Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Image Slider

Showing posts with label blogwalking. Show all posts
Showing posts with label blogwalking. Show all posts

5 Kesalahan Blogger Pemula

Tuesday, January 23, 2018
Belajar dari kesalahan saya sebagai blogger
Saya bukan blogger keren (semoga masih ada yang lanjut baca) tetapi saya bersyukur dengan pencapaian sekarang ini. Hal ini bukanlah proses instan. Selama hampir 2 tahun di dunia blogging, saya menyadari beberapa kesalahan yang pernah (kadang masih) saya lakukan. 

Akun Twitter Suspended, Gue Harus Gimana?

Tuesday, December 26, 2017
Saya heran ketika membuka akun Twitter Helenamantra. Terdapat keterangan akun Twitter suspended (ditangguhkan) dan petunjuk untuk menghubungi Twitter. Lha, mengapa tiba-tiba Twitter saya di-suspend? Apa salah saya? Saya harus ngapain? Dunia maya seakan terkena gempa. *lebay

twitter kena suspend
Cara memperbaiki akun Twitter suspended (ditangguhkan) -pic. Unsplash
Baiklah, mungkin ini nampak berlebihan. Wong akun Twitter aja lho yang kena suspend kok sampai sepanik ini? Namun, buat saya Twitter itu ladang pekerjaan. Alhamdulillah lewat Twitter saya mendapat penghasilan untuk membeli sembako (bonus berlian, aamiin). Anggap aja Twitter itu kantor saya, portofolio saya. Maka ketika kantor saya ditutup, saya bingung dong mau kerja di mana. This is why Twitter means so much for me.

Tips Lolos Google AdSense a la Helenamantra

Sunday, September 10, 2017
Mendapatkan penghasilan dari Google AdSense menjadi impian saya sejak monetizing blog. Kata para tetangga, AdSense dapat mendatangkan uang puluhan juta (bukan ngepet). Katanya tinggal duduk manis, uang datang sendiri (eh kok serem ya). Meski (Alhamdulillah) selama ini rezeki buat beli popok mengalir dari berbagai job review, rasanya kurang keren gitu blog Helenamantra.com tanpa dihiasi AdSense.

Tapi…udah bolak-balik daftar AdSense sampai pelan-pelan baca aturannya supaya ga terlewat, masih aja permohonan saya ditolak. Sampai suatu saat Mbah Google mengirim surat cinta dengan tulisan Selamat! tertulis dalam ukuran besar di awal pos-el. Seketika hati bersorak riang menyadari permohonan Google AdSense saya akhirnya diterima!

Selamat! dapat surat cinta dari Google AdSense

Blog to Book, Rahasia Menerbitkan Buku dari Blog

Friday, January 6, 2017
dari blog jadi buku
Menerbitkan buku dari catatan blog, caranya?


Saat menyebut "Kambing Jantan", apa yang ada di pikiranmu? Bukan, ini bukan tulisan menyambut Idul Adha atau aqiqah, hahaha. Kambing Jantan adalah film Indonesia yang rilis tahun 2009. Film ini diadaptasi dari buku yang berjudul sama. Sebelumnya lagi, buku tersebut merupakan kumpulan kisah yang ditulis di blog Raditya Dika berdasar kisah nyata dirinya yang kocak, bodor, dan ajaib-kok-bisa-terjadi. So, perjalanannya adalah curhat di blog - buku - film.

Seru ya kalau dari curhat bisa sampai terbit buku, bahkan dibuat film. Di Blogger Hangout ke-7 yang diadakan BloggerCrony Desember 2016 lalu, saya mempelajari proses panjang Blog to Book. Benar-benar panjang dan penuh lika-liku.

Perlengkapan Pendukung Mom Blogger

Monday, September 5, 2016


Bahagia rasanya kalau mendengar komentar “Enak ya nulis doang bisa dapat duit.”. Alhamdulillah, kalau ada yang mupeng atau iri dengan yang kita lakukan berarti kondisi kita dianggap lebih baik. Masalah duka dan luka disimpan di dapur saja. Saya berpedoman pada “Do what I love, love what I do” dan yang penting bersyukur. Allah berfirman jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya.

Weits, kembali ke topik utama. Nge-blog juga butuh modal, sama seperti tiap pekerjaan di dunia ini. Modal disini termasuk kemampuan dan materi/barang. Menjadi customer service harus punya modal penguasaan produk, komunikasi yang baik, dan kesabaran menghadapi keluhan pelanggan. Menjadi petugas kebersihan pun butuh peralatan seperti sapu, pel, sabun cuci, serta skill membersihkan yang efektif dan efisien. Bagaimana dengan blogger? Kali ini saya membahas lebih spesifik berdasarkan refleksi diri sebagai mom-blogger (baca: emak doyan curhat di blog yang kemana-mana membawa anak).

Memperjuangkan Hidup atau Hidup Untuk Berjuang?

Wednesday, May 30, 2012
copas abis dari blog sodara seperjuangan
iseng blog walking dan menemukan tulisan menakjubkan ini
untuk dipikirkan semua orang:

Kalimat dari sang lulusan SD

22 08 2010
Sambil mengunyah roti saya melakukan percakapan basa-basi dan keakraban dengannya, hingga satu pertanyaan yang mengubah alur obrolan malam itu.
“Neng, jurusan apa?”
“TI, Pak. Teknik Industri! Baru aja tahun ke-dua”
Gedung TVST ITB
Selasa, 4 Mei 2010
Menunggu latihan untuk Pagelaran Seni Budaya, sengaja saya hampiri pedagang roti di pinggir area latihan. Terbesit keinginan mengobrol dengannya.
(ngomong-ngomong kenapa saya suka banget sih ngobrol sama pedagang? Mbok ya Pak Rektor ngono loh yang diajak ngobrol.)

“Cuma ada dua hal yang kita lakukan di dunia, neng. Memperjuangkan hidup, atau hidup untuk berjuang. Beda loh neng, kalo yang memperjuangkan hidup, kita mah bekerja terus untuk mencari uang, buat makan sendiri sama keluarga. Gitu aja terus neng, gak pernah berbagi buat yang lain. Beda lagi kalo hidup untuk berjuang. Dia mah hidup tuh untuk berbagi sama orang lain juga. Mencari ilmu neng, termasuk berjuang. Sama kayak neng sekarang di ITB kan mencari ilmu, kan ya?

Tinggal sekarang, ilmu yang bagaimana yang digunakan untuk berjuang. Itu juga beda loh neng. Kalau neng mencari ilmu di Teknik Industri, terus nantinya bekerja untuk perusahaan, apalagi perusahaan asing, terus dapat uang untuk makan sendiri dan keluarga, itu sama saja dengan neng memperjuangkan hidup.
Tapi coba kalau neng lulus terus bikin industri sendiri. Atau membantu menyebarkan produk Indonesia biar negara kita jadi terkenal di dunia, biar gak kalah sama produk dari Cina. Waah, itu baru yang namanya neng menggunakan ilmu untuk berjuang.”

Ini adalah obrolan paling bermutu yang pernah saya lakukan di sekitaran ITB dengan seorang pedagang. Ialah Pak Edo, pedangang roti lulusan SD yang sukses melobi pihak Ikatan Alumni ITB untuk memberikan beasiswa pada anaknya karena ia berkeinginan menyekolahkan anaknya di ITB. Pedagang yang ingin membuat usaha budidaya udang di Subang untuk membiayai sekolah dua anaknya yang lain, dan pedagang yang mengatakan hal paling keren sebagai penutup:

Kalau nanti udah lulus terus berusaha atau bekerja, jangan mengejar uang yang didapat, neng. Tapi coba kita berusaha dulu yang baik, bekerja dengan bagus, baru kita dibilang pantas dapat uang. Karena kalo ujung-ujungnya neng mengejar uang, ya balik lagi atuh jadi orang yang memperjuangkan hidup. Padahal kita harus apa coba neng?

berkata saya dengan mantap: “Hidup untuk berjuang, pak!”

“Naah, gitu atuh. Itu baru namanya anak ITB yang cerdas, neng!”

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,