Menengok Dapur Majalah Ummi, Media Cetak yang Bertahan di Era Digital

Thursday, March 30, 2017


Oplah media cetak tergerus oleh arus digitalisasi. Bukan hanya karena jarang pembeli tetapi para pelanggan juga sulit mendapatkannya. Dulu, majalah dan koran mudah didapat di kios-kios pinggir jalan. Sekarang, kios model tersebut jarang dijumpai. Lalu, bagaimana Majalah Ummi bisa bertahan hingga memasuki tahun ke-28? 

media cetak di era digital
Majalah Ummi (bonus Kampung Permata untuk anak) dan tampilan Ummi Online di smartphone
21 Maret 2017 saya dan Blogger Muslimah (BM) berkunjung ke redaksi Majalah Ummi di Jakarta. Kantornya berada di deretan rumah penduduk, tepatnya Jl. Mede No. 42, Utan Kayu, Jakarta. Berbekal Maps dan diantar abang ojek, sampailah saya di Majalah Ummi pukul 1 siang. Di sana sudah ada Mbak Novia Syahidah, founder Blogger Muslimah yang membawa pisang goreng sekresek. Hoho, pas banget sedang lapar. Ada juga beberapa anggota BM yang sebagian besar baru saya kenal siang itu. Alhamdulillah bisa menyambung tali silaturrahim.

Sambil menunggu redaktur Majalah Ummi, kami ngobrol-ngobrol tentang BM. Komunitas yang berdiri Desember 2014 ini memfasilitasi anggotanya yang ingin aktif menulis di media blog. So, boleh-boleh saja member belajar nge-blog dari awal di BM. Atau kalau selama ini suka menulis di media cetak tapi sekarang ingin nge-blog, bisa belajar bareng di BM. Supaya member tidak bingung mau nulis topik apa, BM biasa melempar topik tertentu.

Salah satu program BM yaitu Program Edukasi Muslimah (PEM). Program ini meningkatkan skill dan pengetahuan anggotanya. Seperti siang itu kami bertandang ke redaksi Majalah Ummi untuk mengetahui proses dan cerita di balik penerbitan sebuah majalah.

blog untuk berdakwah
Mbak Novia Syahidah (Via), founder Blogger Muslimah

Orang-Orang Hebat Dibalik Majalah Ummi

Setelah sesi kenalan dengan sesama anggota BM, kami berkenalan dengan redaktur Majalah Ummi. Meski namanya “Ummi”, majalah ini justru dirintis oleh kaum lelaki di tahun 1989 karena media untuk muslimah belum ada saat itu. Mereka ini aktivis dakwah yang ingin menyebarkan dakwah melalui tulisan. Sekarang ini pengurus Majalah Ummi sebagian besar perempuan, hanya 1 yang laki-laki.

Pemimpin Redaksi (Pimred) Meutia Geumala menyapa kami siang itu. Sambil menggendong bayinya, ia memperkenalkan satu-persatu timnya. Ada Rahmi Rizal (Redaktur Pelaksana), Didi Muardi – Nur Fitriyani – Aida Hanifa (Reporter), Isti Muthmainah (Sekretaris Redaksi), dan Sinta Dewi Indriani (Penanggung Jawab Ummi Online). Meski sudah ada pembagian job, masing-masing memiliki tanggung jawab rubrik di Majalah Ummi (kecuali bagian Ummi Online).

majalah di era digital
Meutia Geumala, Pemimpin Redaksi Majalah Ummi, baru aja masuk setelah cuti melahirkan. Asiknya bisa bawa anak ke kantor
Selain Majalah Ummi, ada pula majalah dengan segmen muslim dan muslimah muda yaitu Majalah Annida di tahun 1993. Setahun kemudian Annida bergabung dengan Majalah Ummi. Annida ini termasuk bacaan favorit Pak Suami. Tulisan-tulisan di sana menginspirasinya menjadi “pujangga”. *uhuk. Sayangnya kini media cetak Annida tidak ada lagi. Di tahun 2009 Annida bertransformasi menjadi online. Kemudian Oktober 2014 bergabung dalam Ummi Online.

Proses Pembuatan Sebuah Majalah

Saya penasaran bagaimana proses pembuatan sebuah majalah. Selama ini saya menulis di blog dengan cara sederhana. Cari bahan tulisan didukung foto dan video lalu tulis dan publish di blog. Berbeda dengan majalah yang melibatkan lebih banyak orang dengan impact yang lebih besar. Terlebih lagi setelah dicetak, majalah tidak bisa di-edit seperti blog.

Memilih topik bahasan untuk media cetak itu seperti meramal masa depan. Tim harus bisa memprediksi topik apa yang akan naik daun selama bulan-bulan ke depan sehingga bisa segera mencari materi yang relevan. Untuk penentuan topik utama, tim membahasnya pada raker tahunan dengan menampung ide dari semua pihak.

Ada pepatah mengatakan “Don’t judge a book by its cover”. Namun untuk sebuah majalah, pemilihan cover yang tepat dapat mempengaruhi penjualan. Model cover yang biasa diangkat Majalah Ummi yaitu dari kalangan public figure, utamanya wanita berkerudung. Model tersebut membawa nilai keislaman dan bebas dari gosip miring. Setelah ada target model, Majalah Ummi akan menghubungi sang model untuk wawancara dan photo session. Terkadang untuk membuat jadwal dengan si model harus re-schedule berulang-ulang padahal proses wawancara hanya 30 menit. Ya namanya juga orang sibuk. Hehehe.

majalah ummi
Sebagian tim Majalah Ummi dan Ummi Online. Coba tebak mana yang penanggung jawab Ummi Online?
Penerbitan sebuah majalah melewati proses panjang. Reporter membuat artikel sesuai rubrik dan tema bulan itu, kemudian dibawa ke redaktur untuk di-compile dengan artikel-artikel lain (dari penulis internal maupun eksternal). Setelah itu redaktur pelaksana melakukan editing dan disampaikan ke pemimpin redaksi. Proses ini bisa bolak-balik karena ada hal yang perlu diperbaiki.

Setelah materi siap, redaktur pelaksana memberikan draft majalah ke bagian lay out untuk mengurus desain. Sebelum dicetak, bagian lay out menyampaikan dummy majalah ke redaktur pelaksana. Apabila semuanya sudah sesuai, majalah dicetak dan didistribusikan ke agen maupun pelanggan. Alhamdulillah… kalau sudah begini pengurus Majalah Ummi bisa bernapas lega sambil berpikir topik dua bulan ke depan.

Majalah Ummi Bertahan di Era Digital

Mbak Meutia menyetujui adanya penurunan oplah Majalah Ummi semenjak internet semakin familiar di masyarakat. Orang-orang menjadi jarang membeli majalah sementara membaca berita via online lebih mudah, gratis pula. Di samping itu, agen distributor mulai gulung tikar karena bisnisnya tak lagi menguntungkan. Pembaca pun semakin sulit mendapatkan Majalah Ummi.

Meski demikian, ada pembaca loyal yang hingga kini tetap setia berlangganan Majalah Ummi. Menurut survey yang dilakukan Nielsen, tiap 1 eksemplar Majalah Ummi dibaca oleh minimal 5 orang. Sepertinya saya masuk yang ini, suka baca majalah milik ibu saya. 

blogger muslimah
Ruang redaksi di saat deadline >,<
Majalah Ummi bukan sekadar majalah untuk meraup keuntungan. Semangat dakwah melalui tulisan yang bermanfaat serta jadi amal jariyah kelak menjadi pemicu tim Majalah Ummi untuk selalu berkarya dan bertahan diantara media online.

Sebagai strategi marketing, Majalah Ummi melakukan direct selling ke pembaca maupun ke sekolah-sekolah. Alhamdulillah sampai saat ini majalah tersebut mendapat testimoni positif dari brand yang memasang iklan di Majalah Ummi.

Tips Menulis di Media Cetak dan Media Online (+ Kesempatan Menjadi Kontributor)

Mumpung bertemu dengan para editor yang terbiasa memilah-milih artikel, kami meminta petunjuk supaya bisa menghasilkan tulisan yang menarik. Siapa tahu bisa menjadi kontributor di Majalah Ummi maupun Ummi Online.

Media cetak dan media online memiliki karakteristik yang berbeda sehingga bentuk tulisan pun akan berbeda. Menurut Ami, Redaktur Pelaksana, artikel yang bisa menggaet hati editor media cetak Majalah Ummi yaitu:

  • Tulisan sesuai karakteristik rubrik di Ummi jadi baca dulu ya majalahnya lalu pilih rubrik yang ingin ditulis.
  • Pembahasan lebih mendalam dibanding media online sehingga paragraf akan lebih panjang (berkisar 2500 karakter, tergantung rubrik).
  • Topik yang diangkat bersifat jangka panjang seperti apa yang akan happening pada 1-2 bulan lagi. Misal bulan April ini kontributor dapat mengirim artikel tentang puasa atau lebaran.
  • Tulisan harus up-to-date, jangan basi.

Sebagai bocoran, penulis akan mendapat fee sekitar Rp200-400ribu untuk tiap artikel yang dimuat. Mau menulis untuk rubrik Nuansa Wanita, Kolom Ayah, Cerbung, atau rubrik lain, langsung saja kirim artikelnya melalui e-mail ke: kru_ummi@yahoo.com.

Majalah Ummi feat Blogger Muslimah
Berbeda dengan di atas, media online perputaran beritanya lebih cepat. Page view Ummi Online mencapai 1,2-1,5juta perbulan. WOW! Hal ini didukung Facebook Fanpage Majalah Ummi yang tiap 30 menit sekali (selama 24 jam) selalu posting tulisan. WOWOW! Artikel yang menarik untuk ditayangkan secara online pun memiliki karakteristik tersendiri, berikut tips dari Sinta, Penanggung Jawab Ummi Online:

  • Topik yang dibahas harus up-to-date dan sedang in. Kalau saat ini tentang pedofil dan bunuh diri. *eh, kok ngeri ya.
  • Tema dekat dengan keseharian pembaca seperti tema keluarga, gaya hidup, kecantikan, belajar Islam, resep masakan, dsb.
  • Pakai judul yang eye-catching dan membuat penasaran. Judul panjang seperti kereta api pun boleh.
  • Penulisan judul dengan menggunakan angka sebaiknya ditulis dalam angka, bukan huruf. Misal, “Mengapa Wajah Suami Istri Makin Lama Makin Mirip? Ini 4 Alasannya.”
  • Pembaca lebih menyukai tips atau tulisan yang berbentuk pointer. Misal, Ciri-ciri Perempuan yang Tidak Mau Diajak Susah Bareng Setelah Nikah. (Tulisan ini masuk popular post di Ummi Online. Judulnya membuat penasaran!).
  • Dari satu tema dapat dipecah menjadi beberapa tulisan. Misal tentang kanker dibuat menjadi 2 artikel, (1) tentang ciri-ciri kanker dan (2) cara mencegahnya.

Artikel untuk Ummi Online minimal 5 paragraf dengan topik ringan sehari-hari. Artikel bisa dikirim ke sahabat.ummi@gmail.com. Kontributor dapat bergabung di Komunitas Ummi Menulis untuk mendapat berbagai tips menulis. Hmm, tantangan baru nih buat saya untuk menulis di Ummi Online.

Meski sering menulis di blog sendiri, belum lengkap rasanya bila tulisan belum dimuat di media cetak. Dulu… tulisan saya pernah muncul di majalah internal kantor. Rasa bangga masih menempel hingga sekarang. Menurut saya, menulis di “rumah orang” lebih challenging karena kita harus keluar dari zona nyaman. Kita dituntut mengikuti kaidah si tuan rumah. 

