Top Social

When I was...

Monday, April 16, 2012
i found freedom in my college time

Terkadang ingat masa masa itu
berdesak-desakan di KRL yang kini disebut Commuter Line
bersembunyi dari pemeriksa karcis kereta karena kami (berdua dengan teman) naik kereta tanpa karcis yang harganya cuma seribu rupiah
berusaha mencari udara dengan mendongakkan kepala
terjepit di antara ketiak-ketiak pekerja kantoran maupun kuli bangunan menuju kota yang (katanya) penuh harapan bernama Jakarta
menyaksikan seorang ibu yang duduk sambil mengantuk di pinggir pintu kereta dijambret dengan mudah, seuntai kalung yang menggantung tinggal separuh di lehernya, penjambret dengan gesit melompat turun dari kereta yang mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun
melihat dengan iba anak-anak kecil yang cacat anggota tubuh dimanfaatkan untuk mengemis
memandang miris pada seorang penyapu kereta yang kumal dan menetes (cairan nampak seperti) darah dari dahinya, yang ketika seorang penumpang menawarkan tisu untuk mengusap luka itu langsung ditolaknya, dan batinku berkata justru itulah sumber penghasilannya, dari rasa iba atas luka buatan

Terkadang ingat masa masa itu
di mana tidak peduli saldo di rekening tabungan atau berapa lembar uang tersisa di dompet
seusai kelas naik bus berwarna kuning yang tak jelas kapan datangnya, menuju pusat perbelanjaan di sebelah
sekedar melihat model model pakaian dan sepatu yang baru
yang dua tahun setelahnya ternyata model seperti itu masih laris manis di luar pulau Jawa dengan harga dua kali lipat
jika ada keinginan kuat, tiap hari menabung dari hasil mengajar para bule untuk menikmati setangkup burger di mall, burger yang paling spesial karena tersusun dari berlapis lapis daging sayuran dan keju, begitu nikmat hasil dari kerja sendiri

Terkadang ingat masa masa itu
sore hari menuju ke selatan Jakarta dengan Menul, motor butut yang tangguh, untuk berjumpa dengan para adik asuh
berbagi pengetahuan sambil bercanda tawa
matematika dan bahasa menjadi favorit mereka
jajan bersama sambil mendengar cerita di sekolah
betapa dapat kulihat harapan di mata anak anak ini
hanya perlu sedikit arahan supaya tidak menjadi korban sinetron
entah bagaimana kabar mereka sekarang, semoga selalu dalam lindungan Allah

to be continued...
Post Comment
Post a Comment

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature