Movie time! Senang banget rasanya ada film anak-anak Indonesia yang tayang di bioskop. Latar ceritanya tahun 1960-an dengan karakter utama seorang anak perempuan yang manis, ceria, dan punya rasa ingin tahu tinggi. Dari awal film air mata saya tidak terbendung. Di tengah dan akhir film pun mewek melulu... huhu, Na Willa mengapa kau buatku begini? Apa sih yang menarik dari film Na Willa?
![]() |
| review film Na Willa (dok. Visinema) |
Novel Na Willa di Perpustakaan Jakarta
Pertama kali mengenal Na Willa dari saran seorang teman ketika saya mencari rekomendasi novel anak SD. Cover bukunya sudah beberapa kali terlintas namun saya belum tertarik membaca karena karakter utamanya anak perempuan sementara anakku laki-laki. Apa mereka bakal tertarik?
Saya pun meminjam novel Na Willa di Perpustakaan Jakarta untuk saya baca terlebih dahulu, ceritanya kurasi buku. Ada tiga judul, yaitu:
- Na Willa
- Na Willa dan Rumah dalam Gang
- Na Willa dan Hari-Hari Ramai
![]() |
| Novel Na Willa (dok. X/adriandhy) |
Ketiga novel karya Reda Gaudiamo ini mengisahkan kehidupan sehari-hari Na Willa (usianya sekitar TK-SD), persahabatannya dengan Dul, Bud, dan Farida, juga dunianya yang sederhana. Ada tawa, haru, dan nostalgia ke masa lalu ketika anak-anak bermain di luar rumah tanpa gawai karena latar ceritanya tahun 1960-an.
Niatnya kurasi untuk anak tetapi saya malah tenggelam dalam dunia Na Willa. Membaca ceritanya membuat saya terlarut membayangkan tinggal di Gang Krembangan, Surabaya lalu pindah ke Jakarta. Saya belum pernah tinggal di Surabaya namun pernah bersekolah di sana. Kini saya tinggal di Jakarta jadi dapat merasakan culture shock yang Na Willa rasakan ketika pindah ke kota besar.
Anak-anak belum tertarik membaca novel tersebut sampai waktunya dikembalikan ke perpustakaan. That's okay, kids. Lalu, awal tahun ini ada kabar Na Willa akan diadaptasi menjadi film layar lebar. WOW, saya yang excited!
Menonton Film Na Willa di Bioskop
Judul film: Na WillaRilis: 18 Maret 2026Genre: drama keluarga, musikalRumah produksi: Visinema StudiosSutradara: Ryan AdriandhyPemain:Luisa Adreena sebagai Na WillaIrma Rihi sebagai Mak Marie (Ibu Na Willa)Junior Liem sebagai Pak Paul (Ayah Na Willa)Freya Mikhayla sebagai Farida (Sahabat Na Willa)Azamy Syauqi sebagai DulArsenio Rafisqy sebagai Bud
Na Willa tayang menjelang lebaran namun kami baru menonton di awal April karena kota mudik kami tidak ada bioskop. Sebenarnya waktu bulan puasa, komunitas Rumpun Asa mendapat undangan spesial bisa nonton lebih dahulu namun kami berhalangan hadir.
Uno menunjukkan ketertarikannya akan menonton Na Willa padahal ia belum nonton trailernya atau mengetahui cerita Na Willa itu seperti apa. Entahlah... mungkin ia excited karena akan makan popcorn dan nonton layar lebar seperti ketika menonton Papa Zola The Movie. Sementara Sid sudah menonton trailernya tanpa komentar. Ia mau menonton filmnya, okelah kami booking tiket online supaya bisa santai menuju bioskop.
Studio 3 siang itu nampak sepi. Hanya ada sekitar 10 penonton termasuk kami. Jadwal tayang pertama di hari sekolah mungkin membuatnya sepi. Jam tayang kedua nampak beberapa penonton kecil sudah siap di ruang tunggu. Sepertinya bakal lebih ramai.
Sejujurnya saya membawa keraguan mengajak anak-anak nonton Na Willa. Alasannya sama ketika mau mengenalkan novelnya yaitu karena karakter utamanya anak perempuan usia 6 tahun dan kisahnya ini zaman dahulu di mana tidak ada bahasa gaul kekinian ataupun gawai.
Kisah Na Willa disajikan sederhana, khas anak-anak yang polos dan ingin tahu. Anak kecil ini maunya bermain dan bermain bersama teman-temannya. Bermain layangan di lapangan, bermain kelereng, boneka, dan penasaran ingin melihat kereta dari jarak dekat.
Deg! Saya mengkhawatirkan mengenai adegan Dul yang tertabrak kereta. Bagaimana penggambaran di film itu? Bagaimana anak-anakku melihatnya? Berulang kali saya menengok ke arah anak-anak untuk melihat respon mereka. Alhamdulillah penggambaran adegan ini tidak menyeramkan. Tidak ada darah menetes atau hal frontal. Anak-anak aman bahkan Sid tidak menyadari kaki Dul "hilang".
Selama film berjalan, Uno duduk tegap melihat ke layar. Wow, tidak tampak bosan atau mengantuk padahal ia sempat tertidur ketika perjalanan menuju bioskop. Sid juga nampak asyik menikmati dunia Na Willa yang penuh imajinasi. FYI, usia Sid sudah tamyiz dan ia cenderung menggunakan logika dibanding imajinasi (yang dia nilai kekanakan).
Visualisasi Imajinasi Anak dalam Na Willa
Dunia anak usia dini penuh dengan imajinasi. Ada saja pikiran kreatifnya yang membuat orang dewasa geleng kepala. Dalam film ini, imajinasi itu diwujudkan berupa visualisasi menarik. Contohnya saat membaca surat dari Pak, ada teatrikal di latar yang menggambarkan isi surat. Satu lagi, ketika Na Willa berharap ikan bandeng favoritnya punya banyak mata, muncullah di sekitarnya ikan-ikan bandeng bermata banyak sekali di sekujur tubuhnya.
Visualisasi ini memudahkan penonton memahami isi pembicaraan para tokoh terutama omongan orang dewasa yang cenderung panjang dengan diksi yang kompleks.
Sikilku iso muni... anak-anak berdendang lagu ini saat keluar dari bioskop. Itulah cuplikan soundtrack khusus film Na Willa karya trio musisi Laleilmanino yang juga menciptakan lagu “Selalu Ada di Nadimu” untuk film Jumbo. Lirik lagunya ceria dan imajinatif berawal dari pengalaman Dul yang kehilangan satu kakinya dan harus menggunakan kaki kayu. Bukannya sedih, Dul malah membuat kaki barunya sebagai alat musik. Sikilku iso muni dalam bahasa Jawa yang artinya kakiku bisa bunyi.
![]() |
| Movie time with boys |
Homeschooling Mak, Bu Tini, dan Bu Djuwita
Mak Na Willa adalah seorang pribumi, bapaknya etnis Tionghoa. Mak seorang ibu rumah tangga sementara Pak bekerja di laut yang tak tentu kapan pulang. Yes, mereka LDM namun sosok Pak hadir dalam bentuk surat dan hadiah buku yang dikirim lewat pos.
Teman-teman Na Willa mulai bersekolah. Teman Mak sampai ART pun mengusulkan agar Willa bersekolah supaya belajar baca tulis. Alih-alih mendaftarkan sekolah, Mak memilih mengajarkan Willa membaca dan menulis sendiri hingga ia bisa. Pergulatan batin Mak antara sekolah atau homeschooling ini relate banget dengan kondisiku di awal mulai homeschool Sid. Aku bangga, lho, Mak, anakku bisa membaca dan menulis tanpa sekolah.
Baca juga: Memilih PAUD atau Homeschooling Usia Dini
Lalu di satu titik Mak memutuskan Willa bersekolah. Ia diajar Bu Tini, guru yang galak, kaku, dan merasa paling. Huhu … pengalaman bersekolah Willa di hari pertama terasa pahit. Anak-anakku ikut kesal melihat karakter Bu Tini, sukses nih Putri Ayudya memerankan sosok antagonis.
Syukurlah hal tersebut tak berlangsung lama karena Willa pindah ke TK Djuwita. Sekolah yang indah dengan Bu Djuwita yang ramah. Sukaaa banget dengan detail dekorasi TK Djuwita. Film ini bisa jadi sentilan dunia pendidikan bagaimana seharusnya mendidik murid di sekolah. *eh tapi sekarang engga ada "Bu Tini" lagi kan?
Overall, kami bertiga suka film Na Willa. Ryan, sutradara Na Willa yang juga menyutradarai film Jumbo, sukses membawa film live action pertamanya ke publik. Jujur, saya lebih suka film ini dibanding Jumbo. Lebih realistis dalam kadar yang cukup.
Saya ngobrolin film ini dengan anak-anak sebagai bagian dari belajar mengungkapkan pendapat. Ini beberapa komentar mereka:
- Sid tidak suka Dul, ia kesal mendengar cara bicara Dul seperti itu. Mungkin karena mirip dengan temannya yang ngeselin.
- Uno suka Pak karena kerja di laut.
- Sid dan Uno mau marah-marah ke Bu Tini.
- Sid kasihan pada Mbok tapi Mbok lucu. Beliau tidak bisa membaca namun masakannya enak.
![]() |
| Reda Gaudiamo (baju putih) dan Farida (dok. Visinema) |
Na Willa karya Reda Gaudiamo ini diangkat dari kisah masa kecil Bu Reda yang tinggal di Surabaya lalu pindah ke Jakarta. Membaca novel ini teringat Laskar Pelangi dan Totto-Chan. Saya belum pernah bertemu Bu Reda namun tiap melihat foto senyumnya yang lebar merekah nampak begitu hangat. Bu... mau bertemu!
Kebetulan Rumah dalam Gang ada di Rawamangun dan bisa dikunjungi untuk umum! Huwaaa... mau baca-baca koleksi buku Bu Reda dan siapa tahu bisa ketemu penulisnya langsung di sana. Apakah kamu mau menemaniku bertamu ke Rumah dalam Gang? Sudah nonton Na Willa atau baca novelnya? Bagaimana pendapatmu?




Post Comment
Post a Comment
Hai!
Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga artikel tersebut bermanfaat.
Bagaimana komentarmu? Silakan tulis di kolom komentar, bisa pakai Name/URL. Kalau tidak punya blog, cukup tulis nama.
Ku tunggu kedatanganmu kembali.
Jika ada yang kurang jelas atau mau bekerja sama, silakan kirim e-mail ke helenamantra@live.com
Salam,
Helena