Hal-Hal Sederhana Untuk Mendidik Anak Lebih Mandiri

Wednesday, March 8, 2017
20 Februari 2017 adalah pertama kalinya saya bepergian tanpa Sid setelah 1,5 tahun selalu bersama. Norak ya? Hihihi… begitulah. Biasanya kemana saya pergi, ia turut serta. Mau ke blogger gathering yang santai sampai serius macem undangan dari DPR, ia ikut menemani. Kadang ia menunggu di luar venue bila tidak diperkenankan membawa anak. Tetapi ia pasti ikut pergi. Beda dengan hari itu, saya berangkat sendiri naik ojek tanpa menggendong dia. Awkward!



Alhamdulillah ayah Sid bisa menjaganya di rumah sementara saya meliput acara. Ia sengaja tidak saya ajak karena hujan dan lokasi acara hanya 15 menit dari rumah. Kalaupun ada keadaan emergency (baca: Sid merengek tanpa henti ingin ketemu saya), ayah bisa membawanya segera ke tempat acara. Meski demikian, ada sedikit keraguan. Bisa gak ya ayah jaga Sid? Gimana kalau Sid nangis minta nenen? Ah, tak ada salahnya mencoba.

Kebetulan Sid tidur nyenyak saat saya berangkat. Bismillah, do not look back. Saya buka pintu rumah pelan-pelan dan berangkat ditemani guyuran hujan.

Sampai acara berakhir dan kami bertemu lagi, saya masih merasa aneh dengan kondisi ini. Ya maklum pertama kali meninggalkan anak. Kebayang working mom yang selesai cuti harus berangkat kerja tiap pagi. You are strong!!!

Selama ini Sid selalu bersama saya. Ada Sid, ada saya. Bagai perangko yang nempel di amplop. Hahaha. Hal ini bagus karena bonding orang tua-anak yang kuat. Tetapi Sid butuh pula belajar lebih mandiri/independen. Saya juga butuh mengikhlaskan diri bahwa anak ini tidak selamanya hidup dekat dengan saya. Suatu saat ia akan mengejar mimpi, menempuh pendidikan di kota lain, menikah, dan jadi presiden. *amin. Sebagai orang tua, saya ingin ia mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kecerdasan intrapersonal. Itulah mengapa belajar independen itu perlu.

Tidak mudah bagi saya, mungkin juga bagi Sid yang maunya nemplok melulu. Hargailah ini sebagai proses dari kedua sisi, Sid dan saya. Ia butuh belajar perlahan-lahan sesuai usianya. Jika terlalu cepat, ia bisa ketakutan. Jika terlalu lambat, prosesnya akan semakin sulit.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengajarinya lebih mandiri di usianya yang menuju 2 tahun, yaitu:


1. Makan


Sejak Sid tertarik memegang makanan dengan tangannya, ia terbiasa makan sendiri. Saat bayi ia makan biskuit, kentang, dan buah-buahan yang dipotong kecil. Hingga kini setiap waktu makan tiba, ia meminta diambilkan sendok. Ia pun makan sendiri. Tapi kalau sedang tidak mood makan, ia masih disuapi. Kadang gemes melihat makanan tumpah sebelum masuk ke mulutnya. Meja dan lantai menjadi kotor. Pakaiannya terkena noda makanan. Messy, yes! Namun itulah proses belajar. Sabar yaa… 

 

2. Bermain


Ketika masih bayi, kami selalu bermain bersama. Sekarang ini ia bisa asyik sendiri menyusun balok, bermain mobil-mobilan, atau membaca buku. Wajahnya menunjukkan mimik serius. Anehnya ia bisa menyusun 9 balok dengan rapi tanpa terjatuh bila tidak saya perhatikan. Namun ketika saya minta ia menyusunnya kembali, beberapa kali balok tersebut terjatuh karena tidak seimbang. Sid pun jengkel dan melempar mainannya.

Ketika bermain di taman, tugas saya lebih enteng. Kini ia bisa berjalan dengan lancar, tidak perlu ditatih atau digendong. Kadang ia berlari mengejar bola atau bermain bersama teman-temannya tanpa harus saya ikuti. Saya tetap mengawasinya dari pinggir taman sambil bergosip ngobrol dengan mamah-mamah muda. Hehehe.

PR saya yang belum kesampaian yaitu mengajari Sid membereskan mainannya selesai bermain. Haduh… menjelang waktu tidur ia makin aktif bermain sehingga balok, mobil-mobilan, boneka, dan buku berserakan di lantai. Bagaimana caranya supaya ia sadar untuk merapikan mainan sebelum tidur? 

 

3. Berpakaian


Sid bisa pakai celana sendiri, yay! Darimana ia belajar? Memperhatikan orang tuanya? Meski kadang kedua kakinya masuk di lubang yang sama, usahanya memakai celana patut diacungi jempol. Oh ya, ia juga sudah bisa memakai dan melepaskan sandal betmen favoritnya sendiri. Selain itu ia bisa memasang topi detektif miliknya walau sering kali terbalik. Hihihi. PR saya mengajarinya memakai kaos dan kemeja. Kancing atau ritsleting agak rumit untuk anak seusianya. Belajar pelan-pelan ya, Nak. 


4. Jalan-jalan


Sekarang ini Sid lebih suka jalan sendiri, tidak digendong. Terkadang ia minta digendong bila merasa tidak aman atau capek atau malas (mungkin). Jika ia berjalan di dalam gedung, saya sih oke-oke saja. Tetapi pernah juga ia minta jalan sendiri di trotoar dan halte TransJakarta yang jalurnya panjaaang naik-turun itu. Trotoar di sini kan bolong-bolong dan sempit. Kadang ada kendaraan yang berjalan di trotoar pula. Ngeri kan melihatnya. Aktivitas ini sekaligus menjadi pembelajaran baginya untuk mengetahui cara berjalan dan menyeberang yang aman. Saya harus disiplin nih kalau menyeberang tengok kanan-kiri dahulu dan pencet lampu tanda menyeberang, jika ada. Dengan contoh yang diberikan orang tua, anak akan mudah menirukan. 


5. Berpendapat


Bete ga sih kalau pendapatmu diremehkan atau tidak dianggap. Belum selesai berpendapat, sudah dipotong karena dianggap tidak penting. Nah, mengajari anak pun demikian. Beri anak kesempatan mengemukakan pendapat. Listen first, do not judge easily. Jawab pertanyaan si anak dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kalau seumuran Sid bisa diberi pilihan tentang pakaian apa yang akan dipakai, A atau B (tetap orang tua yang membatasi pilihan). Atau mau membaca buku yang mana sebelum tidur, C atau D? 

6. Membantu pekerjaan rumah


Yang ini dia suka memperhatikan ayah dan ibunya beres-beres rumah yang ga pernah beres. Tiba-tiba ia ambil sapu dan keukeuh menyapu rumah yang baru saja saya pel. *hiks kotor lagi. Ia punya lap favorit dengan warna kuning-hijau untuk mengelap mainannya. Saking sukanya dengan lap ini sampai ia jadikan sajadah juga. Hahaha. Melihat saya mencuci piring, ia minta membantu juga. Untunglah stok piring melamine di rumah banyak jadi ga khawatir pecah. Ia dengan senang hati menggosok piring memakai spons sambil bermain bubble. Selain itu kalau saya mencuci baju, ia ikut bermain busa dan membilas kaos kaki. Ah, lovely cute little man!



Hal-hal yang pernah ia lakukan di atas terkadang tidak membantu tetapi makin membuat berantakan. Namun saya selalu mengingat learning goals aktivitasnya. Ini adalah proses membekalinya untuk lebih independen supaya ia siap hidup mandiri tanpa nempel 24 jam ke orang tua. Kalau berhasil, kami juga yang bangga. 

Punya kiat untuk mengajarkan kemandirian pada  anak? Tantangan apa saja yang pernah dihadapi saat mendidik anak untuk lebih mandiri? Bagi dong di kolom komentar. Terima kasih.

Referensi:
Helping Your Child to be Independent.http://www.babycentre.co.uk/a556439/helping-your-child-to-be-independent?scid=gb_en_bulletin_toddler_toddler. Diakses 21 Februari 2017.

43 comments on "Hal-Hal Sederhana Untuk Mendidik Anak Lebih Mandiri"
  1. Pasti berat ya ninggalin anak apalagi buat pertama kalinya. Saya ninggalin Fahmi buat beberapa hari pertama kalinya sih pas dia mau 3 bulan tidak lama setelah masa cuti habis... Setelah itu berasa biasa saja :)

    sedih tapi anak emang jadi mandiri meski manjanya gak ketulungan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu orangtua pulang kerja langsung anak jadi manja ya. Sid juga tuh tiap ayahnya datang langsung nemplok.

      Delete
  2. Sid makin hari makin mandiri. Good, mama dan papa pasti bangga

    ReplyDelete
  3. Baby Boy yang lucu


    Emang sulit awalnya, setelah biasa aja. Aku dulu juga. Caranya sering nelpon pas di jam yang sering kita main ama anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. I see jadi anak tetap merasa diperhatikan. Apalagi sekarang udah gampang video call. Makasih tipnya ya mba

      Delete
  4. jadi kepengen cepet punya anak hahahah mba Helen ini wkwkwk
    doain aku segera menikah ya mba Helen :-D
    AKu pengen kenalan sama Sid, pengen main ke sana nowel pipi dia heeheh gendong gemess

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin. Sini main ke Jakarta, Nyi. Ntar kita keliling Jakarta naik bis.

      Delete
  5. Inget banget biar si kecil bisa pake baju sendiri. Awal2 pasti celana atau kausnya kebalik Mbak. KAlo mandi sendiri ya gitu deh, shampo sebotol selalu langsung habis sekali pakai hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha baju kebalik udah biasa ya. Kalau Sid demen banget habisin sabun.

      Delete
  6. Wah iya ya ibu ibu yang kembali bekerja setelah 3 bulan cuti melahirkan pastilah sungguh berat untuk kembali ke kantor (berpisah sama si dedek bayi yang selama ini telah di bawa bawa di kandungan selama 9 bulan)

    Ini buat pembelajaran buat saya juga nih mba.
    Sebagai calon ibu. eh tp nikah aja blm hahahaha
    Nanti deh nanti :D

    Mandiri itu emang penting di ajarkan sejak dini.

    Tapi saya masih kasian sama temen temen saya yang dilarang orang tuanya untuk merantau kesana kemari karena sayang, apakah yang seperti itu berarti tidak rela untuk anaknya menjadi mandiri ? :D
    Entahlah

    Cara orang tua mendidik anak memang beda beda ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orangtua bakal selalu khawatir dan kepikiran akan anaknya meski si anak udah gede. Nature-nya gitu deh. Merantau bikin ketagihan asal selalu ingat buat balik ke rumah.

      Delete
  7. Kalau saya mengajarkan mandiri dari hal kecil dulu mbak. Pertama saya ajarkan memakai dan menggunakan sesuatu. Setelah itu, perlahan saya coba sang anak melakukannya sendiri. Alhamdulillah lumayan berhasil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diberi contoh terlebih dahulu ya. I see. Makasih mba.

      Delete
  8. Aku selalu memintanya menyiapkan perlengkapan sekolah dan baju sejak TK, mb. Tapi terkadang manja kumat ya harus dibantu. Ada tarik ulur juga. Hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari TK udah dibiasakan supaya anak paham mana yang penting buat dirinya. Good. Ya kalo manja emang kadang muncul juga.

      Delete
  9. Jadi inget anak-anak waktu masih kecil dulu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah gede jadi enak yaa. Udah mandiri

      Delete
  10. Haduwww aku belum pernah ninggalin anak-anak sampai nginep. Seharian even blog pulang anak-ansk sudah nyambut lebay semua. Tapi anakku yang pertama dari usia 8 tahun sudah berani camp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga belum. Ga tega trus bakal kepikiran deh gimana dia tidurnya tanpaku. Hahaha ibu ibu lebay

      Delete
  11. Kiatku sama, ditinggalin pergi juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supaya dia belajar bahwa ibu ga selalu ada di dekatnya kali ya. Meski kepikiran

      Delete
  12. Jadi inget, pertama kali ktemu sid manggil aku "mbak" di toilet vimala hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha sekarang dia udah bisa panggil mama, papa, tante

      Delete
  13. Semua dh d lakukan mba tapi yg satu ini abangnya dh kls ,6 msh tidur sama akuuhh,, dinikmati aja,.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku masih tidur sama ibu sampai SMA, hohoho. Lha ibuku takut tidur sendiri

      Delete
  14. Ada beberapa kalangan termasuk saudaraku yang nggak memperbolehkan anaknya makan sendiri gegara takut kotor atau berantakan, cuma kasihan anaknya. Kalau makan harus disuapin dan jadinya malah kejar-kejaran mulu sama emaknya karena nggak mau makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa' iya anak disuapin terus sampai gede. Lama-lama ia akan belajar cara memegang sendok garpu dengan benar. Emang kudu sabar lihat makanan berantakan.

      Delete
  15. wah keren sharingnya. mendidik anak mandiri sejak kecil. bemanfaat banget buat saya yang bentar lagi jadi ibu. hehehe. bisa belajar dari mbak helen soal mendidik anak. thanks mba postingannya :)
    yuk melipir balik ke blog saya :)

    ReplyDelete
  16. Awal2 ninggalin anak2 ma ayahnya jg mikir bisa gak bisa gaaak, tp setelah dipikir2 lg, gpp ah, sesekali anak perlu tau kalau ada kalanya ibunya gk akan ada buat dia.
    Kalau anak2 makan udah makan sendiri, tp tetep kalau udah gk fokus tangan ibu nyuapin hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mba, aku mau ajarin kalo ibu ga akan selalu ada nemenin anak. Memang harus ditega-tegain

      Delete
  17. Semangat mbaaa! Pasti kebayang2 yaa ninggalin anak walau cuma sebentar.. Tapi demi anak jd lebih mandiri hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yosh! kalau anak mandiri, ibu juga yang bangga

      Delete
  18. hebat anaknya ya mau ditinggalin mama nya, ....walau sebentar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu dibiasakan sedikit demi sedikit

      Delete
  19. Yup, kasih lihat bagaimana kita melakukan sesuatu. Kalau anak disuguhi ceramah ceramah, bakal bosan dia

    ReplyDelete
  20. Wah mantab penjelasanya... Jangan lupa juga untuk membiasakan anak untuk mengenal bacaan religi yang bisa menghantarkan anak menjadi anak yang sholeh-sholehah

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, makasih masukannya. Anak bisa diberi bacaan kisah nabi dan rasul dengan gambar menarik ya

      Delete
  21. Mbaaaa sampe anakku yang kecil umur 4thn, aku masih blm berhasil ngajarin dia beresin mainan sebelum tidur. Banyak banget alesannya. Huufffft

    ReplyDelete
    Replies
    1. anakku juga kadang kabur. tapi anehnya diam-diam dia beresin sendiri mainannya justru saat ga disuruh

      Delete
  22. Mengajari kemandirian itu kadang yg males sayanya mbak,karena malah jadi kelamaan atau malah berantakan, makasih ya tipsnya , bermanfaat banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. emaaang pasti ada yang tumpah atau apalah tapi itulah proses belajar

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature