Pedihnya Diusir

Monday, May 6, 2013


Gue ngerti rasanya diusir seperti yang terjadi di sinetron stripping tiap hari tanpa perlu menjadi bawang putih atau putri salju (ini nama orang, bukan bumbu dapur atau kue kering). Gara-gara ngobrol sama mantan teman kosan via social media-nya Big Bang gue jadi teringat masa-masa pengusiran itu. Sakit hati gue kambuh, men!

Selama kuliah, gue pindah kosan sampe 3 macem. Kosan pertama gue demen banget meski kamarnya kecil. Ibu kost baik, bantuin gue bikin kembang goyang buat ospek dan masakin nasi goreng buat teman gue yang ke kosan, setelah itu bayar sih. Jadi kosan ini memang rada jauh dari kampus, harus jalan kaki keluar komplek terus naik bikun alias bis kuning buat sampe ke fakultas. Tapi daerahnya rame, gampang cari makan. Kosan ini ada dua bagian, bangunan biru buat kamar cowok, sebelahnya warna pink buat cewek. Ada kantin, dapur, juga hall buat solat jama’ah atau main pingpong. Okesiplah jaman itu.
 
Kemudian segalanya berubah semenjak ibu kost pindah ke rumah anaknya. Ganti ibu kost baru yang bikin kurang nyaman. Kantin tutup. Ga ada yang jahitin emblem di jas almamater gue lagi. Tidak lama kemudian, gue dan satu orang teman kosan memutuskan pindah aja. Sekitar 1 tahun semenjak gue pindah, penghuni cewek di kosan dipersilahkan cari kosan lain. Seluruh bangunan bakal buat kosan cowok. Jadilah teman gue ada yang kelimpungan cari kosan baru. Gue sendiri bersyukur udah pindah sebelum diusir meski ikut pedih mengenang kosan pertama, termasuk kamar pribadi pertama gue selama hidup yang dijuluki The Songo.

Gue udah nyaman dengan kosan kedua. Sekamar berdua, murah, kamar mandi dalam ada 2, kasur ada 3. Kamarnya gede banget, gue sering bayangin kalau kamar ini muat buat main badminton. Jadi, kamar ini unik. Bangunannya terpisah dari kamar-kamar lain. Lantai 1 ruang tv tapi jarang ada yang nonton di situ. Lantai 2 kamar kami yang bisa buat salto. Memang sih letaknya agak tersembunyi dan jalannya belum diaspal. Tapi ga masalah karena gue udah ada motor jadi lebih cepat kemana-mana.

Eh belum setahun gue di istana kerajaan ini, dapat kabar burung kalau kamar gue ga bisa diperpanjang kosannya. Alasannya mau dipake keluarga yang punya kost. Sedihlah kami yang belum sempat main badminton di dalam kamar ini. Kami berusaha tegar dan menunggu sampai ada pemberitahuan lebih jelas kapan kamar ini bakal dipake. Ibu kost udah ngusir secara halus tapi kami cuek aja. Sampai pada akhirnya gue pindah kosan lain dan teman gue pindah ke kamar di bawah.

Meski gue udah keluar dari komplek itu tapi masih beberapa kali main ke mantan istana kerajaan sambil melihat perkembangan kabar mantan kamar di lantai 2. Sampai 2-3 bulan kamar itu masih kosong, ga jelas kapan bakal ditempati sama “keluarga” yang pernah dibilang ibu kost. Teman gue juga kurang nyaman dengan kamar barunya yang di bawah. Jadilah tak lama kemudian dia memutuskan cari tempat kost baru.

Lama setelah itu, kami mendengar kabar bahwa kamar lantai 2 sudah ada yang menempati. Yak, ternyata masih dipakai jadi kamar kosan, bukan tempat “keluarga”. Yaudahlah ibu kost sebel sama kami mungkin. Sampai kami diusir dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Walau perih namun aku bertahan...

Oh ya setelah drama pengusiran itu kan gue cari kosan baru. Waktu ditanya teman-teman kenapa pindah kosan (lagi) dengan cool gue jawab kalau gue diusir dari kosan yang lama. Reaksi pertama mereka adalah ketawa. Karena gue tetap pasang tampang cool dan serius, mereka percaya dan penasaran mengapa hal tersebut bisa terjadi pada gue. Bagi mereka, baru kali ini mungkin ada peristiwa diusir dari kosan.

Yak, dan tibalah gue di kosan ketiga yang menjadi kosan terfavorit hingga lulus kuliah. Lokasinya mendaki gunung, melewati lembah tapi asik. Di sekitar rumah penduduk, dekat masjid, dan di belakang sekolah dasar. Di sinilah gue dan teman-teman kosan kompak serempak bayar iuran gas, datang ke midnight sale sehari sebelum jadwal, bikin surprise party buat yang ulang tahun, sampai pecahin lampu taman di kosan. Kami bahkan punya grup di facebook, tempat share foto dan kabar. 

Meski sudah lulus, kami masih sering keep in touch. Salah satunya yang terjadi hari ini. Gue dapat kabar paling update dari penjaga kosan, kamar nomer satu, sebut saja Alay. Harga kosan naik seratus ribu! Empat kamar kosong, padahal biasanya sampai kamar paling ujung full. Mostly penghuninya angkatan akhir. Kalau mereka udah lulus, kayaknya kosan bakal direnovasi deh. Dan ujung-ujungnya para penghuni akan dipersilahkan move on ke kosan lain. Lagi-lagi pengusiran...

@helenamantra
Post Comment
Post a Comment

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari artikel di atas.

Sebelum beralih ke artikel selanjutnya, tulis komentar dong... bisa pakai akun G+, Name/URL, atau Anonymous pun saya menerima.

Sering-sering mampir ke sini ya!

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature