Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Image Slider

Alat Transportasi, Dulu Kini dan Nanti

Wednesday, June 26, 2013
Jaman SD bolak balik naik mobil jemput antar bersama kawan-kawan dg suka duka, yah bayangin aja belasan bocah memenuhi L300 dari pagi dg baju rapi trus baliknya udah kusut kemana-mana pake acara mampir panjat pohon yang disponsori oleh sopir mobil jemput antar bernama Mas Mamik.

Saat SMP kadang diantar naik motor, kadang angkot (hari pertama salah jurusan diiringi pandangan seisi angkot, terpaksa jalan kaki lewat gang tembusan ke sekolah), dan pulang dengan rekan-rekan sesama pencari angkot atau jadi nebenger sama gebetan (uhuk..)

SMA naik pangkat, pake bis kantor berhubung sekolahnya jauh. Rajin bangun pagi supaya ga ketinggalan bis. Track record tiga tahun bersih, lancar jaya ga pernah terpaksa naik angkot. Palingan satu kali naik ambulan karena bisnya mogok, jadi tau deh isi ambulan seremnya kayak gimana. Cukup! Pulangnya campur-campur, dari nebeng, ngebis, motor, sampai naik angkot dg posisi favorit di pojokan supaya bisa tidur dg tenang.

Kuliah udah beda propinsi, jadi sering naik kereta api buat mudik. Efeknya bangku kereta bagaikan kasur. Berangkat abis maghrib, makan di kereta, solat isya, terus tidur sampai subuh saat hampir sampai tujuan. Ga perlu obat tidur dah. Syukurlah tiap menuju lebaran selalu dapat tiket buat mudik. Nah kalo mudik begini kereta ramenya ga ketulungan. Lorong sampe toilet pun penuh sesak. Saya belajar satu hal: tahan pipis selama perjalanan!

Nah sekarang ini frekuensi naik pesawat meningkat tajam. Bukan mentang-mentang sudah kerja, tapi karena tempat kerja dan rumah sudah beda pulau, jauh boi! meski masih sesama Indonesia. Kalau naik bis, tenggelam dah itu bis di Laut Jawa. Naik kapal, keburu abis jatah cuti. Yah terpaksa ini sering naik pesawat, minimal 2x sebulan. Mau beli pesawat pribadi tapi kok ya belum ketemu harga yang cocok (yakali macem beli kerupuk). Buat mengurangi kebosanan selama di pesawat kan ada majalah tuh, sampe udah khatam itu majalah dan berasa langganan tiap bulan aja, ga sabar nunggu edisi berikutnya. Berbagai peristiwa tentang pesawat pernah dialami... (terbayang kembali segala rupa) tapi daripada kepanjangan cerita di sini, mending nanti di thread berikutnya (aslinya lagi males nulis).

Dari sini berandai-andai next transportation apa ya? Hope it will be like pintu kemana saja-nya Doraemon.

@helenamantra







Pedihnya Diusir

Monday, May 6, 2013


Gue ngerti rasanya diusir seperti yang terjadi di sinetron stripping tiap hari tanpa perlu menjadi bawang putih atau putri salju (ini nama orang, bukan bumbu dapur atau kue kering). Gara-gara ngobrol sama mantan teman kosan via social media-nya Big Bang gue jadi teringat masa-masa pengusiran itu. Sakit hati gue kambuh, men!

Selama kuliah, gue pindah kosan sampe 3 macem. Kosan pertama gue demen banget meski kamarnya kecil. Ibu kost baik, bantuin gue bikin kembang goyang buat ospek dan masakin nasi goreng buat teman gue yang ke kosan, setelah itu bayar sih. Jadi kosan ini memang rada jauh dari kampus, harus jalan kaki keluar komplek terus naik bikun alias bis kuning buat sampe ke fakultas. Tapi daerahnya rame, gampang cari makan. Kosan ini ada dua bagian, bangunan biru buat kamar cowok, sebelahnya warna pink buat cewek. Ada kantin, dapur, juga hall buat solat jama’ah atau main pingpong. Okesiplah jaman itu.
 
Kemudian segalanya berubah semenjak ibu kost pindah ke rumah anaknya. Ganti ibu kost baru yang bikin kurang nyaman. Kantin tutup. Ga ada yang jahitin emblem di jas almamater gue lagi. Tidak lama kemudian, gue dan satu orang teman kosan memutuskan pindah aja. Sekitar 1 tahun semenjak gue pindah, penghuni cewek di kosan dipersilahkan cari kosan lain. Seluruh bangunan bakal buat kosan cowok. Jadilah teman gue ada yang kelimpungan cari kosan baru. Gue sendiri bersyukur udah pindah sebelum diusir meski ikut pedih mengenang kosan pertama, termasuk kamar pribadi pertama gue selama hidup yang dijuluki The Songo.

Gue udah nyaman dengan kosan kedua. Sekamar berdua, murah, kamar mandi dalam ada 2, kasur ada 3. Kamarnya gede banget, gue sering bayangin kalau kamar ini muat buat main badminton. Jadi, kamar ini unik. Bangunannya terpisah dari kamar-kamar lain. Lantai 1 ruang tv tapi jarang ada yang nonton di situ. Lantai 2 kamar kami yang bisa buat salto. Memang sih letaknya agak tersembunyi dan jalannya belum diaspal. Tapi ga masalah karena gue udah ada motor jadi lebih cepat kemana-mana.

Eh belum setahun gue di istana kerajaan ini, dapat kabar burung kalau kamar gue ga bisa diperpanjang kosannya. Alasannya mau dipake keluarga yang punya kost. Sedihlah kami yang belum sempat main badminton di dalam kamar ini. Kami berusaha tegar dan menunggu sampai ada pemberitahuan lebih jelas kapan kamar ini bakal dipake. Ibu kost udah ngusir secara halus tapi kami cuek aja. Sampai pada akhirnya gue pindah kosan lain dan teman gue pindah ke kamar di bawah.

Meski gue udah keluar dari komplek itu tapi masih beberapa kali main ke mantan istana kerajaan sambil melihat perkembangan kabar mantan kamar di lantai 2. Sampai 2-3 bulan kamar itu masih kosong, ga jelas kapan bakal ditempati sama “keluarga” yang pernah dibilang ibu kost. Teman gue juga kurang nyaman dengan kamar barunya yang di bawah. Jadilah tak lama kemudian dia memutuskan cari tempat kost baru.

Lama setelah itu, kami mendengar kabar bahwa kamar lantai 2 sudah ada yang menempati. Yak, ternyata masih dipakai jadi kamar kosan, bukan tempat “keluarga”. Yaudahlah ibu kost sebel sama kami mungkin. Sampai kami diusir dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Walau perih namun aku bertahan...

Oh ya setelah drama pengusiran itu kan gue cari kosan baru. Waktu ditanya teman-teman kenapa pindah kosan (lagi) dengan cool gue jawab kalau gue diusir dari kosan yang lama. Reaksi pertama mereka adalah ketawa. Karena gue tetap pasang tampang cool dan serius, mereka percaya dan penasaran mengapa hal tersebut bisa terjadi pada gue. Bagi mereka, baru kali ini mungkin ada peristiwa diusir dari kosan.

Yak, dan tibalah gue di kosan ketiga yang menjadi kosan terfavorit hingga lulus kuliah. Lokasinya mendaki gunung, melewati lembah tapi asik. Di sekitar rumah penduduk, dekat masjid, dan di belakang sekolah dasar. Di sinilah gue dan teman-teman kosan kompak serempak bayar iuran gas, datang ke midnight sale sehari sebelum jadwal, bikin surprise party buat yang ulang tahun, sampai pecahin lampu taman di kosan. Kami bahkan punya grup di facebook, tempat share foto dan kabar. 

Meski sudah lulus, kami masih sering keep in touch. Salah satunya yang terjadi hari ini. Gue dapat kabar paling update dari penjaga kosan, kamar nomer satu, sebut saja Alay. Harga kosan naik seratus ribu! Empat kamar kosong, padahal biasanya sampai kamar paling ujung full. Mostly penghuninya angkatan akhir. Kalau mereka udah lulus, kayaknya kosan bakal direnovasi deh. Dan ujung-ujungnya para penghuni akan dipersilahkan move on ke kosan lain. Lagi-lagi pengusiran...

@helenamantra

I am a Surfer: Online Course

Monday, April 22, 2013
Karena hidup di 'remote area', sarana prasarana serta kualitas pendidikan yang terbatas sempat membuat saya down.
Keinginan belajar yang tinggi (dan kebosanan di kantor) bikin saya mencoba ini itu
Saya juga mau menunjukkan bahwa di manapun kita berada di Indonesia, selama ada sinyal buat internet, melahap pendidikan yang berkualitas bukanlah hambatan
Jadilah saya mengikuti beberapa online course, ya gampang-susah juga. Rajin-rajin memotivasi diri sendiri supaya keep going download materi, mempelajarinya, dan mengerjakan soal dengan suka cita. Banyak bertanya pada fasilitator ataupun teman sekelas (yang belum pernah bertemu langsung) juga bisa.

Selama 8 weeks saya mengikuti online course pertama di Stanford Venture Lab
Tried to catch up with new tools, creative assignments, dan mempelajari dunia pendidikan yang baru. Ini adalah kursus paling niat yang saya ikuti.

Saat ini memasuki bulan kedua di @BelajarPerancis. Yes, saya masih penasaran untuk menguasai bahasa yang aksennya khas dan romantis ini. Meski belajarnya masih maju-mundur, kadang emang saya yang mualesss atau koneksi internet buat download materi yang ga sampe. Mengingat ini kursus berbayar, I don't want to throw money for nothing. Fight!!!

Selama April - Juni 2013 saya berencana mengikuti beberapa kelas yang dibuka Stanford Venture Lab, yaitu:
  • A Crash Course on Creativity (again!!)
  • Sustainable Design and Product Management
  • Finance
Banyak sekali penyedia online course, baik yang free seperti Venture Lab maupun yang berbayar. Pilih materi / kelas sesuai hal yang ingin dipelajari. Siapkan koneksi internet yang ciamik, jadwal yang konsisten, dan have fun with your virtual class!

In online course I can do what I love and of course love what I do
O Yeah, 
I am an internet surfer

#MESTAKUNG

Tuesday, April 2, 2013
Target 2013
  1. Derawan
  2. Labuan Cermin
  3. Lombok
  4. Sempu
  5. Karimun Jawa
  6. Thailand
  7. Makassar
Achievement 2013
  1. Togean
  2. Malaysia
  3. Banten
  4. Jakarta
  5. Surabaya
  6. Balikpapan
  7. Makassar
  8. Lombok
Let's travel more! Pray for my travel target 2013

Turnamen Foto Perjalanan: Ocean Creature

Monday, March 18, 2013
Ternyata pagi hari pun di langit ada bintang.
Inilah jasad bintang laut kecil yang saya temukan di Beras Basah, Bontang.
Semoga dia bahagia di kehidupan selanjutnya.

Untuk Turnamen Foto Perjalanan ronde 17

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,