Pneumonia Pada Bayiku

Monday, March 14, 2016

Melihat Sherlock merangkak kesana kemari, belajar berdiri, memegang berbagai macam benda dengan tangan mungilnya, juga memainkan makanan terkadang membuat saya kelelahan mengikuti tingkah polanya. Namun mengingat yang terjadi sebelas bulan lalu, saya bersyukur melihat ia tumbuh jadi anak yang sehat dan aktif.

Belum genap 10 hari ia terlahir di dunia, si kecil jatuh sakit. Daya tahan tubuhnya yang masih menyesuaikan dengan lingkungan baru menjadikan ia mudah tertular neneknya yang sedang sakit batuk. Saat di rumah, cuaca kurang mendukung karena matahari pagi tertutup awan sehingga ia jarang dijemur. Hal ini menambah faktor lemahnya kekebalan tubuh. Saya terlalu menyepelekan penyakit batuk pilek ini. Saya menganggapnya penyakit ringan yang sudah umum. Dengan asupan ASI, lama-kelamaan akan sembuh sendiri. Namun sudah lima hari batuknya tidak mereda. Saya pun membawanya ke dokter anak. Saat itu juga dokter menyarankan untuk opname karena anak saya terkena pneumonia. Penyakitnya sudah menjalar menjadi radang di paru-paru. Kalau terlambat ditangani bahkan bisa sampai ke otak. Mendengarnya membuat saya lemas dan tidak tega bila bayi kecil ini harus rawat inap. Setelah berembuk dengan keluarga, saya pun mencari second opinion. Tidak hanya satu tetapi lima dokter yang saya mintai konsultasi kesehatan. Salah satu dokter menjelaskan, bayi di bawah usia 2 tahun rawan terinfeksi pneumonia. Gejalanya memang mirip batuk pilek biasa. Indikasi lainnya yaitu penarikan pada dinding dada bagian bawah saat bernapas (retraksi). Frekuensi napasnya pun di atas normal.



Frekuensi pernapasan normal pada anak (diolah dari: sumber)

Supaya proses penyembuhannya cepat, anak saya pun dirawat intensif di rumah sakit tempat ia dilahirkan. Tak pernah terpikir secepat ini kembali ke tempat tersebut. Ada ketidak-relaan harus berpisah dengannya. Untuk bayi baru lahir dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan tidak disediakan tempat bagi orang tua yang menjaga. Karena saya bertekad memberikan ASI eksklusif, tiap 2 jam harus ada stok ASI perah (ASIP). Saat itu saya lelah fisik karena masih dalam masa penyembuhan setelah melahirkan. Saya pun menyesal tidak memiliki stok ASIP karena merasa belum perlu. Malam itu juga saya berusaha memompa meski kondisi badan dan pikiran capek. Hasilnya hanya cukup untuk sekali minum dan segera dibawa ke RS oleh suami. Selama perawatan, stok ASIP saya kejar tayang. Tiap 2 jam saya pompa, bahkan dini hari pun saya bangun untuk memompa karena terbayang anak yang tergolek di rumah sakit. Keinginan kuat untuk segera membawa ia pulang ditambah dukungan dari keluarga membuat saya bersemangat. Saya dan keluarga sudah ikhtiar untuk kesembuhan buah hati yang ditangani tim medis yang berkompeten. Kami hanya bisa berdoa, menyerahkan semuanya ke Allah.
Waktu kunjungan begitu berharga (dok. pribadi) 
Dua kali sehari, tiap pagi dan sore, adalah waktu kunjungan yang tidak pernah saya sia-siakan. Saya mendekapnya sambil menceritakan kabar keluarga dan harapan untuk kesembuhannya. Keluarga yang hendak menjenguk hanya bisa melihat dari jendela karena yang boleh masuk ke ruang NICU hanya ibu kandung pasien. Melihat anak saya sakit mengingatkan saya untuk lebih bersyukur atas nikmat sehat dan makin mendekatkan diri kepada Allah. Di ruang itu saya melihat ada bayi yang terlahir prematur dan dirawat dengan inkubator. Ada pula yang entah sakit apa sehingga tubuhnya harus dipasang selang oksigen dan infus. Sedangkan anak saya hanya diinfus untuk memasukkan obat. Asupan gizinya terpenuhi dari ASI.

Alhamdulillah, empat hari kemudian dokter menyatakan kondisi anak saya membaik. Nafasnya sudah normal dan retraksi di bagian dada berkurang. Kami meninggalkan rumah sakit sambil berdoa semoga ini yang terakhir kalinya ia dirawat di sini.

Kejadian ini membuat saya lebih berhati-hati dalam merawat bayi supaya tidak terulang kembali. Berawal dari menyepelekan penyakit, akibatnya infeksi ke level yang lebih parah. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, sebanyak 15,5% penyebab kematian anak umur 1-4 tahun karena pneumonia. Sayangnya saat itu saya belum mengetahui bahaya dan cara pencegahan penyakit ini. Sebenarnya ada vaksin Haemophilus Influenza type B (HiB) dan Invasive Pneumococcal Disease (IPD/PCV). Meskipun bukan termasuk dalam imunisasi wajib, namun pemberiannya dianjurkan.

Jurnal kesehatan keluarga (dok. pribadi)
Sebagai orang tua yang melindungi anaknya, berbagai langkah pencegahan saya lakukan. Ada buku khusus sebagai jurnal kesehatan anggota keluarga. Isinya riwayat penyakit dan obat yang dikonsumsi. Hal ini memudahkan bila anak sakit karena tertera catatan obat yang tepat beserta dosisnya. Bila ada anggota keluarga yang sakit flu maka saya menyarankan untuk tidak terlalu dekat dengan Sherlock atau menggunakan masker. Makanan dengan gizi seimbang menjadi menu kami sehari-hari, apalagi sekarang ini anak saya sudah makan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Kebersihan rumah juga kami jaga. Tak lupa imunisasi wajib sesuai jadwal dan usia anak. Semua ini untuk hidup yang lebih sehat karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

vaksin
In Harmony Clinic

Referensi:
  • Buletin Jendela Epidemiologi Vol. 3 September 2010.Diakses tanggal 13 Maret 2016.http://www.depkes.go.id
  • Kallander, Karin.IMCI training video:Exercise C - How to assess a child with cough and difficult breathing.Diakses tanggal 12 Maret 2016.https://www.youtube.com/watch?v=gndR3Li8xnA
  • Kenali dan Atasi Gejala Pneumonia.Diakses tanggal 12 Maret 2016.http://www.ayahbunda.co.id/bayi-tips/kenali-dan-atasi-gejala-pneumonia

18 comments on "Pneumonia Pada Bayiku"
  1. Anakku 3 thn, skr lg opnam krn pneumonia ini mbak :(. Awalnya sjk msk musim hujan batpil GA sembuh, ampe skr. Trnyata ADA radang paru2.. Aduh jgn ampe kena k otak juga :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga anaknya segera pulih, mbak. Iya nih awal dari pneumonia memang bapil yang lama

      Delete
  2. wah aku juga pernah anaku kena radang paru2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah sehat kan? syukurlah..

      Delete
  3. Owalah bocah ganteng pernah dirawat, aku malah baru tau. Semoga sekarang sampe seterusnya sehat selalu ya, Le. Hugss

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh..iya kecil2 udah opname. Sekarang sehat terus aja deh supaya diajak jalan-jalan. Amin..

      Delete
  4. Pneumonia memang penyakit yang mengerikan, kalau saya sarankan lebih baik segara di obati saja mbak dengan menggunakan obat herbal karena di percaya sangat ampuh untuk menyembuhkan pneumonia dan berbagai jenis penyakit lainnya dengan cepat aman dan tanpa efek samping.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sudah sehat. Terima kasih sarannya.

      Delete
  5. Iparku ada yg kena peunomia juga. Batuk2 terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga lekas sembuh iparnya, mbak

      Delete
  6. aduh ga kebayang rasanya kalo anak sakit. hiks

    ReplyDelete
  7. Kalau lihat balita dirawat itu rasanyaaa. Dl Deandra pas 8bln juga pernah dirawat. Diinfus trus disuntik kayak gak tega. Semoga anaknya sehat terus ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya nangis waktu anak diinfus :(
      amin..semoga sehat2 terus yaa

      Delete
  8. thanks infonya mbak Helena. Batuk pilek ternyata bisa jadi indikasi pneumonia. Semoga sehat selalu anaknya, mbak !

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..tidak boleh menyepelekan mbak.
      amin..makasih ya

      Delete
  9. Helena, si permata hati inikah yang dibawa ke acara Polytron? Semoga kedepannya selalu dalam keadaan sehat wal'afiat. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bunda..yang kecil mungil itu
      amin..semoga kita diberi kesehatan ya

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature