Life of Happy Mom - Indonesian blog about parenting, health, & up and down of life.

Image Slider

Showing posts with label sulawesi tengah. Show all posts
Showing posts with label sulawesi tengah. Show all posts

A Year in Heaven Called Togean

Wednesday, January 9, 2013
Togean itu (seperti) surga (dunia)

Pray.Eat.Snorkel.Sleep






Togean atau nama lengkapnya Taman Nasional Kepulauan Togean (Togean Islands National Park) adalah kepulauan di Sulawesi Tengah. Yes, Indonesia! Surga itu ada di Indonesia tercinta. Menurut data dari EVERTO (Everybody for Togean), luas tanah di sini mencapai 70000 ha. Kalau dihitung dg luas perairannya mencapai hampir 200000 ha (ga kebayang seluas apa ini). Uniknya empat tipe terumbu karang ada di sini, yaitu patch reef, fringing reef, barrier reef, dan atoll reef. Kalau beruntung, kita bisa bertemu dugong alias ikan duyung, hawks-bill, green sea turtle, dan coconut crab. Subhanallah.. Alternatif umum mencapainya, dari kota Palu, Luwuk, atau Gorontalo. Kali ini saya melalui jalur dari Palu. Begini ceritanya...



WHERE to go and WHAT to do
Togean adalah kolam renang raksasa dengan pulau-pulau kecil yang tersebar. Waktu yang terbatas, cuma 4 hari 3 malam di sana jadi hanya ke Wakai dan Pangempa.

Wakai
Kecamatan yang dihuni banyak penduduk lokal. Ada air terjun Tinampo setinggi 7 tingkat. Kami naik..naik..naik..naiiik...sampai ke tingkat 2 --" capek ya. Buat mencapainya bisa naik ojek Rp 5000,- dilanjutkan jalan kaki ke air terjun. Jalanan kurang bagus dan sedang ada pembangunan jembatan. Hasil ngobrol dg pak ojek, di sini sedang dibangun rumah sakit yg lebih layak. Ada SPBU yang buka seminggu sekali, tiap hari Minggu. Kalau listrik hanya menyala dari 6pm to 6am (so use it wisely). Rencana sih tahun 2013 listrik menjadi 24 jam. Yah sudah selayaknya lah, masa' hareee geneee pemadaman bergilir??? Oh ya di sini masih bisa eksis. Ada sinyal hp untuk telkomsel dan indosat.

Kadidiri
Kalau tampang turis, pasti direkomendasikan buat ke Kadidiri. Saya sih cuma ditunjukin dari jauh, itu loh Kadidiri dekat dari Wakai. Karena budget pas-pasan, kita skip Kadidiri. Next year trip semoga bisa menginjakkan kaki ke Kadidiri.

Katupat
Seperti Wakai, pulau ini banyak dihuni penduduk lokal. Letaknya tepat berseberangan dg Pulau Pangempa. Kapal besar dari Ampana setelah berhenti di Wakai melanjutkan perjalanan ke Katupat. Yang menarik, di sini ada organisasi non-profit bernama EVERTO yang memiliki misi menjaga kebersihan di Togean dan memberikan pekerjaan untuk warga lokal. Tiap Sabtu ada Plastic tour dan Bintang tour untuk membersihkan sampah-sampah di sekitar Togean dan melindungi terumbu karang dg cara mengambil Chrown-of-Throns starfish yg bisa membunuh karang. (Bentuk CoT ini serem, saya nemu 1 waktu snorkeling).

Pangempa
 Di bagian timur pulau ini terbentang terumbu karang yang begitu luas. Begitu sampai, tak sabar buat nyemplung. Sambil menunggu kamar kami disiapkan, langsung pasang fin dan goggle kemudian snorkeling ke sana kemari tak peduli waktu itu matahari begitu terik. Anak pemilik pulau ini namanya Riski, umurnya 3 tahun, setiap pagi dan sore selalu berenang. Wow, he’s so lucky to have huge swimming pool right beside his house (or island?). Di sini ada coconut crab alias ketam tapi saya tidak melihat langsung. Oh ya ada juga ikan kecil yang jalan di atas air, sejenis ikan amphibi kah?

Dari cottage ada fasilitas boat trip. Berhubung none of us punya diving license so kami ikut trip ke tiga tempat untuk snorkeling. Well, fun and tired ya kalo berjam-jam snorkeling. Rasa penasaran kami mengalahkan lelah dan mual, heheh.

Hotel California - photo: Manuel Coutant

Pagi setelah sarapan kami ke Hotel California. Malam sebelumnya waktu ditunjukkan foto hotel ini – gubuk reyot mirip shrieking shack di film Harry Potter tapi di tengah laut – saya bertanya ke Pak Jafar kenapa disebut hotel? Ada apa di sana? Pagi ini pertanyaan saya terjawab dg sendirinya. Kapal (katinting) berhenti agak jauh dari gubuk itu dan kami turun dari kapal langsung ke kedalaman air entah berapa meter, biru! Snorkeling mendekati gubuk itu, subhanallah..ini adalah hotel terindah yg pernah saya kunjungi. Ratusan meter hamparan terumbu karang dg slope yang teratur, mulai dari yg cetek kemudian bertahap makin dalam. Tempat ini disebut reef 1. Total ada 5 reef, dan reef 5 adalah yg terluar-biasa indahnya. Jadi penasaran! Di sini saya melihat ikan angke dan ikan pari berenang beberapa meter di bawah. Dari jauh aja sebesar itu, apalagi kalo sebelahan dg saya, hiii...belum siap lahir batin.

Next ke tempat yang menjadi incaran saya, Mariona Lake yang berisi stingless jellyfish. What a surprise, selama ini yg terkenal sebagai tempat yg memiliki ubur-ubur tidak menyengat hanya di Derawan dan Fiji. Nyatanya di Togean pun ada! Kedalaman danau ini sekitar 20 meter (menurut Pak Jafar). Saat berenang, dasarnya tidak kelihatan. Ratusan atau ribuan ubur-ubur mengelilingi kami. Ada 4 jenis (maaf ga tahu nama latinnya): oranye totol putih, oranye totol biru, oranye bintang biru, dan bening. Yang besarnya setelapak tangan saya dibuka lebar-lebar itu banyaaak. Subhanallah, Togean itu ajaib! Btw, ubur-ubur itu rapuh, so perlakukan dg lembut ya. Kami khawatir kalau tempat ini diekspose, ubur-ubur unyu ini bisa punah. Siapapun yang berkesempatan ke sini, please be wise and save the environment.
Stingless Jellyfish - photo: Jeff Bourell


taken from la boite a voyage

Sudah siang, waktunya makan. Spot makan kami spesial, di Karina Beach, pantai terindah di Tojo Una-Una. Satu pantai cuma kami yang ke situ. Pantainya kecil tapi indah. Makan ikan bakar dengan pemandangan alam menambah semangat makan. Selama di Togean segala macam makanan terasa begitu nikmat. Well, this is heaven. Di sini juga (lagi-lagi) ada terumbu karang. Species ikan badut di sini bervariasi. Ada yang dominan oranye dg garis putih di punggungnya. Pantai yang indah namun mulai banyak sampah bekas pengunjung. Pemandu kami, Agap dan Pak Ismail mengumpulkan sampah kemudian membakarnya. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kalau sore di Pangempa pegawai cottage bermain voli pantai. Kalau malam main game, dari Uno sampai Cinq mille (alias 5000). Nah setelah makan malam kami sebagai satu-satunya kelompok turis lokal diajak main cinq mille ini. Permainan ini dibawa Marion dari Perancis, negara asalnya. Kebetulan Marion ada di Pangempa. (Marion ini orang yg getol buat mempopulerkan danau penuh stingless jellyfish so danaunya diberi nama Mariona sebagai bentuk penghormatan kepada dia). Game yang seru. Menggunakan 5 dadu untuk mengumpulkan nilai hingga 5000 dg hukuman yang kalah harus lewat kolong meja. Btw, saking ga online beberapa hari (coz no signal), saya sempat mikir jangan-jangan sekembalinya kami ke peradaban ternyata Indonesia sudah ganti presiden.

Kami melewatkan pergantian tahun 2012 ke 2013 di Pangempa. Stay di cottage dan bergabung dg penduduk lokal dari Katupat untuk makan malam dilanjutkan berpesta hingga pergantian tahun. True! Ada prasmanan, electone (setiap orang disuruh menyanyi di panggung), hundreds fireworks tepat di tahun yg baru, serta dero. Nah..untuk pertama kalinya saya ikut dero. Ini adalah tarian tradisional dari Poso. Diiringi musik (seems like house music dg bahasa Kaili) kami membentuk lingkaran besar dan melangkahkan kaki berputar. Terus begitu berulang-ulang. Angin malam yg dingin tidak terasa berganti peluh, apalagi musik bertambah kencang. Ada acara potong kue juga. Betapa meriahnya tahun baru di sebuah pulau kecil. We were celebrating at Togean, dude!

Ada beberapa pulau yg umumnya jadi tujuan wisata, seperti Poyalisa, Sunset Beach, Retreat island, dan Malenge.Belum kesampaian buat ke Malenge. Ada pemukiman suku Bajo dan jembatan dari papan yg panjangnya ratusan meter. Semoga Sail Tomini 2014 saya sempat ke sana, amin.

 

WHERE to stay

Penginapan Taurus ada di Wakai, 5 menit jalan kaki ke kiri dari pelabuhan. Ada 12 kamar dalam rumah (terlihat) kecil yg dimiliki pasangan aki-nini, sebut saja pak haji dan bu haji. Tiap kamar ada kamar mandi dalam dg fresh water 24 jam. Di ruang keluarga ada TV yg hanya menyala dari 6pm hingga 6am (karena listriknya  cuma ada waktu itu). Rp 50.000,- per hari per orang untuk stay di sana. Kalau mau makan bisa pesan dg tarif Rp 10.000 – 25.000 per orang per makan. Lumayan gerah di sini, ga ada kipas angin. Berhubung no place to stay, pasrah aja deh sehari nginep di sini.

Pulau Kadidiri lebih dikenal oleh bule dibanding WNI. Ada 3 penginapan di sini yaitu, Black Marlin (paling terkenal seantero jagad, ada harga ada rupa), Kadidiri Paradise, dan Lestari Kadidiri (milik orang lokal dan katanya paling murah). Tiap cottage biasa menyediakan penjemputan dari Wakai karena Kadidiri tidak disinggahi kapal besar. Ada bule yg sekapal dg kami dari Ampana ke Wakai. Begitu sampai langsung dijemput oleh guide dari cottagenya, Paradise.

Fadhila cottage at Pangempa was a place where we stayed for 2 days. Kebetulan kami sekapal dari Ampana dg pemilik Fadhila cottage, jadilah kami menginap di sana. Terumbu karang bermeter-meter tersebar di bagian timur pulau. Rate di sini bervariasi, lowest rate sekitar Rp 100.000 per orang per hari dapat kamar dg kasur yg muat untuk 2-3 orang, kelambu anti nyamuk, dan makan enaaak 3 kali. Kamar mandi luar cuma 1. Berhubung orang Indonesia rajin mandi dibanding bule, kami sering antri buat mandi deh. Fresh water buat mandi mengalir lancar 24 jam. Namun listrik hanya saat malam. Oh ya no signal at all di sini. No problemo, stay away for a while from gadgets dan menikmati masakan koki Mama Surya yg selalu special. Ikan bakar, nasi kuning, garlic bread, pancake nyam nyam nyam!



HOW to get there
 
Dari Palu menuju Ampana melalui jalur darat menggunakan kendaraan pribadi atau travel. Supaya waktu berangkat lebih fleksibel, saya dan rombongan dg total 7 orang carter travel seharga Rp 800.000,- (normalnya muat 8 orang). Setahu saya paling sore travel itu berangkat pukul 17.00. Perjalanan khas melalui jalan trans sulawesi yang berlika-liku selama 8-9 jam (banyak berhenti karena kena jackpot). Buat yang tidak terbiasa, sebaiknya sedia obat pencegah mabok darat dan laut. Berangkat malam, sekitar pukul 21.00 sehingga pagi sampai di Ampana.

Ampana menuju Wakai naik kapal besar (ferry boat) bersama penduduk lokal. Tarif per orang Rp 40.000,-. Cek baik-baik jadwal kapal karena bisa jadi tidak setiap hari ada kapal. Info yang saya dapat, sekarang ini kapal Ampana-Wakai tiap hari berangkat pukul 10.00. Waktu itu saya naik KM Togean, termasuk kapal baru. Di dalamnya tersedia matras untuk istirahat, mengingat perjalanan Ampana - Wakai sekitar 5 jam. Ada juga toilet yang katanya teman, bersih. Pada hari-hari tertentu kapal ini berlayar sampai ke Katupat. Ampana - Wakai - Katupat. Dan terkadang kapal ini tidak berlayar (teng tong...kami sudah menjadi korban dan terpaksa terombang-ambing di katinting untuk kembali ke Ampana)

Untuk hop-on hop-off antar pulau bisa menyewa traditional boat (disebut katinting) atau speedboat. Harga sewa katinting ini bervariasi sekitar Rp 250.000,- hingga Rp 350.000,- per hari per boat bergantung jarak dan spot yang mau dituju. Kalau menyewa speedboat, konon kabarnya bisa mencapai Rp 2.500.000,- hingga Rp 3.000.000,- yah maklum kantong belum mencukupi jadi parno buat tanya harga sewa ini.

Perkiraan waktu tempuh:

Wakai - Kadidiri 30 menit
Wakai - Katupat / Pangempa 1 jam
Katupat - Malenge 1,5 - 2 jam 

Necklace from Everto
Tips: ke Togean ala backpacker sekalipun, pergilah berame-rame supaya biaya sewa boat bisa dibagi. Idealnya 8-10 orang lah supaya hemat, bahagia, dan bisa melanjutkan hidup sekembalinya ke kehidupan nyata.

Togean = Heaven

Thursday, January 3, 2013
berkunjung ke SURGA di penghujung tahun 2012

disambut dengan gerombolan lumba-lumba yang asik melompat di sekitar kapal
YES, we are lucky!
Welcome to Togean! -said dolphins
 

Cerita selengkapnya, coming soon...

Buntelan Parasut - Maleo Paragliding

Wednesday, November 21, 2012
Wrap it and let's go home!
Menjelang siang di pinggir Pantai Talise
Angin mulai kencang dan matahari yang semakin terik membuat sesi belajar paralayang harus diakhiri
Buntelan hijau-putih-hitam itu adalah seorang lelaki bernama Ime yang berbalut parasut
Ime menjadi instruktur kami pada hari itu
Beliau sabar memberi arahan bagi kami, newbie dengan modal nekat, bagaimana cara membuka dan mengendalikan parasut

Palu, Oktober 2012

submitted for:
Turnamen Foto Perjalanan Ronde 7

Jika Aku Menjadi @pengajarmuda di Wana, Palu, Sulteng, Indonesia

Monday, April 23, 2012
Kamu Perlu Tahu

Besok mau ke desa suku Tolare*. / Hahaha, eh ada? / Mereka tinggal di atas gunung, jalan kaki 1 jam. Kita ke sana dengan dokter, perawat, dan mahasiswa KKN untuk penyuluhan kesehatan. Are you sure wanna join? / Oke siap!
View from Wana, Palu, Central Celebes, Indonesia

Respon pertama saya waktu diajak Ms. CNL adalah ketawa. Kenapa? Memangnya ada ya suku Tolare? Dalam bahasa Kaili (bahasa daerah Palu), tolare artinya ndeso alias udik. Wah gimana ya penduduk di sana? Lumayan ada kegiatan yang berbeda untuk weekend ini.
Sabtu 21 April 2012 - tepat ulang tahun ibu Kartini – saya, CNL, dan rombongan dari puskesmas di daerah Donggala Kodi menuju ke daerah Salena dengan menaiki motor. Ada juga 1 mobil yang membawa peralatan kedokteran dan obat-obatan. Awalnya sempat kikuk karena salah kostum. Anggota yang lain simple menggunakan celana olahraga dan sandal jepit sedangkan kami berdua memakai pakaian seperti akan pemotretan. Hehe..sekalian hunting foto di atas gunung. Oh ya bagaimana kami bisa ikut dalam rombongan yang tidak kami kenal ini karena mahasiswa yang sedang melakukan KKN salah satunya adalah adiknya CNL. Nebeng dikit bolehlah..

Sampai Salena jalanan menjadi sempit, berbatu, dan naik turun. Kendaraan diparkir di lahan yang lumayan luas untuk menampung beberapa motor. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki naik naik naik ke puncak gunung. Jalanan mendaki dan berbatu dengan beberapa tikungan tajam. Lumayan olahraga gratis. Kami sempat berhenti untuk istirahat, menenangkan irama jantung yang mulai berpacu cepat karena kelelahan. Bila merasa capek, kami menyemangati diri dengan berteriak, “Untuk Indonesia Mengajar!”. Hehe, seakan-akan kami ini pasukan @pengajarmuda yang dikirim untuk mengajar di sekolah sana. Semangat kami bertambah setiap kali berpapasan dengan penduduk lokal yang “turun gunung” untuk bekerja. Ada yang pakai alas kaki seadanya, ada yang berjalan santai dengan telanjang kaki. Mereka menyapa kami, “Selamat pagi” sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi merah karena nginang (mengunyah daun sirih).
Begitu sampai di komplek rumah penduduk di desa Wana, rasa lelah lenyap dan berganti dengan takjub. Desa ini begitu tinggi di atas gunung. Saya bisa melihat rumah-rumah yang tampak kecil di Salena yang kami lewati tadi. Udaranya tidak panas dengan angin sepoi-sepoi. Di Wana tinggal sekitar 44 kepala keluarga. Rumah dan bangunan di sana semua dari papan kayu atau besek. Ada 1 bangunan tembok kokoh yaitu kamar mandi umum.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan di gereja yang sebenarnya berbentuk seperti rumah panggung. Bahkan saya tidak menyadari itu gereja karena bentuknya sangat berbeda dengan gereja seperti di kota. Beberapa papan kayu di gereja sudah berlubang dan saya hampir salah injak. Sampai di sana, warga sekitar diajak untuk berkumpul di gereja tsb untuk diperiksa, ditimbang, dan diberi obat. Sebagian malu-malu dan hanya duduk di pojokan. Masuk ke sana, I feel so strange, mereka menggunakan bahasa Kaili yang tidak saya mengerti. Ini saya lagi di mana ya?
Kids in Wana
Ada sebuah sekolah di Wana dari papan-papan kayu. Ruangan kelasnya cuma 1 dan tanpa sekat. Ada 3 papan tulis dan beberapa bangku. Saat ke sana sekolah belum dimulai. Seorang dokter sedang menggunting kuku anak-anak tsb. Mereka tertib menunggu giliran kukunya digunting. Di samping sekolah ada halaman yang luas dan di ujungnya ada tempat untuk mencuci baju serta kamar mandi. Salah satu anggota rombongan kami sedang memandikan anak kecil di sana. Airnya jernih dan melimpah, namun penduduk di sana jarang mandi. Saat ditinggal pergi oleh dokter, Iwan (anak kelas 6) membantu menggunting kuku teman-temannya. Saya mendekati segerombolan anak kecil yang sedang duduk dan mencoba berkomunikasi dengan mereka (semoga mengerti bahasa Indonesia :p). Mereka malu-malu untuk bicara dan suaranya sangat lirih. Baju kumal, sobek di sana-sini, tidak pakai alas kaki, rambut kering, ada juga yang kulitnya luka membuat saya miris. Mereka ini pasti deh ga mandi. Gimana ya orang tuanya kok ga merawat anak. Atau orang tuanya juga begini?
Saat anak-anak ini dikumpulkan di sekolah, kuku mereka diperiksa satu-persatu. Yang kukunya panjang dan kotor akan dipotong. Untuk yang kukunya sudah dipotong diberi permen sebagai hadiah. Mereka diingatkan kembali untuk memakai alas kaki, mandi, dan menyikat gigi. Saat ditanya mana sikat gigi yang telah diberi sebulan yang lalu, tidak ada yang punya. Entahlah kemana sikat gigi itu. Kalau kata guru di sana, mungkin sikat giginya untuk menyalakan api sebagai pengganti kayu bakar X_x. Pada akhirnya kelas menjadi sepi dan sekolah pun bubar karena anak-anak sedang diperiksa dan diberi obat cacing di gereja. Menurut guru di sana, sekolah ini sebenarnya telah mendapat anggaran dari pemerintah untuk dibangun menjadi lebih layak. Namun para vendor mundur satu persatu karena lokasinya yang sulit dijangkau untuk membawa alat dan bahan untuk membangun sekolah. Buat saya, melihat mereka datang ke sekolah merupakan suatu hal yang istimewa. Di tempat yang jauh dari perkotaan, minim fasilitas, mereka masih mau sekolah. Mungkin sekolahnya hanya beberapa jam dengan pelajaran ala kadarnya, yang penting sekolah! Saya membayangkan program Indonesia Mengajar yang diprakarsai @AniesBaswedan dengan mengirimkan para sarjana ke daerah terpencil untuk mengajar selama satu tahun. Tantangan yang dihadapi luar biasa dengan keterbatasan fasilitas dan bahasa yang belum tentu penduduk lokal mengerti bahasa Indonesia.

Sekolah Alam
Setelah dua jam berada di Wana, saatnya kami turun gunung. Yeay! Perjalanan yang mengerikan karena jalanan yang terjal. Saya sempat terpeleset namun bisa segera menyeimbangkan diri. Perjalanan turun  lebih cepat karena tidak banyak beristirahat meski lutut ini gemetar menahan tubuh. Di jalan kami bertemu penduduk lokal yang sedang beristirahat. Ternyata mereka sedang melebarkan jalan atas arahan pendeta supaya kalau ada orang bawah mau naik bisa lebih mudah membawa barang-barang. Sampai di sungai bawah, kami mendinginkan kaki sejenak. Aliran sungai yang tidak deras dan air yang jernih membuat refresh setelah perjalanan dari Wana.  Sampai kembali di Salena, ambil motor, dan meluncur ke kota Palu.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature
Stay happy and healthy,