Beras Basah Bontang Borneo

Thursday, January 17, 2013
Jingle bells, jingle bells, jingle all the way..

Beras Basah, Bontang, Kalimantan Timur


25 Desember 2012 yang berbeda. Saya berada di tempat baru yang sebelumnya bahkan saya tidak tahu tempat itu ada, sebuah pulau kecil di Bontang - Kalimantan Timur bernama Pulau Beras Basah.
Katinting
Other passengers (photo by David)
Seminggu sebelum berlibur ke Borneo, saya mengirim request ke Couchsurfing Samarinda meminta saran tempat wisata yg wajib dikunjungi, terutama pantai atau laut. Beberapa sambutan positif dari CS Samarinda meyakinkan bahwa saya bakal aman selama liburan di Samarinda. Ria, yg menjadi host saya, membawa kabar gembira bahwa dia dan rekan traveler di Samarinda bakal ke Pulau Beras Basah. Langsung saya cari info sebanyak-banyaknya bagaimana bentuk dan keistimewaan tempat ini. WOW, asiiik ga sabar icip air asin di Borneo!
Beginilah habit orang Indonesia, na na na, berangkatnya kesiangan. Jadilah setelah ngebut melewati Samarinda - Bontang yang naik turun naik naik naik apalagi di Gunung Menangis sampailah kami di Bontang, kota kecil dg Pendapatan Asli Daerah tertinggi di Indonesia. Kecil dan panasss. Kota ini lebih dikenal dg perusahaan seperti Pupuk Kaltim dan Badak LNG. Saya dan 3 orang anggota Samarinda Backpackers (Ria, David, dan Mas Hamka) mampir makan dulu di Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang. Sudah sore dan nanggung banget nih kalau cuma snorkeling trus langsung balik ke Samarinda. Jadilah dg modal nekat dan tampang kere(n), pinjam alat sana sini, bawa perbekalan seadanya, kami meneguhkan hati untuk camping! Yak, saya sebagai orang yg tak tahu menahu kondisi di Beras Basah asik-asik aja menerima ajakan itu. Kapan lagi oi.. Kami belum ada yg pernah camping di sana. Thanks to Mas Ipul yang udah direpotin buat pinjam dari stereofoam sampai galon air minum.
perbekalan
Mau berangkat mulai celingak celinguk cari kapal tradisional (sebut saja katinting) untuk disewa. Untunglah kami bertemu dg sekelompok muda-mudi yg mau ke Beras Basah untuk sekedar photo session tanpa menginap. Demi menghemat uang yang mepet, kami bergabung dg kapal kecil yg telah disewa oleh mereka, yess Rp 500ribu dibagi sembilan orang. Untuk mencapai Pulau Beras Basah dapat ditempuh dari beberapa pelabuhan. Kalau dari Pelabuhan Tanjung Laut dg katinting perjalanan sekitar 45 menit dg biaya sewa kapal Rp 400ribu-600ribu. Bisa juga nebeng speedboat PT Badak kalau ada kenalan di sana. Dermaganya lebih dekat ke Beras Basah, apalagi naik speedboat jadi waktunya cuma 15-20 menit. Tapi kalau nebeng speedboat ini ga bisa menginap, sorenya harus balik ke Bontang. Kalau ketahuan menginap, siap-siap tengah malam diciduk dan diekstradisi.
Little Merlion (as seen on Singapore)
45 menit perjalanan yg berisik karena mesin kapal. Kami duduk di bagian depan sambil ngobrol dg bapak pemilik kapal. Tak jauh dari pelabuhan, di sebelah kiri ada replika patung Merlion seperti di Singapore. Hey, where are we actually?
Mercu suar tinggiiii
Pulau Beras Basah khas dg mercu suar di sebelah timur. Pasir putih, air jernih, dan hamparan terumbu karang serta fauna laut berwarna-warni. Begitu kecilnya pulau ini bisa dikelilingi dg berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Sedang ada pembangunan sarana seperti toilet, mushola, dan taman bermain di tempat ini. Ada 2 kepala keluarga yg diamanahi pemerintah untuk menjaga pulau ini. Untunglah ada kehidupan meski listrik hanya bergantung pada genset.
welcome to Beras Basah
Berasa di Sabah, Malaysia (photo by Hamka)
Jeng jeng..kami menginap di mana? Ga bawa tenda, ada kasur angin punya Mas Taufik (thanks mas!!!), ada baliho, bangku lebar dari kayu, dan sebuah pohon. Ok, ini tempat yang lumayan buat berteduh, semoga tidak ada hujan malam ini. Jadilah kain baliho maha lebar itu digelar di atas bangku kayu. Barang-barang belum dirapikan dan kami sudah tidak sabar buat nyemplung. Buat berganti baju bisa menumpang di toilet milik warga. Kalau bilas atau buang air bisa beli air tawar per jerigen RP 5000,-. Toilet umum belum jadi, kami bergantung pada kemurahan hati warga di sini. Nebengers!

Arusnya lumayan kencang sore itu. Snorkeling bermeter-meter hanya melihat pasir. Jadilah kami menikmati senja sambil terapung di atas kasur angin di sebelah barat Beras Basah. FYI, Ria paling jago pompa kasur ini.

santai setelah makan malam
Balik ke tempat di bawah pohon, kami dapat tawaran menarik dari warga situ buat bermalam di mushola. Alhamdulillah..ga jadi masuk angin. Mushola masih dibangun tapi atapnya udah jadi so kami terlindung dari angin laut. Terpal berganti posisi masuk ke mushola. Saya lapisi dg sleeping bag dan berbantal life jacket yang kami ambil dari kapal. Jas hujan milik David yg berbentuk ponco jadi selimut saya. Ahe..anti-angin dan anti-air!

Seperti pulau milik pribadi. Saking menghayatinya, kami seenaknya jemur baju basah di bangunan kayu yg belum jadi. Malamnya makan di bawah pohon. Nasi padang bekal yang dibeli di Bontang. Di pohon ini juga berjentreng jemuran kami, dari tas, life jackets, jaket, dll. Sungguh pemandangan yang na na na (sulit menemukan kata yang pas).
jemuran
Yang namanya camping identik dg tidur larut. Tapi saya malah tidur paling awal diantara yg lain. Meski bukan kasur yang empuk tidur beralaskan baliho, saya bersyukur bisa sampai di tempat ini dengan teman-teman yang baru saya kenal kemarin (dalam arti sebenarnya). Oh ya sebelum tidur saya sempat solat maghrib-isya di mushola yg belum jadi. Menurut bapak penjaga pulau, saya adalah orang pertama yg solat di situ. Subhanallah, an honor mendengar hal itu.

Paginya kami semangat menunggu sunrise dan foto-foto mumpung masih sepi. Lanjut snorkeling di pantai timur dan menemukan terumbu karang yang luaaas. Sayangnya melawan arus dan tanpa fin, capek berenang. Jadi tahu ikan-ikan di Borneo gimana bentuknya (sama aja sih dg di Celebes --"). Senangnya bisa kenalan dg terumbu karang, ikan, bintang laut, juga bulu babi di Beras Basah.
 
warung jualan kelapa muda
Semakin siang semakin banyak kapal merapat. Karena ini hari libur, Beras Basah ramai dikunjungi wisatawan lokal. Ada yang niat banget bawa wajan dan masak dg batok kelapa. Di sini juga ada warung yang berjualan kelapa muda dg harga Rp 10.000 - 12.000,-. Memang pas duduk di pinggir pantai sambil minum kelapa muda. Piknik bersama keluarga asik juga. Menggelar tikar, bawa nasi hangat, dan lauk pauk serantang.

Saatnya kembali ke Bontang karena saya harus melanjutkan perjalanan kembali ke Balikpapan. Perjalanan yg mendebarkan karena kapal yg menjemput kami tak kunjung datang sedangkan waktu semakin mepet. Overall, Beras Basah menjadi tujuan yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bontang.
See you again Beras Basah
5 comments on "Beras Basah Bontang Borneo"
  1. keren, ada foto saya diOther passengers

    ReplyDelete
  2. Jemurannya merusak pemandangan tuh

    ReplyDelete
  3. Mari kita jaga kebersihan Pulau Kita tercinta ini

    ReplyDelete
  4. keren banget jadi pengen kesana juga.
    ada yg tau info tentang paket liburan kesana ?

    ReplyDelete

Haiiii... Terima kasih banyak ya sudah berkunjung.
Leave a COMMENT,
Hit the SHARE button,
dan sering-sering mampir ke sini ya...

Kalau mau surat-suratan, kirim e-mail aja ke helenamantra@live.com

Salam,
Helena

Auto Post Signature