Remedi Day: Berdamai Dengan Makanan Melalui Hearty Eating

Thursday, April 14, 2016

Ada yang sudah mencoba diet berbagai cara tetapi tidak juga kurus. Begitu berhenti diet jadi “balas dendam”, semuanya mau dimakan. Ada pula yang banyak makan dan minum susu merek tertentu, kok berat badannya gak bertambah. Mau makan burger, tapi kan junk food. Tapi kan sudah lewat jam makan malam. Tapi kan sudah lama tidak makan ini. Tapi kan…ah jadi guilty pleasure.
Pernahkah mengalami hal-hal di atas? Sebelum makan sudah menilai buruknya makanan. Akhirnya makan pun kurang nikmat. Saat menjalani diet, bingung harus makan apalagi supaya berhasil. Katarina, pemilik Tasty Homemade, mengajak kita reframing masalah ini melalui workshop “Hearty Eating, Journey Towards Making Peace with Your Plate”.

Hearty eating atau biasa juga disebut mindful eating merupakan suatu cara untuk menyelesaikan masalah love-hate relationship dengan makanan. Tidak hanya memikirkan “APA” yang dimakan tetapi juga “BAGAIMANA” memakannya. Saat lapar, tubuh akan mengirim sinyal meminta makanan. Begitu pula saat makan, tubuh akan memberi sinyal bila telah cukup asupan yang masuk meskipun ada makanan yang masih tersisa di piring. Tugas kita untuk secara sadar memahami sinyal tubuh supaya tidak kekurangan asupan maupun tidak makan hanya karena emosional alias kalap makan.



Setiap orang memiliki kebutuhan gizi dan kebiasaan yang berbeda-beda dalam hal makan. Ada yang makan harus 3 kali sehari di waktu yang terjadwal. Ada pula yang menggabungkan sarapan dengan makan siang sehingga dalam sehari hanya makan 2 kali. Atau makan hanya saat terasa lapar tanpa ada jadwal yang tetap. Dalam hearty eating, pola makan yang berbeda ini tidak menjadi masalah. Tidak ada yang paling benar maupun yang salah selama masing-masing merasakan alarm dari tubuh saat butuh asupan.
Katarina menjelaskan tentang hearty eating

Tips menarik dari Katta yaitu menjalin hubungan dengan makanan yang tersaji. Anggaplah makanan itu kekasih. Layaknya sedang berkomunikasi dengan orang yang dicintai, fokus pikiran dan perhatian terpusat ke si dia. Sebelum makan, pikirkan lebih dalam tentang makanan ini. Misalnya makan tahu goreng yang dibeli dari penjual gorengan. Penjual ini membeli tahu di pasar. Sebelum dari pasar, tahu dibuat di pabrik tahu. Kedelai sebagai bahan baku tahu ditanam petani kemudian dijual ke pemasok dan seterusnya hingga akhirnya diolah di pabrik tahu. Sepotong tahu goreng ini telah melalui proses panjang hingga akhirnya siap disantap. Betapa bersyukurnya bisa menikmati makanan ini. Saat makan, gunakan panca indera untuk melihat dengan seksama, mengunyah, merasakan tekstur, bumbu, dan aroma masakan. Sebelumnya perut terasa lapar dan badan kurang berenergi. Rasakan pula saat badan merasa puas atau kekenyangan.

"Hearty eating mengajarkan untuk menghargai dan menikmati makanan yang kita makan setiap hari."

Berhenti Menyalahkan Makanan
“Sebenarnya target dari diet untuk mengetahui makanan yang cocok untuk kita. Kalau setelah diet menjadi langsing, itu bonus.”, ujar Katta.

Pemahaman yang ada, diet dijalankan supaya kurus. Padahal suatu metode diet belum tentu cocok untuk semua orang. Tidak ada salahnya mencoba metode A atau B untuk melihat kesesuaian dengan tubuh. Kalau berat badan berkurang, ya syukur. Lebih penting lagi dalam menjalankannya tubuh menjadi sehat dan bahagia.

Pengurangan porsi makanan dalam diet sebaiknya dilakukan bertahap. Sebagai contoh, apabila terbiasa makan 10 sendok nasi setiap kali makan coba kurangi menjadi 8 sendok. Lakukan ini selama seminggu dan lihat hasilnya. Kalau reaksi tubuh baik-baik saja, ternyata tubuh tidak membutuhkan sebanyak sebelumnya dan kita bisa melakukannya.

Bagaimana dengan junk food? Menurut Katta, manusia sendiri yang memberikan penilaian good food dan bad food. Jika bisa mengonsumsi clean food setiap hari memang bagus. Tetapi bila tidak bisa karena sibuk dengan pekerjaan atau hal lain, sesekali makan makanan yang mudah didapat pun tidak masalah. Yang perlu diperhatikan yaitu menyadari makanan yang masuk ke tubuh supaya bisa dicerna menjadi energi dan zat-zat yang memang dibutuhkan untuk tubuh. Mari mengubah kebiasaan self-criticism menjadi self-nurturing.
Pernah multi-tasking saat makan?

Multi-Tasking Saat Makan
Seorang peserta bertanya mengenai lunch meeting yang menggabungkan saat makan siang dengan rapat di luar kantor. Hal ini menjadi kurang efektif karena fokus terpecah antara menyampaikan laporan dan makan. Terkadang makanan yang dihidangkan banyak tersisa dan mubadzir. Kalau belum makan sudah dituntut fokus rapat, tubuh cenderung menjadi emosi (lemas atau mudah marah). Supaya lebih efektif, baiknya dibuat kesepakatan makan terlebih dahulu (misal selama 15 menit) kemudian dilanjutkan dengan rapat. Saat makan bisa diselingi obrolan seputar makanan supaya makin nikmat.

Begitu pula dengan multi-tasking saat makan. Saya sering makan sambil menggunakan smartphone untuk membaca berita, membalas pesan, atau sekedar membuka media sosial. Hal ini saya sadari membuat perhatian ke makanan teralihkan. Yang penting ada makanan yang masuk. Dalam hearty eating, hal tersebut terkadang tidak dapat dihindari. Namun baiknya dalam sehari minimal satu kali benar-benar memusatkan perhatian pada makanan. Tidak hanya fisik tetapi secara mental hadir di meja makan saat itu.

Sebagai bekal penerapan workshop ini, Katta memberikan template Jurnal Hearty Eating untuk mencatat apa yang dimakan, apa yang dirasakan, dan apa yang dipikirkan. Sebelumnya tetapkan tujuan melakukan hearty eating. Jurnal ini sebaiknya diisi secara teratur selama minimal 3 minggu untuk melihat kebiasaan/pola makan. Dari catatan tersebut bisa memberikan ide untuk mencoba menu baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

So, kalau sebelumnya bilang “Kamu mau saya gendut?” saat ada yang memberi burger, sekarang ganti menjadi “Terima kasih ya. Makanan ini membuat saya kenyang dan siap beraktivitas kembali.”.

Tentang Remedi Day
Hearty Eating merupakan salah satu workshop yang ada dalam rangkaian acara Remedi Day, One Magical Day of Nourishing Mind, Body, and Spirit pada 9 April 2016 lalu. Bertempat di Jl. Bangka Raya No. 99A, Jakarta Selatan, Remedi Day berlangsung dari pukul 07.30 hingga 19.00 WIB. Berbagai workshop, baik indoor maupun outdoor, digelar. Acara ini juga dimeriahkan dengan bazar makanan, aksesoris yoga, tarot reading, juga garage sale oleh Gerakkan Indonesia.

Remedi Day merupakan acara rutin yang diadakan oleh Remedi Indonesia, sebuah organisasi bagi yang mencari kedamaian, kebahagiaan, harmoni, dan cinta dalam hidup. Lembaga ini diciptakan untuk orang-orang yang mencari cara mengelola gaya hidup yang penuh semangat dan sehat dengan menyelaraskan pikiran, tubuh, dan jiwa. Untuk lebih mengenal Remedi Indonesia, tiap Selasa pukul 19.00 – 21.00 WIB ada free weekly gathering untuk berbagi cerita dan pengalaman tentang kehidupan sehari-hari.


[Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis bekerja sama dengan Remedi Indonesia]
27 comments on "Remedi Day: Berdamai Dengan Makanan Melalui Hearty Eating"
  1. saya kadang kalau makan sambil baca hehee
    ternyata memang membuat focus terpecah
    salam sehat dan semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama..saya juga sering multi-tasking nih

      Delete
  2. Waaah aku suka sekali nih sama konsep hearty eating. JAdi berasa lebih menghargai makanan ya.. Mau cobain ah mulai hari ini, makasi sharingnya ya Mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama-sama.
      more info tentang hearty eating bisa langsung bertanya ke narsum lho. E-mail saja ke heartyeating@tastyhomemade.com

      Delete
  3. Wahhh bener banget itu ttg menghargai makanan dan menikmatinya pelan2 ya hiihihi. Aku suka buru - buru kalau makan, salah banget ya.

    Salam kenal ya mba Helena :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelan-pelan supaya makin menikmati mba..
      salam kenal juga

      Delete
  4. Wah..wah merasa tertampar hahhaa..
    Makan sambil buka smartphone, trus makan sambil meeting, makan sambil ngobrol cantik eaaa..

    Tapi tetep ko menikmati dan aku banget kalo makan suka diajak ngobrol makanannya, dan terakhir bilang makasih ya udah memberi asupan2 buat tubuhku.

    Makasih Mbaa, udah ngingetin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi...buat reminder aku juga nih, Teh.

      Delete
  5. Wah, memang ya sudah selayaknya memperlakukan makanan seperti itu dan aku sudah mulai meninggalkan handphone ketika mau makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. good start, Tis. Aku kadang masih on-off untuk hearty eating ini. Merasa bersalah gitu kalau cuekin makanan.

      Delete
  6. Wah aku juga sering banget multitasking pas makan..padahal ngga baik ya..tfs mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar mengurangi multi-tasking ya mba supaya lebih fokus.

      Delete
  7. Ini yang sedang aku biasakan ke anak. Waktunya makan ya makan. Nggak sambil nonton, nggak sambil main.
    Pernah baca juga disebuah buku, bagaimana bisa kita meresapi makanan dan mensyukuri tiap suapnya jika kita malah sibuk melakukan hal lain saat makan? MAkjleb!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kebiasaan yang bagus banget, Nyak.

      Delete
  8. Sejak kecil diajarkan, kalau makan itu sambil duduk dan,fokus. Gak ngerjain apa2, bicara pun lebih baik tidak.

    Ke anak, sekarang saya juga ngajarkan gitu, guru agamanya juga. Apalagi ini kini blogger juga membahasnya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebiasaan yang bagus dan harus ditanamkan sejak kecil. Saya yang baru mulai habit ini masih sering bolong-bolong

      Delete
  9. Bagian makan sambil- sambil itu aku banget, Mbak x_x
    Makan sambil ngetik, makan sambil nonton, makan sambil baca...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awas lho ga tau ada kecoak di makanan, heheh

      Delete
  10. Waduh, saya termasuk yang suka makan sambil nonton atau megang hp nih hehehe..
    Iya, pasti fokus kita akan terpecah ya... Sekarang harus saya hilangkan kebiasaan jelek ini, nih! Makasih sudah diingatkan ya...

    ReplyDelete
  11. Klo mau gemuk gimana ya mba :D bisa pake metode ini juga ga yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan minta gemuk tapi mau sehat. Metode ini bisa untuk menambah berat badan supaya ideal.

      Delete
  12. Wah aku kalau makan juga sambil nglakuin yang lain huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti Dema datang dan bilang: no no no!

      Delete
  13. Aku pernah mengenal konsep mindful eating ini mbak. Ujung-ujungnya kita diajak mengenali sinyal tubuh juga ya. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Persis seperti yang disabdakan Rasulullah SAW sebenernya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, supaya tidak berlebihan dan makan secukupnya

      Delete
  14. Sebenarnya ini yang sering diajarkan orang tua sejak kecil. Kalo makan harus duduk tenang dan konsen dengan isi piring kita. Menghargai rezeki yang sudah kita terima, gitu deh

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature