copas abis dari blog sodara seperjuangan
iseng blog walking dan menemukan tulisan menakjubkan ini
untuk dipikirkan semua orang:
Kalimat dari sang lulusan SD
22
08
2010
Sambil mengunyah roti saya melakukan percakapan
basa-basi dan keakraban dengannya, hingga satu pertanyaan yang mengubah
alur obrolan malam itu.
“Neng, jurusan apa?”
“TI, Pak. Teknik Industri! Baru aja tahun ke-dua”
Gedung TVST ITB
Selasa, 4 Mei 2010
Menunggu latihan untuk Pagelaran Seni Budaya, sengaja saya hampiri
pedagang roti di pinggir area latihan. Terbesit keinginan mengobrol
dengannya.
(ngomong-ngomong kenapa saya suka banget sih ngobrol sama pedagang? Mbok ya Pak Rektor
ngono loh yang diajak ngobrol.)
“Cuma ada dua hal yang kita lakukan di dunia, neng.
Memperjuangkan hidup, atau hidup untuk berjuang. Beda loh neng, kalo
yang memperjuangkan hidup, kita mah bekerja terus untuk mencari uang,
buat makan sendiri sama keluarga. Gitu aja terus neng, gak pernah
berbagi buat yang lain. Beda lagi kalo hidup untuk berjuang. Dia mah
hidup tuh untuk berbagi sama orang lain juga. Mencari ilmu neng,
termasuk berjuang. Sama kayak neng sekarang di ITB kan mencari ilmu, kan
ya?
Tinggal sekarang, ilmu yang bagaimana yang digunakan untuk
berjuang. Itu juga beda loh neng. Kalau neng mencari ilmu di Teknik
Industri, terus nantinya bekerja untuk perusahaan, apalagi perusahaan
asing, terus dapat uang untuk makan sendiri dan keluarga, itu sama saja
dengan neng memperjuangkan hidup.
Tapi coba kalau neng lulus terus bikin industri sendiri. Atau
membantu menyebarkan produk Indonesia biar negara kita jadi terkenal di
dunia, biar gak kalah sama produk dari Cina. Waah, itu baru yang namanya
neng menggunakan ilmu untuk berjuang.”
Ini adalah obrolan paling bermutu yang pernah saya lakukan di
sekitaran ITB dengan seorang pedagang. Ialah Pak Edo, pedangang roti
lulusan SD yang sukses melobi pihak Ikatan Alumni ITB untuk memberikan
beasiswa pada anaknya karena ia berkeinginan menyekolahkan anaknya di
ITB. Pedagang yang ingin membuat usaha budidaya udang di Subang untuk
membiayai sekolah dua anaknya yang lain, dan pedagang yang mengatakan
hal paling keren sebagai penutup:
Kalau nanti udah lulus terus berusaha atau bekerja, jangan
mengejar uang yang didapat, neng. Tapi coba kita berusaha dulu yang
baik, bekerja dengan bagus, baru kita dibilang pantas dapat uang. Karena
kalo ujung-ujungnya neng mengejar uang, ya balik lagi atuh jadi orang
yang memperjuangkan hidup. Padahal kita harus apa coba neng?
berkata saya dengan mantap: “Hidup untuk berjuang, pak!”
“Naah, gitu atuh. Itu baru namanya anak ITB yang cerdas, neng!”