Itulah sedikit oleh-oleh saya mengikuti Program Edukasi Muslimah dari Blogger Muslimah di Majalah Ummi. Tetap eksis di tengah persaingan dengan media online tidaklah mudah. Semoga Majalah Ummi istiqomah dan tetap bertahan mewarnai lembar dakwah di Indonesia. Amin.


27 comments on "Menengok Dapur Majalah Ummi, Media Cetak yang Bertahan di Era Digital"
  1. Wah Asik Tambah pengetahuan mengenai dunia media cetak

    ReplyDelete
  2. Aku jaman SMA suka baca Annida. Baguuussss. Hihihiii. Eh orang luar bisa juga masukin artikel ke majalah Ummi dan Annida ya mama Sid? Wah asiknyaaa. Ntar cobain masukin aaaah. Maaci infonyaaaa.

    Eh tampilan blognya baru yaaa? Kece badaiiii <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieee yang suka mellow nih baca Annida. Sayangnya udah ga ada ya.

      Hihi, belum kelar ganti template nih

      Delete
  3. Iya sekarang ini eksistensi majalah sudah mulai berkurang ya. So far saya masih kadang-kadang saja mampir untuk baca laman website ummi. Semoga masih tetap bertahan untuk majalah ummi. Next time sepertinya memang harus dibudayakan kembali beli majalah fisik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau majalah fisik aku masih suka beli majalah anak buat dibaca bareng Sid. Mampir ke ummi online tuh ga selesai-selesai bacanya. Banyak topik menarik di sana

      Delete
  4. sudah lama ga baca Ummi...kangen..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca majalah itu however beda dengan baca via online. Ga capek di mata lihatin layar trus isinya lebih berbobot.

      Delete
  5. wah dirimu ikut mb? btw ada d grup WA BM jg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ikutan. Aku ga gabung di grup WA BM.

      Delete
  6. Temenku ad yg kerja d sana mba...pingin dtg sbnrnya cuma ad.kperluan.lain... noted infny mksh

    ReplyDelete
  7. Menarik reportasenya. Boleh dong ya ngirim tulisan ke Ummi cetak atau online ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan, cocok nih buat artikel di rubrik Kolom Ayah

      Delete
  8. Oh...jadi tetap berbeda yaa, mba..artikel di media cetak dengan media online..?


    Alhamdulillah,
    Dulu memang suka banget baca Annida. Happening banget pas jaman SMA di kalangan anak SKI.

    Sekarang uda jadi Ibu, harus beralih ke Ummi yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Annida udah gabung ke Ummi. Di Ummi online artikelnya ada juga yang segmen anak muda tapi udah ga relevan sama emak-emak macem kita :D

      Delete
  9. Waktu masih abg suka tuh baca Annida. Sekarang udah gabung ke Ummi, ya.
    Oh, ya, makasih info cara kirim tulisannya, Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk nulis yuk trus kirim ke Ummi. Lagi butuh cerbung lho

      Delete
  10. jujur mbak , aku baru tau ada majalah Ummi ..
    baca tulisan diatas jadi makin penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mampir deh ke ummi online dijamin betah baca dari satu artikel ke artikel lain

      Delete
  11. Wah, keren banget Ummi. Bertahan di era digital. Jadi ingin kirim artikel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Windu tertarik kirim artikel apa nih?

      Delete
  12. Terimakasih ya Helena sudah berbagi informasi disini, semoga next bisa ikutan lagi ya. Artikel yang keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah makasih Mba Via atas kesempatannya

      Delete
  13. Perubahan memang kudu dengan bijak disikapi bukan dijauhi, dan Ummi tahu percis harus bagaimanana.
    Karena perubahan adalah sebuah keniscayaan!


    ReplyDelete
  14. Bener-bener.. Nulis di rumahborang lebih tertantang. Sama halnya dengan tantangan mengundang tamu yg dtg ke rumah kita. Iiih jadi maubikutan nulis di majalah ummi. ^_^

    ReplyDelete
  15. Emang keren majalah ummi ini..

    Pengen ikutan berkontribusi ah.. rasanya kog tertantang untuk mengasah gimana nulis yang baik

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature