Imunisasi MR dari 3 Sudut Pandang

Saturday, July 29, 2017

Posyandu bulan ini ada yang berbeda. Biasanya balita hanya diukur berat badan dan tinggi badan tetapi kali ini ada sosialisasi dari pihak puskesmas. Bidan mengingatkan bahwa bulan Agustus dan September akan dilakukan imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun (sampai 15 tahun kurang sehari). Yup, MR singkatan dari Measles (campak) dan Rubella telah masuk ke program imunisasi rutin dari pemerintah.

Imunisasi rutin di posyandu (sumber: riaulive)

Belakangan ini sosialisasi imunisasi MR tengah gencar beredar di masyarakat. Baik melalui media televisi, grup chat di smartphone, spanduk di depan rumah sakit, maupun brosur yang berisi pentingnya imunisasi tersebut. Sebenarnya apa bahaya campak dan rubella? Mengapa imunisasi MR penting? Jumat, 21 Juli 2017 lalu dalam Temu Blogger dengan Kementrian Kesehatan RI di Jakarta, saya berkesempatan mengenal lebih dekat bahaya campak dan rubella serta pentingnya imunisasi MR dari 3 sudut pandang: pemerintah, tenaga medis, juga agama Islam.

Indonesia Bebas Campak dan Rubella di Tahun 2020

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, dr. Jane Soepardi  menjelaskan pemerintah telah mengatur tentang penyelenggaraan imunisasi dalam Peraturan Menteri Kesehatan no.12 th 2017. Selain itu dalam UU No.36 tahun 2009 Pasal 131 ayat 3 disebutkan pemeliharaan kesehatan anak menjadi kewajiban orang tua, keluarga, masyarakat, juga pemerintah. 

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, dr. Jane Soepardi menjelaskan dasar hukum imunisasi di Indonesia
Imunisasi merupakan wujud kepedulian pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat. Diharapkan imunisasi dapat menurunkan kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dengan menggunakan vaksin.

Sebagian PD3I telah masuk dalam program imunisasi rutin pemerintah, seperti: polio, hepatitis B, campak, dan DPT. Mulai 2017, ada imunisasi tambahan yaitu imunisasi MR. Mengetahui hal ini tentu saja saya bersyukur karena imunisasi ini gratis. Sebelumnya pemerintah hanya meng-cover imunisasi campak yang dilakukan pada anak usia 9 dan 18 bulan.  Kalau mau lengkap ya imunisasi MMR (mumps, measles, rubella) di rumah sakit dengan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Target kampanye imunisasi MR sebesar 95% ke atas. Diharapkan Indonesia bebas campak dan rubella di tahun 2020 dapat tercapai. Imunisasi ini dilaksanakan bertahap di 34 provinsi di Indonesia, baik itu di PAUD, TK, SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat, posyandu, poskesdes, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Fase pertama yaitu bulan Agustus dan September 2017 di Pulau Jawa dengan pembagian bulan Agustus di sekolah-sekolah dan bulan September di posyandu, puskesmas, dsb. Fase kedua berlangsung pada Agustus dan September 2018 di seluruh provinsi di Indonesia.

Semua anak mulai usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun wajib mendapatkan imunisasi MR. Meskipun sebelumnya pernah diberi vaksin campak atau MMR, tetap imunisasi ulang karena kita tidak tahu keefektifan imunisasi sebelumnya.


Sekali lagi, imunisasi MR ini gratis! Sekali buka botol, vaksin hanya bisa bertahan hingga 6 jam. Dengan imunisasi massal, biaya yang dikeluarkan pemerintah jauh lebih hemat.

Selain imunisasi, pemerintah menyediakan buku KIA (warna merah muda) yang berisi informasi mengenai kehamilan dan tumbuh kembang anak sejak lahir hingga usia TK. Setelah itu ada buku Rapor Kesehatanku (warna biru) untuk anak usia sekolah hingga 18 tahun. Kedua buku ini penting dimiliki dan dibawa ketika imunisasi. Kalau belum punya, hubungi puskesmas atau rumah sakit. Gratis juga!

Jangan Remehkan Campak dan Rubella

Rubeola, measles, tampek, dabaken, atau morbili adalah nama lain campak. Penyakit yang disebabkan paramiksovirus ini nampak sepele. Gejalanya demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, mata merah, serta ada bercak kemerahan di wajah depan, bawah telinga, maupun samping leher. Dalam 1-2 hari bercak ini menyebar hingga ke kaki. Setelah 3-5 hari bercak berubah menjadi coklat kehitaman disertai penurunan suhu tubuh.

Kesannya penyakit campak telah sembuh ketika badan tidak lagi demam. Padahal komplikasi dari campak dapat terjadi bertahun-tahun setelahnya. Contohnya yang terjadi pada seorang wanita di Inggris. Ia mengidap campak ketika kecil dan tidak diimunisasi. Di usianya yang ke-24, ia kehilangan kesadaran dan terjatuh. Makin lama tubuhnya makin lemah dan hanya terbaring di kasur. Wanita tersebut mengidap subacute sclerosing pan encephalitis.

dr. Hindra Irawan Satari dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan komplikasi berat pada campak mengakibatkan gizi buruk, diare berat, pneumonia, radang otak, hingga kematian. Itulah mengapa pentingnya imunisasi campak, baik pada yang pernah terjangkiti maupun untuk pencegahan, karena tubuh tidak otomatis kebal terhadap campak meskipun telah mengalaminya.

Di Indonesia ada lebih dari 4000 kasus campak. Umumnya penyakit ini dialami anak usia 17 tahun ke bawah.

dr. Hindra menunjukkan cara menutup hidung dan mulut ketika bersin supaya kuman, virus, dan bakteri tidak menyebar
Lain lagi dengan Rubella. Penyakit yang disebabkan virus rubella masih berpotensi menjangkiti orang dewasa, bahkan di usia 40 tahun. Itulah mengapa imunisasi MR diberikan pada anak usia dibawah 15 tahun supaya memutus efek negatif bayi terlahir cacat di kemudian hari.

Rubella sangat menular dan gejalanya berupa penyakit ringan pada anak seperti demam ringan, bercak kemerahan di kulit wajah, lengan, dan kulit kepala (disebut juga campak Jerman karena gejalanya mirip campak). Ruam umumnya hilang sendiri dalam 3 hari.

Karena gejala yang nampak seperti penyakit biasa, pengidap tidak menyadari bahwa sedang mengidap rubella. Komplikasi berat berupa Congenital Rubella Syndrome (CRS) dapat dialami oleh ibu hamil yang tertular virus rubella, terutama trimester 1, karena dapat mengakibatkan aborsi spontan atau melahirkan bayi dengan kelainan kongenital seperti kelainan jantung, retardasi mental, tuli, atau katarak congenital. Bayi yang terlahir dengan kelainan katarak harus segera dioperasi.
Pada tahun 1998 beredar kabar negatif mengenai akibat vaksin MMR yang menyebabkan autism dan colitis. Hal ini berdasar penelitian yang dilakukan dr. Andrew Wakefield dari Inggris. Dunia kesehatan gempar dan masyarakat pun takut akan imunisasi MMR. Ternyata setelah diteliti lebih dalam, dr. Andrew memanipulasi data penelitian. Berita itu hanya hoax. Vaksin MMR tidak terbukti menyebabkan efek samping seperti autism maupun colitis.

Fatwa MUI tentang Imunisasi

Dr. HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, menjelaskan bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa MUI no. 4 pada 23 Januari 2016 yang mendukung program imunisasi. Secara garis besar fatwa tersebut menyatakan bahwa imunisasi hukumnya mubah (diperbolehkan) sebagai ikhtiar untuk mewujudkan imunitas tubuh dan mencegah penyakit tertentu. Vaksin untuk imunisasi wajib menggunakan vaksin yang halal dan suci. FYI, vaksin MR dari vaksin hidup yg dilemahkan. Tiap dosis vaksin MR mengandung 1000 CCID50 virus campak dan 1000 CCID50 virus rubella dan tidak mengandung babi.

Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak diperbolehkan kecuali:

  1. Digunakan pada kondisi al-dlarurat (kondisi terpaksa yang mengancam jiwa manusia) atau al-hajat (terdesak yang apabila tidak diimunisasi dapat menyebabkan penyakit berat atau kecacatan pada seseorang).
  2. Belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci
  3. Adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.

Dr. Ni’am juga mengingatkan dalam Islam diajarkan untuk menjaga kesehatan diri serta lingkungan. Imunisasi merupakan salah satu ikhtiar tersebut. Bila kita tidak berhati-hati menjaga kesehatan hingga penyakit menular ke orang lain, hal ini sama dengan merugikan orang lain. Maka imunisasi bukan hanya untuk melindungi diri sendiri tetapi juga tanggung jawab sosial yang harus dilakukan oleh kita, masyarakat, pemerintah, dan tenaga medis.
dr. Ni'am (berpeci) menjelaskan fatwa MUI mengenai imunisasi
Mengetahui penjelasan dari 3 sudut pandang di atas, saya makin yakin dengan imunisasi MR. Yuk, kita sambut dengan baik program imunisasi rutin pemerintah. Bawa anak-anak ke posyandu, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan terdekat untuk dilakukan imunisasi, ya. Untuk anak yang sudah bersekolah, pastikan juga bulan Agustus di sekolahnya dilaksanakan imunisasi MR.

22 comments on "Imunisasi MR dari 3 Sudut Pandang"
  1. Anak saya usianya uda genap 2 tahunnih mbak. Tapi di Aceh baru tahun depan disediakan imunisasi MR nya ya. Harus sabar nih. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bertahap nih hingga tahun depan. Semoga sehat sehat yaa.

      Delete
  2. makasih teh helen infonya, makin mantab bawa anak ke posyandu untuk imunisasi.

    ReplyDelete
  3. Sepakat... untuk generasi Indonesia yang lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, dukung program pemerintah untuk kesehatan masyarakat.

      Delete
  4. Alhamdulillah, anak-anak saya lengkap imunisasinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Bulan ini berarti KeNai imunisasi di sekolah ya

      Delete
  5. TFS mba. Lumayan banget ya MR sekarang masuk program gratis ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jadi hemat kan. MMR juga makin langka di Indonesia.

      Delete
  6. Makasih infonya mnak helen. Kebetulan anak saya mash 6 dan 2.5 tahun. Jd agustus nanti ikutan MR juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul. Bisa imunisasi di sekolah dan posyandu

      Delete
  7. Aku pengen banget ikut seminar mengenai campak dan rubella ini biar lebih paham cara pencegahan dan mengatasinya, meskipun belum punya anak tapi suka was-was kalau lihat ponakan sakit. Mudah-mudahan para orang tua di daerah-daerah nggak ketinggalan info mengenai MR ini.TFS ya maak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagikan artikelku ini aja, Mbak. Hehehe modus.
      Betul, semoga masyarakat makin aware tentang pencegahan penyakit Campak dan Rubella

      Delete
  8. Yeaayy gak sabar imunisasi ini krn DEma gak dapat MMR, keburu langka. Udah request ke suami kalau pas imunisasi MR di posyandui ntr cuti aja, krn pasti dua balita bakal mewek. Maxy tetep mau kuimun lagi meski udah dapat MMR :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya lho katanya cari MMR sampai ke negara tetangga.

      Delete
  9. Baru tau cara menutup hidung saat bersih begitu. Jadi tau cara yang benar.

    ReplyDelete
  10. Siap ikutaaan, insyaAllah :)
    Semoga gencaranya sosialisasi tentang MR dibarengi dengan tingginya kesadaran masyarakat ya Mba. Untuk generasi yang lebih sehat!

    ReplyDelete
  11. duh masih inget pas hamil 5 bulan anak2 kena rubella. Alhamdulillah udah di tri semester kedua. Sujud syukur janin ga kena.

    ReplyDelete
  12. Iyaa niih..
    Uda berencana imunisasi campak di RS Melinda, Bandung.

    Semoga Allah melindungi kluarga kita dari segala macam sakit.
    Aamiin.

    ReplyDelete
  13. Hai mba Helena,
    Anakku besok diimunisasi MR nih, pas banget baca postinganmu jd makin ngerti dan ga ragu buat TTD surat izin imunisasinya, maacih ya

    ReplyDelete
  14. Catat tanggal 19 harus ke posyandu ya buat imunisasi. Aku tiga orang anak ini

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature