Tolong, Saya Terjebak di Lift!

Thursday, May 12, 2016

Musibah memang datang tanpa kulo nuwun atau kode-kodean. Lima menit yang lalu saya masih di depan ATM dan kini di dalam lift yang pintunya tidak mau terbuka. Yap, judulnya terjebak di lift. Saya tidak sendiri, ada Sid yang duduk di kereta dorongnya. Awalnya kami bertiga dengan seorang wanita yang turun terlebih dahulu di lantai 8. Saat ibu ini turun, ia kaget karena lift berhenti sedikit di atas lantai yang seharusnya. Mungkin sekitar 5 cm. Saya pun tidak berpikiran buruk bahwa semenit kemudian giliran saya yang terkejut.

Layar di lift menunjukkan lantai 9, masih dua lantai lagi menuju tujuan. Tiba-tiba lift berhenti dan tombol deretan angka mati. Saya tekan angka 11, tak ada perubahan. Pikiran teringat pada selembar kertas berlaminasi yang biasanya ditempel dekat tombol. Isinya mengenai prosedur bila lift macet. Lho, kok ga ada? Di saat beneran terjadi malah kertasnya sudah hilang. Tenang…supaya bisa berpikir jernih. 
Baca dan pahami prosedur dengan baik

1 dan 2, selesai. Saya pun menekan tombol telepon berwarna kuning. Terdengar nada tunggu. Tut..tut..tut.. Coba lagi dan lagi, tidak ada jawaban. Beralih ke tombol alarm berwarna merah. Terdengar suara sirine di dalam lift. Eh suaranya cuma di sini atau sampai keluar? Kalau hanya di dalam, sama saja dong. Sesekali saya menengok Sid. Ia masih duduk manis sambil melihat saya yang mulai heboh. Di saat yang bersamaan, teman saya menelepon. Kami memang janjian bertemu. Wah tumben di lift ada sinyal. Saya pun meminta pertolongan dia untuk melapor ke satpam. Sinyal HP kedap-kedip, bismillah semoga pesan saya jelas terdengar.

Selama menunggu kabar dari teman, saya tetap memencet tombol telepon dan alarm bergantian. Lalu terdengar langkah kaki dari luar lift. Hmm…sepertinya ada yang sedang menunggu lift. Saya pun menggedor-gedor pintu lift sambil berteriak “Tolong, liftnya macet!”. Syukurlah setelah berberapa kali meminta tolong, terdengar jawaban dari seberang pintu. Seorang wanita yang menjawab akan segera memanggil satpam.
Pencet terus tombol alarm dan telepon

Sid mulai bosan di dalam ruang sempit ini. Ia berteriak dan minta turun dari kereta. Saya menawarkan makanan, yang kebetulan dibawa, namun ia menolak. “Sabar ya nak. Sebentar lagi keluar.”, ujar saya menenangkannya. Dalam hati terbesit hal negatif. Bagaimana kalau liftnya jatuh seperti di film-film? Bagaimana kalau bantuan tak kunjung datang dan kami kehabisan oksigen seperti di film-film? Untung berbagi oksigen hanya berdua. Kalau liftnya penuh orang dan macet?

*Ting*

Derap kaki sekelompok orang terdengar. Lalu ada suara kunci dimasukkan dan pintu lift pun terbuka. Kembali saya terkejut karena lift yang macet ini berhenti sekitar semeter sebelum tempatnya. Empat lelaki yang terdiri dari satpam dan teknisi nampak di pintu. Saya pun bersiap keluar. Eits, mas teknisi malah menyuruh saya tetap di dalam. Ia berusaha mempelajari hal yang membuat lift ini macet. Lha…saya sudah tidak sabar menghirup udara bebas kok dilarang? Setelah dilakukan pengecekan, lift ini memang rusak dan tidak bisa segera diperbaiki. Saya dan Sid pun diperbolehkan keluar dan berganti menggunakan lift sebelah. Alhamdulillah leganya. Saat keluar lift saya sempat mendengar pembicaraan para teknisi kalau hari ini tidak ada yang berjaga di ruang operator. Pantas saja hanya terdengar nada tunggu saat saya menekan tombol telepon. Sedangkan tombol alarm tersambung ke pos jaga satpam. CCTV? Ada tapi saya sangsi apakah ada petugas yang fokus mengawasinya. Paling-paling kalau ada masalah baru dicek rekamannya.

Baca juga: Melawan Seismophobia

Dari peristiwa once in a lifetime tersebut (amit-amit jangan terulang), saya belajar beberapa hal penting mengatasi kondisi darurat serupa. Apapun yang terjadi tetaplah tenang. Syukur Sid tidak terlalu rewel saat terjebak di lift. Di tempat-tempat umum perhatikan prosedur keselamatan yang ada. Contoh lain seperti petunjuk letak tangga darurat terdekat, titik berkumpul saat gempa, letak Alat Pemadam Api Ringan (APAR), dan lain sebagainya. Saat keadaan normal mungkin kita kurang peduli. Namun bila ada bencana atau keadaan darurat bisa sangat membantu. Bawa handphone untuk menghubungi nomer penting (keluarga, teman, pihak keamanan, dll). Setelah berusaha, berdoalah. Serahkan semuanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ada tips lain? Atau punya pengalaman serupa?
10 comments on "Tolong, Saya Terjebak di Lift!"
  1. Serem dah Mba kalo terjebak di lift. Aku sering nih krn tinggal di apartment dan biasanya sebulan sekali langganan lift macet. Apalagi bawa anak ya. Degdegan jd dobel. Thanks tipsnya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kalau udah biasa jadi santai kali ya, heheh.

      Delete
  2. Ya ampuun, ngeri..kalau ada pilihan lain, saya suka menghindari lift yang tertutup Mba, apalagi kalau sendirian, takut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah masalahnya lift-nya tertutup semua. Kalau yang model kaca transparan lebih aman ya

      Delete
  3. Walah kalo saya yang kejebak di lift mungkin udah panik soalnya emang panikan orangnya. Selain itu rada gimana gitu kalo di ruangan sempit, nggak begitu suka.

    ReplyDelete
  4. astaga mbak, kejadian sama dengan aku, makanya aku mah trauma banget, makanya sekarang aku kalau naik lift harus ada temennya. Inget lagi wawancara kerja di lantai lima, tp nunggu2 gak ada ornag yang naik, akhirnya aku naik tangga saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan ya mbak naik 5 lantai. Waktu interview apa ga pucat setelah "pemanasan"

      Delete
  5. Alhamdulillah dari dulu gadibolehin sama ortu naik lift kwkwk, kata beliau mending makek tangga ato tangga berjalan itung2 sekalian olahraga hehehe. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhaaa kalau gedungnya sampai lantai 20 gimana? *pingsan*

      Delete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature