Tepat satu bulan lalu aku memulai perjalanan ke luar Indonesia raya. Trip yang aku sebut Mayday Project, yang field reportnya sudah aku tulis pada postingan bulan Mei 2012 (postingan terbanyak dan terlancar nulisnya dalam sejarah saya).
Saat Mayday Project aku bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru setiap hari yang sangat membantuku menemukan arah di negeri orang. Aku masih ingat dengan jelas satu persatu wajah mereka tapi kenapa waktu itu ga inisiatif bertukar alamat email, facebook, nomor HP, pin BB, atau hal lain supaya kami bisa berinteraksi...yah kali aja someday universe berkonspirasi dan kami dipertemukan kembali. Aku sangat berharap bisa berjumpa, at least berinteraksi via internet dengan mereka. Just to know that good people yang udah bantu aku bahagia di sana. What goes around, comes around :)
Afiqa Amirah atau sebut saja Mirah.
Ternyata kami seumuran. Kenal di Skybus perjalanan dari LCCT menuju KL Sentral. Mirah adalah mahasiswi tingkat akhir di universitas di Shah Alam jurusan IT. Aslinya daerah Sabah, east malaysia. Lulus D3 di Serawak kemudian dia melanjutkan kuliah di Shah Alam.
inside LRT with Ibu
Sekeluarga dari Jakarta
Lupa nama lengkapnya, si bapak berawalan dg huruf H, si ibu namanya Siti A..., dan anaknya bernama Genta. Tinggal di daerah Mampang. Aku ikut mereka belanja di KL, di hari pertama kedatanganku. Waktu itu sempat add pin BB si ibu tapi karena bb-nya off ga bisa masuk. Sampai Indo aku add lagi kok ga bisa.. :(
Qomariyah dan ???
Inside Tuktuk
Dua muslimah yang aku temui di prayer room terminal bus di Hat Yai. Mereka antarkan aku sampai kantornya bus KBES, ke pasar buat belanja, dibayari tuk tuk pula. Qomariyah lagi liburan di Hat Yai, aslinya masih kuliah di Bangkok ambil jurusan tentang kesehatan (dokter meureun). Kalo satunya aku lupa namanya (lagi), lebih tinggi dan lebih lancar bahasa melayu/english. Kuliah di Hat Yai.
Som dan ???
Sama-sama bingung mau discover Melaka. Mereka udah beberapa hari dari Singapore, aslinya Thailand. Som ini cewe dan pendiam (apa coz kurang lancar english ya?). Yang cowo tipe cowo Thai banget dan lancar englishnya.
Buat Danang, Ovi, Fajar, Ferdi, Rina, Nina, Veriz, Krishna, Ubay, Rachman syukurlah kita sempat tukar nomor HP, facebook account, dan e-mail jadinya sampai sekarang masih bisa saling memberi kabar dan mengenang memory perjalanan kita... #tsaaaah
First of all, Met Lebaran! Met Liburan! Maaf lahir batin atas kebodohan2 Na pd dunia dan isinya, Tuhan…
Mengapa ada penyesalan dan rasa kecewa?
Saat berinteraksi dengan seseorang atau sekelompok orang, tentunya kita memiliki ekspektasi akan dia dan mereka
Umm..akan ku permudah menjadi antara aku dan dia
Saat berinteraksi dengan seseorang tentu aku memiliki ekspektasi akan dia. Kalau selama ini hanya melihat dan mengamati dari jauh tanpa benar2 mengenal langsung dan selama itu aku mengamati tingkah dan prilakunya yang positif maka yang ada di pikiranku adalah dia orang yang begitu baik dan aku sangat senang bila dapat mengenalnya lebih jauh dan bisa mengambil teladan dari sikap positifnya. Aku berekspektasi begitu tinggi, berharap begitu banyak terhadapnya, tanpa memikirkan bagaimana dia sebenarnya seutuhnya, bagaimana dia sejujurnya, mungkinkah ada hal2 yang tidak dia tampakkan yang luput dari pandanganku selama ini, aku juga tidak memperhitungkan bagaimana masa lalunya sehingga dia tampak seperti itu. Sedikit banyak aku membohongi diriku sendiri dengan ekspektasiku yang memandangnya terlalu sempurna.
Ketika ada kesempatan mengenalnya dengan utuh, janganlah sampai disia-siakan. Seakan ini harapan yang jadi kenyataan. Aku berusaha mengetahui seluk-beluk kehidupannya dan berusaha menuai petuah-petuah darinya. Sungguh aku tak pernah menyesal bisa mengenalnya. Namun ia hanyalah manusia yang memiliki ego, super ego, dan ke-aku-an. Ia memiliki akal yang brilliant dan juga hawa nafsu yang harus dijaganya. Ia tak luput dari dosa. Aku mengakui itu, meskipun sebagian dari diriku berontak dan tidak dapat menerima bahwa dalam dirinya terdapat secuil sisi negatif yang aku tahu pasti dia juga berusaha mengendalikannya.
Setiap waktu aku meyakinkan diriku sendiri untuk paham akan sisi lain dirinya, sisi yang tak pernah ada dalam ekspektasiku, yang masih saja belum dapat aku terima. Satu kali…dua kali…tiga kali…entah hingga kini telah berapa kali dia berbuat kesalahan yang sama yang tidak dapat aku maklumi hingga pada puncaknya dia pergi tanpa pesan, meninggalkanku dan hanya menyisakan potongan2 puzzle yang hingga kini belum dapat kuselesaikan. Aku belum begitu mengenalnya, belum mengenal seluruh sisinya. Aku merasakan kecewa yang teramat besar. Entah karena aku tak bisa menerima kekurangannya atau lebih karena dia berbeda dari ekspektasiku yang berlebihan dan mengharap banyak darinya atau karena kesalahannya yang membuatku terluka dan tak ada yang menutupinya bahkan menyembuhkannya. Mungkin selamanya aku tidak dapat menerima dia lagi.
“belumlah terlambat untuk mengerti, dan belum terlambat untuk menumbuhkan cintaku
Selama hidup sepanjang usiaku, tak sekalipun pernah ku menyentuh wujudnya”
Saat berinteraksi dengan seseorang tentu aku memiliki ekspektasi akan dia. Kalau selama ini hanya melihat dan mengamati dari jauh tanpa benar2 mengenal langsung dan selama itu aku mengamati tingkah dan prilakunya yang positif maka yang ada di pikiranku adalah dia orang yang begitu baik dan aku sangat senang bila dapat mengenalnya lebih jauh dan bisa mengambil teladan dari sikap positifnya. Aku berekspektasi begitu tinggi, berharap begitu banyak terhadapnya, tanpa memikirkan bagaimana dia sebenarnya seutuhnya, bagaimana dia sejujurnya, mungkinkah ada hal2 yang tidak dia tampakkan yang luput dari pandanganku selama ini, aku juga tidak memperhitungkan bagaimana masa lalunya sehingga dia tampak seperti itu. Sedikit banyak aku membohongi diriku sendiri dengan ekspektasiku yang memandangnya terlalu sempurna.
Ketika ada kesempatan mengenalnya dengan utuh, janganlah sampai disia-siakan. Seakan ini harapan yang jadi kenyataan. Aku berusaha mengetahui seluk-beluk kehidupannya dan berusaha menuai petuah-petuah darinya. Sungguh aku tak pernah menyesal bisa mengenalnya. Namun ia hanyalah manusia yang memiliki ego, super ego, dan ke-aku-an. Ia memiliki akal yang brilliant dan juga hawa nafsu yang harus dijaganya. Ia tak luput dari dosa. Aku mengakui itu, meskipun sebagian dari diriku berontak dan tidak dapat menerima bahwa dalam dirinya terdapat secuil sisi negatif yang aku tahu pasti dia juga berusaha mengendalikannya.
Setiap waktu aku meyakinkan diriku sendiri untuk paham akan sisi lain dirinya, sisi yang tak pernah ada dalam ekspektasiku, yang masih saja belum dapat aku terima. Kemudian perlahan-lahan aku menyesuaikan gambaran ekspektasiku tentangnya yang selama ini aku ciptakan di otakku yang mungkin saja terlalu muluk akan dirinya. Aku belajar menerima dia yang sebenarnya dengan segala hitam dan putihnya. Aku mencoba memahami mengapa dia seperti itu, apa yang membentuk prilaku dan sifatnya. Sedikit demi sedikit kecewaku memudar hingga (aku berharap) dapat menerimanya sebagai dirinya yang sebenarnya (real).
“maafkan kata yang tlah terucap, akan kuhapus jika ku mampu
Menjalani homeschooling membuat Helena suka belajar parenting sambil traveling dan menuliskannya di Helenamantra.com. Baginya, belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja, termasuk belajar dari anak-anaknya.
Terima kasih sudah mampir. Mari berbagi pendapat dan pengalaman di kolom komentar. Have a happy and healthy day!
All posts and photos in this blog are courtesy of Helenamantra -unless stated otherwise. Please don't use them without permission or without noting its origins on your post.