Antara Mading dan Suami

Wednesday, April 6, 2016
Hasil karya peserta DetEksi Mading Competition (dari berbagai sumber)

Kalau dipikir-pikir, nilai Bahasa Indonesia saya sangat standar saat sekolah. Setelah libur semester, biasanya guru memberikan tugas menulis pengalaman selama liburan. Tugas seperti itu saja saya bingung mau menulis seperti apa karena liburan hanya diisi dengan bermain di rumah atau sesekali ikut ibu berjualan di pasar. Tulis-menulis entah liputan acara, puisi, cerpen, atau karya lain belum saya minati saat di bangku sekolah. Jadi saat One Day One Post Challenge bertemakan majalah dinding (mading), saya bertanya ke suami yang dulunya kawan satu sekolah.


Suami saya memiliki bakat menjadi pujangga (ciee…ku puji loh Pak). Pengalaman melewati hutan cemara yang bagi saya menyeramkan, bisa menjadi satu puisi indah bagi dia. Sejak SMP ia rajin mengisi artikel di mading sekolah. Salah satu tulisan yang sangat berkesan yaitu tajuk rencana tentang substansi pendidikan. Buset…masih SMP sudah membahas makna sebenarnya inti dari bersekolah itu apakah kewajiban atau memberikan penerangan (enlightening). Karena dianggap menarik, artikel itu dijadikan bahan tulisan di majalah sekolah oleh guru.

lho…ini membahas majalah dinding atau suami? Lanjut dulu bacanya

Di SMA, tempat kami bersekolah, hampir tiap ekstrakurikuler memiliki mading sendiri-sendiri yang berisi artikel seputar jadwal maupun kegiatan ekskul. Ada juga rubrik humor, karikatur, foto-foto kegiatan, dan puisi. Mengenai rubrik terakhir ini, suami saya pernah membuat puisi romantis setelah membaca karya sastra Kahlil Gibran. Di bawah puisi ia tulis nama samaran, J.A. Puisi ini membuat saya manyun, lha wong bukan ditujukan buat saya.


Saat itu ada kompetisi mading bergengsi yang diadakan oleh koran Jawa Pos, namanya DetEksi Mading Competition. Kalau di sekolah bentuk madingnya hanya 2 dimensi, selembar karton ditempel artikel-artikel, di lomba mading DetEksi ada mading 3D. Perwakilan sekolah ikut meramaikannya. Saya dan teman-teman datang ke tempat acara melihat hasil karya para peserta. Wow, luar biasa kreatif. Bentuknya bermacam-macam sesuai topik yang diangkat. Bila mengambil topik tentang “Go Green”, mading dibentuk globe dan dihiasi barang bekas yang disusun dengan menarik. Artikel-artikel terkait ditempel sedemikian rupa menghias bola dunia tersebut. Seperti maket kecil yang menarik. Kompetisi yang menjadi ajang tahunan ini mengasah kreativitas siswa SMA dan selalu ramai pesertanya.

Balik lagi ke suami yang dari dulu aktif mengirimkan karyanya untuk mading sekolah. Sekarang ini mencari artikel untuk mengisi mading semakin mudah karena banyak referensi. Ambil dari internet, cetak, tempel. Beliau berpesan, jangan hanya tampilan hiasan mading yang diperhatikan tetapi materi yang disajikan juga penting. Once again, content is the king!

===
Ditulis untuk ODOP Challenge Day 10 oleh Fun Blogging
6 comments on "Antara Mading dan Suami"
  1. Pengalaman mengisi madingnya keren, mbak Helena. Hebat, ikut kompetisi mading juga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. suamiku yang ikut lomba mading. aku bagian penonton aja, heheh

      Delete
  2. Pengalaman mengisi madingnya keren, mbak Helena. Hebat, ikut kompetisi mading juga. :)

    ReplyDelete
  3. Wah, keren mading 3D nya :)

    asyiknya kalau di sekolah ada banyak mading. di sekolahku cuma satu dan nggak keurus

    ReplyDelete
  4. Ah, bayangin jaman segitu nyari bahan buat konten mading. Kudu rajin-rajin ke perpusatakaan, nyatet ini-itu. Kalau nggak ya bela-belain beli koran sebagai referensi. Sekarang mah tinggal pencet smartphone, terus bilang, "OK Google!"

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature