Top Social

Image Slider

Can you feel their spirits?

Monday, May 31, 2010





They jump, they toast, can you feel their spirits?


ini adalah hasil foto menggunakan Supersampler (kamera Lomo)
ada bagian putih itu adalah bagian yang terpotong karena kesalahan teknis saat convert dari negatif film ke CD.
Harap maklum.

Realitas Pedila di Dolly, Surabaya

Pernah lihat acara Pojok Ibu-Ibu di JTV?
aq baru pertama kali liat pas episode 20Dec, tapi acaranya ga harus ditonton ibu2 kq, buktinya yang telepon malah smwa bapak2,
acaranya kemarin membahas tentang Pedila alias perempuan dilacur esp di Dolly
nara sumbernya dari Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Jatim dan dari Savy Amira (bener g c?)

yah..seperti yang kita ketahui bersama, Dolly merupakan tempat 'hiburan' yang memberikan kontribusi cukup besar bagi pemkot Surabaya. Buat yang g tw Dolly itu apa, mmm...kalo Amerika punya Hollywood dan India punya Bollywood, ya bisa dibilang Indonesia punya Dollywood. Nah ada rumor and wacana bahwa Dolly mau dipindah ke tempat yang jauh dari rumah penduduk (tapi yang ada..penduduknya mendekati Dolly) di sekitar Roomo kalisari (ni tempat ku mondarmandir klo plg sekolah jaman SMA dulu)
ada juga pro-kontra kalo Dolly ditutup
>>>lalu orang-orang disitu makan apa?
sudah jadi pekerjaan mreka seperti itu, mayb bertahun-tahun, mulai dari pengamen, penjual makanan di warung, tukang kredit baju, penjual make up...bahkan ada kutek 3000-an plus dikutekin!, calo, dan tentu saja penjual diri.

Dolly sudah ada dari dulu, sejak daerah itu sepi penduduk, tapi toh sekarang sudah ramai, temanku aja ada yang rumahnya deket situ...

Ga ada yang punya niatan jadi Pedila, mreka kebanyakan kerja seperti itu karena ditipu keluarga, tetangga, atau masyarakat sekitar yang mungkin mengaku menawarkan pekerjaan tetapi malah disuru kerja begituan. Begitu masuk ke wilayah tersebut, sulit keluar karena ada ketakutan2 pribadi mengenai apa yang akan dilakukan begitu keluar dari Dolly, kemampuan apa yang dimiliki yang bisa digunakan untuk mencari nafkah...bagaimana pula pandangan masyarakat melihat dirinya yang dulu pernah bekerja seperti itu, apakah masyarakat masih mau menerima dirinya...ada juga alasan karena terlilit hutang sehingga harus bekerja di situ untuk menutupi hutangnya. Tapi kalo dipikir2, biasanya hutang itu kan buat kredit baju or make up (pastinya mreka harus pke make-up untuk menarik pelanggan kan..) nah tetep aja pasti bakal ada hutang trus n trus...lha klo gini kapan mreka bisa kluarnya?!

Aq sempet kaget knp mreka bisa mpe punya hutang padahal kerja mreka seperti itu n q pikir penghasilannya GD dong..ternyata, menurut survey, yang paling murah itu tarifnya skitar 60000Rp! Sedangkan yang paling tinggi skitar 250000Rp saja! Murahnya harga kperawann...
Misal kita ambil tarif paling murah, nah dari 60000 itu ternyata masih kna pungli...buat bayar air, uang keamanan, uang kesehatan, dll n net-nya si Pedila cuma dapat 25000...eh masih dipotong 7000 buat bayar calo. Jadi kerja si calo ini ya cari pelanggan buat Pedila, dia biasanya nampang di depan wisma pke baju batik (sangat Indonesia!)
So..cuma segitu pendapatan Pedila, trus dia buat makan, bli baju, bli make up, yo wes...ngutang!

*kubur harapan kalian untuk menjalani profesi ini, tidak menjanjikan apapun!*

Dari pengalaman KPI, cuma ada 4 pedila yang keluar dan ga kembali ke pekerjaan itu lagi. Sebenarnya banyak yang pergi...dan banyak yang kembali. Ya itu, mreka kesulitan masalah ekonomi atau ada yang menikah dan mengalami KDRT oleh suaminya karena suaminya merasa si istri dah biasa..dengan pekerjaan yang dulu.

*stop KDRT, please!!*

Yang sangat dikhawatirkan itu masalah KESEHATAN mereka. Tiap hari kerjanya begituan pasti rawan penyakit dong. Meski dah bayar uang kesehatan, mereka dapat kesempatan periksa di Puskesmas skitar 2 bulan sekali...yak segitu lamanya, padahal tiap hari mereka bekerja!! Udah gitu di Puskesmas terkadang diperiksanya asal2an cz dokternya males ngurusi begituan mpe da pasien yang dah parah tapi tetep aja dibiarin. Baguuuus, trus aja ditindas!
di tempat sejenis di Thailand, pelanggan diwajibkan pke kondom. Sedangkan di Indonesia, meski sudah ada Perda no 24 tahun 2004 (Aq belum cek isinya tentang apa aja), tetap aja...itu hanya normatif. Ada yang mau pake, banyak yang Ga! Tapi inget...kondom bukan mencegah 100%. Meski ukuran pori-pori kondom (0,2milimikron) lebih kecil dari IMS dan HIV (0,5milimikron), ada saja kemungkinan kondom robek, bisa karena salah pake mayb...

Pedila ga punya bargaining power untuk memaksa pelanggan pake kondom, mreka dibayar...calo dan mucikari juga bakal complaint ke pedila klo da masalah ma pelanggan. Mreka terpojok n cuma bisa pasrah...

*maaf klo da kesubjektifn dalam tulisan ini*

in my opinion, ketakutan yang dialami pedila ini bisa dihilangkan sehingga mereka benar2 bisa keluar dari pekerjaan mereka dan memulai sesuatu yang baru di masyarakat asalkan mereka mau dan mampu untuk itu. Masalah pekerjaan, banyak banget lapangan pekerjaan yang tersedia kalo qt pintar melihat celah. Ga smua dari mereka punya keahlian menjahit, tapi ada dong yang bisa memasak...bisa buka warung, atau mau jadi asisten rumah tangga? Mungkin da keahlian lain...bisa buka lapangan kerja kan?! Lalu mengenai pandangan masyarakat ke mereka, aduuuuh hari gini masih bergunjing? Ga bs nrima orang dg baik2? Tolong y..masyarakat yang berpendidikan itu mereka pasti mau menerima orang yang mau berubah (kecuali masy Indonesia masih Jahiliyah..). Kalo ada yang masih ragu dengan pedila yang dah berusaha keluar, yakinkan ke masyarakat bahwa itu cuma masa lalu n dia datang dengan pribadi yang baru yang siap untuk membuat suatu perubahan untuk memperbaiki hidupnya. Tunjukkan dan Yakinkan mereka, kawan!
hueheehehee...maaph!
dari pemerintah juga...jangan ambil enaknya aja, Dolly itu tidak LEGAL tetapi pemda mengambil pajak dari situ. Malah da wacana mau pindah tempat segala...itu mah malah mendukung prostitusi di Indonesia. Piye tho?! Takut Jatim tiba2 miskin klo Dolly ditutup? Seandainya pemerintah bisa kasi lapangan pekerjaan ke pedila...toh klo bulan Ramadhan kan mreka libur tu..biasanya da kegiatan yang menambah keimanan dan ketaqwaan dan juga nambah skill mreka (tp bukan di bidang 'itu').

memang c aplikasi g semudah kata2 tapi aku mengharapkan pedila ini bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan tentunya HALAL!

*makasi JTV, acaranya ternyata ada yang OK jg..he3 dan pke Bhs Indo!*


(re-post dari blog lama saya, ini tulisan setahun lalu)

Kenapa ga kaya?

sempet kepikiran, kenapa copet, jambret, rampok, cs koq g kaya2 padahal dah berprofesi demikian sekian tahun.

Pendapatku...ini seperti acara TV "Uang Kaget" ato semacamnya. Tibatiba punya duit banyak mpe bingung bin kalap mau diapain tu duit. Jadinya malah cepet-cepetan habisin duitnya tanpa persiapan yang matang, malah tu duit buat senang2 jangka pendek. And ga mempertimbangkan jangka panjang, buat investasi apaaaa gt kek. Nah bisa jadi copet juga kyk gitu,,,mungkin ini yang membedakan ma koruptor. Klo koruptor,,saat dapat duit banyak, selain buat konsumsi n memakmurkan keluarga, juga diinvestasikan..ke saham, obligasi, ato bentuk investasi lain sehingga lebih terjamin masa depannya...makmur jaya.

well, that's my opinion, what about you?

Know Our Indonesia in 1 Day

Thursday, May 27, 2010

*pic was edited by martin juda mustafa*



Hore 23 mei 2010 ke Taman Mini Indonesia Indah a.k.a TMII!
ini ceritanya..

Rute:
Salemba – Kp Rambutan (via busway Rp 2000 coz berangkat mepettt sebelum 7am) trus lanjut angkot 28 ke TMII (Rp 2000 lumayan deket, turun pintu 3 TMII).
Niatnya mau rame-rame ber-8, eh ternyata pada kesiangan bangun n ada juga yang sakit. Jadinya ber-3 aja sama sodara Nda (telat..) & Ntin dari 9am mpe 4pm.
Tiket masuk 9000/orang. Mobilnya bayar 10000 kalo ga salah. TMII gedhe banget tapi tidak ada brosur peta sebagai panduan perjalanan.

Tujuan pertama: Taman Burung dan Taman Bekisar (Rp 10000/orang)
Ada berbagai jenis burung dari barat maupun timur. Pengunjung masuk ke kandang raksasa yang isinya kandang lagi (ada burungnya) tapi ada juga burung yang dibiarkan jalan-jalan di dalam kandang raksasa. Sebelum masuk, pengunjung wajib menginjak keset yang sudah ada cairan disinfektan (ini buat pencegahan flu burung ya??). Hati-hati dengan burung kakatua jambul kuning yang suka godain cewek! Di taman burung ini minim petugas so nyasar adalah hal yang wajar, apalagi petunjuk arah juga kurang.

Tujuan kedua: Jalan kaki lihat anjungan-anjungan + Istana Anak-anak
Entah berapa hektar luas TMII dan jalan kaki itu bisa membuat gempor akhirnya kami hanya berputar-putar di sekitar Tempat Budaya Tionghoa, Museum Timor Timur, Museum Perangko Indonesia, dan sekitarnya. Kalau mau berkeliling bisa menggunakan bermacam-macam transportasi (bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi). Ada mobil kecil (Rp 3000), kereta gantung (Rp 25000), kereta kayak monorail, kereta kecil dan besar, sepeda, dan motor listrik.
Oia kami mengunjungi Istana Anak-anak (Rp 5000). Ini impian saya dari SD, makin mupeng lihat film yang shooting di Istana ini. Penasaran apa isinya. Ternyata…bagus istananya aja. Di baliknya da tempat bermain dan kolam renang (tentunya harus bayar lagi). Hati-hati ada badut usil! Tapi ada juga badut ibu-ibu yang penasaran ma kamera lomo saya.

Tujuan ketiga: Sewa sepeda tandem!!!
Untuk pertama kalinya dalam hidup kami bertiga…kami menaiki sepeda tandem (setelah muter-muter mencari tempat sewanya). Sepeda tandem yang disewakan bermacam-macam jenisnya. Ada yang untuk 2, 3, hingga 6 orang. Untuk ber3 dengan model sepeda memanjang biaya sewa Rp 25000/jam. Lumayanlah untuk sebuah pengalaman..dan ternyata sejam berlalu begitu saja, harus ngebut untuk mengembalikan sepeda tepat waktu (bahkan sempat terjebak macet). Ternyata sulit juga menaiki sepeda ini. Pengemudi pertama dan kedua harus kompak serempak dalam mengayuh pedal. Kalau salah satu berhenti..rantai bisa copot (kami mengalaminya 2x). Pengemudi ketiga bisa santai..karena kayuhannya hanya formalitas. Bisa memotret pengemudi kedua dan ketiga juga.

Tujuan keempat: Museum Transportasi (Rp 2000 + Rp 2500 kalo mau masuk pesawat garuda)
Ada berbagai macam transportasi dari masa lalu hingga kini. Ada kereta kepresidenan (yang pendinginnya dari es batu), pesawat, helikopter SAR, oplet, bahkan innova! Lagi-lagi kurang petugas, rasanya sepi. Miniatur kendaraan yang ada di display tidak diatur dengan menarik, masih ada bagian yang kosong dan tidak jelas fungsinya untuk apa. Pantesan orang-orang malas ke museum meskipun nilai edukasinya sangat tinggi.

Kesan dan Pesan
Sehari mengunjungi TMII tidak akan cukup karena museum, anjungan, taman, dan berbagai tempat menarik layak untuk dikunjungi. Andaikan TMII dikelola dengan lebih optimal, dirawat lebih baik, lebih menarik, ada tour guide, ada peta untuk pengunjung, dan ada tiket terusan supaya tidak perlu membayar lagi dan lagi dan lagi (bakal mahal banget..so harus pilih-pilih tempat yang akan dikunjungi).

Auto Post Signature