Life of Happy Mom - Personal blog about parenting, health, and upside down of life.

7 Pelajaran yang Orang Tua Dapatkan dari Anak

Monday, November 20, 2017
Hidup saya berubah, sangat berubah, semenjak memiliki SID. Saya pernah menuliskan perubahan ini di “Nak, Hanya Ini yang Dapat Ibu Lakukan untukmu Hari Ini”. Hari-hari yang kami lalui menjadi lebih semarak dengan kejutan yang kadang berwarna terang, namun kadang suram. Begitulah hidup.


Namun setiap harinya saya belajar hal-hal baru dari interaksi dan pengamatan akan anak paling ganteng nan sholeh bernama SID. *bolehlah memuji anak sendiri daripada ga ada yang memuji. SID menjadi guru supaya saya lebih baik mengemban amanah menjadi orang tua. Tak hanya itu, ia melatih kepribadian saya agar semakin berada di jalan yang lurus. Beberapa pelajaran yang saya petik dari anak, adalah:


1. Menikmati hidup

SID nampak menikmati permainan sederhana atau hal-hal yang menurut ia menarik. Ia bisa sangat sibuk bermain kantong kresek. Dipakai di tangan, di kepala, diletakkan, dipakai lagi, dan seterusnya. Jika tak ada mainan, ia dapat bernyanyi sambil memukul-mukulkan tangan di paha seperti perkusi. Ga perlu fancy things (umm…sesekali bolehlah). Saat ia tertawa, saya pun ikut tertawa.

2. Cepat move on

Sedih hingga menangis mewarnai hari-hari SID. Misalnya saat ia jatuh dari sepeda. Namun tangisan itu hanya berlangsung sebentar. Ia dapat bangkit dan melanjutkan aktivitas seperti kejadian barusan tak pernah terjadi. Nah, anak-anak aja mudah move on dari kesedihan. Yang udah gede masa’ berlarut-larut mikirin masa lalu yang ga bakal kembali?


3. Memandang dunia

Dalam kelas Creativity, Prof. Tina Seelig mengingatkan agar melihat sesuatu bagai hal baru yang kita temui. Cara pandang ini seperti cara anak-anak melihat dunia. Saya makin memahami hal tersebut ketika memiliki anak. Saat saya melihat tiang-tiang dengan handuk yang menggantung, saya menyebutnya gantungan handuk. Namun bagi SID, itu adalah motor. Dengan imajinasinya, ia mendorong gantungan handuk berkeliling ruangan bagai naik motor. Amburadul, yes! Namun di sisi lain saya kagum dengan kreativitasnya.

Cara ini bermanfaat ketika kita menghadapi masalah yaitu dengan melihat lebih detail suatu masalah, menemukan sisi lain atau sudut pandang lain masalah, dan reframing problem. Dengan cara tersebut dapat memunculkan solusi-solusi beragam yang belum pernah dicoba sebelumnya.

4. Konsisten dan disiplin

Saya reflek membuang serpihan makanan ke tanah. Kemudian saat SID hendak melakukan hal serupa, saya minta ia membuang ke tempat sampah. Ia berkata, “Kok Ibu tadi buang ke sana?”. Oops! Bagaimana mengajarkan hal yang benar sedangkan diri sendiri tidak memberi teladan yang baik?


5. Berempati

Anak yang susah makan itu bikin bete banget. Ibu bisa-bisa ga mood makan juga. Ketika SID menolak makan, saya menenangkan diri kemudian bertanya alasannya. Mungkin ia sakit, tidak cocok dengan menu, atau sudah kenyang makan snack. Di sini saya belajar berempati, tak hanya memaksakan kehendak agar harus makan dengan cara apapun.

6. Sabar

Berhubungan dengan poin di atas, mengurus anak perlu kesabaran ekstra. Ga mungkin anak selalu manis sepanjang hari. Tingkah lakunya upside-down yang membuat tertawa namun kadang menjengkelkan. Rasanya mau menempel tulisan SABAR gede-gede di rumah supaya saat ia bertingkah di luar ekspektasi, saya teringat untuk bersabar.

7. I’mpossible

Anak terlahir hanya bisa telentang. Lalu ia belajar berguling, tengkurap, duduk, berjalan, dan seterusnya. Ia tak begitu saja bisa berjalan dengan lancar. Ia pernah jatuh berkali-kali dalam berbagai posisi. Rasa sakit seperti tidak terlalu ia rasakan (efek terganjal popok juga kali ya).Menyaksikan proses belajar berjalan anak membuat saya kagum dengan kegigihannya. Ia berlatih dan mencoba terus meski gagal berkali-kali hingga akhirnya langkah demi langkah dapat ia lalui. There is no impossible but I’m possible!


Banyak hal-hal lain yang saya pelajari dari SID selama ini. Ketujuh poin di atas hanya sebagian yang terlintas.

Anak tidak selalu menurut, patuh, dan diam. Saya malah curiga saat rumah dalam keadaan sepi. SID ngapain nih? Terlepas dari crancky, tantrum, ataupun kata “Tidak” yang kerap muncul dari mulut SID, saya begitu menyayanginya. Raising kids need unconditional love. Ini mantra yang saya tanamkan ke diri ketika emosi mulai naik. Menyayangi anak tidak hanya ketika ia nurut atau bersikap manis.


Pada peringatan Hari Anak Sedunia yang jatuh pada 20 November, saya ingin berterima kasih kepada SID dan anak-anak di seluruh dunia yang telah mengajarkan pelajaran hidup kepada saya. Kalian adalah guru-guru kecil saya. Tumbuhlah dalam kesehatan dan kebahagiaan.
7 comments on "7 Pelajaran yang Orang Tua Dapatkan dari Anak"
  1. Setuju sama smeua poin2nya mba dan justru aku sebagai ibu banyak belajar dari anakku semoga anak2 kita sehat y mba dan tumbuh berkembang menjadi anak yang sesuai harpan dan doa yang selalu kita panjatkan aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Betul Mbak, mereka tuh guru kecil

      Delete
  2. wwah menarik banget nih mbak....im possible catet

    ReplyDelete
  3. Anak2 memang guru terbaik untuk orangtuanya. Belajar jadi lebih sabar sejak ada anak ya.

    ReplyDelete
  4. Huhuw tulisannya baguuus ibuuuukk.. :D Aku jadi inget Boo sama Mika.. Bener banget tuh yang move on. Lah baru nangis udah langsung ketawa, baru ketawa bisa langsung ngerengek.. wkwkwk.. :D Btw, nama lengkapnya SID apa ciii? Bubu penasaran.. hahaha

    ReplyDelete
  5. Sepakat mba, banyak hal yang bisa dipelajari dari kepolosan anak-anak. Yang jelas memiliki anak melatih kesabaran yah

    ReplyDelete
  6. Bacaan pagi liat2 sid lagi 😁....semangaaaat

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature