Melahirkan Secara Normal di Minggu ke-41 (HPL Sudah Terlewat)

Thursday, January 12, 2017
hari perkiraan lahir sudah lewat
Makasih ucapannya, Mas Taslim :')


Mengawali bulan baru di tahun baru ini saya ingin bercerita tentang kelahiran anak pertama. Basi ga sih, ini udah terjadi tahun 2015 tapi baru cerita sekarang. Dulu masih males-malesan nulis. Meski hampir 2 tahun berlalu, ingatan itu masih jelas terbayang.

Namanya juga kehamilan pertama. Walaupun sudah baca buku, nonton video, atau dengerin cerita banyak orang tentang melahirkan, tetep saja ada kekhawatiran menjelang hari H. Hal ini semakin menjadi karena HPL alias Hari Perkiraan Lahir yang semakin dekat. Seorang teman, yang HPL-nya bersamaan dengan saya, melahirkan tepat sesuai HPL. Saya makin stress karena belum ada tanda-tanda seperti kontraksi palsu dari janin di dalam perut.

FYI ada dua hari penting untuk ibu hamil yaitu Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) yaitu tanggal mulai haid yang setelah itu tidak haid lagi. HPHT ini menjadi patokan untuk mengukur Hari Perkiraan Lahir (HPL). Ada rumusnya ditambah-kurang gitu sehingga ketemu perkiraan kelahiran yang mature ada di range tanggal berapa. HPHT penting bagi ibu yang menjalani program hamil maupun KB alami. Supaya ga lupa, saya pakai aplikasi my period calendar (logonya buku pink dengan gambar bunga) di smartphone untuk mencatat jadwal menstruasi.

Untuk mengurangi rasa panik, saya mencari info di internet maupun ngobrol dengan teman yang baru melahirkan. Ternyata pikiran saya salah. Tidak semua bumil mengalami kontraksi palsu Braxton Hicks. Selain itu yang perlu diingat, HPL hanyalah PERKIRAAN bukan PASTI. Kelahiran bisa terjadi 2 minggu sebelum maupun 2 minggu setelah HPL. Yang lahir setelah HPL itu banyak dan itu hal yang lumrah selama masih dalam batas 42 minggu.

lahir normal lewat hpl
“HPL hanyalah Hari PERKIRAAN Lahir, bukan Hari PASTI Lahir”

Saat periksa ke dsog di minggu ke-40 atau tepat HPL, beliau menawarkan untuk induksi atau SC. Buru-buru amat sih, dok. Dokter memeriksa plasenta alias air ketuban, masih cukup. Perekaman detak jantung janin juga dilakukan, masih normal dan responsif. Kondisi saya dan janin alhamdulillah baik. Kita tunggu seminggu lagi ya.

Hari demi hari saya jalani dengan pikiran positif. Kalau memang janin belum lahir, mungkin dia belum siap. Santai saja menikmati kehamilan ini sebelum nanti disibukkan dengan rutinitas menjadi ibu. Selama seminggu sebelum periksa lagi ke dsog, saya melakukan hal berikut:

1. Tiap hari saya dan suami jalan pagi keliling komplek. Pokoknya aktivitas tidak berkurang meski perut makin buncit. Intensitasnya disesuaikan saja dengan kemampuan tubuh. Kalau terasa capek, istirahat sebentar.

2. Berlatih pernapasan panjang. Seorang teman mengingatkan untuk berlatih pernapasan. Saya menyesal kurang berlatih hal tersebut karena hal ini penting untuk mengurangi rasa sakit saat kontraksi dan melancarkan kelahiran. Saat awal hamil hingga usia kehamilan 7 bulan saya masih rutin berenang sambil mengatur napas. Namun setelah itu saya stop karena khawatir terpeleset di lantai kolam yang licin sedangkan saya berenang sendirian.

3. Senam hamil menggunakan gym ball. Terima kasih mba Iffah atas pinjaman gym ball-nya. Saya bisa senam di rumah dengan mengikuti panduan lewat YouTube. 

4. Menikmati me-time dan "pacaran" dengan suami. Kami pergi ke tempat makan favorit yang isinya ABG sedangkan saya berperut buncit. Hihi...ga apa-apa deh.

5. Diet mengurangi makanan dan minuman manis. Sejak masuk trimester 3 saya nge-rem asupan yang terlalu manis. Es krim, cake, dan semacamnya boleh dengan porsi wajar. Somehow saya lebih suka makan es batu, kraus...kraus... dan tidak merasa putus asa dengan diet ini. Bumil sebaiknya menjaga kenaikan berat badan ibu dan bayi. Kalau bayinya terlalu besar bakal susah keluar. Hasil USG di minggu ke-40 alhamdulillah BB janin sekitar 3,2 kg (BB minimal 2,5 kg).


H-1 periksa ke dsog, saya dan suami jalan-jalan malam. Kami jalan kaki ke komplek seberang yang rutenya lebih panjang. Tidak ada target sampai mana jaraknya, semampunya saja. Saya sempat berhenti di minimarket untuk membeli minuman dan memutuskan untuk pulang saja. Capek. Bismillah, semoga besok saat periksa hasilnya lebih baik.

Saya deg-degan saat menunggu giliran diperiksa. Waktu itu saya ditemani ibu dan kakak (biasanya berani periksa sendiri, kali ini butuh dukungan moril). Tahu kan gimana antrinya dsog, apalagi beliau satu-satunya dsog wanita yang praktek di RSIA tersebut. Kurang 1 nomer lagi eh bu dokter ada panggilan memeriksa pasien yang rawat inap.

melahirkan normal bpjs
Week 39, ceritanya saya mau diculik alien naik U.F.O tapi ga jadi soalnya kegendutan
Tak lama giliran saya diperiksa. Plasenta masih cukup, janin aktif, dan tensi darah normal. Ternyata  saya sudah pembukaan 1 meski tidak ada flek. Subhanallah, saat yang ditunggu segera tiba. FYI, pembukaan hingga melahirkan itu sampai 10. Pembukaan 1 ke 10 waktunya bisa berbeda-beda, ada yang dalam hitungan jam, ada pula yang sampai seminggu kemudian.

Untuk biaya kelahiran saya menggunakan BPJS Kesehatan. Sebenarnya saya sudah siap bila harus memakai dana pribadi karena memilih melahirkan di rumah sakit, bukan bidan. Namun dokter menyatakan kondisi saya bisa memakai asuransi BPJS Kesehatan.

Saya pun pulang dan menyiapkan mental plus barang-barang untuk dibawa ke RS (sudah disiapkan jauh-jauh hari tapi cek-ricek lagi). Ibu mulai heboh. Suami juga segera pulang kantor setelah dikabari tentang hal ini. Demi mengurangi kepanikan, saya nonton The Amazing Race yang saat itu tayang pukul 7 malam. Saya nonton sambil duduk di gym ball untuk menahan rasa sakit kontraksi yang mulai teratur.


Setelah reality show kegemaran saya selesai, kami berbondong-bondong ke rumah sakit. Saat itu kamar bersalin penuh. Pembukaan pun belum bertambah. Saya merasa deg-degan makin menjadi kalau di RS sehingga kami kembali pulang. *bumil galau*

Dini hari sekitar pukul 1 atau 2, kontraksi saya semakin sering. Tidur pun tidak nyaman karena bolak-balik terbangun menahan sakit. Saya mengajak suami untuk balik ke RS, siapa tahu sebentar lagi melahirkan.
Di kamar bersalin saya ditemani suami dan ibu secara bergantian. Mereka menggosok-gosok punggung hingga pinggang saya yang sakit saat kontraksi. Saya pun menggegam erat jari mereka, bahkan terlalu erat. Dzikir tak henti-hentinya mereka lantunkan. Saya berusaha tidur di antara jeda kontraksi. 

Jam demi jam berlalu. Saya hanya berbaring di ruang bersalin. Katanya supaya pembukaan cepat nambah baiknya dibuat jalan-jalan akan tetapi badan sudah lemas. Berjalan pun perlu dituntun. Tiap 2 jam perawat mengecek pembukaan jalan lahir. Progress-nya begitu lambat padahal pinggang saya sangat nyeri tiap kali kontraksi.

Saya diinfus untuk menambah cairan tubuh karena susah makan. Memang selama itu saya sempat makan 1 kali sambil meringis menahan sakit. Suami telaten menyuapi sambil menggosok pinggang belakang saya. Sorenya saya hanya minum susu supaya ada tenaga saat mengejan. Karena perut kosong, saya jadi muntah dan membuat geger ruang bersalin. Kasihan perawat yang magang di sana harus ngepel “karya” saya. Penting diingat, sebaiknya minum minuman yang hangat dan manis seperti teh jika butuh tambahan energi.

Adzan subuh berganti isya’ jelas terdengar karena lokasi RS yang bersebelahan dengan masjid. Pembukaan lama bertambah karena saya menahan pipis. Saat ditatur (apa ya bahasa Indonesianya?) pipisnya susah keluar, mungkin karena tidak biasa pakai pispot. Perawat kemudian memasukkan selang ke saluran kencing dan mengosongkan kandung kemih dengan cara seperti itu. Saya pasrah aja deh, yang penting cepat lahir.

Keluarga berdatangan silih berganti menunggu di luar kamar bersalin. Mohon maaf saya tidak memperhatikan satu persatu saat mereka mengintip dari balik jendela. Nyeri kontraksi yang berulang-ulang ini bisa dibilang sakit terhebat dalam hidup sehingga mengalihkan dari hal lain. Rasanya pinggang mau dicopot saja supaya tidak sakit lagi. Saya mencoba fokus mengatur napas dengan menarik napas panjaaang saat kontraksi. It worked! Namun tidak selalu dapat bernapas panjang sehingga beberapa kali saya mengejan. Hal ini membuat saya dimarahi bidan. Pelajaran yang saya dapat yaitu jangan mengejan sebelum waktunya (bukaan 10) karena dapat menimbulkan pembengkakan yang menutup jalan lahir. Selain itu latihan pernapasan sangat penting selama kehamilan.

29 jam sejak pembukaan pertama, saat itu tiba. Bidan menghubungi dokter mengabarkan saya sebentar lagi melahirkan. Sayangnya dokter sedang dalam perjalanan dari luar kota yang entah berapa lama lagi sampai. Saya, ibu, dan suami sudah bersiap di kamar bersalin. Daripada menunggu dokter, kami setuju meminta bantuan bu bidan untuk membantu proses kelahiran. Suami dan satu bidan di kanan, ibu dan bidan yang lain di kiri, ditambah seorang bidan lagi di arah jalan lahir dengan memberi komando. Saya mengejan sambil berteriak tetapi diingatkan untuk diam saja karena berteriak menghabiskan energi. Weleh, saya cuma niru adegan sinetron yang ternyata salah, hahah. 

Lagi-lagi karena napas yang pendek, bayi itu susah keluar. Saat mengejan yang keempat, saya berdoa pada Allah dan mengerahkan energi sekuat tenaga yang tersisa. Now or never. Allahuakbar tangisan pertama anak saya terdengar. Alhamdulillah saya bisa melahirkan secara normal di minggu ke-41 meski lewat dari HPL.

hari perkiraan lahir sudah lewat
It's a boy!

19 April 2015 lahirlah putra pertama kami, babySID. Semoga ia tumbuh jadi anak yang taat pada Allah, hormat pada orang tua, sholeh, cerdas, serta berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Bersamaan dengan kelahirannya, lahir pula ayah dan ibu baru (suami dan saya). Semoga kami bisa mengemban amanah ini. Amin.

Baca: Seorang Ibu Memang Bukan Manusia Super yang Bisa Segalanya 


36 comments on "Melahirkan Secara Normal di Minggu ke-41 (HPL Sudah Terlewat)"
  1. Aku banget niiih, melahirkan lewat HPL, si bayik kayanya betah diperut. Tadinya udah was-was, alhamdulillah akhirnya bayinya ngajakin keluar jugaaa. Eheheheee. Sid, kamu betah juga kayanya ya diperut mama :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iyaa anteng banget di dalam perut emaknya

      Delete
  2. Duh salfok sama abang Taslim hahaha..
    Aku juga lama mba 30 jam dengan 3 botol induksi alhamdulilah lelah terbayar melihat buah hati lahir normal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow... Lama juga mba. Katanya kalau pakai induksi jadi lebih mules tapi cepat melahirkan.

      Delete
  3. Amiiiin... hahaha saya ngakak pas baca ikut adegan sinetron ternyata salah.
    Oh jadi ga boleh teriak ya mbaaak ? :D

    Btw fotonya emang bener bikin salfok nii yang paling atas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sinetron itu memang menipu. Jangan ditiru ya. Hahaha

      Nanti kalau kamu hamil, minta disalamin sama Mas Taslim juga :))

      Delete
  4. Sama kayak adik ipar ku. Kata bidan lahirnya tanggal 1 Januari. Tapi sampai tanggal 6 GA ada tanda tanda. Alhamdulillah lahir sehari setelahnya. Aku ikut deg2an. Banyak Sid udah gede :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang HPL bikin deg2an padahal kalau kelewatan juga gpp sih

      Delete
  5. Duh tfs ya Mak, saya lagi hamil nih semoga nanti lahiran normal, alami dan cepat aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah selamat ya mba. Semoga lancaaar

      Delete
  6. ya Allah...kalau baca pengalaman melahirkan suka merinding sendiri keinget pas ngelahirin...jadi anak soleh yaa siiid..liat tuh perjuangan mamah seharian lahirin kamuuu ehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin... kalau dia bandel, aku suruh baca artikel ini aja :D

      Delete
  7. hihihi liat fotonya lucuk...
    foto terkhir: pas lahir langsung segede gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha, entah kemana foto dia waktu bayi *males cari

      Delete
  8. wow kerren mbak kenal ma joe taslim.....pengalaman melahirkan itu memang selalu menarik untuk disimak ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga kenal juga sih, mba. Cuma nitip salam

      Delete
  9. Samaan kyk Dema lahir lewat HPL kyknya. Kalau menurut dsog pertama yg di Jkt hrsnya usianya 42 minggu, kalau menurut dsog di Depok 41 minggu. Pas itu akhir Desember banyak liburnya, dah lama gk ketemu dokternya jd gak ketauan kalau ketuban udah keruh, alhamdulillah bisa normal jg, meski setelah lahir langsung nginep di NICU hehe. Aku berandai2 kalau ketauan ma dokternya ketuban keruh gtu pasti langsung dioperasi, tapi aku keburu mules duluan jd gk operasi :))

    Btw kenalan sama Mas Taslim dmn? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang ga ada ilmu pasti yang tahu usia kandungan. Dsog melihat dari HPHT dan hasil USG. Sid juga langsung nginep di NICU.

      mau kenalan juga? Hamil gih :p

      Delete
  10. Hehe...cerita mah gak ada yang basi kelles, tetap aja boleh dijadiin kenangan untuk dibaca-baca, ya, tempatnya di blog. Bunda malah anak kedua (yang pertama keguguran) malah air ketuban pecah duluan ketika bunda disuruh jalan-jalan sama dokternya. Nah lo! ditolonglah sama susternya. Gak taunya karena air ketuban ini sudah pecah jadi keringlah, harus cepat-cepat lahir tuh si jabang bayi. Untung gak operasi cesar. Perjuangan seorang ibu. Tapi begitu brojol....ooooh, so lega and so happy. Kan, kan, kan? Ilang tuh rasa sakit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu ajaibnya, Bunda. Saat kontraksi aduhai sakitnya. Setelah mbrojol, tiba-tiba hilang. Alhamdulillah

      Delete
  11. selalu ada cerita seru, penuh haru di setiap kelahiran anak2 ya mba..gak ada basinya kalo gitu mah,,

    ReplyDelete
  12. iya tuh mbak. susah nahan untuk ga mengejan ya pas belum bukaan penuh. saya juga dimarahi bidan gara-gara itu. trus bengkak. duh...

    ReplyDelete
  13. Iiihhh... keren. Ada Joe Taslim.

    ReplyDelete
  14. Ga tau juga tiga2nya anak saya malah sebelum HPL. Ttp deg2an sih. Tp pasti lebih deg2an klo lewat HPL y mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelum HPL malah seperti surprise gitu ya mba

      Delete
  15. Waahhh.. Makasih sharingnya mbaa, noted! Aku jadikan catatan kalau nanti sudah isi hihi :)

    ReplyDelete
  16. Foto yang mau diculik alien itu bikin salah fokus deh mba ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. lupa simpan foto saat hamil di mana. Ketemunya cuma itu :))

      Delete
  17. HPL emang menipu mbak. Tergantung kualitas ibu juga ya, klo ibu stress bisa aja cepet, klo ibunya relaks kayak aku owalah anaknya betah didalam..

    ReplyDelete
  18. Selalu mengharukan kisah seorang bayi dilahirkan ke bumi, jalannya beda-beda tapi seru hehe. Smoga baby sidnya sehat selalu ya, suka sama tipsnya mba helena :)

    ReplyDelete
  19. jadi inget momen pas melahirkan dulu juga lumaya mendebarkan ,tapi syukurlah walau lewat HPL tetep lahir normal ^^
    bdw,mau juga dong mba di selametin ama bang joe taslim :D

    ReplyDelete
  20. wih mbak keren juga yah bisa ditulisin kaya begituan sama joe taslim, kalo boleh tau gimana caranya mba bisa ditulisin gitu sama aktor papan atas ?

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature