Tibalah Saatnya Menyapih dengan Cinta (1)

Thursday, April 27, 2017


Weaning with love - PR ibu ada-ada aja deh. Udah susah payah melancarkan ASI selama dua tahun, sekarang giliran Sid waktunya disapih. Tapi ga mungkin juga kan membiarkan dia nenen terus sampai gede. Toh kandungan ASI sudah tidak mencukupi kebutuhan nutrisinya seperti saat ia masih bayi. Ini saatnya ia belajar lebih mandiri dan lepas dari kenyamanan ASI.

Si Bayi (baby) udah jadi anak (toddler), tibalah saatnya menyapih dengan cinta
Saya masih teringat drama di awal pemberian ASI. Cuci-kering-pakai alat pompa ASI, koleksi botol kaca dan plastik higienis, serta freezer dikuasai oleh botol ASIP dan ice gel. Meski demikian drama saya masih tergolong normal, ga seheboh drama Korea. Eh maksudnya masalah ASI yang saya hadapi masih wajar. Ada busui yang galau melihat ASI-nya mampet padahal ia harus kembali bekerja. Ia sudah mencoba berbagai jenis ASI booster dari obat, sayur, teh, sampai susu tapi hasilnya kurang memuaskan.


Saat ASI sudah lancar sampai (alhamdulillah) lulus ASI 2 tahun, sekarang waktunya STOP! Fufufu...

Menyusui dan menyapih ini disarankan di Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 233 sebagai berikut:

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 233).

Semangat dan keteguhan menyapih memang harus dimiliki si ibu. Ya supaya si anak menjadi mandiri, ga nempel melulu dengan ibunya. Saya sudah membulatkan tekad untuk hal satu ini. Di usia 2 tahun, Sid harus berhenti minum ASI tapi nyatanya Sid masih merayu manja saat minta mimik.


Saya juga sempat bertanya melalui status di Facebook tentang proses menyapih. Apakah langsung stop atau dikurangi secara bertahap. Terima kasih yaaa atas responnya berbagi pengalaman, baik ibu maupun ayah yang sudah sukses melewati tahap ini. 

Menyapih itu pelan-pelan dikurangi atau saat 2 tahun langsung stop?

Proses menyapih tiap anak berbeda-beda. Ada yang menyapih sendiri saat usia 6 bulan, ada pula yang molor hingga 3 tahun lebih. “Nanti si anak akan menyapih sendiri saat ia udah siap.”, ujar seorang kawan.

Beberapa saran menyapih dari komentar teman-teman di Facebook yaitu:

1. Kurangi frekuensi mimik secara bertahap, bisa dimulai saat siang hari. Proses saat malam hari lebih rumit karena anak lagi enak tidur lalu haus dan bakal crancky mencari mimik.
2. Beri pengertian ke anak bahwa sebentar lagi ia berusia 2 tahun yang artinya sudah besar dan tidak perlu mimik lagi.
3. Biasakan anak minum dari gelas/botol (boleh dengan sedotan). Saya pribadi tidak menyarankan memakai botol karena bakal timbul PR selanjutnya gimana supaya bisa lepas dari botol dot.
4. Memberi contoh tokoh idolanya sudah besar dan minumnya memakai gelas.
5. Olesi PD dengan lipstik, balsem, atau biji mahogani supaya anak ga doyan mimik. Huhuhu... cara ini kejaaaam tapi bagi sebagian anak berhasil.

Banyak ya cara menyapih. Saya cenderung memakai metode Weaning with Love (WWL) alias menyapih dengan cinta. WWL ini supaya si anak menyadari bahwa ia memang tidak butuh ASI lagi karena sudah tumbuh besar. Perjalananmu masih panjang, Nak!

Walk The Talk: Praktek Menyapih

Beberapa bulan sebelum memasuki ultahnya yang kedua, saya dan Ayah Sid sudah sounding ke dia. “Sebentar lagi Sid umur 2 tahun. Sid udah gede, ga mimik lagi sama ibu. Sid boleh minum air, jus, susu, dll. Yang mimik itu cuma adik bayi.”. Setiap saya ngomong gini, ia memperhatikan saya dengan seksama. Mata lebarnya seakan menyerap kata demi kata yang saya ucapkan. Pikir saya nanti tepat di usia 2 tahun, ia akan berhenti minta mimik.

Frekuensi menyusui juga saya kurangi. Stok makanan dan minuman kesukaan harus ada supaya ia selalu kenyang dan lupa minta mimik. Karena jarang minum ASI, ngemilnya makin banyak. Pokoknya harus rajin disodori makanan. Ia tipe yang suka makan berbagai jenis makanan asalkan bukan nasi. Di rumah udah siap kacang hijau, ubi, labu, kentang, buah-buahan, kue kering, dsb. Ini buat pasokan ngemil emaknya juga sih, hehehe.

Sebenarnya Sid bisa tidur tanpa saya. Waktu itu ia ikut ayahnya ke tempat saudara. Memang proses tidurnya lebih lama. Ia seperti gelisah guling sana sini mencari ibu. Namun karena kecapekan, ia pun bisa tidur siang dengan nyenyak.


Tantangannya itu saat kami hanya berdua di rumah. Ia cenderung minta mimik sambil pasang wajah manis. Kadang saya ga fokus karena mengurusi pekerjaan atau sok sibuk apalah jadinya ia bisa nggelendot manja mimik ASI. Tapi kalau di rumah nenek atau kumpul dengan banyak saudara, ia asyik bermain dan lupa mimik. Palingan saat ngantuk ia minta mimik untuk pengantar tidur. Dari sini saya simpulkan sebenarnya ia mimik untuk mendapatkan kenyamanan.

So, gimana menciptakan rasa nyaman tanpa mimik? Sounding Sid sudah besar dst tetap saya lakukan. Menjelang tidur siang saya tambahi, “Meski Sid ga mimik lagi, Ibu tetap sayang sama Sid. Sebelum tidur, Ibu usap-usap aja ya punggungnya.” dan berbagai rayuan maut + peluk + cium supaya ia merasa nyaman. Berhasil? Ga! Dia tetap menangis sampai berurai air mata minta mimik. Duh, diapain lagi ya?


Malam harinya saya makin menguatkan tekad. Harus dicoba supaya tidur tanpa mimik. Ia mengajak tidur lebih awal. Matanya sudah mengantuk setelah lelah bermain seharian. Meski demikian, saya mengajaknya membaca buku. Saya ajak ngobrol sambil menunjuk berbagai gambar menarik di buku itu. Ia sudah minta mimik tapi saya ulur-ulur supaya ia super ngantuk. Setelah tamat, ia mulai menangis minta mimik. Saya rayu segala hal tetapi ia tetap menangis. Eh kok ya saya dapat ide buat izin ke toilet. Ia mengiyakan dan sendirian di kamar menunggu saya balik dari toilet.

Saya sengaja berlama-lama di luar kamar untuk melihat responnya. Apakah ia akan menangis memanggil ibu? Dari balik pintu saya mendengar ia ngobrol sendiri di kamar padahal tadi ia menangis minta mimik. Hmm... Sekitar 15 menit kemudian perlahan saya buka pintu kamar dan ternyata ia pulas tertidur. Alhamdulillah, malam pertama bisa tidur tanpa diawali mimik. Yes!


Ini masih awal dari tahapan sukses menyapih dengan cinta. Semoga selanjutnya Sid bisa konsisten tidur sendiri tanpa mimik. Semoga juga saya dan para tetangga kebal terhadap tangis rayu dia saat merengek minta mimik. Ceritanya bakal saya sambung kalau ada progress positif. Doakan sukses, ya!

Bersambung...
56 comments on "Tibalah Saatnya Menyapih dengan Cinta (1)"
  1. Aku masih belum tegaaa, padhl asi udh gk keluar. Hiks. Tp sekalin besarnya kehamilan, kayaknya aku udh mulai ngerasa kontraksi dikit klo dimimik ranu. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar Ranu juga ngerti kalau mau jadi abang udah ga mimik lagi. Sehat-sehat yaa semuanya

      Delete
  2. Semoga sukses dedek Sid. Pasti bisa kok. Fahmi aja waktu itu hanya dua malam saja minta susu. Malam ketiganya tidak dan pagi2 baru ditawarkan minum susu kental lancar deh sampai sekarang ga ada drama atau tipu2an :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih Fahmi pinter ya udah ngerti jadi ga pake drama

      Delete
  3. semoga nyapihnya lancar no drama n anak sehat terus yah...aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... dengan pelan-pelan menyapih gini berasa dia jadi lebih banyak makan. Alhamdulillah

      Delete
  4. Kalau saya, dulu waktu mau nyapih, dilakukan bertahap, Mbak. Sedikit-sedikit frekwensi nenennya di kurangi, diganti dengan cemilan.
    Sabar ya Mbak...semoga proses nyapihnya lancar

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang lagi kurangin frekuensi mimik. Yup harus siapin stok makanan yang banyak buat mengalihkan perhatiannya, hehe

      Delete
  5. Asik kalau menyapih nggak pakai drama ya mba. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasian juga kalau sampai anak nangis rewel

      Delete
  6. Saya kurang paham, blm jadi ibu soalnya. tp keluarga kebanyakan udah proses menyapih saat usia anak 1 tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. buat belajar kelak. Sekarang jalan-jalan dulu aja, heheh

      Delete
  7. jadi inget dulu anak ke dua, gagaaal teruus sampai lima kali...gak tegaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang dari sisi ibu harus ikhlas supaya proses ini berhasil yaa

      Delete
  8. Ditunggu cerita selanjutnya... tekad saya belum kuat nih untuk mulai...makanya baca2 cerita tmn2 yg menyapih. Tfs ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. whaaa sama-sama ya kita harus yakin bahwa kita bisa dan anak udah bisa tanpa ASI. Kan udah gede...

      Delete
  9. Semangaaat, mba Helena.
    Menyapih dengan cintah in syaa allah berjalan lancar kalau Ibunya konsisten sounding seperti yang mba Helen ceritakan.

    Salam sayang untuk Sid.

    ReplyDelete
  10. aku berhasil menyapih Raya pas umur 2,5th.. awalnya pelan2, tapi kok ngga bisa lepas hahahaha, akhirnya pake strategi tutup puting pake plester dan berhasil! Raya ngga tega liat aku yg katanya sakit (karena pake plester) dan bobo malem hanya minta di peluk & di pokpok aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi Raya ternyata pake adegan plester gini tapi berhasil ya

      Delete
  11. Selamat yaa sid udah sukses disapih

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh masih proses, bersambung kayak sinetron. hihi

      Delete
  12. Kalau Maxy dulu berhenti sendiri krn aku hami adeknya jd kyknya ASInya mungkin udah kering sendiri.
    Kalau Dema dramanya pun ada tapi gak lama.Soanya kusounding sejak lama
    Skrng iseng suka nyodorin nenen dia nyengir aja haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah Dema, ajarin Sid dong supaya berhenti mimik

      Delete
  13. kayaknya setiap ibu pasti gak tega kalau mau menyapih. aku dulu bilang ke anakku 'kita cuma berganti kebiasaan. yang dulunya nenen, sekarang udah ngga. mami tetep sayang kamu'.
    Alhamdulillah aku lancar menyapih, cuma awal-awal aja yang suka sedih sendiri huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhuhu... aku pun tiap hari bilang gini sambil peluk Sid. Semoga dia paham yaa

      Delete
  14. Kalau Shakila dulu disembur gitu jadi berenti nenen dan kalau Kezia berhenti sendiri waktu saya alergi obat bruntus-bruntus jd dia ga mau nenen.

    Btw tipsnya oke nih catet lah ya kali aja nanti punya baby lagi *ehh hahah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. weh pake disembur segala, yang ada Sid malah ketawa-ketawa dikira main air

      Delete
  15. annasya, belum nih, baru masuk setahun...sabar ya emaknya

    ReplyDelete
  16. semangat ya say, semangat juga buah nambah adik buat Sid

    ReplyDelete
  17. Yeayyy... Selamat mba helena
    Sukses nyapih tanpa drama. Emang sounding ke anak itu perlu banget. Nie aq masih di tahap bagaimana biar anak gak gigit puting pas mimik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihih belum 100% sukses, lagi kurangin frekuensi pelan-pelan

      Delete
  18. Semangaaat menyapiih maminya sid. Dulu waktu menyapih Ferdi 11 th lalu, aku belom kenal grup afb & belum kenal wwl. Sempat salah strategi, PD aku balurin buah mahoni yg pahit, sesuai saran tukang jamu. Ampuh, Ferdi langsung ga mau nyusu sama sekali. Tapi kemudian aku agak menyesal, hal itu berpengaruh banget ke kepribadiannya, dia jadi anak yg kurang peragu, huhuhu.
    Waktu menyapih Falda 7 th lalu, aku sudah kenal wwl, tapi baru mulai menyapihnya telat, 2,5th, dan baru berhasil lepas setelah 2th 10 bln! Itu pun pakai bantuan suami. Suami yg handle Falda saat akan tidur malam. Akhirnya ya kebawa sampai sekarang :), puk puk punggung, dongeng, atau menemani tidur sampai Falda pulas

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwaaa Mba Maya udah pengalaman dengan 3F nih. Katanya sih tiap anak siap disapih di umur yang berbeda-beda so enjoy aja kali yaa

      Delete
  19. iya betul mbak menyapih harus dengan penuh cinta, kalau tidak jarang berhasil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. daripada si anak merasa disingkirkan, eh dicuekin sama ibunya

      Delete
  20. Terimakasih bun tipsnya. Persiapan buat saya menyapih nanti 😃

    ReplyDelete
  21. Anak kedua saya udah 2 tahun juga tapi belum mulai saya sapih meski saya yang udah mulai ga nyaman nyusui dia tapi saya biarin aja. Maunya sampai dia berhenti sendiri tapi ga tau nanti endingnya gimana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. antara tega - ga tega gitu ya. Aku menguatkan diri supaya ikhlas dan tega meski si anak rewel minta mimik

      Delete
  22. mak..tetanggaku di Medan anaknya udah umur 2 tahun setengah masih nyusu ASI, geli aku mak ngeliatnya soalnya anaknya gede hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ketemu Sid, ingetin dia udah gede yaa, malu masih mimik

      Delete
  23. Waaah SID udah gede, gak kerasa ya...Semoga sukses mbak proses penyapihannya.

    ReplyDelete
  24. Semangat . semoga bisa lepas dari mimik

    ReplyDelete
  25. 4 bulan lagi saya juga akan menyapih si kecil Fakhira, makasih ya sharingnya membantu sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti udah mulai sounding yaa supaya si kecil siap mental

      Delete
  26. Anak pertama pakai drama, karena disapih menurut ajaran tetangga di kasih daun super pahit sambiloto, dia kapok mimi tapi tantrum setiap jam 1 malam.

    Anak kedua, pelan2 , pakai bahasa cinta. bilang ia sudah besar, mama juga lagi hamil ada bayi di perut. sukses ga pakai drama.

    anak ketiga masih asi ekslusif.

    semoga sid anak pinter ya , mau dengar kata bundanya, bahwa sid sudah besar. sering2 diucapkan saja Sid sudah besar. nanti sid paham sendiri. dan tantrum malam hari, anak kedua ku juga masih padahal mau tiga tahun. Nanti bertambahnya aktivitas hilang sendiri Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin. makasih sharingnya ya mba. Ini terus sounding ditambah keluarga juga sounding terus ke Sid bahwa dia udah gede. PRnya emang di bagian kalau malam masih terbangun minta mimik

      Delete
  27. Memang kudu sabar ya Mbak. Kasihan lihat anak yang nangis terus karena Ibunya gak mau ngasih ASI alasan lagi disapih

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar, tegas, dan konsisten. Ada lho tangisan anak yang bikin ga tega tapi sebenarnya dia cuma cari perhatian supaya bisa gelendotan sama emaknya.

      Delete
  28. Saya selalu salut melihat ibu-ibu (juga bapak-bapak) yang jungkir balik di tengah kesibukan kerjanya tidak lupa untuk menyediakan waktu/pumping demi tercapainya kelulusan ASI 2 tahun. Tidak jarang saya melihat bapak-bapak yang sengaja keluar makan siang mengorbankan waktu makan siangnya untuk mampir ke kantor istrinya lalu mengirim ASI ke rumah (karena kebetulan lokasinya reachable satu sama lain)(walau tak bisa dikatakan dekat banget juga)

    Dan jika sudah sampai waktu 2 tahun saya bisa merasakan betapa sulitnya si anak lepas dari kenyamanan tersebut.
    Tapi dengan variasi makanan yang ada rasanya nutrisi fisik bisa ditanggulangi. Cuma pelukan dan belaian saja yang tidak akan pernah tergantikan.

    Salam saya Mom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sharingnya Pak. Sekarang udah ada jasa kurir pengantar ASIP dari kantor ke rumah yang sangat memudahkan. Dukungan banyak pihak memang penting demi tercukupinya nutrisi bayi selama ASI.

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature