Life of Happy Mom - Personal blog about parenting, health, and upside down of life.

Solusi Pertanian Berkelanjutan di Indonesia #DemiPanganKita

Wednesday, November 2, 2016


Pangan adalah kebutuhan pokok tiap manusia. Sebagai konsumen, selama ini saya tidak ambil pusing dengan menu, sisa makanan yang berakhir di tempat sampah, atau naik turunnya harga sembako (sambil berdo’a diberi rezeki lebih untuk tetap bisa belanja bulanan). Namun diskusi yang diadakan Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) dan OXFAM Indonesia pada 30 Oktober 2016 di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta lalu menyadarkan saya untuk lebih menghargai para produsen pangan.

Para produsen ini, termasuk petani dan nelayan, bisa disebut food heroes. “Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri,” ujar Tjuk Eko Eri Basuki, Kepala Pusat Ketersediaan Kerawanan Pangan Kementrian Pertanian. Dari sisi konsumen, hasil pangan dapat menjadi sumber energi untuk beraktivitas. Sedangkan produsen mendapat penghasilan dari penjualan hasil panen untuk menghidupi keluarga. 
Sustainable Development Goals (pic: United Nation)
Zero hunger menjadi salah satu dari 17 Sustainable Development Goals (Target Pengembangan Berkelanjutan). Noor Avianto, Perencana Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN (Bappenas), menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia pun memiliki target memperkuat kedaulatan pangan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 dan RKP 2017. Akan tetapi terdapat beberapa tantangan untuk mencapainya. Hal ini diamini oleh Khudori, pengamat pertanian dan pangan yang juga anggota FAA PPMI. Beberapa masalah yang menghambat, yaitu:

1. Perubahan iklim
Kapan musim hujan dan musim kemarau makin sulit ditebak. Di Jawa sering hujan, tapi di Sulawesi masih kering kerontang. Hal ini membuat petani sulit merencanakan masa tanam dan masa panen.

2. Pengalihan fungsi lahan sawah menjadi perkantoran atau pemukiman

3. Kualitas lahan menurun
Hasil riset menunjukkan tanah “lelah” setelah revolusi hijau sehingga hasil panen kurang produktif.

4. Lebih dari 50% petani gurem
Lahan yang terlalu kecil tidak mampu membiayai kebutuhan hidup para petani.

5. 1/3 petani berusia di atas 54 tahun dan sulit untuk regenerasi
Bertani dianggap oleh kaum muda sebagai hal yang kurang kekinian. Mereka lebih menyukai mengadu nasib di kota meski tidak memiliki bekal kemampuan yang memadai.

6. Sumber air di hulu rusak, salah satunya mengakibatkan banjir

7. Subsidi pupuk dan benih tidak sesuai kebutuhan

Tak hanya itu, Dini Widiastuti, Direktur Keadilan Ekonomi OXFAM di Indonesia, mengingatkan peran petani perempuan yang masih dipandang sebelah mata. Poster atau foto yang berhubungan dengan petani umumnya menunjukkan petani laki-laki, jarang ada yang perempuan. Pelatihan untuk meningkatkan kemampuan para petani juga perlu diadakan, baik untuk petani laki-laki dan perempuan. Dalam mengolah lahan, para petani ini memiliki peran yang berbeda dan saling melengkapi. Misal, petani perempuan lebih teliti dalam memilih biji kakao.

Perempuan Pejuang Pangan, program yang diinisiasi OXFAM untuk mendukung petani dan nelayan perempuan (pic: perempuanpejuangpangan.org)
Bila ingin mengatasi kelaparan, perlu dilihat dari sisi produsen dan konsumen. Produksi boleh ditingkatkan tetapi perhatikan juga peran produsen pangan kecil termasuk di dalamnya perempuan. Kemudahan memperoleh alat dan bahan pertanian yang berkualitas, akses pembiayaan, serta pengembangan kualitas SDM perlu menjadi perhatian.

Mengatasi permasalahan di atas, ada pesan unik dari Tjuk Eko yaitu majulah ke belakang. Maksud beliau pelajarilah pengetahuan yang telah lama ada. Petani yang berasal dari suku Jawa mengenal pranoto mongso yaitu kalender tanam Jawa. Cocok tanam ini dilakukan selaras dengan tanda-tanda alam sehingga masa tanam dan panen menyesuaikan perubahan musim. Di samping itu ada 200ribu mikroorganisme yang bisa diteliti sebagai alternatif bahan pangan. Tak perlu khawatir kekurangan pangan, Tuhan telah mengatur alam sedemikian rupa. Tugas kitalah menggali dan melestarikannya.

Keanekaragaman hayati di Indonesia yang masih bisa dioptimalkan (pic: Khudori)

Pada kesempatan ini Khudori menjabarkan solusi pembangunan pertanian berbasis ekoregion. Konsepnya sama seperti otonomi daerah di mana masing-masing daerah fokus pada kelebihannya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ekoregion terdiri dari 3 pilar: ekonomi, ekologis, dan sosial. Hasilnya lebih produktif dibanding pertanian konvensional.

Jenis tanaman yang dibudidayakan tidak melulu padi, jagung, dan kedelai. Tanaman disesuaikan kondisi daerahnya. Sumatera, Kalimantan, dan Papua  yang memiliki curah hujan tinggi cocok ditanami kelapa sawit. Beda dengan Jawa dan NTT yang curah hujannya rendah lebih cocok ditanami tebu, jati, kopi, dan kakao. 

Masalah berikutnya yaitu regenerasi petani. Kalau jumlah petani kurang akan berpengaruh pada hasil panen. Apa kita mau segalanya impor dari negara lain? Biaya kebutuhan pokok akan naik dan masyarakat sulit menjangkau makanan bergizi seimbang. Kelaparan dan kemiskinan juga makin susah ditangani. OXFAM bekerja sama dengan berbagai pihak mengadakan pemilihan Duta Petani Muda yang tahun ini diikuti oleh 514 pendaftar yang 22% diantaranya adalah agripreneur perempuan muda. Suatu program yang layak didukung untuk majunya agrikultur dalam negeri.

Pemilihan Duta Petani Muda untuk menjaring agripreneur muda berbakat di Indonesia (pic: dutapetanimuda.org)
Saya juga salut pada seorang kawan sekolah yang kini menjadi agripreneur. Ahmed Tesario mengembangkan bisnis beras merah organik  dengan membudidayakan para petani Banyuwangi sebagai tempat pusatnya lumbung padi bersama P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya). Kamu hebat, Tesar!

Sebagai pembicara yang mewakili sisi konsumen, Dea Ananda menceritakan kisah masa kecilnya. Mantan artis cilik ini sejak kecil dibiasakan makan makanan lokal seperti tempe, ikan asin, dan sayur asem. Ibunya memastikan Dea agar mengonsumsi makanan gizi seimbang. Hal ini terbawa hingga ia menikah. Menu yang disajikan pada sang suami mengutamakan makanan lokal. Hasilnya suami Dea menjadi lebih sehat. Dea meyakini sehat itu tidak mahal. Mendengar cerita ini saya jadi teringat anak saya yang suka makan tempe dan sayur asem. Murah dan sehat.

Dea Ananda mengajak para undangan menyanyi tentang makanan lokal Indonesia (pic: FAA PPMI)

Sebagai penutup, Koordinator Presidium FAA PPMI Agung Sedayu mengutarakan “Program pertanian berkelanjutan sudah semestinya menjadi tujuan jangka panjang dan menengah nasional, penting untuk terus mensinergikan program dan kegiatan yang mendorong kemandirian petani.”. 

Mendengar penjabaran para tokoh di atas, kini saatnya semua pihak berkolaborasi untuk mendukung pertanian yang kompetitif. Masalah pertanian bukan hanya masalah pemerintah dan produsen saja. Kita sebagai konsumen turut andil mengentaskan kemiskinan dan mengakhiri kelaparan.

Para narasumber, moderator, dan perwakilan FAA PPMI berfoto bersama di akhir acara


Referensi:
Khasiat Beras Merah Organik. http://bitra.or.id/2012/2013/05/30/khasiat-beras-merah-organik/. Diakses tanggal 2 November 2016.
Pengumuman 10 Besar Duta Petani Muda 2016. http://dutapetanimuda.org/blog/pengumuman-10-besar-pemilihan-duta-petani-muda-2016. Diakses tanggal 2 November 2016.
56 comments on "Solusi Pertanian Berkelanjutan di Indonesia #DemiPanganKita"
  1. Masalah pangan ini masalah semua pihak ya, ga cuma pemerintah aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sebagai konsumen pun ikut berperan atas kesejahteraan petani

      Delete
  2. Yuk kita jadi Female Food Hero :D

    ReplyDelete
  3. Musim tak menentu membuat hasil panen berkurang mbak, kerabat saya masih banyak yang bertani di Jawa dan Sumatra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Butuh inovasi pertanian supaya hasil pangan melimpah

      Delete
  4. Musim tak menentu membuat hasil panen berkurang mbak, kerabat saya masih banyak yang bertani di Jawa dan Sumatra.

    ReplyDelete
  5. wah menarin sekali programnya mbak. aku juga mulai melirik pangan sebagai bisnis nih

    ReplyDelete
  6. Asyik nih kalau banyak yang beralih ke makanan lokal yang sehat dan harganya terjangkau ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, pangan lokal kualitasnya juga oke

      Delete
  7. Saya termasuk juga selalu siap dengan makanan lokal, soalnya rumah saya deket pasar tradisional, jadi lebih mudah untuk menjangkau bahan mentahnya. Dan makanan lokal itu ngangenin banget, apalagi Tahu sama tumis genjer pakai tauco #inimalahmakanan #maapkansaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Saya juga suka belanja ke pasar tradisional, apalagi pasar inpres. Murah!

      Delete
  8. Makanan lokal..udah terbiasa di lidah...kita.. klo non lokal..y buat icip2 sekedar tau aja..he2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang non lokal biasanya saat kondangan, hihi...

      Delete
  9. Ah benar, mendapatkan makanan (dan juga pelayanan kesehatan) yang baik adalah hak setiap warga negara ya Mbak. Sedih kalo Indonesia negara agraris, hasil buminya malah dapet ngimpor :(

    ReplyDelete
  10. Harusnya Indonesia yg trkenal suburnya ini lebih banyak menghasilkan hasil bumi untuk kesejahteraan masyarakatnya, makanya kita juga harus lebih mencintai produk pangan lokal.

    ReplyDelete
  11. Petani harus sejahtera dan generasi harus dilibatkan dalam upaya pertanian keberlanjutan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duta Petani Muda ini program yang bagus buat regenerasi petani

      Delete
  12. Penerus petani harus ada. Makanya kita perlu dukung mereka

    ReplyDelete
  13. aku setuju banget ada duta petani muda spy generasi skrg lbh mencintai bertani dan jadi petani. Petani juga bisa keren kok

    ReplyDelete
  14. Ada temen suami yang bertanam buah lokal, sukses juga di pasaran. Seharusnya memang buah lokal makin dikenal masyarakat, tidak hanya buah yg dari luar aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buah organik lagi laris manis nih. Bisa untuk peluang usaha

      Delete
  15. Anak-anakku kalau tempe dan tahu digoreng tepung, langsung ludes nggak sampai satu jam :D
    Makanya sarapannya sering dengan tempe dan tahu goreng.
    Sepakat kalau pertanian kita kompetitif, biar nggak banyak yang diimpor lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toss! Anakku juga doyan tahu tempe dari awal MP-ASI

      Delete
  16. iya mba, tanpa mereka, kita mau makan apa, petani juga ya termasuk peternak, meski mereka jauh leih berat resikonya, beda kalo nelayan, tinggal ngambil di laut aja, itu ibarat kata mba, saking beratnya kerja mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nelayan juga mengeluh dengan perubahan cuaca ini lho mba. Cari ikan makin sulit, unpredictable. Sebagian nelayan akhirnya beralih profesi jadi kuli bangunan atau yang lain buat memenuhi kebutuhan hidup. Saya pernah ngobrol dengan seorang nelayan di Bawean.

      Delete
  17. Baru tahu ada female food hero. Keren!

    Saya jadi ingat bapak saya yang petani, tapi anak-anaknya perempuan dan belum ada yang menikah dg petani jg.
    Kalau saya dan suami kurang paham masalah pertanian :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dukung dengan memberikan informasi seputar inovasi pertanian, mba :)

      Delete
  18. Dea Ananda, udah gede yaa
    *gagal fokus :D


    Miris yaa kalo liat kenyataan; banyak petani yang kehilangan lahan :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya pemerintah punya program mencetak 1 juta ha sawah, semoga tepat dan berhasil untuk kedaulatan pangan kita ya

      Delete
  19. Kekayaan pangan di Indonesia cukup melimpah, semoga para petaninya bisa mengelola dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dukung food hero alias petani negeri sendiri :)

      Delete
  20. Masalah pangan sudah menjadi pemasalahan yg diperbincangkan terlebih krna beberapa wilayah mengalami sulit pangan & masalah gizi buruk bg anak :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. efeknya memang ke gizi buruk seperti stanting yang dialami 1/3 anak Indonesia

      Delete
  21. Memang sudah saatnya mba helen, masyarakat indonesia 'melek' terhadap kerawanan dan ketahanan pangan..jika sudah mengerti, tentu akan terinternalisasi menjadi perilaku yang mendukung, seperti menghindari food waste. Bagus sekali acaranya..Oxfam ya yang mengadakan?dulu waktu masih kerja di International NGO, kantor saya satu kompleks dengan kantor Oxfam. hehe

    ReplyDelete
  22. Aku dan keluarga termasuk selalu mengkonsumsi makanan lokal, lidahnya ndeso banget hehhee..

    ReplyDelete
  23. Ulasannya lengkap dan konprehensif

    ReplyDelete
  24. Acaranya keren banget ya Mbak. SUka....
    Semoga acara seperti ini juga diadakan di daerah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya diskusi seperti ini penting dibuat di daerah-daerah terutama yang memiliki potensi pertanian

      Delete
  25. kasihan petani ya kalo gini, tanah juga mulai lelah.
    DI Jawa ini juga kadang panas banget, kadang hujan :(

    ReplyDelete
  26. Senangnya melihat inovasi pertanian cerdas yg bisa membawa perubahan kemajuan apalagi melibĆ tkan generasi muda pembangun bangsašŸ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes, aku dukung banget award buat petani muda dan petani perempuan. They are heroes!

      Delete
  27. bagus. thank ya untuk informasinya.

    ReplyDelete
  28. INformasi yang baru banget buatku tapi sangat bermanfaat. Harus lebih banyak dikupas nih masalah pangan ini. Untung juga ya, kementrian pertanian mulai membuka diri ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kolaborasi semua pihak penting, mba :)

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature