Terinspirasi Pokemon Go, Tim Papua menyabet 100juta rupiah di ajang FWD Hackaton 2017

Wednesday, September 27, 2017


FWD Life umumkan pemenang FWD Hackaton 2017

Khawatir ga sih melihat anak-anak sekarang demennya pegang gadget. Ga mau diajak bersepeda malah lebih asyik mojok di kamar main game. Saya yang memiliki anak batita juga khawatir melihat SID tiap hari minta nonton YouTube. Kalau dilarang, dia bakal menangis meraung-raung.

Saya ingat betul kata seorang psikolog bahwa anak usia 2-5 tahun sebaiknya screen time dibatasi 1 jam per hari. Perbanyaklah aktivitas fisik. Nah, main gadget boleh tetapi ada batasnya. Ini supaya anak tetap sehat bergerak.
FWD Life umumkan pemenang FWD Hackaton 2017
Eh tapi main game juga memiliki dampak positif lho. Baru-baru ini sekelompok anak muda di Jakarta mendapatkan 100juta rupiah karena terinspirasi game Pokemon Go! Simak kisahnya berikut ini.
 Minggu, 24 September 2017 lalu ruangan Kejora Venture di Wisma Barito Pasific, Jakarta menjadi saksi lahirnya inovasi-inovasi di bidang fintech. Selama 22-24 September 2017 tengah berlangsung final FWD Hackaton 2017 yang diprakarsai oleh PT. FWD Life Indonesia (FWD Life), perusahaan asuransi jiwa patungan bagian dari FWD Group.
FWD Hackaton merupakan ajang hackaton pertama yang diselenggarakan perusahaan asuransi. Ajang ini telah berlangsung sejak Agustus 2017 dan diikuti oleh 286 pendaftar dari seluruh Indonesia. Dari inovasi-inovasi yang masuk, FWD Life dan Founder Institute Jakarta memilih 12 inovasi teknologi digital yang dipertarungkan di babak final. Selama sekitar 3 hari keduabelas tim tersebut menggodok ide dengan lebih matang didampingi mentor-mentor yang expert di bidangnya.

Di hari terakhir, 12 tim mempresentasikan inovasinya satu-persatu di hadapan juri. Ada teknologi untuk menghemat penyimpanan data, memudahkan membeli travel insurance, membantu agen asuransi dalam menawarkan produk yang tepat, dan lain sebagainya. Ide-idenya sangat kreatif dan inovatif! Kalau terwujud bisa memudahkan berbagai persoalan seputar dunia asuransi.

Final pitch di depan dewan juri
Dewan juri terdiri dari Andy Zain dari Founder Institute Jakarta, Ari Juliano Gema dari Badan Ekonomi Kreatif RI, M. Aji Suleiman dari Fintech Indonesia, dan Izak Jenie dari JAS Kapital. Mereka melontarkan pertanyaan kritis dan komentar pedas. Saya sebagai penonton ikut deg-degan menyaksikan final pitch tiap grup.

Kemudian dewan juri masuk ke VIP room untuk merundingkan pemenang. Sementara itu para peserta bersantai sejenak menikmati coffee break. Tapi sepertinya mereka ga bisa makan dengan tenang meski konsumsinya enak karena kepikiran siapa yang juara.
Sst...dewan juri sedang kebingungan memilih pemenang FWD Hackaton 2017
 Lalu sekitar pukul 16.30 WIB semua peserta diminta berkumpul di ruangan yang selama 3 hari terakhir menjadi tempat mereka brainstorming. Wajah para peserta tegang menunggu pengumuman dari MC. Dan pemenangnya adalah:

  1. Juara pertama: Tim PAPUA dengan aplikasi FWD Go untuk menemukan rumah sakit dan agen asuransi terdekat memakai teknologi augmented reality.
  2. Juara harapan: Tim EVA dengan chatbot yang mempermudah proses berasuransi mulai dari informasi produk sampai klaim.
  3. Juara harapan: Tim LIFE dengan aplikasi edukasi untuk anak menggunakan permainan.

Juara pertama mendapatkan uang tunai 100juta rupiah dan mengikuti program akselerasi Founder Institute. Selain itu satu perwakilan dari tim pemenang akan terbang ke Silicon Valley untuk belajar pengembangan bisnis. Sedangkan masing-masing juara harapan mendapat uang tunai 10juta rupiah. Wow, hadiahnya gede banget! Pas buat anak muda kreatif yang #BeraniWujudkan ide-ide inovasi mereka di bidang asuransi.
Tim EVA sebagai juara harapan FWD Hackaton 2017
Tim LIFE sebagai juara harapan FWD Hackaton 2017
FWD Hackaton 2017 ini baru pertama kali digelar namun mendapat sambutan yang luar biasa dari para peserta yang antusias menyalurkan idenya. Wakil Presiden Direktur FWD Life Rudi Kamdani menuturkan bahwa ajang FWD Hackaton 2017 merupakan bukti kekuatan kreativitas para generasi muda untuk melahirkan karya-karya teknologi yang inovatif dan memiliki dampak ekonomi, khususnya untuk membantu peningkatan penetrasi asuransi di Indonesia.


Kompetisi FWD Hackaton 2017 hanyalah awal dari gerbang ide inovasi digital asuransi. Selanjutnya ide yang ada akan diwujudkan menjadi produk siap pakai yang membantu masyarakat maupun perusahaan asuransi dalam menggunakan asuransi. Director of Founder Institute Jakarta Andy Zain menjelaskan bahwa inovasi Tim PAPUA akan kembali dikembangkan menjadi suatu sistem navigasi yang memiliki manfaat real bagi proses berasuransi yang inovatif bagi FWD Life melalui program akselerator Founder Institute.

Director of Founder Institute Jakarta Andy Zain, Wakil Presiden Direktur FWD Life Rudi Kamdani, dan MC

 

Inspirasi Tim PAPUA Dibalik Aplikasi FWD Go

Senyum merekah dari wajah tim PAPUA ketika MC mengumumkan mereka sebagai juara pertama. Bagai kejatuhan durian runtuh di siang bolong mereka mendapat hadiah 100juta rupiah dari ajang bergengsi FWD Hackaton 2017. Selepas penerimaan hadiah secara simbolik, saya sempat mewawancarai Muhamad Tohir, salah satu anggota tim PAPUA yang baru menamatkan studinya di STIS.
Tim PAPUA bersama Rudi Kamdani dan dewan juri
Tim PAPUA alias Paten PUnya Aplikasi terdiri dari 6 orang yang sebenarnya gabungan dua kelompok. 3 orang merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS Jakarta) sedangkan 3 orang lagi adalah ibu dan dua anak.

Hakiki Sandika Raja, Muhamad Tohir, dan Nur Imron Suyuti bukan mahasiswa jurusan IT tetapi mereka menyukai programming. Selama ini mereka mengembangkan startup di bidang pendidikan bernama Fanalyst. Ketika mengetahui ada FWD Hackaton, mereka tertarik mendaftar meskipun minim pengetahuan tentang asuransi. Dari anggota tim hanya satu yang pernah memakai asuransi yaitu Nur Imron Suyuti tetapi mereka percaya diri. Pada sesi mentoring bersama FWD Life, mereka semakin memahami dunia asuransi.

Tiga anggota tim yang lain tak kalah istimewa yaitu seorang ibu dengan putra dan putrinya yang masih remaja. Bu Mercy, Andre, dan Christin semakin melengkapi Tim PAPUA. Saya kagum dengan Ibu Mercy yang mendukung passion anak di dunia digital.

Lalu bagaimana dengan aplikasi buatan tim PAPUA yang mampu memikat para juri?

Sakit bisa datang kapan saja. Ketika akan berobat, terkadang pasien kesulitan mencari rumah sakit mana yang bekerja sama dengan asuransi yang ia miliki. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PAPUA membuat aplikasi FWD Go yang mampu mendeteksi rumah sakit terdekat dalam jarak 5 km. Apabila tidak ditemukan atau dalam keadaan gawat darurat, pasien dapat menekan “panic button” yang akan mengirim informasi ke rumah sakit atau pihak asuransi supaya pasien segera tertolong. Dalam presentasinya, tim PAPUA menunjukkan aplikasi tersebut ke hadapan juri. Panic button akan mengeluarkan sirine ketika ditekan. Wah idenya kreatif ya!

Aplikasi FWD Go ini terinspirasi dari permainan yang sempat populer beberapa bulan lalu yaitu Pokemon Go dengan menggunakan augmented reality. Di sini terbukti kan bahwa gadget tidak melulu berdampak buruk bagi perkembangan anak. Apabila gadget dimanfaatkan untuk hal positif, bisa menghasilkan ide aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kejora Venture sebagai tempat babak final FWD Hackaton 2017
 Sekali lagi selamat ya buat tim PAPUA, tim EVA, dan tim LIFE. Semoga pengembangan bisnisnya berjalan lancar untuk memecahkan berbagai persoalan sehari-hari. Saya ga sabar menunggu FWD Hackaton berikutnya. Ide-ide inovatif apalagi yang akan disajikan para peserta. Berada di tengah-tengah ajang FWD Hackaton membuat saya semakin bangga dengan generasi muda Indonesia yang kreatif. FWD Life juga ngerti banget ya cara mewadahi kreativitas anak muda yang tech savvy.
12 comments on "Terinspirasi Pokemon Go, Tim Papua menyabet 100juta rupiah di ajang FWD Hackaton 2017"
  1. Acara yang keren, semoga tahun delan diadaksn lagi supaya banyak anak muda berbakat bisa mengeksplore bakat mereka di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes semoga jadi ajang tahunan buat kreativitias generasi muda yang melek teknologi

      Delete
  2. suka banget dengan ajang keren FWD ini, sampai kagum deh mengetahui anak2 Indonesia pada jago buat aplikasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih muda...Ada yang SMA dan mahasiswa tapi prestasinya patut diacungi jempol!

      Delete
  3. Keren loh tim Papua, idenya pakai Augmented Reality gitu yaa

    ReplyDelete
  4. anak muda zaman sekarang kreatif dan inovatif. Semoga starup tambah maju

    ReplyDelete
  5. Duh acaranya keren banget FWD niy apalagi menjadikan ajang anak muda berkreassi dan berkarya. Btw itu yang juara tim papua, hadiahnya mupeng banget! Bolehlah aku nyempil di sanaah eeaa

    ReplyDelete
  6. Bangga n salut melihat prestasi anak bangsa yang memiliki karya luar biasa

    ReplyDelete
  7. Masya Allah ke Silicon Valley ♡
    Semoga makin berkah yaa tim Papua ^^

    ReplyDelete
  8. Wah keren, kebayang yg augmented reality udah implementasi pasti ngebantu banget pas nyari agen/rs terdekat.

    ReplyDelete
  9. Salut sama ibu mercy... Keren ya ingin deh seperti nya jadi ibu dunia digital gitu hehehe

    ReplyDelete
  10. Wow! Bu Mercy keren banget ya! Salut. Mendukung passion kedua putranya hingga ikut bergabung ke dlm tim Papua. Ini aplikasi pasti akan berguna banget. Tak heran dewan juri memilihnya sbg juara. Kereeen?

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature