ASI, Stanting, dan Ekonomi Dunia

Saturday, August 27, 2016
“Pantas saja anak itu pendek, ibunya segitu.” 

Pernahkah terlintas pikiran seperti itu? Tinggi badan memang ada unsur genetis, namun sejak bayi ada standar tinggi badan yang normal berdasarkan usia anak. Jangan-jangan anak yang terlalu pendek dibanding teman seusianya, menderita stanting. Apa itu stanting?
Apakah anak pendek itu normal? (sumber: detik)
Dalam peringatan World Breastfeeding Week 2016, Millenium Challenge Account (MCA)-Indonesia mengadakan talkshow “Tinggi Prestasi dengan ASI (The Miracle of Breastfeeding)” di @america, 3 Agustus 2016 lalu. ASI dan stanting memiliki kaitan erat, termasuk juga berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Wah, ini masalah serius!

“Stanting atau perawakan pendek adalah ketika balita lebih pendek dari standar tinggi badan seumurnya. Stanting ini dialami lebih dari 1/3 balita di Indonesia. Penyebabnya karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama dan infeksi penyakit berulang pada 1000 hari pertama kehidupan.”, ujar Iing Mursalin, Direktur Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mencegah Stanting (PKGBM) MCA-Indonesia.

Data menyebutkan kurang gizi mengakibatkan 45% kematian balita tiap tahunnya. Selain itu kurang gizi juga menyebabkan stanting. Beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini mulai dari asupan gizi seimbang saat ibu hamil, inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif yang bisa mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis di kemudian hari, MPASI yang berkualitas, mengukur tinggi dan berat badan anak secara rutin di Posyandu, serta mudah mengakses air bersih dan sanitasi yang layak.

Baca juga: MP-ASI Saat Bepergian

ASI tak hanya bermanfaat untuk tumbuh kembang anak, tetapi juga dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, negara, bahkan dunia. Fakta-fakta menarik tersaji dalam angka berikut ini:
  • Kalau tidak menyusui, terdapat kerugian ekonomi sekitar USD 302 miliar/tahun atau 0,49% pendapatan nasional bruto dunia.
  • Bila menyusui dengan optimal, masyarakat Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya kesehatan senilai USD 256,4 juta tiap tahunnya untuk penyembuhan diare dan pneumonia.
  • 14% pendapatan bulanan bisa diselamatkan oleh keluarga Indonesia tanpa perlu membeli susu formula.

Baca juga: Pneumonia pada Bayiku

Di Indonesia terdapat 5 provinsi yang prevalensi stantingnya tertinggi, yaitu: NTT 51,7%; Sulbar 48%; Sultra 42,6%; Sumut 42,5%; Papua 40,1%; dan Kalbar 38,6%. Melihat tingginya angka stanting, pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Percepatan Gizi dengan fokus pada kelompok usia pertama 1000 hari kehidupan (Keppres No. 42 tahun 2013). PKGBM ini atas kerja sama pemerintah RI dengan MCA-Indonesia yang dilakukan di 11 provinsi, 64 kabupaten, dan 6000 desa.

Langkah-langkah yang dilakukan PKGBM yaitu:
  • Revitalisasi posyandu
  • Melatih tenaga kesehatan untuk pemberian makanan bayi dan anak, sanitasi, dan pemantauan pertumbuhan
  • Pemberian suplemen gizi mikro untuk ibu dan anak
  • Fasilitasi keluarga untuk memiliki dan menggunakan jamban sehat
Mengapa tidak memberi ASI eksklusif? (sumber: MCA-Indonesia)

Dalam talkshow kali ini hadir pula dr. Falla Adinda, Dokter Laktasi sertifikasi SELASI (Sentra Laktasi Indonesia) yang memaparkan peran ASI bagi tumbuh kembang anak. dr. Falla sangat menyayangkan angka nasional ASI Eksklusif tahun 2015 di Indonesia yang masih rendah, hanya 54,3% dari target 75%. ASI Eksklusif tertinggi ada di NTB (79,7%) dan terendah di Maluku (25,2%). Meski demikian, tren pemberian ASI Eksklusif meningkat dari tahun ke tahun.

6 bulan pertama kehidupan anak wajib ASI Eksklusif, tanpa perlu tambahan air atau makanan lain. Kandungan yang terdapat dalam ASI sesuai kebutuhan gizi bayi yang mendukung 1000 hari petama kehidupannya. ASI terdiri dari 87,5% air, kolostrum (yang berwarna kuning pasca melahirkan), karbohidrat (laktosa), protein (whey, kasein, dan nukleotida), lemak, karnitin, dan vitamin.

Kandungan tersebut juga terdapat pada susu formula namun karena sufor itu buatan manusia, ada saja kekurangannya. Kandungan whey pada ASI lebih tinggi daripada sufor. Bayi dengan sufor biasanya susah pup karena kasein yang tinggi membuat bayi susah mencerna. Selain itu kadar lemak ASI lebih tinggi dari sufor. Asam lemak jenuh dan tak jenuhnya ASI juga seimbang.

Tak hanya dari segi kandungan yang bermanfaat. Daya tahan tubuh bayi pun menjadi lebih kuat karena ASI adalah sumber antibodi alami. Hemat biaya ke dokter, deh. Bayi ASI juga memiliki IQ lebih tinggi. Dan yang paling saya suka, bonding ibu dan bayi meningkat dengan memberikan ASI secara langsung.

Bagaimana bila ibu kesulitan memberikan ASI? Menurut dokter yang aktif menulis di The Urban Mama ini, 1 dari 1000 ibu tidak bisa menyusui karena ASI tidak keluar. Supaya ASI lancar, persiapkan fisik dan psikis. Tenang saja, 72 jam pertama kehidupan, bayi bisa hidup tanpa asupan apapun. Kondisikan ibu senyaman mungkin selama melahirkan (termasuk pilih keluarga/teman yang mendukung ASI eksklusif ya). Perhatikan juga pelekatan/ latch on karena pelekatan yang benar adalah awal suksesnya ASI eksklusif.

Baca juga: Tips Lancar Menyusui

Melihat manfaat ASI yang begitu banyak, ibu mana yang tidak mau memberikan ASI untuk anaknya? Namun pemberian ASI tidak semudah teorinya. Ada saja tantangan yang dialami para ibu, termasuk ibu cantik satu ini. Sigi Wimala hadir mewakili ibu dan public figure yang pro-ASI. Kedua anaknya, Maxim dan Alex, mendapatkan ASI. Bahkan talkshow sempat tertunda karena Alex masih nenen, hihi…

Sigi tergoda memberikan sufor untuk anak pertamanya saat tinggal di rumah mertua. Apalagi sang mertua sering menyarankan sufor supaya bayi cepat gemuk. Sebagai menantu, mau menolak tapi engga enak. Ia pun mencari informasi dari berbagai sumber dan makin yakin ASI yang tebaik. Ia memilih ASI karena murah, mudah, dan kandungan nutrisinya sesuai kebutuhan anak. Supaya lancar ASI, ibu harus happy dan tenang. Menyusui di tempat umum pun tak menjadi kendala karena ia menyiapkan nursing cover.

Lain ibu, lain pula pandangan seorang ayah akan ASI. Sogi Indra Dhuaja menuturkan pengalamannya saat menunggu kelahiran anak pertamanya. Sebagai ayah, ia sangat bahagia dan menyiapkan nama yang bagus untuk calon anak. Namun ia lupa bahwa anak juga perlu asupan nutrisi yang tepat setelah lahir. Sebenarnya sang istri telah menyarankan Sogi untuk membaca literatur mengenai ASI. Namun begitulah lelaki, cuek bebek.

Setelah anak pertama lahir, ia menyesal kurang mempersiapkan diri menjadi ayah yang pro-ASI. Syukurlah saat itu ada donor ASI dari Nola B3. Sejak saat itu ia dan beberapa kawannya mendirikan komunitas Ayah ASI yang mengedukasi para ayah supaya semakin sadar peran penting kesuksesan ASI. Ayah ASI membuat buku dengan bahasa ayah ke ayah supaya mudah dipahami. Awalnya buku ini ditolak penerbit karena penulisnya bukan professional di bidang tersebut. Mereka pun mengedukasi melalui twitter @ID_ayahASI hingga followersnya membludak dan jadilah buku Catatan AyahASI terbit.

ASI diproduksi oleh prolaktin tetapi dapat lancar dikeluarkan oleh hormone oxytocin alias hormon kasih sayang. Di sinilah guna ayah ASI mendukung ibu menyusui supaya hormon oxytocin-nya banyak. Buat ibu senyaman mungkin, termasuk membentengi dari omongan negatif ibu mertua seperti pengalaman Sigi di atas. Apalagi yang bisa dilakukan ayah ASI? Baca Langkah Mudah Ayah Mendukung ASI Eksklusif.
Melanie Putria, Iing Mursalin, Falla Adinda, dan Sogi (Sigi-nya ngurus baby)

Punya pandangan mengenai ASI atau suka duka pemberian ASI? Bagi ceritamu di kolom komentar ya. Terima kasih.


22 comments on "ASI, Stanting, dan Ekonomi Dunia"
  1. Makasi banyak Mba Helena postingan nyaa bagus banget..

    Aku pro asi banget Mba.. Mudah2an bisa kasi ASI ke anak aku full 2th.. Aamiin

    www.hai-ariani.com

    ReplyDelete
  2. Walau penuh perjuangan , tetap semangat memberikan ASI ya

    ReplyDelete
  3. Anak-anakku tumbuhnya ke atas semua ketimbang ke samping, gk tau knp, tapi jd keliatan kuyus huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cek di KMS grafiknya gimana? Selama masih di daerah hijau ya aman. Maxy Dema tampak aktif juga

      Delete
  4. Problem pemberian ASI ini lebih ke kurangnya pemahaman sebenarnya ya. Kadang banyak yg menganggap enteng. Giliran ada masalah dlm menyusui, baru terasa pentingnya ilmu perASIan :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada aja tantangan ASIX, baik stay at home mom maupun working mom. Emang harus punya motivasi kuat dan cari ilmu ng-ASI. Semangat!

      Delete
  5. Yg jelas ASI murah mbak, ayo semangat ngASI ya para Ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, ASI murah. Yang penting nutrisi ibu menyusui tercukupi

      Delete
  6. memberikan ASI ini butuh perjuangan, dari sebelum, saat sampai menyapihnya.. anak saya 3 tahun ga mau lepas nenen, iki piye T_Y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho sampe 3 tahun masih nenen, heheh. Ajarkan kemandirian dan rasa malu ke anak, mba. Aku belum ada pengalaman nyapih sih, masih baca-baca referensi aja.

      Delete
  7. Bagi saya butuh effort luar biasa sebagai ibu yang bekerja buat kasih ASI semoga semua ibu juga bisa sukses kasih ASI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, ibu bekerja harus mengelola stress di tempat kerja supaya lancar pumping. Semangat!

      Delete
  8. Suka dengan tulisannya, selama ini kan kampanyenya sufor, stanting terjadi krn kurangnya kalsium yg biasanya bs didapt dr sufor.

    ReplyDelete
  9. bener Mba saya dukung ASiyang terbaik bagi anak, suka artikelnya danbermanfaat sekali

    ReplyDelete
  10. Wah, lengkap nih liputannya.
    Banyak ilmunya juga. Sip!

    Alhamdulillah, anak bungsuku ASI eksklusif dan sedang persiapan untuk disapih. Semoga bisa WWL. Ga berasa nih, tau2 udah jelang 2 thn ngASI si kecil.

    TFS, ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hwaaa Danisha udah disapih dong ya sekarang

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature