Ada yang sudah mencoba diet berbagai cara tetapi tidak juga kurus. Begitu berhenti diet jadi “balas dendam”, semuanya mau dimakan. Ada pula yang banyak makan dan minum susu merek tertentu, kok berat badannya gak bertambah. Mau makan burger, tapi kan junk food. Tapi kan sudah lewat jam makan malam. Tapi kan sudah lama tidak makan ini. Tapi kan…ah jadi guilty pleasure.
Pernahkah mengalami hal-hal di
atas? Sebelum makan sudah menilai buruknya makanan. Akhirnya makan pun kurang
nikmat. Saat menjalani diet, bingung harus makan apalagi supaya berhasil. Katarina,
pemilik Tasty Homemade, mengajak kita reframing
masalah ini melalui workshop “Hearty Eating,
Journey Towards Making Peace with Your Plate”.
Hearty eating atau biasa juga disebut mindful eating merupakan suatu cara untuk menyelesaikan masalah love-hate relationship dengan makanan. Tidak
hanya memikirkan “APA” yang dimakan tetapi juga “BAGAIMANA” memakannya. Saat
lapar, tubuh akan mengirim sinyal meminta makanan. Begitu pula saat makan,
tubuh akan memberi sinyal bila telah cukup asupan yang masuk meskipun ada
makanan yang masih tersisa di piring. Tugas kita untuk secara sadar memahami
sinyal tubuh supaya tidak kekurangan asupan maupun tidak makan hanya karena
emosional alias kalap makan.