunakan pakaian berbahan kain kulit kayu karena sifatnya yang mudah rusak tersebut. Kebanyakan masih memakainya untuk pakaian adat, terutama di daerah Sulawesi Tengah. Di sana kain ini disebut fuya. Berbeda dengan masyarakat Jawa yang menyebutnya daluang atau dluwang. Negara lain seperti Meksiko menggunakan istilah tapa. Jadi, fuya, tapa, dan daluang sebenarnya mengacu ke hal yang sama yaitu kain kulit kayu (jangan bingung kalau saya menggunakan istilah ini secara bergantian, ya).

Warisan budaya ini sudah lama adanya, sejak zaman neolithikum (sebelum megalitikum). Berarti masyarakat di zaman megalitikum kemungkinan besar memakai fuya dalam kesehariannya.

Kerja Keras Membentuk Selembar Fuya


Sekarang ini kain kulit kayu sulit didapat. Asisten Deputi bidang Kebudayaan DKI Jakarta Usmayadi Rameli menuturkan koleksi yang terpajang di museum tekstil melalui pencarian ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Ini kesempatan langka untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia karena hanya di Indonesia yang masih memiliki pengrajin fuya.

Astri Damayanti, founder Kriya Indonesia, menjelaskan pembuatan fuya melalui proses panjang. Tidak sembarang pohon bisa diolah menjadi kain kulit kayu. Pohon yang biasa dipakai yaitu Saeh, Palo, Beringin, dan Sukun. Setelah dipotong, batang pohon dicuci, direbus, lalu dibungkus daun pisang selama seminggu. Proses berlanjut dengan memukul batang pohon hingga tipis. Lembar demi lembar batang pohon tersebut ditumpuk hingga mencapai ketebalan yang diinginkan. Selembar fuya umumnya terdiri dari tumpukan 244 batang pohon. Wow, butuh kerja keras untuk membuatnya. Pantas saja harga per-cm mencapai 150 rupiah.
Nova (Kartini Blue Bird), Prof. Sakamoto (Ahli kertas dari Jepang), Esti Utami (Kepala Museum Seni DKI Jakarta), Usmayadi Rameli (Asisten Deputi Bidang Kebudayaan DKI Jakarta), Astri Damayanti (Founder Kriya Indonesia), dan para peserta workshop

Doodle on Daluang with Kartini Blue Bird


Mengenal kain kulit kayu dari penuturan para narasumber di atas membuat saya makin bangga bisa mengikuti workshop kali ini. Blogger yang biasanya menulis ditantang melukis di selembar daluang. Challenge saya makin berlipat karena Sid turut serta. Matanya berbinar melihat pensil, kertas, dan cat acrylic. Jeng jeng…

Sebelum dimulai, Nova dari perwakilan Kartini Blue Bird mengenalkan apa sih Kartini Blue Bird. Ini merupakan program CSR dari Blue Bird untuk mendukung pemberdayaan perempuan dengan mengadakan pelatihan ketrampilan yang terbuka untuk umum. Pelatihan memasak, menjahit, crafting, hingga fotografi pernah dilakukan. So, kalau ingin mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan peserta dapat bekerja sama dengan Kartini Blue Bird.

Ok, let’s start doodle workshop!

Tanti Amelia membuat doodle ondel-ondel yang terinspirasi dari motif syal Pak Usmayadi
Alat dan bahan yang dipakai (+ daluang)
Pelatihan kali ini dipandu oleh ratunya doodle, Tanti Amelia. Selama ini saya mengagumi hasil doodle beliau melalui Facebook. Akhirnya saya bisa menyaksikan langsung demo menggambar dari beliau. Mak Tanti juga memberikan semangat kepada peserta sambil berkeliling ke tiap meja. “Tak perlu takut. Dalam seni tidak ada benar dan salah.” ujarnya.

Peserta boleh menggambar apa saja yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari di Indonesia. Karena daluang mudah sobek, peserta dapat membuat sketsa di kertas terlebih dahulu. Setelah itu pindahkan skesta ke lembaran daluang dan mulai melukis. Perlu diingat untuk tidak memakai banyak air pada kuas supaya daluang tetap awet.
Hati-hati dalam membuat sketsa dan melukis karena media daluang yang mudah sobek

Warna yang digunakan seperti merah, kuning, hitam, dan putih supaya warna asli daluang tetap menonjol. Kalau ingin menambahkan tulisan, tunggu lukisannya kering lalu tulis memakai warna gelap.

Selama sekitar satu jam para peserta tenggelam dengan dunia lukisnya masing-masing. Ada yang menggambar ondel-ondel, bunga, burung, ikan, dan lain sebagainya. Saya sendiri berkali-kali mengubah sketsa hingga akhirnya memutuskan menggambar penjual dan pembeli simping (hasil sontek gambar di damar kurung khas Gresik). Untuk mengisi bagian yang kosong pada kanan dan kiri gambar utama dapat ditambahkan bunga kecil, hewan, atau hiasan lainnya.

Sampai acara selesai lukisan saya belum sepenuhnya saya warnai karena rebutan kuas dengan Sid. Hahaha beginilah kalau membawa anak kreatif yang penasaran ingin corat-coret. Meski begitu saya boleh membawa hasilnya untuk dilanjutkan di rumah. Oke, nunggu Sid tidur dulu ya.
Membuat sketsa di atas daluang (pic by: Jun Joe)

Buat saya yang jarang banget melukis, media daluang ini jauh lebih rumit daripada kertas yang mulus. Daluang bertekstur kasar sehingga saat membuat sketsa maupun mewarnai harus ekstra hati-hati. However, pengalaman baru ini membuat saya makin cinta Indonesia. Terima kasih Kriya Indonesia dan Kartini Blue Bird sudah memfasilitasi workshop menarik ini. Semoga kesenian kain kulit kayu makin lestari dan diakui dunia.

By the way, pameran Beaten Bark masih bisa dinikmati hingga 11 Desember 2016 di Museum Tekstil, Jakarta. Silakan berkunjung…
48 comments on "Melukis? Di Kain Kulit Kayu? Oh No!"
  1. Alhamdulillah bisa bertemu dengan dirimu Helena

    ReplyDelete
  2. Bagus banget. Aku suka gambar jadi seru deh baca dan lihat postingannya. Keren ya :)
    salam kenal ya Mbak, aku follow, folbek ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah perlu coba melukis di atas daluang nih mba

      Delete
  3. mbak Helena ikut kegiatannya asyik melulu nih, suka banget kegiatan budaya seperti ini
    berharap satu saat bisa ikutan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Astri sering bikin workshop lho. Yuk ah ikut

      Delete
    2. kabarin ya kalau ada, mudah2an bisa ikutan

      Delete
  4. Aku suka karyanya mba Tanti tangannya luwes y bisa hasilin karya xixixi..
    Btw aku jadi bayangin jg mba pakaian dari serat kayu ini gimana makenya :D

    ReplyDelete
  5. Sekarang masih ada ga ya yg pakai baju kulit kayu begitu. Kalau ada dan sudah diolah modern pasti mahal ya.

    Aniwei saya juga suka sama karya2 mba tanti. Kreativitas tangannya tanpa batas sekali ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih tapi buat special event aja kayaknya.
      Sama...aku pun mengidolakan blio

      Delete
  6. Keren banget event nya nih mbak Helena ... semoga bisa lihat pamerannya sebelum usai. Thanks infonya ya ...

    ReplyDelete
  7. Akuuu pingin belajar doodle jugaaa. Tapi jauh banget dari aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tonton aja video tutorial dari mba Tanti. Beliau sering share di instagram dan facebook

      Delete
  8. orang jaman dulu itu keren banget ya..media apapun dipakai untuk hal2 yang berguna. bahkan kulit kayu skalipun jadi baju, kudu kreatif kaya orang dulu nih. Bikin doodlenya seru juga tapi aku gak bisa gambaar...mama sid ajarin dong

    ReplyDelete
  9. waah keren bisa ngerasain ngelukis diatas daluang.

    Selembar fuya umumnya terdiri dari tumpukan 244 batang pohon.
    Saya shoooock?
    Itu beneran mbak 244 batang pohon?
    Banyak banget dong :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangeeet! itulah kesenian ini harus dibarengi dengan penanaman pohon supaya tetap seimbang

      Delete
  10. Hati hati banget yaaa, aku belajar nge doddle ach, biar bisa ngedoddle di kertas kulit kayu

    ReplyDelete
  11. Jadi takjub dan menyadari sesuatu ternyata dari kulit kayu bisa jadi kain eksotis punya😊

    ReplyDelete
  12. bener katanya mak tanti, dalam seni itu gak ada yg bener atau salah ^_^

    ReplyDelete
  13. Waah, harus ekstra hati-hati ya..melukis di atas selembar fuya. Butuh kesabaran ya..
    Eh, ya, bajunya kalau dipakai gak kerasa keras ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga berpikir seperti itu. Apa ga kaku ya? Tapi ada bahan yang lebih lemes sih

      Delete
  14. Baru tahu kalau kulit kayu bisa dibikin beragam kreasi. Hasilnya pasti unik ya, mba.

    ReplyDelete
  15. Itu kulit kayunya gak gampang robek kah mba?? Aku naksir sama yg sudah jadi bajuu .. cakep banget ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa gampang robek, mba. Harus hati-hati melukisnya.

      Delete
  16. Lamaa dan rumitt jugaa mbak yaa pembuatan fuyaa. . Gak bayangin prosesnya seribet itu 😢 hehehe

    Mupeeng deh ada lukiss doodle apalagi di media yg unik gtu. Sayang banget jauhh dr jangkauan di jakartaa. Apalah dayaku cuman bisa melihat foto" aja. #hiks #koksedih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar lewat video tutorial yang sering dibagikan mak Tanti aja, mba

      Delete
  17. seru acaranya.... penasaran ya... jadi asyik ngelukis di daluang... bahagia kalo bagus..

    ReplyDelete
  18. Huaaa...
    Keren mbak Helen :*
    Aku aja kalo di kertas belum tentu deh bisa. Apalagi pake apa itu tadi namanya? Daluang?

    kok nyebutnya bikin mata jadi ijo yak? LOL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pake softlens ya kok jadi ijo. Hahaha

      Delete
  19. Hasil akhit lukisanmu mana len, pamerin doong. Pingin liaat

    ReplyDelete
  20. Pernah lihat produknya dalam bentuk tas dan buku di alun-alun indonesia. Keren tapi harganya sudah berlipat-lipat. Jadi pengen lihat langsung perajinnya. Denger kata Lore Lindu langsung mupeng. Wish list yang belum kesampaian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang pernah ada pameran di Alun-Alun Inodnesia dan mendatangkan pengrajinnya langsung.

      Delete
  21. seru ih pengalamannya..bisa melukis di atas kulit kayu gitu. Bisa jadi cendera mata yg unik juga..

    diniratnadewi.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  22. Duh, paling suka deh workshop yang penuh ilmu gini. Thanks for sharing btw.

    Salam,
    Syanu

    ReplyDelete
  23. mau dong di ajarin............

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lapor ke mak Tanti aja yaa. Kalau ke saya bisa gagal, hehe

      Delete
  24. Saluut bagi yang bisa ngelukis. Apalagi bisa ngelukis di kulit kayu ��
    Sekarang jarang ditemui pakaian dari kulit kayu ini mungkin karena hutannya sudah mulai menipis ya mba? Dan sudah moderen. Jd dipakai cuma acara khusus aja. Hehehe. Thanks for sharing mbaa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satunya masalah konservasi. Kalau ditebang terus untuk dibuat pakaian, pohonnya bisa habis dong.

      Delete
  25. Pasti seru dan keren hasilnya. Pengen juga belajar kek gitu. Banyak banget ilmunya. Salam kenal mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, ikut aja workshopnya. Daftar di Kriya Indonesia.

      Delete
  26. Belajar menggambar diatas daluang gampang2 susah ya mba helena,good job and sharingnya mba helena

    ReplyDelete
  27. keren juga hasilnya.... thanks infonya, sapa tau nanati bisa ikut dah hehhe

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature