Apakah Masakan Rumahan Selalu Lebih Sehat?

Friday, January 27, 2017
Dari SD sampai SMA saya selalu dibawakan bekal oleh ibu. Menunya sederhana. Nasi, lauk pauk, juga sayur. Selain hemat, masakan rumahan juga lebih sehat. Kalau beli makanan di warung atau restoran, kita tidak tahu cara mengolahnya. Khawatir terlalu banyak MSG atau bahan yang dipakai sudah tidak fresh lagi. Begitu pula gambaran saya jika anak saya sudah bersekolah. Daripada jajan sembarangan, lebih baik saya bawakan bekal untuknya. Namun ada pertanyaan menarik yang dibahas dalam rangka Hari Gizi Nasional. Apakah masakan rumahan selalu lebih sehat? Atau menjadi silent killer?

Simposium pada 25 Januari 2017 yang diadakan di Ballroom Cheers Residential RS Pusat Pertamina, Jakarta bekerja sama dengan SunCo membahas hal tersebut. Masakan rumahan yang selama ini saya pikir menyehatkan dapat berubah menjadi sumber penyakit bila tidak diolah dengan benar. Apa solusinya?
minyak goreng sunco
Narasumber memaparkan tentang pola hidup sehat
Dr. Entos Zainal, DCN, SP, MPHM, Sekretaris Jenderal PERSAGI, menunjukkan kajian ilmiah bahwa gizi sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Memperbaiki asupan gizi berefek pada perkembangan otak juga sel syaraf. Beliau menambahkan tinggi badan hanya 15-20% yang bersifat genetis, sisanya dipengaruhi lingkungan. Bila orang tua pendek, anak belum tentu pendek jika gizinya tercukupi.

Diantara 3 sumber energi (karbohidrat, protein, dan lemak), lemak memiliki kandungan kalori terbesar yaitu 9 kilo kalori tiap 1 gram. Kekurangan lemak bisa membuat sakit, kelebihan lemak juga tidak baik bagi tubuh. Maka tiap manusia butuh mengonsumsi lemak dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Lemak sendiri berguna untuk mengaktifkan vitamin A, D, E, dan K.

Salah satu sumber lemak yaitu minyak. Untuk memasak di rumah, ibu perlu memilih minyak goreng yang baik. Salah memakai minyak goreng bisa menyebabkan penyakit.

Antusiasme para undangan mengikuti simposium
Sebelum mengetahui ciri-ciri minyak goreng baik, Theresia Irawati, SKM, M.Kes selaku Kasi Kemitraan Subdit Advokasi dan Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI menjelaskan program pemerintah yang disebut Germas. Germas merupakan singkatan dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Masyarakat Indonesia kini mengalami perubahan gaya hidup yang membuat penyakit lebih mudah datang. Manusia dimudahkan oleh teknologi sehingga aktivitas fisik berkurang. Ada pula fenomena merokok sejak usia dini hingga muncul istilah baby smoker atau perokok bayi (Miris deh melihat foto bayi montok yang asyik merokok. Mana orang tuanya?). Selain itu kurang mengonsumsi buah dan sayur padahal Indonesia beriklim tropis dengan ragam buah dan sayur yang banyak. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan Indonesia mengonsumsi garam dan lemak berlebih.

Masalah di atas mendorong pemerintah mencanangkan Germas untuk hidup yang lebih sehat. Dalam Permenkes No. 30 Tahun 2013 disebutkan batas konsumsi gula, garam, dan lemak yaitu G4, G1, L5. Maksudnya 4 sdm gula, 1 sdt garam, dan 5 sdm minyak tiap hari. Disarankan pula mengonsumsi 2 porsi sayur dan 3 porsi buah, atau sebaliknya, setiap hari.

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc, Sp.GK., Sekretaris Komite Nasional Gizi dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular IDI, membawa hasil riset yang mengejutkan. Penyakit tidak menular (PTM) menjadi penyebab 71% kematian di Indonesia. PTM seperti penyakit jantung dan diabetes tanpa kita sadari bisa menyerang tubuh secara perlahan diawali dari pola hidup tidak sehat. Perhatikan makanan yang dimakan juga cara mengolahnya. Riset menunjukkan lemak yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler adalah lemak trans, bukan lemak jenuh.

Beberapa cara untuk menghindari lemak trans, yaitu:
  • Mengurangi konsumsi makanan yang telah diproses
  • Memakai butter/mentega daripada margarin
  • Memilih olive oil atau minyak kelapa, bukan minyak sayur
  • Gunakan minyak kelapa atau kelapa sawit untuk menggoreng
  • Perhatikan komposisi pada kemasan makanan. Hindari partially hydrogenated oil atau hydrogenated oil.
(ki-ka): Mulani Wijaya, M Zulkifli (moderator), Dr. Entos Zainal, DCN, SP, MPHM,
Theresia Irawati, SKM, M.Kes,
dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc, Sp.GK, dan Christian Sugiono

 
Ngeri ya membayangkan masakan rumahan yang selama ini saya pikir sehat ternyata jika salah mengolah dapat menimbulkan penyakit. Pemilihan minyak goreng sangat penting karena saya suka menggoreng dan menumis masakan. Kalau terlalu banyak minyak meresap di makanan, tubuh mengonsumsi minyak berlebih yang menyebabakan obesitas, penumpukan lemak di hati, sampai jantung koroner. Astaghfirullah…

Supaya tidak salah lagi menggunakan minyak goreng, ini ciri-ciri minyak goreng baik yaitu:
  • Bening
  • Tingkat kekentalan menyerupai air (lebih encer)
  • Sedikit menyerap ke bahan pangan
  • Tidak mudah beku
Dari poin-poin di atas, minyak goreng SunCo memenuhi kriteria sebagai #minyakgorengbaik yang sedikit menyerap ke bahan makanan atau #dikitnempel di makanan. Gizi dari bahan yang dimasak pun masih terjaga. Coba lihat informasi nilai gizi pada kemasan SunCo. Di situ tertulis SunCo terbuat dari minyak kelapa sawit dengan kandungan lemak trans 0 gram. Menggoreng lebih aman dengan SunCo.

“Agar terhindar dari penyakit berbahaya, pastikan jangan gunakan minyak secara berulang-ulang. Jika minyak sudah berubah warna akibat sisa makanan, sebaiknya ganti dengan minyak yang baru. Selain itu, hindari penggunaan suhu terlalu panas saat memasak karena dapat membentuk radikal bebas yang merugikan kesehatan dan merusak kandungan vitamin dalam minyak goreng.”, ujar Mulina Wijaya, Deputy Marketing Manager SunCo. 

Pada simposium ini juga ada demo memasak membuat mayonaise dengan bahan minyak goreng SunCo. Sahabat baik SunCo langsung mengerumuni chef untuk melihat prosesnya. Di sela-sela demo memasak, ada pula tes organoleptic dengan meminum 1 sendok makan SunCo. Awalnya Christian Sugiono, brand ambassador SunCo, meneguk sesendok SunCo. Ekspresi wajahnya biasa saja seperti meminum air. Kemudian hal ini diikuti 3 orang undangan yang sudah memegang sendok masing-masing. Saya sempat bertanya ke salah satunya, yaitu Ibu Sumiyati Sapriasih. Menurut beliau rasanya seperti minum air biasa, tidak serik di tenggorokan. Saya jadi semakin yakin kalau SunCo minyak goreng baik yang dikiiit nempel di makanan.

minyak goreng sunco
Chef Nanda membuat mayonaise yang sehat dengan salah satu bahan SunCo

minyak goreng sunco
"Rasanya seperti minum air dan tidak serik di tenggorokan," ujar seorang undangan setelah melakukan tes organoleptic

Berani mencoba tes organoleptic? Ingin tahu lebih lanjut tentang minyak goreng yang baik? Langsung mampir ke website SunCo atau Facebook fanpage SunCo aja ya. SunCo juga punya banyak resep masakan untuk dicoba di rumah yang bisa diakses di www.resepsehat.com
31 comments on "Apakah Masakan Rumahan Selalu Lebih Sehat?"
  1. sunco minyak sayur juga bukan ya?
    iya ya ngeri juga, selama ini suka anggep yg bahaya klo jajan diluar aja :(

    ReplyDelete
  2. Hehe aku di rumah pakain sunco, aman dan sehat berarti ya alhamdulillah :D

    ReplyDelete
  3. habang tian aja pake ini yukkk diminum bang minyaknya *apasiih

    ReplyDelete
  4. Minum sesendok minyak goreng itu lho yg bikin gimana gitu. Aku juga pake sunco lho, ternyata memang pilihan

    ReplyDelete
  5. mengikuti simposium membuat jadi lbh mengetahui minyak goreng yg baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes dapat info buat kesehatan keluarga

      Delete
  6. Saya sudah lama dengar minyak goreng Sunco bisa ditest dengan cara di minum, tapi jangan banyak-banyak heheheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesendok aja ya. Sisanya buat memasak.

      Delete
  7. Simposium yang bikin saya jadi ngeh, kadar gizi sampai ke minyak gorengnya perlu banget diperhatikan. Mantap deh SunCo ngadain acara kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga symposium seperti ini juga ada di daerah lain supaya makin banyak yang aware cara memasak yang benar.

      Delete
  8. Untungnya memang jrg pake garam n gula d rumh lebih d banyakin bimbingan rempah klo masak dan buat minyak dh pake dr dulu^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang kurang terkontrol kalau makan di luar rumah. Masih tergoda donat dan kue yang manis.

      Delete
  9. ini minyak makan ku di rumah mak, selalu pakai ini alhamdulillah ya sudah pili minyak makan yang tepat :)

    ReplyDelete
  10. hmmm, margarin ama mentega beda ya mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda mba.kalau di luar negeri mentega biasa disebut butter. Yang ini memang lebih sehat tapi mahal.

      Delete
  11. aku mentega yang masih suka dipake. padahal enak klo pipilan jagung yang direbus dikasih mentega, susu, trus sambal. slurrpp...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mentega lebih aman daripada margarine.

      Delete
  12. Kayaknya acaranya seruu... Pasti rame ya ketemu teman lain. Sambil icip-icip masakan chefnya ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masakannya cepet banget habis. Udah diserbu yang duduk depan.

      Delete
  13. Eh mmg mentega ama margarin itu beda ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda kak. Margarine udah asin. Kalau mentega ada yang salted dan non salted

      Delete
  14. Hari ini lagi promo di Alfa , yuk beli Sunco

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah telat bacanya. Eh tapi biasanya tiap weekend ada promo JSM ya

      Delete
  15. iya sekarang penyakit ngeri-ngeri, duh.. mesti jaga makan dan bergaya hidup sehat seperti germas itu :D sepertinya mesti rajin masak dengan mengurangi minyak, hehe..

    ReplyDelete
  16. Klo lagi keranjingan makan gorengan aku mengimbanginya dengan banyak minum air putih ..

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature