Kebutuhan Dasar dan Perilaku Anak Usia Prasekolah

Tuesday, September 26, 2017


Sejak menjadi orang tua, timbul satu sifat baru yaitu “lebih khawatir”. Kalau khawatir memang dari dulu ada meski jarang muncul. Namun sekarang saya menjadi lebih khawatir akan segala sesuatu terutama yang menyangkut tumbuh kembang anak. Saya lebih khawatir anak terjatuh, dipukul teman, sedih kehilangan sesuatu, dan lain sebagainya. Saya juga lebih khawatir ketika anak ga doyan makan sehingga berat badannya sempat stuck di bawah normal. Saking khawatirnya saya jadi bad mood seharian yang mengganggu relasi saya dengan anak.
 
Hal ini berbeda dengan suami yang nampak santai, entah bagaimana di dalam hatinya. Saat anak susah makan, ia bisa mencari cara supaya proses makan menjadi menyenangkan. Cowo gitu ya cara berpikirnya lebih simple tapi ngena. Atau… mungkin saya harus mengurangi rasa khawatir yang berlebihan supaya bisa berpikir lebih jernih menghadapi anak.

Perilaku Anak Usia Prasekolah yang aktif bereksplorasi
Rasa khawatir ini muncul salah satunya karena kurangnya ilmu yang saya miliki untuk mengasuh anak. Tiap hari saya bertanya-tanya, apakah selama ini saya telah memenuhi kebutuhan si Kecil? Atau usaha saya masih kurang? Bu ibu, do you feel the same way too?

Untuk menjawab hal tersebut, saya perlu mengetahui apa saja kebutuhan anak terutama di golden age. Saya pun menambah referensi melalui buku, ikut online course tentang early childhood education, dan bertanya ke teman yang lebih berpengalaman. Tapi rasanya kurang kalau belum dapat informasi langsung dari ahlinya. Lalu datanglah undangan dari Clozette Indonesia yang mengajak saya ke talkshow Parenting Club bertajuk “Kenali Perilaku Anak di Usia Pra Sekolah”.

14 September 2017 lalu saya dan SID menuju Harlequin Bistro, Kemang, Jakarta. Saya bersyukur talkshow kali ini boleh membawa anak, bahkan cenderung diwajibkan. Yang menarik, tempatnya terbagi menjadi dua ruangan yaitu parenting room dan stimulation room. Biasanya ketika SID ikut saya ke blogger gathering, ia akan duduk di sebelah saya atau bermain di sekitar venue. Kali ini berbeda. Anak-anak dan pendamping berada di stimulation room sementara si ibu menyimak talkshow di parenting room.

Saya cerita tentang parenting room dulu ya karena 90% saya berada di sini selama acara.

Kenali Kepintaran Anak dengan Smart Strength Finder

Tahu kan tiap anak tercipta unik dan #PintarnyaBeda. Ada yang pintar di musik, olahraga, matematika, dsb. Dari kecil kita sudah bisa melihat kecenderungan anak tersebut unggul di bagian mana melalui pengamatan setiap hari. Meski kepintaran ini masih bisa berubah-ubah, that’s okay. Yang penting bagaimana orang tua memberikan stimulasi dan kesempatan yang tepat untuk si anak bereksplorasi.
Parenting room bertema white and gold
Kepintaran anak dibedakan menjadi 8 macam, yaitu:

  1. Number smart
  2. Word smart
  3. Picture smart
  4. Music smart
  5. Body smart
  6. Nature smart
  7. People smart
  8. Self smart

Kedelapan kepintaran tersebut dapat dikelompokkan lagi ke dalam tiga kelompok besar yaitu kepintaran akal (no. 1-4), fisik (no. 5-6), sosial (no. 7-8). Diharapkan terdapat sinergi antara kepintaran akal, fisik, dan sosial supaya tumbuh kembang anak optimal.

SID pintar di bagian mana ya? Apakah sudah meliputi ketiga hal tersebut?

Di sini hadir Ayudia Bing Slamet yang berbagi info cara mengukur kepintaran Sekala (15 bulan). Ayudia menggunakan Smart Strength Finder tool di website Parenting Club ID by Wyeth Nutrition. Hasilnya, Sekala telah memiliki kepintaran number smart, music smart, dan picture smart.

Mbak Dwinta dari Parenting Club menjelaskan bahwa ketiga kepintaran yang dimiliki Sekala berada di kepintaran akal. Kepintaran fisik dan sosial perlu diberi stimulasi yang tepat secara terus menerus supaya timbul sinergi akal-fisik-sosial.

Smart Strength Finder tool ini dirancang oleh Thomas Armstrong, Ph.D. Kita bisa mengaksesnya secara gratis di parentingclub.co.id. Hanya perlu registrasi (dapat voucher belanja 50.000!) kemudian menjawab beberapa pertanyaan seputar kepintaran si Kecil.

Saya udah coba alat ini untuk melihat kepintaran SID. Kepintaran SID yang telah muncul yaitu self smart, music smart, dan number smart. Perlu dikembangkan kepintaran fisiknya nih supaya tercipta sinergi kepintaran pada diri SID. Panduan mengembangkan kepintaran juga sudah tersedia di website tersebut sesuai usia anak. Lengkap!
 
Hasil tes menggunakan Smart Strength Finder di Parenting Club ID

Banyak ide stimulasi kepintaran anak dari Parenting Club ID

Pentingnya Pemberian Stimulasi dan Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) telah dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Ga perlu nunggu anak lahir untuk diberi stimulasi. Selama masa kehamilan pun janin sudah bisa diajak ngobrol, diperdengarkan musik, dsb.

DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Ketuai IDAI Jaya, menjelaskan ada 3 kebutuhan dasar yang perlu 100% dipenuhi agar tumbuh kembang anak optimal. Ketiga kebutuhan tersebut berdampak besar pada perkembangan otak anak terutama di 1000 HPK karena pada masa tersebut otak berkembang dengan pesat, melebihi ketika dewasa. 3 kebutuhan dasar anak, yaitu:

1. Fisis biologis: nutrisi, imunisasi, kebersihan badan & lingkungan, pakaian bersih, pengobatan, olahraga, dan bermain.
Nutrisi yang diberikan harus mencakup gizi seimbang. Di 6 bulan pertama beri ASI eksklusif kemudian usia 6 bulan mulai MP-ASI. Pola makan dapat dilakukan 5-6 kali sehari dengan pembagian breakfast, morning snack, lunch, afternoon snack, dinner, dan evening snack. Sepertinya pola ini cocok untuk SID yang susah makan dengan memberi porsi kecil tapi sering. Tujuan makan ini tak hanya untuk mencukupi kebutuhan fisik anak tetapi juga mendidik kebiasaan makan yang baik dan sehat.

2. Stimulasi: sensorik, motorik, emosi, kognitif, mandiri, dan kepemimpinan.
Contoh untuk bayi umur 0-6 bulan dapat diberi stimulasi berupa:

  • Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang.
  • Menggantung benda berwarna cerah yang bergerak dan bisa dilihat bayi.
  • Menatap mata bayi dan mengajak tersenyum, berbicara, dan bernyanyi.
  • Mulai usia 3 bulan bawa bayi keluar rumah untuk memperkenalkan dengan lingkungan sekitar.

Perhatikan bahwa di usia 1 bulan bayi seharusnya bisa menatap ke ibu, mengeluarkan suara o… o…, tersenyum, dan menggerakkan tangan dan kaki. Pada usia 3 bulan bayi bisa mengangkat kepala tegak ketika tengkurap, tertawa, menggerakkan kepala ke kiri dan kanan, membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum, dan mengoceh spontan. Apabila belum bisa melakukan hal tersebut sebaiknya bayi dibawa ke dokter/bidan/perawat.

3. Kasih sayang: rasa aman, nyaman, dilindungi, serta pola asuh yang demokratik.

“Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan”
-Children Learn What They Live by Dorothy Law Nolte.

Perilaku Anak Usia Prasekolah

Capek mendengar pertanyaan anak? Semuanya ditanyakan, dari hal sepele sampai hal rumit yang perlu cari di Mbah Gugel atau buku ensiklopedi. Hihihi… Ternyata itu satu dari karakteristik perilaku anak usia prasekolah. dr. Rini menjelaskan dengan lengkap sampai saya banyak manggut-manggut karena perilaku ini saya jumpai pada SID sekarang ini.

Perilaku adalah berbagai respon yang terkoordinasi untuk beraksi atau tidak beraksi dari seorang anak (secara individu atau berkelompok) terhadap adanya rangsangan internal dan/atau eksternal. Respon yang terjadi bisa karena bawaan sejak lahir ataupun melalui proses belajar.
DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Ketuai IDAI Jaya
Dari segi akal, perkembangan anak usia prasekolah umumnya akan:

  • Banyak bertanya segala hal, termasuk yang sulit dijawab dan memalukan.
  • Belajar perbedaan antar orang.
  • Dapat mengingat lebih dari satu ide di satu waktu yang sama.
  • Belum dapat mengekspresikan apa yang terbayang di otak dengan yang sebenarnya terjadi.
  • Terkadang lambat membuat keputusan.

Dari segi fisik, perkembangan anak usia prasekolah umumnya akan:

  • Suka melakukan aktivitas lempar-tangkap.
  • Memiliki rasa percaya diri dan yakin akan kemampuan pergerakan fisik yang makin berkembang.
  • Eksplorasi pergerakan fisik semakin meningkat alias banyaaaak bergerak.
  • Seringkali salah menilai kapasitas diri sehingga berisiko mengalami kecelakaan akibat perilakunya sendiri. Ini seperti SID ketika akan melompati selokan ternyata kakinya nyangkut sebelah. Ga apa-apa, itu proses belajar.

Perilaku anak usia prasekolah (usia 3-6 tahun) ini penting dipantau karena inilah kesempatan terakhir untuk mengoreksi kekurangan kemampuan sebelum masuk ke usia prestasi di sekolah. Beberapa red flag atau tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Belum bisa memegang pensil dengan ibu jari dan telunjuk.
  • Kesulitan mencorat-coret.
  • Belum dapat membuat kalimat dari 3 kata.
  • Belum dapat meniru gambar lingkaran. Alur belajar bentuk yaitu dari lingkaran, kotak, kemudian segitiga.
  • Mudah distraksi dan tidak dapat berkonsentrasi pada sebuah aktivitas selama lebih dari 5 menit.
  • Tidak dapat menceritakan aktivitas sehari-hari.

Bila hal-hal tersebut terjadi sebaiknya segera konsultasi ke dokter anak.

Lengkap ya penjelasan dr. Rini tentang kebutuhan dan perilaku anak usia prasekolah. Sekarang udah tahu kan bagaimana memenuhi kebutuhan si Kecil. Beri nutrisi dan stimulasi yang tepat untuk tumbuh kembang anak yang optimal.

Cara Mendongeng yang Baik dan Menyenangkan

Selama mendengarkan penjelasan narasumber di parenting room, saya kepikiran kabar SID di playground. Dia ngapain ya? Dari ruang talkshow saya tidak dapat melihat bagian playground karena tertutup tirai. Berkali-kali saya mengecek HP khawatir ada telepon dari panitia tetapi Alhamdulillah tidak ada.

Bagian belakang Harlequin Bistro terdapat beberapa perosotan dan ayunan dengan tema kapal. Sore itu ruangan tersebut makin meriah dengan berbagai mainan tambahan seperti lego, mobil-mobilan, dan dapur mini. Ketika kami datang, SID malu-malu mencoba permainan yang ada. Saya pun mengambilkan mobil-mobilan untuk dia naiki.

Di sana ada kakak-kakak penjaga baik hati yang siap mendampingi anak-anak selama para orang tua mengikuti talkshow. Sebagian anak datang bersama pendamping (ayah, nenek, bahkan tetangga) tetapi SID tidak karena Ayah berhalangan hadir. Maka saya menitipkan SID ke salah satu kakak sementara saya ke parenting room.

Di tengah talkshow saya mengecek kabar SID di arena permainan. Ternyata saat itu anak-anak sudah masuk ke stimulation room. Di sana nampak SID asik menempel stiker ditemani kakak berjilbab dan berkacamata. Di bagian depan ada Kak Budi Haha, Indonesian ventriloquist, yang mendongeng menggunakan media buku stiker. SID terlihat fokus dan anteng sehingga saya pun tenang kembali ke parenting room
Itu SID yang pakai kaos kuning main stiker di stimulation room
Setelah mendongeng, Kak Budi Haha bergabung dengan ibu-ibu di parenting room. Di sana beliau menceritakan bahwa di stimulation room anak-anak distimulasi akal, fisik, dan sosialnya lewat dongeng. Sempat ditampilkan juga dalam layar TV kegiatan anak-anak di stimulation room. Ada yang berebut maju ke depan, ada yang tiduran, dan ada SID yang masih asik dengan stikernya. Dia kalau ketemu stiker memang bisa fokus bermain.

Dari parenting room bisa menyaksikan keadaan di stimulation room
Sepertinya anak-anak senang ya mendengarkan dongeng interaktif dari Kak Budi. Nah kalau di rumah mau mendongeng kok rasanya tidak sekreatif itu. Kak Budi berbagi tips mendongeng yang baik dan menyenangkan sebagai berikut:

  • Sesuaikan cara mendongeng dengan usia pendengar. Dongeng tidak melulu ke anak-anak lho. Ada juga dongeng untuk dewasa.
  • Perhatikan pilihan cerita dan kata. Untuk anak usia prasekolah gunakan kata-kata yang mudah dipahami. Pilih cerita seputar minta maaf, tolong, dan terima kasih. Jangan tentang kancil yang mencuri timun, ya.
  • Ajak pendengar untuk terlibat dari segi akal, fisik, dan sosial seperti dengan melempar pertanyaan di tengah-tengah cerita, mengajak pendengar ikut bergerak menirukan tokoh, dll.
  • Perhatikan suara, ekspresi, dan gerak.
  • Gunakan peralatan pendukung seperti boneka tangan. Manfaatkan barang-barang yang ada seperti paperbag yang disulap menjadi gajah, kaos kaki diberi mata dan topi, atau pot bunga yang bisa menjadi rumah siput.
  • Cari referensi dari buku, video, pendongeng lain, dsb.

Wah bisa dicoba di rumah nih supaya membaca buku makin seru dengan diselipi mendongeng. Asyiknya lagi kami mendapat buku stiker untuk dimainkan di rumah. Di dalamnya sudah terdapat cerita sesuai tema stiker. Dalam sehari SID langsung menamatkan buku stiker tersebut.
Kak Budi Haha menyulap kaos kaki jadi boneka tangan yang lucu untuk mendukung proses mendongeng
Acara sepanjang sore itu benar-benar berkesan bagi saya dan SID. Saya mendapat banyak ilmu parenting untuk anak usia prasekolah dan SID puas bermain di lingkungan barunya. Ternyata ia bisa mandiri dan mau bermain dengan kakak yang baru ia kenal. Bahkan esoknya ia masih mengulang cerita serunya bermain di stimulation room bersama kakak-berjilbab-dan-berkacamata (dia menyebut demikian karena tidak tahu namanya). Terima kasih ya kakak baik hati. Terima kasih juga Clozette Indonesia dan Parenting Club!
21 comments on "Kebutuhan Dasar dan Perilaku Anak Usia Prasekolah"
  1. Wah boleh dicoba juga nih toolsnya. Biar lebih optimal mengembangkan kepintaran anak ya.

    ReplyDelete
  2. Stimulasi yang baik pada anak akan membuat anak cerdas sesuai tingkat usianya ya bun.

    ReplyDelete
  3. Mendongeng kayaknya yang lumayan susah kalau saya. harus beli buku khusus dulu kayaknya. heu

    ReplyDelete
  4. semoga tumbuh kembang anak jadi lebih baik dan anak-anak sekarang gampang buat meniru.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah... Fahmi gak nyangkut di Red Flag versi ini...

    ReplyDelete
  6. Karena sebenarnya pintar dan bakatnya anak banyak ya, Mbak. Dengan ilmu kita jadi tau how-to-handle ^^

    ReplyDelete
  7. Iyo, I felt the same too �� Tapi dah mendingan sekarang. Soale anake dah Gedhe.
    Btw, kok ga ngajak-ngajak si, aku juga pengen ngetest Hana ni ��

    ReplyDelete
  8. Makin banyak PR buat ortu ya Mak, rasa kekhawatiran mengasuh anak ternyata ada ilmunya tersendiri. Bekal buat ortu dalam tumbuh kembang anak

    ReplyDelete
  9. Wah senangnya Sid bisa langsung dites mengenai kecerdasan tertingginya. Kayaknya lebih ke kegiatan kreatifitas ya. Moga apapun itu, nantinya Sid akan jadi anak yang terbaik. Saya pun jadi tau tentang pembagian 3 kecerdasan utama ini.

    ReplyDelete
  10. Nah kan saya jadi kangen masa mendongeng untuk anak :)

    ReplyDelete
  11. Ah enak ya mba skrg, untuk cek kecerdasan anak banyak toolsnya.

    ReplyDelete
  12. Acaranya keren ya mbak. Padahal clozette ini marketplace fashion gitu kalau gak salah. Seru juga ngadain acara parenting kayak gini.

    ReplyDelete
  13. Wah sarat ilmu parenting banget ya, Mbak. Apalagi kalau hadir di acaranya. Berbobot banget. Aku sampai ngangguk-ngangguk baca tulisannya. Semoga aku bisa menerapkan ilmu ini. aamiin

    ReplyDelete
  14. Bner bngt kenali dulu anak lbh lnjut, jika sdh siap u.msuk sekolah agar nanti tidak merasa boring

    ReplyDelete
  15. Wahhh makasih mba, artikelnya bermanfaat banget buat saya yang punya anak lagi masa tumbuh kembang

    ReplyDelete
  16. Nice info mom, saya juga udah ngrasain galau2 nya jadi ibu, hehe. Anak saya umur 2,5 tahun tapi masih belum bisa ngomong dalam kalimat nih, memang kemarin sempet speech delay. Semoga nanti pas udah 3 taun udah lebih lancar lagi

    ReplyDelete
  17. Oh...jadi ini yang dimaksud kecerdasan anak inter-personal dan intra-personal yaa, mba?
    Karena masing-masing kategori terdiri dari 2 kategori tersebut?

    Suka banget sama acara parenting seperi ini, yang melibatkan anak dan orang tua.
    Jadi Ibu gak belajar sendiri dan teorinya aja...teori dan langsung aplikasi saat itu juga.

    Semoga diadakan di kota-kota lain jugaa...aamiin.

    ReplyDelete
  18. iya nih mbak, anak2 itu cerdas banget dan perlu diarahin sesuai kebutuhannya. ibu bapaknya juga harus belajar soal intra dan inter nih....

    ReplyDelete
  19. Informasinya bermanfaat banget nih mbak.. ^^

    ReplyDelete
  20. Usianya Fira niy, 3 tahunan. Anaknya sudah ngebet banget pingin sekolah. Kalau lagi kepingin banget, dia bakalan pakai tas, pakai dasi dan topi kakaknya, trus keluar. Keluarnya enggak boleh diikuti pula. Alhamdulillahnya masih di sekitar rumah, jadi aku hanya ngawasi dari depan rumah

    ReplyDelete
  21. Wah acaranya keren banget. So far saya agak susah kalau mau mendongeng untuk anak, karena dia mudah terdistraksi huhuhu. Semoga pakai caranya kaka budi ini bisa berhasil ya... Thanks for sharing mbak :)

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature